
Lelaki itu menengok setengah dan tersenyum. Namun hal itu malahan membuat Anha mengembuskan napas kesal dan lebih memilih untuk membuang wajah ke samping.
Siapa sangka jika ternyata lelaki di hadapannya itu adalah Hamkan. Anha tidak habis pikir, dirinya tidak mau pulang dengan Hamkan lalu lelaki ini nekat untuk naik BRT hanya demi pulang bersamanya? Benar-benar gila!
Anha menatap kembali punggung tegap milik Hamkan. Huh, lelaki ini teguh juga.
Sebenarnya ingin rasanya Anha menyandarkan keningnya pada punggung Hamkan untuk melepas penat seharian, sambil mengatakan kepadanya jika sebenarnya Anha tidak pernah membencinya. Tapi itu khayalan Anha karena dia takut. Takut apabila lama kelamaan dia akan jatuh cinta kepada Hamkan jika dia melunak. Anha takut jika nanti Hamkan akan meninggalkannya.
‘Hamkan, kenapa kamu sampai ngelakuin hal sejauh ini? Kenapa kamu nggak benci aja sama aku? Aku ini... nggak akan pernah pantes buat kamu,’ kata Anha sambil menatap Hamkan yang juga sedang berdiri sambil tangannya memegang pegangan di atas.
Namun seketika jantung Anha terasa berdetak sangat keras. Tubuhnya seolah terguncang karena syok. Dia merasakan ada sesuatu yang menggesek bokongnya yang dilapisi celana panjang dari belakang.
Jangan-jangan...
Perlahan-lahan Anha mencoba menengok ke arah belakang. Kini di belakangnya terlihat lelaki paruh baya sedang menggesekkan alat kelaminnya pada bagian tubuh belakang Anha.
Tubuh Anha kaku membeku. Dia sangat ketakutan namun entah kenapa rasanya lidahnya kelu, susah sekali untuk berucap.
Anha menatap ke samping untuk meminta bantuan ke penumpang lainnya, ia melihat dua anak SMA yang saat ini tenyata juga sedang melihatnya dilecehkan seperti ini tapi kedua anak itu juga tidak tahu harus berbuat apa dan saling senggol antar satu dengan yang lainnya. Sedangkan ibu-ibu yang berada di sebelah kedua anak SMA itu cuek saja bahkan memalingkan wajah ketika Anha menatapnya dengan pandangan memelas meminta pertolongan.
Anha memejamkan mata. Takut. Takut sekali. Tapi dia seolah syok sampai tidak bisa berkata apapun saking ketakutannya. Padahal Anha sudah tidak mengenakan pakaian seseksi dulu. Bahkan kini pakaiannya tertutup dengan celana panjang dan baju lengan panjang pula. Tapi kenapa dia masih menerima pelecehan di tempat umum seperti ini?
Bukannya Anha tidak bisa berteriak atau melawan. Tapi memang kebanyakan korban yang menerima pelecehan seksual rasanya tubuh mereka membeku seolah mati tidak bisa digerakkan sama sekali dan mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena syok berat.
Mata Anha mulai memanas dan berkaca. Dia memajukan tubuhnya ke depan sesaat. Hal itu cukup berguna dan lelaki itu tidak menggesekkan alat kelaminnya lagi. Tapi siapa sangka laki-laki di belakangnya sekarang malahan memajukan tubuhnya dan menggesekkan kembali alat kelaminnya pada bokong Anha.
Anha ketakutan. Tapi halte pemberhentiannya masih jauh.
Anha menangis dalam diam. Tangannya yang gemetar, terulur untuk memegang jaket demin milik Hamkan. Laki-laki di belakangnya masih melakukan hal itu terus-terusan.
Hamkan menoleh ke arah belakang dan mendapati Anha menangis. Dainya langsung otomatis mengeryit dan mengatakan ada apa kepada Anha namun wanita itu hanya diam saja sambil menangis.
Ekor mata Anha bergerak ke arah belakang untuk mengkode Hamkan. Hamkan mengikuti arah pandang Anha dan rahangnya seketika mengeras ketika tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hamkan melihat lelaki di belakang Anha melakukan pelecehan kepada Anha.
“Berengsek!”
Tanpa basa-basi lagi Hamkan mencengkeram baju lelaki berengsek itu. Padahal lelaki itu tua dan bapak bapak tapi otaknya benar-benar rusak.
Satu pukulan keras melayang menghantam wajah bapak-bapak sialan itu sampai mulutnya mengeluarkan darah. Beberapa penumpang lainnya berteriak terkejut atas keributan yang sedang terjadi. Mereka mencoba melerai keduanya namun Hamkan sulit dipegangi karena sedang marah bukan main.
“Tolong tenang,” kata petugas tiket armada memegagi tubuh Hamkan.
“Dia ngelakuin pelecehan ke pacar saya!” Hamkan masih mencoba melepaskan diri dari pegangan beberapa orang di belakangnya hendak menghajar lagi bapak-bapak sialan itu sampai wajahnya hancur sekalian Hamkan tidak peduli. Suasana semakin gaduh. Supir BRT terpaksa menepikan bus di pinggiran jalan demi keselamatan penumpang yang berada di dalam bus.
Kedua anak SMA itu mendekat dan memegangi Anha yang menangis ketakutan.
“Kakak, maafin kami, ya. Bukannya kami tadi nggak mau nolong Kakak. Tapi kami sendiri juga takut dan nggak berani,” kata salah satu di antara keduanya.
Setelah puas memukul bapak-bapak itu sampai pingsan tak sadarkan diri. Hamkan berbalik badan dan menatap Anha yang menangis ketakutan sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
“Kamu nggak papa, kan, An? Jawab aku, An,” kata Hamkan sambil menangkup wajah Anha yang basah akan air mata.
“Tolong jangan dirubungi,” kata petugas armada BRT melihat tubuh korban yang semakin lemas dan kesusahan napas.
“Alah lebay banget, sih. Orang baru aja digesek, doang. Kagak sampai diperkosa, kok,” nyinyir ibu-ibu yang tadi duduk di sebelah kedua anak SMA itu.
Hamkan mengeratkan giginya mendengar hal tersebut. Ia menatap tajam Ibu-ibu tersebut membuat Ibu-ibu itu bergidik ketakutan.
Hamkan tidak habis pikir. Padahal orang itu seorang ibu-ibu, dia juga seorang perempuan, tapi kenapa dia tega mengatakan hal tersebut kepada Anha? Coba saja kalau hal ini terjadi kepadanya atau kepada anak perempuannya apakah dia masih bisa berkata seperti itu?
__ADS_1
Hamkan malas mendebat. Ia emosi bukan main. Anhalah yang terpenting saat ini. Dia membopong tubuh Anha yang sangat lemas itu dan membawanya keluar dari bus sialan ini.
“Hamkan,” ucap Anha dengan lirih setengah sadar sambil menggenggam erat jaket Hamkan.
“Aku di sini, An. Kamu bakalan baik-baik aja. Kita bakalan ke rumah sakit,” kata Hamkan dengan sangat khawatir kepada Anha. Namun perlahan-lahan pandangan Anha semakin buram dan akhirnya matanya terpejam. Hingga semuanya terlihat gelap gulita. Anha pingsan.
***
Hamkan cemas, sangat cemas sekali malahan. Tapi dia harus tetap menjaga kewarasannya. Hamkan membawa tubuh Anha memasuki taksi yang kebetulan berada di pinggrian jalan.
Hamkan memang sengaja meninggalkan mobilnya di rumah temannya yang berada tak jauh dari tempat les-lesan Anha. Hanya demi bisa merasakan pulang bersama dengan Anha. Tapi siapa sangka hal seperti ini terjadi kepada mereka. Tahu begitu tadi Hamkan memaksa saja Anha untuk diantarkannya pulang.
“Tolong ke rumah sakit terdekat,” kata Hamkan kepada supir taksi tersebut. Hamkan meletakkan kepala Anha pada pahanya. Memangkunya dan berharap supir secepat mungkin sampai di rumah sakit. Wanita ini pingsan.
“Anha,” gumam Hamkan dengan sangat khawatir. Dia merasa bersalah melihat Anha seperti ini. Apalagi tadi Anha menangis dan sangat ketakutan sekali.
Sampailah mereka di salah satu rumah sakit. Anha ditempatkan di salah satu ruangan untuk diperiksa. Hamkan yang menunggu dokter memeriksa keadaan Anha pun hanya mampu meremaas rambutnya karena frustrasi.
“Pasien mengalami syok. Keadaannya akan membaik setelah beristirahat dan meminum obat.”
Hamkan mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lebih baik Anha menginap dulu di rumah sakit ini.
Tangan Hamkan mengambil ponselnya untuk menghubungi mamanya Anha. Hamkan menatap Anha yang masih pingsan dan tangan Hamkan yang satunya lagi yang bebas menggenggam jemarinya.
Namun panggilan teleponnya tidak tersambung. Ponsel Tante Marni mati. Hal itu malahan semakin membuat Hamkan frustrasi lagi.
Bagaimanapun harus ada yang menemani Anha dan Hamkan juga mengabari orang rumah. Akhirnya tidak ada pilihan lain lagi. Hamkan menyuruh salah satu suster untuk menjaga Anha.
Ia sampai rela naik grab car untuk menuju ke rumah Anha hanya demi mengabari Tante Marni. Dan ternyata memang ponsel Tante Marni sedang mati karena masih dicas.
“Kenapa Hamkan kamu dateng ke sini malam-malam?” kata mamanya Anha mengeryit melihat Hamkan yang datang semalam ini dengan napas naik turun tidak teratur. Hamkan bingung mengatakannya dari mana.
“Ta-Tante. Anha masuk rumah sakit,” kata Hamkan sambil menetralkan napasnya. Tante Marni langsung menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kemudian setelah itu Hamkan diberondong dengan berbagai pertanyaan dari Tante Marni.
“A-Anha pingsan, Tante. Nanti Hamkan jelasin detilnya yang penting sekarang kita ke rumah sakit dulu.”
Tante Marni semakin panik. Dia bersiap-siap membawa dompet dan ponselnya serta mengunci rumah untuk segera pergi ke rumah sakit bersama Hamkan.
Dan benar saja. Sesampainya di rumah sakit dan di ruangan Anha dirawat mama melihat Anha yang terbaring lemas di ranjang.
“Anha kamu nggak kenapa-napa, kan?” kata Mama sambil memegangi tangan Anha yang masih pingsan.
Setelah Tante Marni agak tenang. Hamkan mulai menceritakan semua kejadian pelecehan itu. Tante Marni mengusap air matanya.
“Tante dulu itu udah bilang supaya Anha naik motor aja, Hamkan. Tapi anak ini, tuh, ngeyel keras kepala dan masih tetap aja maksain diri naik kendaraan umum kayak gitu. Tante itu khawatir sama dia. Dia itu anak cewek pasti rawan.”
Hamkan memegang tangan Tante Marni untuk menenangkan. Tante Marni mengusap air matanya dan mengucapkan terima kasih kepada Hamkan karena Hamkan sudah menyelamatkan Anha.
“Tante ngucapin terima kasih banget, ya, sama kamu, Nak Hamkan. Kalau nggak ada kamu Tante gatau apa yang bakalan terjadi lagi sama anak Tante.”
Andai saja Anha melihat perjuangan Hamkan yang seperti ini. Mama hanya berharap Anha dan Hamkan bersatu dan Anha bisa membuka hatinya lagi untuk Hamkan yang jelas-jelas lelaki baik.
Hamkan mengatakan tidak usah seperti itu. Bahkan Hamkan merasa sangat bersalah tidak bisa menjaga Anha dengan baik.
“Hamkan. Tolong jagain Anha sebentar, ya. Tante mau ke depan bentar buat nebus obat.”
Hamkan mengangguk dan duduk di sebelah Anha. Dia menatap Anha dengan wajah sangat khawatir sambil menggenggam tangan kiri Anha yang sedang diinfus. Rasanya telapak tangan Anha dingin sekali.
Hamkan menyandarkan dahinya pada tepian ranjang tempat tidur pasien. Badan Hamkan terasa sangat lelah, dia hendak tidur sejenak sampai Tante Marni kembali ke sini.
__ADS_1
Saat ini Hamkan hanya berharap Anha cepat sadar dan baik-baik saja.
Anha mengerjabkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya yang buram dengan cahaya dalam ruangan. Kepalanya terasa berat. Anha menatap langit langit ruangan, ini bukan atap dari kamarnya. Seketika Anha sadar tentang apa yang tadi terjadi.
Dengan perlahan Anha mencoba duduk dan tangan kirinya terasa berat. Ia menengok ke samping dan melihat Hamkan tertidur di sebelahnya sambil masih memegangi tangan kirinya.
Anha terdiam. Kenapa Hamkan ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Tangan kanan Anha bergerak untuk menyentuh rambut Hamkan. Sepertinya dia lelah sekali.
Namun tangan Anha mengatup kembali dan ditariknya lagi ketika melihat Hamkan bergerak. Sepertinya dia sudah bangun.
“Kamu udah bangun, An?” kata Hamkan sambil mengusap matanya ketika melihat Anha yang saat ini sedang duduk di tempat tidur dan menatap kosong ke depan.
Anha hanya mampu menggigit bibir dalamnya. Matanya mengerjab dan memanas kembali. Hamkan melepaskan tangannya yang sejak tadi tertidur sambil menggenggam tangan Anha.
“Anha, kamu nggak kenapa-napa, kan? Aku khawatir banget sama kamu,” kata Hamkan sambil memegang lengan Anha. Wanita itu kini menatapnya dengan mata berkaca. Padangan mereka bersitatap.
Anha menatap kedua manik Hamkan dengan bergantian. Dari kanan ke manik sebelah kiri. Mata cokelat lelaki itu menatapnya dengan pandangan yang sangat cemas sekali. Kenapa Hamkan sudah ia benci tapi Hamkan masih mau menolongnya dan memperlakukannya dengan baik. Seharusnya Hamkan membencinya saja.
Hamkan menarik Anha yang menangis kepelukannya. “Nggak papa, Anha. Kamu nggak usah takut lagi. Ada aku di sini. Maafin aku, ya, karena nggak bisa ngelindungi kamu,” kata Hamkan sambil mengusap rambut Anha untuk menenangkannya yang malahan semakin menangis terisak.
Anha memeluk Hamkan. Merasakan kehangatan dan ketulusan dari lelaki ini.
Kenapa lelaki itu sangat tulus kepadanya? Bahkan Hamkan meminta maaf karena merasa tidak bisa melindungi dirinya padahal Hamkanlah yang tadi menyelamatkannya. Sikap baik Hamkan malahan membuat Anha semakin merasakan getir. Malahan membuatnya membenci dirinya sendiri.
'Laki-laki ini terlalu baik Anha. Terlalu baik buat kamu. Dia pantes ngedapetin yang lebih baik daripada kamu, Anha,' kata gadis batinnya tahu diri.
“Pergi!”
Anha tiba-tiba melepaskan pelukan mereka sambil menangis kencang. Hamkan menatap Anha dengan dahi yang mengeryit. Kenapa tiba-tiba Anha mendorong tubuhnya dan menyuruhnya untuk pergi?
Lebih baik Hamkan benci dengan dirinya. Dengan begitu Hamkan tidak akan mendekatinya lagi dan Hamkan kelak akan mendapatkan wanita yang lebih baik daripada dirinya ini. Bahkan dulu saja Ikram tidak menyentuhnya karena jijik tubuh Anha sudah pernah tidur dengan banyak laki-laki. Bagaimana dengan Hamkan? Pasti dia juga begitu.
Rasanya jantungnya sakit sekali. Seperti disayat belati tak kasat mata.
“Ka-kamu kenapa, An?” tanya Hamkan sambil mengulurkan tangannya hendak menyentuh Anha lagi tapi Anha menepis tangan itu dengan kasar.
“Aku bilang pergi! Kenapa, sih, kamu masih aja ada di sini! Pergi! Aku benci sama kamu! Aku benci! Aku nggak mau lihat kamu lagi!” teriak Anha sambil menangis meraung. Bukan hanya itu saja, Anha juga melemparkan bantal dan selimut ke arah Hamkan seperti orang yang menggila.
Hamkan hanya menatap hal itu dalam diam. Tapi matanya memerah dan rasanya memanas. Kenapa Anha bisa sangat sebenci itu kepadanya? Padahal dia tadi sampai membopong Anha yang pingsan ke sini karena saking khawatirnya. Bahkan sepatah kata terima kasih pun tak terucap. Dia tidak dihargai sama sekali.
“Apa kamu tuli? Aku benci banget sama kamu Hamkan! Pergi! Ini semua karena kamu! Kalau kamu nggak naik ke sana aku nggak mungkin ngalamin hal kayak gitu! Aku benci kamu!” teriak Anha sambil menangis meraung. Dadanya terasa sakit sekali. Tanpa terasa Anha menyakiti dirinya sendiri dan hati orang lain. Orang yang sebenarnya sangat dicintainya tapi dia sadar diri dia tidak pantas.
Hamkan mengepalkan tangannya dan hanya mencoba tersenyum getir menatap Anha yang menangis sambil menundukkan pandangan itu.
“Oke, kalau itu mau kamu. Maka aku pergi, An.” Hamkan menjeda sejenak ucapannya agar nada bicaranya tidak terdengar sumbang. Rasanya sakit sekali diperlakukan seperti ini.
“Maaf gara-gara aku kamu kayak gini. Aku janji nggak bakalan ganggu hidup kamu lagi.”
Anha hanya mampu menangis. Maafin aku Hamkan. Hanya kata-kata itu hanya terucap dalam hatinya.
“Aku emang bisa berjuang, An. Tapi kamu lupa kalau orang berjuang juga ada batasannya. Dan mungkin aku udah mencapai batasannku itu.”
Hamkan....
“Aku janji aku nggak akan muncul lagi di depan kamu.”
Setelah itu Hamkan berbalik badan dengan hati yang tercabik. Anha menangis sejadi-jadinya. Apalagi ketika pintu itu tertutup dia terus meminta maaf kepada Hamkan dalam hati.
Maafin aku Hamkan. Maafin aku. Kamu pantes buat ngedapetin yang lebih baik daripada aku.
__ADS_1
***
INSTAGRAM PENULIS: MAYANGSU_ ok bye