
Saat ini Anha sedang duduk dengan santai di sandaran sofa ruang keluarga mereka sambil membolak balik buku parenting yang kemarin dibelinya lewat online shops. Mumpung dapat diskonan waktu itu jadinya Anha langsung membeli empat bijih supaya dapat gratis di ongkirnya.
Aim dan Ais sedang bermain dengan Nininya. Jadi sekarang Anha bisa bersantai dengan leluasa. Kedua Nininya itu memang bisa diandalkan sekali. Bahkan dulu Anha pernah meninggalkan si kembar dengan kedua Nininya untuk creambath di salon muslimah, dan hebatnya kedua monster kecil tidak menimbulkan masalah.
Kini rumah kecilnya terasa ramai sekali.
“Nginep, ya, Ma, di sini. Please,” bujuk Anha supaya Mamanya tidak pulang.
Mama mengatakan tetap tidak bisa sambil mengupaskan buah melon untuk si bumil kesayangan.
“Nggak bisa kalau nginep. Minggu depan aja. Mama besok harus masuk kerja tahu.”
Anha memanyunkan bibirnya, sebal tidak dituruti. Mamanya ini benar-benar gila kerja. Padahal Anha sudah mengatakan kepada Mama untuk pensiun saja, semua biaya hidupnya biar Anha yang tanggung tapi Mamanya masih saja tetap menolak.
Alasannya karena Mamanya masih ingin bekerja.
“Mama jahat, ih.”
Bujukan Anha lagi tidak mempan. Anha memasukkan melon berbentuk dadu yang sudah dipotongkan oleh Mamanya ke dalam mulut.
Mama tersenyum sambil mengusap perut Anha yang tengah mengandung cucu ketiganya.
“Kayaknya cowok lagi, deh,” tebak Mama asal-asalan sambil tersenyum kepada Anha. Anha menggeleng tidak setuju.
“Kayaknya cewek, deh, Ma. Nendangnya nggak sekenceng waktu pas hamil Aim sama Ais. Mas Hamkan juga penginnya anak cewek biar komplit cowok cewek.”
Terserahlah. Bagi Mamanya ini mau cucu cewek ataupun cucu laki-laki semuanya sama saja. Sama sama menggemaskan.
__ADS_1
“Sayang sini duduk dulu makan yang bener jangan lari-larian!” teriak Mama Asih karena cucunya lari ke sana ke mari ketika hendak disuapi. Anha dan Mamanya tertawa melihat hal itu.
“Nini... Nini. Ayo, dong, kejar Aim,” kata Aim sambil tersenyum menjahili Nininya yang hendak menyuapi mereka berdua tetapi mereka berdua malahan kabur ke sana ke mari membuat Nini Asih mereka kewalahan.
Ibrahim memang bersekongkol dengan kakaknya untuk mengerjai Nini. Dia lari ke kanan sedangkan Uwais sendiri lari ke kiri dengan wajah jahilnya.
“Astaghfirullah! Jangan lari-lari, dong, Nak. Nini capek Ais Aim!” teriak Nini Asih sambil memegang dadanya yang terasa kehabisan napas.
Hamkan terkekeh melihat kelakuan Mamanya yang sangat bahagia dengan kedua cucu nakalnya itu. Rumahnya yang terasa sepi ketika hari-hari biasa kini menjadi ramai ketika hari libur tiba.
“Udahlah, Ma. Mama duduk aja di kursi. Nanti, kan, anak-anak bakal ngedeket dan makan sendiri kalau laper,” kata Hamkan sambil mendekati istrinya yang sibuk membaca buku sambil mengunyah potongan melon yang dicomotnya dari piring bermotif bunga biru.
Aim dan Ais tertawa memperlihatkan gigi kecil mereka yang lucu.
“Nini ayo kejar lagi, dong. Nggak seru, ih, Nini.”
“Anak kamu ini, lho, Ham. Aktifnya bukan main. Ngalahin kamu waktu kecil dulu. Nakal poll.”
Hamkan tertawa renyah, tentu saja dua jagoannya itu nakal seperti dirinya waktu kecil. Kan, Hamkan Bapaknya. Yang penting tidak nakal seperti bertengkar dengan temannya.
Hamkan duduk di samping Anha dan meletakkan kedua kaki istrinya yang menjuntai di pangkuannya.
“Mama nggak ikut ngejar anak-anak?” tanya Hamkan menggoda Nini Marninya si kembar.
Mama martuanya itu menggelengkan kepala. Nini Marni kapok. Lebih baik dia memilih untuk duduk di sini sambil memotongkan buah melon untuk Anha daripada mengejar dua monster kecilnya Anha.
Sedangkan di sisi lain Nini Asih tidak pantang menyerah. Masih mengejar dua bocah nakal itu dengan semangat.
__ADS_1
“Awas aja, ya, kalau ketangkep. Pokoknya Nini kekepin nanti.”
Baru mengejar beberapa langkah saja Nini Asih sudah memegangi pinggangnya serta mengaduh kesakitan.
Pinggangnya terasa sakit. Mungkin terkena encok. Sepertinya dia harus beli susu penguat tulang setelah pulang dari rumah Anha nanti.
“Nini ayo, dong, kejar, kita lagi. Nggak seru. Ayo dong Nini,” teriak kedua bocah tengil itu.
Nini Asih menggelengkan kepala menyerah. Entah mengapa anak kecil seperti tidak ada lelahnya sama sekali.
“Nini nggak pa-pa?” teriak Ais dan Aim dengan khawatir lalu berhambur mendekati neneknya.
“Kena, deh,” kata Nini Asih memeluk dua monster kecil itu dan menciumi pipi tembam si kembar dengan gemas sekali membuat keduanya tertawa kegelian.
“Nini curang. Nini curang!"
Ais dan Aim berlari lari lagi memutari meja makan.
“Hati-hati, Nak. Jangan lari-larian kayak gitu nanti jatuh!” teriak Anha yang kali ini merasa sangat khawatir. Hamkan menyentuh tangan istrinya, menyuruhnya untuk tetap tenang saja.
Namun tiba-tiba yang ditakuti pun terjadi. Terdengar suara benturan dan kedua tangisan si kembar pun menggema.
Anha hendak bangkit dari posisi duduknya, ingin mengecek kondisi si kembar.
“Udah biar aku aja yang ngecek,” kata Hamkan menahan supaya istrinya tidak usah berdiri mengingat kandungan Anha sudah membesar.
Anha mengangguk dengan wajah panik.
__ADS_1