
Entah angin apa yang membuat mama yang saat ini sedang memasak tersenyum-senyum sendiri.
Anha yang melihatnya dari kejauhan hanya mampu mengeryitkan dahi sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat keanehan itu. Sepertinya suasana hati mama saat ini sedang baik.
Bagaimana tidak baik coba. Waktu itu, tepatnya ketika Anha dan Hamkan masih menyiapkan makanan di dalam dapur. Jeng Asih menyampaikan sesuatu yang membuat hati mamanya ini amat semringah.
Waktu itu sahabatnya mengatakan....
“Jeng, saya sebenernya suka sama Anha sejak dulu. Saya itu pengin banget ambil Anha sebagai mantu dan biar bisa besanan sama kamu Jeng.”
Senyum mama semakin melebar. Sedangkan Anha yang diam-diam mengintip dari kejauhan semakin merinding dibuatnya.
“Gimana kalau kita nyoba nyatuin Anha sama Hamkan, Jeng?”
Waktu itu mama belum cepat-cepat menjawab. Padahal dalam hati mama sudah mantap mengatakan ‘iya’. Bisa, pencitraan.
“Tapi Jeng. Saya malahan minder. Anha apa pantes buat anaknya Jeng Asih? Anaknya Jeng Asih terlalu baik buat anak saya. Hamkan, kan, ganteng, pekerjaannya udah mapan, baik, sayang sama orang tua. Sedangkan Anha, kan, cuma biasa-biasa aja kayak kebanyakan anak cewek di luar sana.”
__ADS_1
Mama mulai memasang air muka sedih. Sok-sokan memberikan alasan klasik untuk menolak halus tawaran Jeng Asih tersebut padahal saat ini mama hanya sedang merendah saja. Kalau mama dijuluki ratu drama sepertinya cocok juga. Ternyata kebiasaannya menonton sinetron selama ini berguna juga.
Jeng Asih menggenggam tangan Mama dan menggelengkan kepala kuat. Tidak suka ketika mama mengatakan hal tersebut.
“Jangan ngomong gitu, Jeng. Intinya saya suka sama Anha dan pengin Anha jadi mantu saya. Udah gitu aja, titik.”
Mama meringis mendengarnya. Ah, senangnya....
“Tapi Jeng. Gimana caranya kita nyatuin mereka? Apalagi anak saya, kan, baru aja patah hati karena batal nikah.”
Dahi Jeng Asih mengeryit mendengarnya. Ia berpikir sejenak. Benar juga kata sahabatnya itu. Andai saja menikahkan kedua anak semudah mengawinkan kucing yang dikandangi langsung kawin.
“Ah, Jeng Asih ini terlalu muji-muji Anha.”
‘Kan, saya jadi malu,’ tambah mama dalam hati.
Jeng Asih melanjut kembali ucapannya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan.
__ADS_1
“Udah-udah, Jeng. Tenang aja. Nanti kita pikirin lagi cari nge-PDKTin mereka.”
Setelah itu mama dan Jeng Asih ketawa-ketiwi seolah sedang merencanakan kejahatan saja. Hamkan dan Anha yang keluar bersamaan dari dapur hanya mengeryit sambil saling tatap dengan Hamkan karena keanehan kedua orang tua mereka.
Andai aja Anha tahu apa yang kedua ibu-ibu itu rencanakan. Pasti Anha akan marah atau ngambek beberapa hari.
***
Mama masih betah senyam-senyum sendiri membuat Anha semakin keheranan.
“Apa mama menang lotre, ya?”
Dengan langkah yang mengendap-endap tanpa suara sama sekali Anha menghampiri mamanya yang saat ini sedang memasak di dapur sambil mengenakan apron gambar bunga matahari.
“Mama!”
Mama agak kaget ketika tiba-tiba anaknya itu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Kamu ini, lho, ngagetin Mama aja!” kata mama sambil mendelik sebal. Anha malahan tersenyum melihat mamanya marah seperti itu.
“Abisnya Mama senyum-senyum sendiri nggak jelas gitu.”