
Anha ternyata ditempatkan di bimbel daerah Ngaliyan, meskipun jauh dari rumahnya tapi BRT sangat membantu. Terlebih lagi tempat mengajarnya dekat dengan perumahan Mai yang berada di BSB.
Sebenarnya setiap guru les mendapatkan jadwal mengajar shifting sehari dua kali dengan jam pertemuan dua jam lamanya.
Dari jam dua siang sampai empat sore, dan di jam lima sore sampai tujuh malam. Anha hanya mengambil yang bagian sore karena baru pertama kali bekerja—terlebih lagi terbatas dalam hal transportasi. Biar jam mengajar malam diambil guru bimbel yang lainnya.
Ah, omong-omong bagaimana, ya, kabarnya Mai? Anha rindu sekali dengan sahabatnya ketika kuliah dulu. Pasti sekarang Shiren yang dulu masih kecil itu sudah besar. Adiknya juga pasti sudah besar. Kalau ada kesempatan. Ingin rasanya Anha mengunjungi Mai lagi.
Hari pertama mengajar menyenangkan. Anak-anak sangat antusias dengan guru les baru mereka. Mereka cekatan. Wajah mereka menggemaskan. Bahkan dua jam terasa singkat di hari pertama mereka ini.
“Baik anak-anak. Jangan lupa, ya, dibaca bab selanjutnya. Besok kita bahas yang bagian itu, oke?”
Anak-anak tersenyum dan mengangguk kompak. Bu Anha lebih ramah dan menyenangkan daripada guru les mereka yang lainnya.
Anha mencangklong tas jinjingnya. Ketika berjalan melewati ruang kelas yang lainnya. Seorang anak menghentikannya.
“Bu guru. Chila bisa minta tolong nggak?” kata anak kecil itu sambil mengerjabkan matanya. Menggemaskan. Kalau tidak salah anak ini juga berada di kelasnya tadi.
__ADS_1
“Ya, Sayang? Ada yang bisa Bu guru bantu?”
Anha sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Benelin peniti Chila, dong, Bu. Takut kalau ketusuk.”
Anha terkekeh mendengarnya. Memang kerudung anak kecil ini terlihat miring karena kebesaran.
Dengan telaten Anha menerima peniti tersebut dari anak kecil itu. Dia menekuk lututnya agar tinggi tubunya setara dengan anak kecil itu. Anha berkutat membetulkan hijab Shila sampai pas. Dan dengan hati-hati Anha berhasil memasangkan peniti kecil di bawah dagu anak tersebut agar kerudungnya tidak miring lagi.
“Terima kasih, Bu Guru.”
Anha mengangguk dan mengucapkan sama-sama.
Hamkan, yang kebetulan melihatnya daritadi padahal niatnya ingin menghampiri Anha jadi terhenti.
Wanita itu benar-benar tersenyum. Senyuman yang sangat bahagia sekali seolah dulu-dulu tidak pernah ada beban sama sekali.
__ADS_1
Bahkan tanpa tersadar senyuman indah Anha membuat semburat di ke dua pipi Hamkan terlihat.
Anha cantik sekali. Andai dia lebih sering tersenyum lagi.
Hamkan merogoh ponselnya yang berada di saku celananya. Dia menyalakan mode kamera dan diam-diam memfoto Anha yang masih tersenyum bersama anak kecil itu.
Entah mengapa, hatinya kini terasa menghangat.
***
Halo, aku mau ngingetin nih. Meskipun novel ini udah tamat. Tapi jangan lupa buat ninggalin jejak berupa Like dan Komennya, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca 🤭
Aku selalu baca komen komen kalian meskipun aku nggak balas satu per satu.
Semoga kalian nggak bosen bosen sama ceritaku ya teman teman semua. Baca juga ceritaku yang lain: Nikmati aku + Dinikahi Berondong Kaya 😎😘 Follow juga instagram penulis mayangsu_ (pakek underscore atau garis bawah ya, jangan undewer)
Halo, aku mau ngingetin nih. Meskipun novel ini udah tamat. Tapi jangan lupa buat ninggalin jejak berupa Like dan Komennya, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca 🤭 Aku selalu baca komen komen kalian meskipun aku nggak balas satu per satu. Semoga kalian nggak bosen bosen sama ceritaku ya teman teman semua. Baca juga ceritaku yang lain: Nikmati aku + Dinikahi Berondong Kaya 😎😘 Follow juga instagram penulis mayangsu_ (pakek underscore atau garis bawah ya, jangan undewer)
__ADS_1