
“Kalila Sayang. Anak Umi yang paling cantik. Jantung hati Umi....”
Anha tersenyum sambil menimang-nimang malaikat kecilnya yang berada digendongan. Bayi mungil yang diberi nama Kalila Azzahra itu terlelap setelah disusui oleh Uminya.
Dengan gemas sesekali Anha mencium pipi tembam Kalila karena tidak tahan akan kelucuan wajah polosnya. Bibir kecil dan hidung yang mungil, kulit seputih bak poselin. Paras Kalila memang benar-benar cantik sekali. Banyak juga Ibu-ibu kompleks yang melintasi depan rumah Anha juga mengatakan jika anak bungsu dari Anha dan Hamkan itu benar-benar mewarisi kecantikan dari ibunya.
“Ih, Mbak Anha. Anaknya cantik banget, ya. Mirip ibunya,” puji salah satu tetangga Anha waktu itu ketika Anha menjemur Kalila agar terkena sinar matahari pagi di teras rumah.
Anha tersenyum tipis dan mengucapkan terimakasih. Dipuji orang karena memiliki bayi secantik Kalila membuat Anha merasakan dua hal sekaligus dalam satu waktu yang malahan membuat hatinya berkecamuk.
Satu sisi Anha merasa senang karena memiliki bayi secantik Kalila, tapi di lain sisi Anha juga merasa khawatir dengan dengan Kalila ketika ia sudah dewasa nanti. Anha tidak mau jika kecantikan yang dimiliki oleh Kalila justru menjadi musibah untuknya sendiri seperti apa yang dia alami ketika masih muda dulu.
Karena kenyataannya kecantikan memang sebuah anugrah dari Tuhan. Namun juga bisa menjadi musibah.
Maka dari itu Anha berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan menjaga putrinya dengan sebaik-baiknya, memberikannya kasih sayang dan perhatian yang cukup, serta menanamkan ilmu agama sejak kecil supaya kelak Kalila tidak salah jalan seperti dirinya.
Setelah Kalila benar-benar terlelap, Anha mencium pipi tembamnya untuk ke sekian kali sebelum menaruhnya di ranjang. Nanti Anha akan memindahkan Kalila di box bayi yang berada di samping ranjang mereka setelah Hamkan dengan anak-anak pulang.
Anha merenggangkan tangannya. Hari ini dia letih sekali, ia mengibaskan tangannya di depan wajah seolah berharap supaya rasa gerahnya hilang. Padahal saat ini AC di kamar menyala. Apa karena Anha masih mengenakan gamis, ya, makanya terasa gerah?
Sejak menikah dengan Hamkan, Anha memang memutuskan untuk mengenakan hijab. Ia ingin kecantikannya hanya dinikmati oleh suami sahnya saja.
Ketika Anha hendak mengambil baju ganti di dalam lemari. Suara nyaring dari luar kamar tidur menyita perhatiannya.
“Umiii... Umii!” panggil anak kecil dengan suara menggema.
Anha menelan ludah dan kembali menatap Kalila yang untungnya masih tertidur pulas. Anha takut apabila suara kakaknya akan membangunkannya mengingat menidurkan Kalila cukup sulit juga. Ditambah lagi suara dari cicitan dari sandal yang dikenakan putranya yang semakin lama semakin mendekat itu terdengar menggema di telinga.
“Umiii...”
Monster kecil Anha itu langsung memeluk kaki Uminya. Kiri dan kanan secara bersaaan. Anha tersenyum dan mengusap kedua pucuk kepala kedua putranya, Uwais dan Ibrahim, kakak dari Kalila.
“Umi... Umi.”
Anha tersenyum dan menatap si kembar dengan saksama. Mata bulat hitam yang berbinar, bibir merah yang memanyun ketika berucap, serta ucapan yang sedikit cadel namun renyah di indra pendengaran benar-benar membuat Anha gemas bukan main.
“Umi tahu nggak tadi di masjid Aim diganggu lagi cama Badlun, umi,” kata salah satu putranya yang bernama Ibrahim sambil memanyunkan bibirnya dengan tersungut-sungut kesal membuat Anha tertawa. Mengemas sekali. Badrun adalah anak dari tetangga Anha yang memang agak nakal.
“Oh, ya?” kata Anha menyimak dengan antusias cerita dari putranya sambil tersenyum.
“Iya, Umi. Masak tadi celana Aim diplolotin cama Badlun waktu shalat. Nakal banget, kan, Umi. Huh!”
Anha tertawa lepas mendengar cerita dari putranya. Memang tadi Hamkan mengajak dua jagoan kecilnya untuk shalat taraweh di masjid.
Anha sendiri tidak bisa ikut taraweh bersama karena harus menjaga Kalila di rumah. Jika Nini— panggilan kesayangan untuk Nenek Ibrahim dan Uwais datang ke rumah sehabis buka puasa bersama, biasanya Anha masih bisa mencuri-curi waktu untuk pergi shalat taraweh dengan Hamkan dan kedua putranya dengan perasaan tenang.
“Terus-terus?” pancing Anha lagi sambil menampilkan ekpresi penasaran supaya anaknya terus bercerita tentang keseruan shalat di masjid. Pasti setiap kali si kembar habis dari masjid mereka selalu membawa pulang cerita yang unik. Hal itu menjadi moodboster tersendiri bagi Anha.
“Iya Umi. Tadi Badlun juga lali-lali waktu pada shalat. Sampai nginjak-nginjak sajadah yang lain juga. Kan, gaboyeh, ya, Umi. Dosa. Kata Umi kalau kita nakal....” Terlihat Aim mengambil jeda sejenak ketika berbicara karena kehabisan napas. Kemudian bocah menggemaskan itu melanjutkan ucapannya kembali. “Kalau... kalau Nakal. Kata Umi nanti Allah bakalan marah, kan, Umi?”
“Iya Umi. Sampai tadi Badlun di malahin sama bapak-bapak di masjid juga,” tambah Uwais—kakaknya Ibrahim yang lahirnya hanya selisih setengah jam saja dari Uwais.
“Iya, Sayang. Betul itu. Kalian nggak boleh, loh, ya, nakal waktu salat di masjid.”
Kedua putranya itu tersenyum dan mengangguk patuh kepada Uminya membuat Anha tersenyum senang.
“Sini, Nak, kasih Umi ciuman.”
Langsung saja Ais dan Aim menciumi pipi Uminya. Sebelah kiri dan kanan secara bersamaan.
Anha bahagia sekali dikaruniai jagoan kecil yang menggemaskan ini, mana ditambah dengan seorang putri bungsu yang cantik pula. Dan Tuhan juga memberikannya suami yang sangat mencintainya. Lengkap sudah hidup Anha.
Hamkan yang tertinggal di belakang pun datang. Setelah mengucapkan salam, ia mendekati Anha untuk mencium kening Humaira-nya membuat Anha tersipu.
Meskipun mereka sudah lama menikah, perlakuan Hamkan terhadapnya tidak pernah berubah sama sekali, tetap saja masih romantis.
Setelah memberi satu kecupan di kening Anha, Hamkan berjalan ke arah lemari pakaian dan mengganti baju koko berwarna putihnya dengan baju casual biasa untuk tidur.
Tangan Ibrahim menjulur meminta digendong Uminya. Anha tersenyum dan menggendong anak lucunya itu dan mencium pipinya.
__ADS_1
“Umi... Umi... tadi Abati hebat, loh. Abati kuat shalat taraweh nggak belhenti cama cekali. Ais aja kecapekan dan akirnya duduk Umi.”
“Oh, ya?”
Wajah Aim sangat lucu ketika menerocos seperti itu. Manik hitamnya membulat penuh, serta bibirnya yang memanyun itu benar-benar menggemaskan.
“Iya Umi! Abati keren, ya!"
Yang sedang dipuji pun hanya tersenyum miring membanggakan diri. Anha yang melihat suaminya kepedean itu hanya memutar bola mata ke atas ketika Uwais dan Ibrahim sedang tidak melihat.
“Umii....” tiba-tiba Uwais yang masih berada di bawah ikutan menjulurkan tangannya ingin digendong juga. Uh, Sayangku.
Anha meringis dan merasa bersalah. Memang kadang dia susah sekali membagi perhatian kepada si kembar. Apalagi sifat Ibrahim dengan sifat kakaknya sangat berbeda. Ibrahin cenderung lebih cerewet dan manja, dan suka mencuri perhatian dari orang-orang di sekitar. Sedangkan Uwais sendiri tipenya lebih pendiam dan introvert.
Melihat putranya sedang menampilkan ekspresi sedih sambil menjulurkan tangan minta digendong oleh Anha itu membuat Hamkan yang sudah berganti baju pun berjalan dan mengambil Ibrahim dari gendongan istrinya supaya Anha bisa gantian menggendong Uwais.
Anha menciumi kedua pipinya milik Uais anak kecil itu tertawa kegelian. Hamkan juga ikutan mencium kedua pipi si kembar.
Anha dan Hamkan memperlakukan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Hamkan tersenyum melihat Anha yang tertawa bahagia. Diam-diam senyum tipis di bibir Hamkan pun terukir.
Lihatlah, siapa bilang Anha tidak dapat menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya?
Bahkan Anha sanggup mendidik tiga anak sekaligus, masih kecil-kecil pula. Anha juga menanamkan ilmu agama juga kepada anak-anaknya.
Tidak pernah sekalipun baik Uwais ataupun Ibrahim bertengkar dengan anak lainnya atau merasa kekurangan kasih sayang. Mereka berdua sangat penurut kepada kedua orang tuanya.
“Umi... tadi Badlun juga main petasan, lho, Umi waktu kita semua lagi solat.”
Kini gantian si sulung yang bercerita dengan antusias sambil melingkarkan tangan mungilnya di leher Anha.
“Iya Umi. Umi tau nggak? Tadi Abati juga mau beli petasan yang gede segini... tapi Abati gajadi beyi akhirnya beyinya cuma melcon banting—” Mata Hamkan membulat penuh ketika tiba-tiba Aim yang berada di gendongannya menerocos seperti itu, kenapa Aim malahan membeberkan rahasia mereka bertiga ketika selesai salat taraweh kepada Uminya.
Hamkan menyengir kuda, merasa bersalah kepada Anha.
Belum juga Ibrahim selesai berbicara, Hamkan sudah membekap mulut si kecil sambil salah tingkah. Aduh, dia kelupaan belum janjian dengan kedua anaknya untuk merahasiakan 'kenakalan' tersebut dari Uminya yang galak sekali itu.
Memang bahaya menitipkan anak-anak dengan Bapakknya. Pasti kelakuannya aneh-aneh.
“Sayang. Pokoknya Ais sama Aim gaboleh loh, ya, main petasan. Nggak baik, nanti kalau kena tangan gimana? Selain itu, main petasan juga buang-buang uang. Mubazir,” kata Anha sambil penuh penekanan pada akhir kalimatnya sambil menatap Hamkan dengan sebal.
Nyali Hamkan menciut ditatap istrinya seperti itu. Uwais dan Ibrahim mengangguk patuh, jari kelingkingnya bertaut dengan jari kelingking Uminya, berjanji tidak akan pernah main petasan lagi.
Ais dan Aim meminta turun dari gendongan kedua orang tuanya kemudian melepas sepatu cicit mereka.
“Yah, Dek Kayiya udah bobo, ya.”
Mata Uais mengerjab melihat adiknya yang dari tadi tertidur di ranjang.
“Padahal Ais mau main sama Dek Kayiya sehabis taraweh.”
Aim menganggukkan kepala setuju dan naik ke ranjang. Si kembar tidur di sisi kiri dan kanan Kalila seolah menjadi benteng untuk adik cantiknya supaya tidak terjatuh.
Hamkan merangkul pinggang Anha. Meskipun istrinya itu sudah hamil dua kali namun tubuhnya masih bagus karena Anha memang menjaga penampilannya untuk menyenangkan suami. Kini mereka berdua tersenyum melihat ketiga anak mereka yang begitu menggemaskan.
“Dek Kayiya...” ucap Aim sambil mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi tembam Kalila namun hal tersebut diurungkan. Ia takut apabila membuat Kalila terbangun. Akhirnya Aim hanya menatap wajah menenangkan adiknya yang terlelap sambil tidur miring menopang kepalanya menggunakan kedua tangannya yang ia katupkan sebagai pengganti bantal.
Sedangkan Ais sendiri juga membentengi Dek Kalila di sebelah kiri adiknya. Menggemaskan sekali. Pasti nanti ketika Kalila sudah besar kedua kakaknya itu akan menjaga adiknya dan sangat posessif.
“Ais, Aim. Umi tinggal, ke ruang depan dulu, ya, sama Abati. Tolong jagain Adek kalian. Kalau Dek Kalila nangis, nanti kasih tau Umi, ya.”
Kedua jagoan Anha itu mengangguk paham. Setelah itu Anha berjalan keluar diekori oleh Hamkan di belakangnya. Anha duduk di sofa ruang keluarga. Hamkan menoleh ke belakang untuk memastikan jika kedua anak mereka tidak sedang melihat.
Tanpa Anha sadari Hamkan tiba-tiba menarik pinggangnya dan mengecup pipinya. Uh, suaminya ini benar-benar manja sekali setelah menikah.
“Kangen, Yang,” ucap Hamkan sambil mengecup leher Anha membuat istrinya menggelinjang kegelian.
Memang Anha sudah janjian dengan Hamkan akan menggunakan nama panggilan ketika hal-hal tertentu mengingat mereka sudah memiliki tiga orang anak. Jika Hamkan sudah memanggilnya dengan sebutan ‘yang’ seperti ini artinya dia sedang pengin....
“Nanti, Ah. Anak-anak belum tidur, tau. Nanti kalau ketahuan gimana,” kata Anha setengah berbisik kepada Hamkan membuat Hamkan terkekeh senang.
__ADS_1
“Nggak papa, lah. Kelamaan kalau nunggu anak-anak tidur.”
Ada benarnya juga apa yang Hamkan katakan, mengingat jam pada dinding ruang keluarga mereka masih menunjukkan pukul sembilan malam. Masih dini untuk tidur pulas. Bisanya Ais dan Aim tidur pukul sepuluh malam.
Anha menggigit bibir bawahnya. Bingung. Kalau Anha melayani Hamkan sekarang bisa bahaya jika ketahuan dua anaknya.
Dengan nakal tingkah Hamkan malahan semakin menjadi-jadi saja. Sekarang tangannya mengusap perut Anha yang terhalang baju gamisnya dan semakin lama gerakkannya semakin naik merembet naik ke atas hendak meremas dadanya membuat Anha kesal. Tunggulah sebentar lagi.
“Mas!” tegur Anha sedikit menekankan nada bicaranya untuk menyamarkan desahan yang hampir saja lolos dari bibir seksinya.
Anha juga menepis dengan paksa tangan nakal suaminya membuat Hamkan memanyunkan bibir seperti anak kecil yang murung karena tidak diberi permen oleh kedua orang tuanya.
“Yang pengin....”
“Nanti aja.” Anha memeluk erat bantal sofa agar suaminya tidak mengulangi perbuatan mesumnya lagi. Hamkan iri dengan bantal sofa yang sedang dipeluk erat oleh Anha. Ingin rasanya dia menggantikan posisi bantal sofa itu.
“Oh, iya. Tadi Aim waktu di masjid bilang sama aku katanya dia pengin punya adek lagi. Kali ini dia request dibuatin adek cowok biar bisa diajakin ngeroyok si Badrun,” kata Hamkan tanpa dosa sambil menggaruk ujung hidungnya.
Anha membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Mana mungkin Aim mengatakan hal itu?! Secara dia, kan, masih anak-anak. Mata Anha menyipit tajam menatap ke arah suaminya. Pasti itu adalah akal-akalannya Hamkan untuk meminta jatah.
Hamkan menggoda lagi dengan cara mengisap basah leher jenjang Anha. Serangan tiba-tiba itu berhasil membuat sekujur tubuh Anha meremang.
“Mas....”
Belum sempat menolak. Hamkan sudah mendorong tubuh istrinya sampai terlentang di sofa. Hamkan menindih tubuh istrinya dan menciumi bibir yang terasa manis dan menggoda milik Anha.
Anha ikut terbuai, tangannya bergerak menelusup dan mereemasi rambut suaminya. Sedangkan tangan kiri Hamkan mencoba melepaskan kancing kecil dari gamis homeey dress yang Anha kenakan.
Ketika permainan mereka memanas. Tiba-tiba teriakan anak mereka membuat baik Anha maupun Hamkan kaget bukan main.
“UMIII UMIII, Dek Kalila nangis!!!” teriak Ais yang sepertinya sedang berada di ambang pintu. Benar saja, dari sini Anha juga dapat mendengar tangisan putri kecilnya. Mungkin Kalila terbangun.
“Mas!" Anha menahan tubuh Hamkan sebisa mungkin supaya tidak berdiri dari posisi menindihnya.
Untung sja tubuh mereka berdua masih tertutupi oleh sandaran sofa ruang keluarga ini. Jika tidak pastilah Ais bisa melihat Uminya sedang ditindih oleh Abatinya.
Bagaimana Anha bisa menjawab apa yang saat ini Abatinya lakukan kepada Uminya? Tidak mungkin juga kan menjawab sedang tindah tindihan ataupuun kuda-kudaan. Yang benar saja!
“Iya, Sayang. Bentar. Nanti Umi nyusul ke sana,” kata Anha kepada Uwais yang saat ini sedang itu menganggukkan kepala kemudian berlari kembali ke ranjang di mana tempat adiknya berada.
Anha dan Hamkan saling menatap dengan pandangan tegang. Napsu mereka seolah hilang karena syok. Kemudian selang beberapa detik lamanya Anha dan Hamkan tertawa geli bersama.
Setelah tawa mereka mereda. Kini Hamkan masih menatapnya dengan intens. Entah apa yang sedang dipikirkan. Anha pun tidak bisa menebak.
“Nanti, ya, Mas. Kasihan Kalila nangis. Aku cek dulu,” kata Anha sambil mendorong dada bidang suaminya. Namun Hamkan tidak bergeming sama sekali. Satu kecupan mendarat di kening istrinya. Sengaja dihadihkan oleh Hamkan membuat Anha mengeryit.
Hamkan membantu Anha untuk duduk kembali di sofa.
“Makasih, ya, An, karena udah jadi istri yang baik buat aku. Makasih juga udah ngebesarin anak-anak dengan cinta dan kasih sayang.”
Oh perkataan Hamkan benar benar membuat hatinya tersentuh. Rasanya Anha ingin menangis haru saja.
Pipi Anha memerah membuat tangan Hamkan tidak tahan untuk mengusapnya. Manis sekali istrinya ini.
"Aku bersyukur, An, punya istri kayak kamu."
Anha menggelengkan kepalanya. "Nggak Mas. Harusnya aku yang bersyukur karena punya suami yang baik kayak kamu. Yang bisa nerima aku apa adanya dengan segala kekuranganku."
Entah mengapa mata Anha terasa memanas ketika mengatakan hal tersebut. Hamkan mengusap air mata istrinya yang jatuh di pipi.
"Umi... Dek Kalila masih nangis. Aduh!!!" teriak Aim dengan panik karena Uminya tak kunjung datang untuk melihat Kalila.
Anha tertawa renyah dan menganggukkan kepala. "Iya Sayang. Sebentar."
***
Abati: Panggilan lain untuk Ayah, Papa, Abi, dsb.
Mercon: Petasan.
__ADS_1