
"Aaaa… Ayo buka mulutnya anak Umi Sayang."
Anha mengulurkan tangannya yang memegangi sendok berisi bubur bayi hendak menyuapi Kalila yang saat ini sedang duduk di lantai teras rumah yang sudah Anha lapisi dengan menggunakan karpet bermotif hello kitty supaya bokong Kalila tidak kotor.
“Anak pinter,” ucap Anha sambil tersenyum ketika Kalila menerima suapannya. Kalila ikut tersenyum dan bertepuk tangan. Ia mengunyah makanannya sambil bermain boneka barbie kesayangan.
Sore ini suasana terasa cerah. Langit menampilkan warna biru dan putih yang beradu.
Sesekali Anha melemparkan pandangannya keluar gerbang rumah untuk memantau kedua anaknya yang lain yang saat ini sedang bermain bola bersama anak-anak kompleks tempatnya tinggal melalui gerbang rumah.
"Mi…mi...." Kalila mengoceh tidak jelas sambil memerlihatkan boneka barbie-nya kepada Anha.
“Iya. Bagus, ya, Nak, ya? Nanti, deh, kita minta Abati buat beliin boneka yang Ken, ya, Nak.”
Ken adalah pacarnya barbie. Kebetulan Kalila belum memilikinya. Seolan paham sedang diajak bicara, Kalila menganggukkan kepala dengan semangat dan membuka mulutnya utuk menerima suapan dari Uminya lagi.
“Mii… mii… Ti-Ti…na?” (Umi... Umi... Abati mana?)
Anha tersenyum, kemudian menjawab, “Abati lagi kerja, Nak. Nanti pulangnya. Dek Kalila kangen, ya, sama Abati?”
"Um." (Huk'um / iya)
Akhir-akhir ini Anha mulai mengerti beberapa Bahasa alien ala Kalila. Mi-mi artinya Umi. Kalau Ti artinya Abati. Cucu artinya minum susu. Kak artinya Kakak.
Kalila masih sibuk mengoceh sendiri dan mengambil boneka barbie miliknya yang lain. Dengan gemas Anha menciumi pipi si tembam habis-habisan. Dari kiri berganti ke sebelah Kanan. Selagi masih kecil, Anha akan menciumi anaknya banyak-banyak. Sampai puas. Ah, anaknya ini benar-benar menggemaskan sekali.
Anha senang dapat melihat dan menemani tumbuh kembang Kalila. Tapi, meskipun begitu, ada rasa sedih juga di hatinya akan satu hal. Kenapa bayi kecilnya ini harus cepat sekali besarnya, sih? Pasti sebentar lagi tanpa terasa Kalila akan tumbuh cepat seperti kedua kakaknya.
Suara klakson dari luar gerbang membuat perhatian Anha teralihkan dari Kalila.
Anha mendengus kesal, siapa pula yang kurang kerjaan seperti itu sampai menekan klakson berulang-ulang? Seperti anak kecil saja. Tidak sadar apa jika suaranya mengganggu satu kompleks!
Anha hendak berdiri untuk mengecek namun pembantunya yang kebetulan sedang mengepel ruang tamu pun menyela.
"Biar saya aja Nyonya yang ngecek."
Pembantu Anha langsung sigap berlari untuk mengecek.
Entah apa yang pembantunya bicarakan dengan pengendara mobil berwarna merah yang nampak dari celah pagar rumah.
“Yuk, Sayang.”
Anha mengulurkan tangannya menggendong Kalila yang telah selesai menghabiskan bubur di mangkuknya.
Tiba-tiba kini pembantunya sudah kembali lagi dengan wajah sumringah berjalan menghampiri Nyonyanya.
“Oh, ternyata tamu di depan lagi nyariin Nyonya.”
Kening Anha mengerut mendengarnya. “Siapa, Bik? Suruh masuk aja kalau gitu.”
“Kurang tahu, Nyonya. Dia bilangnya cuma nyuruh saya buat nyampaiin ke Nyonya kalau dia mau ketemu sama Nyonya.”
Anha semakin tidak paham dan menebak-nebak dalam hati.
“Kalau nggak salah tadi dia bilangnya mantan, Nyonya,” lanjut pembantunya menyampaikan.
Hah. Mantan?
Mantan siapa? Apa jangan-jangan Ikram? Atau Hasan? Atau Angga? Astaga! Inilah tidak enaknya punya banyak mantan.
Lagi pula, siapa pun lelaki di luar gerbang sana. Hitungannya dia cukup tangguh juga berani main ke rumah Anha yang notabene-nya sudah menikah dan memiliki anak.
Anha berjalan pelan sambil menggendong Kalila di pinggang sebelah kanan.
Setelah Anha membuka gerbang rumahnya. Mulutnya langsung menganga ketika melihat siapa tamu yang dimaksud.
Kini tampak laki-laki duduk di kursi mobil dengan sebegitu jumawanya. Kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Apalagi saat ini dia sedang membawa mobil dengan tipe BMW 4 berwarna merah mengilap yang atapnya terbuka.
“Hai, Manis,” sapa pria tersebut sambil melepaskan kaca mata dan diakhiri kedipan genit untuk Anha.
Anha masih tercengang. Bukan karena kehadiran bocah tengil yang tiba-tiba berada di sini melainkan karena takjub melihat mobil mewah Sean.
Gila, loh. Anak kecil naik BMW mewah! Siapa yang tidak terheran-heran coba. Pantas saja Sean mampu kuliah di luar negeri dan memberinya segepok uang dolar ketika acara resepsi.
“Ya ampun. Sampai segitunya, ya, Tanteku takjub dengan ketampananku yang paripurna ini. Jangan ngeces gitu, dong, Tante,” ucap Sean dengan jumawa sambil menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemarinya yang direnggangkan, berusaha menebarkan pesona mautnya kepada Tante Kesayangan.
Mendengar ucapan Sean yang sangat percaya diri tinggi barulah mulut Anha tertutup kembali, kesadarannya pun pulih.
“Ngapain kamu ke sini,” balas Anha sewot sambil memalingkan wajah ke arah Kalila yang sedang mengerjabkan mata dengan wajah polosnya.
Lebih baik Anha menatap putri imutnya, Kalila, daripada menatap bocah bikin naik darah itu!
“Ya elah, Tante. Judesnya nggak ilang-ilang, sih, dari dulu.”
Anha terang-terangan memutar bola mata mendengarnya. Namun si bocah tengil itu malahan semakin terkekeh senang.
“Uh… Bikin tambah Sayang aja. Sayangnya istri orang.”
Hoek! Anha pura-pura menampilkan ekspresi mau muntah mendengar gombalan receh si bocah ingusan macam Sean membuat anak itu semakin tertawa geli. Dari dulu memang ekspresi jengkel Tante Anha adalah ekspresi kesukaannya.
Tapi memang benar, sih. Istri orang atau pun suami orang itu sangat menggoda. Pantas saja pelakor merajalela.
“Tumben ke Indo. Nggak kuliah kamu?” tanya Anha.
“Ada urusan di Indo, Tante. Makanya sekalian nyempetin diri buat main ke rumah, Tante. Hehe.”
Anha hanya memangut-mangutkan kepala.
__ADS_1
“Ini anak Tante?” lanjut Sean ketika melihat anak kecil yang sedang digendong Anha.
Anha menganggukkan lagi untuk kedua kalinya.
“Lutunaaaa. Sini Sayang kakak gendong.”
Kedua tangan Sean terulur hendak menggendong Kalila, namun Kalila tampak masih malu-malu dan membenamkan wajahnya di bahu Uminya.
Sean terkekeh. “Mirip sama anak pertama Tante, ya.”
“Eh?” Anha mengeryit, tidak paham dengan arah ucapan Sean.
“Iya. Anak yang Tante bawa ke supermarket waktu itu, loh. Kan, dulu dia juga malu-malu waktu ketemu sama aku.”
“Hah?”
Sean berdecak melihat tante kesayangannya tiba-tiba telmi seperti itu.
“Alah. Itu, loh. Anak yang ngegemesin waktu awal kita ketemu di supermarket Tante.”
Mulut Anha baru terbuka dan dia menepuk pundak Sean setelah ingat. Anha tertawa. Sekarang dia baru paham jika ternyata yang dimaksud Sean itu adalah si Shiren—anak sahabatnya yang waktu itu digendongnya ketika di supermarket. Bahkan mungkin sampai sekarang Sean mengira jika anak kecil itu adalah anaknya.
“Oh, yang waktu itu? Itu sih bukan anak aku. Tapi anaknya temenku kali.”
Sean membuka mulut tidak percaya. Ja-jadi… Ah sial! Padahal dulu Sean mengira Anha dulu seorang janda anak satu. Tahu begitu gebet saja dari dulu!
Sean tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya lagi berusaha supaya Kalila mau digendongnya.
“Ayo, Sayang. Sini Kakak gendong.”
Namun Kalila menggeleng dan masih malu. Sean terkekeh. Uh, menggemaskan sekali. Jadi pengin gendong ibunya—eh, anaknya maksudnya.
“Nggak pa-pa Kalila, Sayang. Om Sean baik, kok, Nak. Dia temennya Umi.”
“Om-om! Kakak tahu!” protes Sean tidak terima dipanggil dengan sebutan Om membuat Anha tergelak tawa. Kalila mengerjab sambil menatap ke arah Uminya. Hingga pada akhirnya Kalila pun mengulurkan kedua tangan mungilnya untuk digendong oleh Sean.
“Cantiknya. Nama kamu siapa Sayang?” tanya Sean sambil tersenyum menatap anak Tante kesayanganya.
“Yiya,” kata Kalila sambil mengerjab. Anha tersenyum teduh, dia tidak percaya jika ternyata selain usil, Sean juga memiliki sifat kebapakan seperti itu juga.
Anha yakin, kelak jika Sean menemukan tambatan hatinya. Pasti Sean akan sangat menyayangi wanita beruntung itu. Kelak pasti Sean juga akan sangat sayang dengan anak-anaknya, terlihat dari dirinya yang sangat menyukai anak kecil seperti itu.
“Udah cocok gitu, kok, jadi Om Sean-nya Kalila. Tinggal nyari Tantenya aja, Sean,” ejek Anha sambil terkikik geli.
“Tante nggak usah ngejek, deh!”
Sean cemberut sambil menciumi pipi gembul si Kalila.
“Yan….” Tiba-tiba Kalila berucap seperti itu membuat Sean semakin frustrasi—sedangkan Anha sendiri semakin tertawa geli. Ya ampun. Baru kali ini Sean dipanggil tanpa embel-embel Kakak atau pun Om oleh anak kecil berusia satu tahun.
Tanpa perlu dijelaskan dua kali pun Anha sudah mengerti yang dimaksud Sean adalah Hasan. Mantan kekasihnya yang pergi meninggalkan dirinya tanpa kabar.
"Jangan ngomong kasar gitu, ah, Sean. Ada Kalila tahu," ucap Anha mencoba mengalihkan arah pembicaraan. Sean mendengus kesal.
"Habisnya berani-beraninya bikin Tante Kesayanganku nangis kayak gitu." Sean menatap ke arah atas untuk berpikir. "Apa enaknya aku nyuruh Koko buat mecat dia dari kantor, ya?" gumam Sean masih tertangkap oleh pendengaran Anha.
"Jangan gitu, ih. Itu, kan, masa lalu. Sekarang aku udah bahagia, kok, sama Abatinya anak-anak."
"Syukur, deh, kalau kayak gitu. Kalau Tante berubah pikiran dan nyari tukang santet. Nanti Sean cariin."
Anha tertawa mendengar lelucon Sean.
“Gimana kabar tante sama suami Tan—” Baru saja hendak berucap. Tiba-tiba ada anak yang menginterupsi percakapan mereka.
“Kamu ciapaaaah?!” ucap Anak kecil di depan Sean sambil berkacak pinggang dengan galaknya.
“Tulunin Dek Kayiya nggak! Pasti Om penculik anak, kan?” kata Ais dengan galak sambil menunjuk Om Om di depannya itu.
Anha hanya diam saja sambil menutup mulutnya menahan tawa geli melihat kesalahpahaman di depannya. Memang dari dulu Anha mengajari anak-anak mereka beberapa hal dasar mengenai sex education untuk anak-anaknya.
Seperti mengajari Aim dan Ais jika orang asing tidak boleh menggendong adik mereka, takutnya apabila penculik anak. Kalau ada orang yang seperti itu, maka Anha menyuruh mereka wajib marah dan melaporkan kepada Uminya secepat mungkin. Mereka—beserta Dek Kalila—juga tidak boleh diciumi oleh orang asing kecuali Umi, Abati, dan Nininya.
Mereka juga tidak boleh menerima permen pemberian dari orang asing ataupun di sentuh oleh orang asing di bagian daerah pribadi mereka. Maka dari itu wajar sekali jika saat ini Ais bersikap protektif kepada adiknya yang saat ini digendong oleh Sean.
“Cepet tulunin nggak!” Ais memukul-mukul kaki Sean membuat Sean berdecak.
“Heh. Si curut ini siapa?”
“SEAN!”
Tiba-tiba Tante Kesayangannya itu berteriak memekakan telinga. Memangnya siapa yang tidak kesal jika anaknya dikatain curut oleh si bocah sableng ini.
“Cepetan lepasin Dek Kayiya! Dasar Om Jahat!!!”
Sean hanya terkekeh sambil memegangi kepala bocah kecil yang mengamuk tidak jelas di depannya sehingga tendangan dan pukulan Ais tidak terkena kakinya lagi dan memukul-mukul angin kosong.
“Biarin Om culik adek manis ini terus nanti dia mau Om karungin bawa pulang ke Singapuraaaaaaaa ARKKHHH!” teriak Sean kencang sekali ketika tiba-tiba dia merasakan paha pelakangnya terasa sakit.
Sean langsung menarap ke belakang. Ternyata diam-diam Aim menggigit paha Sean dari belakang dengan kencang. Meskipun Sean sedang mengenakan celana Jeans berwarna biru dongker yang cukup tebal. Namun gigitan bocah di belakangnya itu terasa menembus kain celannya.
“Dasar curu—”
“Sean! Mereka itu anakku tahu!” potong Anha sambil mengembuskan napas sebal.
Hah! Apa?! Jadi kedua—eh, ketiga anak kecil ribet ini adalah anaknya Tante? Sean ternganga tidak percaya.
Ck! Suami Tante Anha itu benar-benar luar biasa! Perkasa sekali dia.
__ADS_1
“Gila! Baru aja dikasih k*ndom satu aja udah ngasilin bocah tiga, loh. Apalagi kalau dikasih sekotak coba,” gumam Sean ngawur membuat wajah Anha merah padam. Ba-bagaimana bisa Sean berbicara asal di depan banyak anak kecil polos seperti itu.
“SEAN!” teriak Anha dengan kesal membuat tiga anaknya yang lucu-lucu itu hanya menatap Uminya dengan kerjaban mata. Uh, untung saja Ais, Aim, Kalila tidak mengerti tentang apa yang baru saja Sean ucapkan.
Anha merebut kembali Kalila yang berada di gendongannya Sean.
“Jangan ngomong aneh-aneh, deh, di depan anak kecil!”
Sean ini… semakin tua malahan semakin menjadi-jadi. Melihat ekspresi Tante Anha yang terlihat betulan marah. Barulah Sean berdehem dan mengalihkan suasana.
“Jadi, mereka anak, Tante?” tanya Sean sambil menatap mereka bertiga bergantian. Wajahnya memang mirip, sih, dengan Tante Anha. Apalagi si kecil Kalila itu, wajah cantiknya benar-benar mirip sekali dengan Tante Anha.
“Kembar, ya?” tanya Sean setelah mengamati Aim dan Ais bergantian.
“Iya kembar. Namanya Uwais dan Ibrahim. Dan Ais, Aim… ini namanya Om Sean, Nak. Om Sean ini temannya Umi yang baik hati.”
Kedua anak itu ber-'oh' ria setelah mendengar penuturan Uminya.
“Sekarang kalian salim, gih, sama Om Sean.”
Kedua putranya itu mengangguk dan menyalami tangan Sean dan mengucapkan maaf karena telah berperilaku seperti tadi.
"Maapin Aim, ya, Om karena dah gigit Om Cean," ucap Aim sambil mencium punggung tangan Sean membuatnya tertawa dan mengacak rambut Ibrahim dengan gemas.
“Jadi Om bukan pencuyik?” tanya Ais dengan polosnya.
“Bukan Sayang,” Anha menimpali dan meluruskan kesalahpahaman tadi.
Sean tertawa dan menggendong kedua jagoan Anha yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh tubuhnya. Anha tidak mengira jika Sean bisa sekuat itu. Tapi bagaimanapun juga, Sean benar-benar terlihat sangat keren!
Huh! Andai saja Sean mendengar Anha memujinya dalam hati. Pasti anak itu akan kepedean bukan main.
“Om... Om, kok, bica kenal sama Uminya Aim?” tanya Aim yang berada di gendongan sebelah kiri.
“Iya, dong. Om ini, kan, mantannya Mami kamu.”
Hah! Anha melotot mendengarnya. Tuhkan, baru saja dipuji sekarang sudah berbicara ngelantur lagi, mana Sean berbicarannya dengan anak-anak pula. Benar-benar minta dijitak ini anak.
“Mantan itu apa, Om?” tanaya Ais dengan polosnya sambil mengerjabkan mata.
“Rahasia, dong. Nanti kalian tanyain aja ke Papimu, ya, Nak,” jawab Sean sambil terkikik geli melihat Tante Anha semakin frustrasi dan menepuk dahinya sendiri. Kedua anak polos itu mengangguk dengan mantap. “Okeh siap.”
“SEANNN!” teriak Anha geram. Baiklah. Hancur sudah anak-anaknya jika berdekatan terus dengan Sean.
“Oh, iya. Kalian mau main nggak ke Mal? Nanti Om beliin, deh, mainan yang banyak buat kalian. Terserah ambil yang mana aja nanti Om Sean yang bayarin.”
“Yeay!”
“Mau Om mau! Ayok Om Ayok!”
"Aim, Ais. Nggak boleh. Nanti ngerepoti Om Sean, loh."
Anha memperingati dengan tatapan menyipit. Dia saja kuwalahan menjaga kedua anaknya padahal sudah dibantu oleh pembantu mereka. Bagaimana dengan Sean coba yang hendak membawa kedua anaknya yang sangat aktif itu seorang diri?
Kedua bocah yang dimaksud itu menampilkan ekspresi sedih yang dibuat-buat senatural mungkin supaya Anha luluh dan memperbolehkannya untuk jalan-jalan bersama Om yang baik hati ini.
"Please Umi. Boyeh, ya."
Anha cemberut. Sepertinya Mama Asih mengajari kedua anaknya sehingga jago berakting memelas seperti ini.
Si kembar berteriak senang. Sean membawanya ke mobil BMWnya yang terbuka.
"Iya, deh. Tapi kalian janji jangan nakal, ya. Terus pulangnya jangan malam-malam."
“Yeay!” teriak si kembar kegirangan. Sebenarnya Anha juga senang-senang saja, sih. Jika Sean membelikan mainan untuk si kembar itu artinya dia menghemat uang belanjaanya. Tapi sekarang Anha masih berusaha menampilkan wajah merengut.
“Umi nggak ikut?” tanya Ais ketika mereka bertiga sudah berada di mobil merah Sean. Anha menggeleng. Sebenarnya dia juga ingin ikut. Tapi sebentar lagi Hamkan pasti akan pulang, jadi Anha harus tetap di rumah saja untuk menyambutnya.
“Jagain anak-anak aku, loh, ya. Jangan kamu ajarin aneh-aneh,” pesan Anha sambil menatap galak ke arah Sean.
Sean terkekeh. “Tenang, Tante. Palingan juga aku culik ke Singapura.”
Sean mulai menjalankan mobilnya.
"Dadah Umiii."
Kedua anak kembarnya melambaikan tangan. Anha memegang tangan Kalila dan memberikan da-dah untuknya.
"Hati-hati, ya, Nak. Nanti minta mainan yang banyak sama Om Sean. Jangan pulang kalau belum ngerampok sama Om Sean Sultan."
"Iya Umiii."
Mobil itu pun berlalu semakin bergerak menjauh meninggalkan Anha yang menggendong Kalila.
***
Dan benar saja, ketika Sean dengan anak-anak sudah puas bermain di timezone. Mereka pulang dengan Ais dan Aim yang mengenakan kacamata berwarna hitam ala Sean sableng. Di tambah lagi barang belanjaan yang bayak sekali di kursi belakang.
Anha menggeleng-gelengkan kepala. Sean benar-benar sultan. Tapi walaupun begitu dia sangat senang. Anha merasa di mana pun Sean berada, Sean seolah selalu memberikan warna untuknya.
***
Last Final ketemu Hasan besok.
Besok Sean bakalan update normal karena author dan free.
Kalau mau baca kisahnya Sean, ada di lapakku dengan judul DINIKAHI BERONDONG KAYA . TQ.
__ADS_1