Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Salad


__ADS_3

“Ya, ampun, Jeng. Nggak usah repot-repot kayak gitu. Jeng Asih ini terlalu manjain Anha, deh,” kata mama tidak enak hati—padahal, sih, sebenarnya suka juga melihat Anha diberi tas mahal seperti itu. Biasa… pencitraan.


“Nggak papa, kok, Jeng. Lagian Anha ini juga udah nemenin saya waktu di rumah sakit dulu.”


“Makasih, Tante,” kata Anha sambil meletakkan tote bag tersebut dipangkuannya. Jeng Asih tersenyum dan mengangguk. Kemudian Jeng Asih menatap mamanya Anha dan memberikan kode kepada sahabatnya itu. Mama tersenyum dan mengerti maksud dari tatapan dan kedipan Jeng Asih.


“Anha. Kamu buatin minuman sama cemilan dulu sana buat Tante Asih.”


Anha mengangguk. Meletakkan tote bag yang semula dipangku itu di atas meja.


“Ah, nggak usah repot-repot, Jeng,” kata Jeng Asih.


“Nggak papa, kok, Tante. Bentar, ya, Anha siapin dulu.”


Jeng Asih akhirnya mengangguk. Namun langkah Anha berhenti sesaat ketika Jeng Asih memanggil namanya.


“Anha bentar. Ada salad nggak? Tante nggak suka manis-manis, nggak dibolehin dokter. Biasa, penyakit orang tua,” kata Jeng Asih sambil cemberut. Penyakitnya itu terkadang memang merepotkan. Tidak boleh ini, lah. Tidak boleh itu, lah. Banyak pantangannya. Semuanya tidak boleh dimakan.

__ADS_1


Anha mengingat-ingat sekilas. Di kulkas masih ada beberapa sayuran, sih.


“Ada Tante. Bentar, ya, Anha buatin dulu.”


Jeng Asih tersenyum senang.


“Memang bener-bener idaman banget,” kata-kata Jeng Asih tersebut hanya Anha dibalas dengan senyuman—tentunya senyuman yang dipaksakan demi beramah-tamahan dan demi terlihat baik-baik saja.


Setelah Anha masuk ke dalam dapur. Jeng Asih menatap Hamkan dengan tatapan yang tajam dan tangan yang bersedekap di deepan dada.


Hamkan mengeryitkan keningnya tidak paham akan kode-kode seperti itu. Biasa, Namanya juga lelaki. Tidak pekaan.


Mamanya melotot kepadanya. Hamkan meringis, ternyata itu maksud gerak-gerik mamanya tadi. Kenapa juga tidak menyampaikannya langsung kepadanya.


“Iya, Ma,” jawab Hamkan patuh. Akhirnya Hamkan berdiri untuk membantu Anha di belakang. Apapun yang mamanya ucapkan, pastilah Hamkan kerjakan. Hamkan tidak akan menolaknya sama sekali karena dia sangat menyayangi mamanya itu.


Ketika kedua anak muda itu sudah ke belakang. Jeng Asih menggeser duduknya supaya berdekatan dengan mamanya Anha.

__ADS_1


Jeng Asih memegang lengan sahabatnya itu. Kini ekspresinya berubah lagi. Berubah menjadi sedih.


“Jeng. Saya nggak nyangka kalau pernikahan Anha bisa batal. Saya ikut sedih, Jeng. Pasti Anha sedih banget. Saya nggak bisa ngebayanginnya.”


Itulah kata yang sebenarnya hendak Jeng Asih sampaikan. Dan maksud menyuruh Anha serta Hamkan ke belakang supaya dia bisa mengatakan ini kepada mamanya Anha.


“Iya, Jeng. Saya sebagai orang tua juga sedih banget lihat anak sendiri terpuruk kayak gitu. Tapi mau gimana lagi. Mungkin nggak jodoh.”


Jeng Asih mengusap lengan sahabatnya itu.


“Nggak papa, Jeng. Anha anak yang baik. Cantik. Kalem. Pasti dia nanti dapet pengganti yang juga baik.”


Mama Anha menganggukkan kepala. Ada harap juga jika yang terbaik itu mungkin salah satunya adalah anak dari sahabatnya yang sedang duduk di sebelahnya ini.


Tidak apa bukan jika dirinya berharap seperti itu?


***

__ADS_1


Ketika sudah sampai di pintu dapur. Hamkan berdehem sejenak membuat Anha menengok ke belakang. Anha cukup kaget juga akan kedatangan Hamkan yang tiba-tiba sudah dibelakangnya itu.


__ADS_2