
Tapi menurut mama ini adalah pekerjaan yang cocok untuk Anha. Anha adalah anak tunggal dan tidak memiliki saudara. Dia sebenarnya kesepian. Apalagi ketika adik sepupunya Diego yang gembul itu main ke rumah ini. Pasti habis sudah pipi gembulnya dicubit dan diciumi habis-habisan oleh Anha. Anha memang sayang sekali dengan anak kecil.
Benar saja, tanpa berpikir dua kali Anha mengangguk senang. Bahkan kali ini senyumnya merekah.
“Mau, Ma! Anha mau!”
Mamanya ikut tersenyum melihatnya.
“Besok, deh, coba Mama sampaiin ke dia.”
***
Pekerjaan ini tidak terlalu buruk. Ternyata dia bekerja di salah satu bimbingan belajar. Bahkan Anha sangat senang sekali mendapatkan pekerjaan ini.
“Mbak Anha serius mau di bagian guru les aja?” tanya Mbak Wulan—HRD di kantor ini. Sebenarnya Anha hendak ditempatkan di bagian administrasi karena memang ijazahnya administrasi perkantoran.
“Iya. Saya mau jadi guru les aja.”
__ADS_1
Dahi Wulan masih betah mengerut. Padahal gaji di bagian admin sudah UMR. Kenapa juga Anha malahan mengambil bagian guru les bimbel? Karena memang kebanyakan yang menjadi guru les di bimbel mereka adalah anak-anak yang masih kuliah yang mencari pekerjaan sampingan untuk menambah uang jajan mereka.
Tapi melihat kesungguhan dan senyum bahagia dari wanita di depannya ini membuat Wulan akhirnya membolehkan Anha di posisi tersebut. Lagi pula memang ada slot yang kosong di bagian itu. Terlebih lagi Anha hanya mengajar anak kelas SD. Materinya pasti mudah dipelajari.
“Yaudah. Nanti saya bakalan ngehubungi Mbak Anha lagi, ya, untuk penempatannya.”
Anha mengangguk. Dia pulang dengan hati yang sangat senang. Baginya uang tidaklah penting. Melihat senyum dan wajah anak-anak kecil menggemaskan itu saja sudah sangat bahagia.
***
“Mama serius?”
“Iyalah. Buruan sana. Cepetaaannnn,” paksa mamanya tidak menerima penolakan sama sekali. Mama memang salah satu orang yang sulit untuk dilawan.
“Tapi, Ma....”
Hamkan mulai merengek malas. Tapi dia sudah memegang prinsip perintah mama adalah sebuat titah. Apapun yang mama ucapkan dan inginkan akan Hamkan penuhi.
__ADS_1
Tapi kali ini beda. Rasanya dia tidak mau menuruti keinginan mamanya. Alasan sebenarnya bukan karena malas. Melainkan karena malu. Malu-malu mau.
“Buruan sana anterin ke tempat kerjanya Anha, ih. Ini, tuh, hari pertama dia kerja di sana. Kasihan nggak ada yang jemput. Mama juga khawatir dia udah makan apa belum. Makanya kamu buruan anterin bolu buatan Mama itu ke Anha.”
Mama mulai mengomel panjang lebar. Tapi senyum penuh makna terlihat pada wajah teduhnya. Rencana pendekatan dimulai.
“Tap—”
Belum juga Hamkan menyelesaikan ucapannya. Mamanya sudah mengibaskan tangannya setengah mengusirnya untuk segera pergi.
“Udah sana buruan cepetan. Nanti Anha keburu udah pulang. Mama susah payah, lho, masakin bolu itu sampe bantet dua kali.”
Hamkan mengembuskan napas lelah, wajahnya ditekuk-tekuk. Dia baru saja pulang kerja sudah disuruh pergi lagi untuk menjemput Anha dan memberikan bolu bautan mamanya ini. Hamkan masih merasa canggung dan takut apabila nantinya Anha berpikir macam-macam.
“Iya, Ma. Hamkan anterin dulu. Assalamuaikum.”
Dan pada akhirnya Hamkan mengalah. Mama menutup mulutnya menahan tawa melihat si anak muda itu patuh sekali dan menuruti keinginan bunda ratu ini.
__ADS_1
Mamanya ini memang tukang drama. Tapi Hamkan sabar menghadapinya. Yang masih menjadi pertanyaan terbesarnya, kenapa mama bisa sesayang itu dengan Anha?
***