Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Minta Maaf


__ADS_3

GUYS YANG NANYA VISUALNYA HAMKAN. CUS CEK INSTAGRAMKU: @Mayangsu_ DI SANA VISUALNYA HAMKAN GANTENG BANGET YA ALLAH 😆


Visualnya nggak bakalan aku post di sini karena bikin reviewnya lama. Malesin. cus OTW ke Instagramku Mayangsu_ yes. @Mayangsu_ pakai underscore jangan pakai underwear wkwk.


***


Anha melepas kepergian Hamkan dengan tangisan. Pun sama, Hamkan juga pulang dengan hati yang rasanya patah. Suasana hatinya buruk. Maka dari itu malam ini Hamkan lebih memilih untuk menginap saja di rumah temannya yang tadi dititipinya mobil daripada harus pulang ke rumah dan harus menghadapi mamanya yang pasti saat ini sedang berekspetasi tinggi akan hasil kencannya dengan Anha padahal kenyataannya gagal total.


“Loh, Nak Hamkan. Kamu mau ke mana?” tanya Tante Marni yang kebetulan berpas-pasan dengan Hamkan di koridor rumah sakit.


“Um... Hamkan mau pulang dulu, Tante. Anhanya udah sadar, kok, di dalem,” kata Hamkan sekilas dan berusaha menampilkan ekspresi senormal mungkin agar mamanya Anha itu tidak curiga terhadapnya.


“Oh, yaudah, deh, kalau gitu. Hati-hati, ya, Nak Hamkan di jalan. Tante juga ngucapin terima kasih banget atas bantuan kamu malem ini,” kata Tante Marni dengan tersenyum teduh. Hamkan tersenyum balik dan mengangguk ramah, setelah itu Hamkan berpamit pulang kepada Tante Marni.


Tapi entah mengapa hati Tante Marni merasa tidak tenang. Perasaan orang tua memang kuat. Tante Marni merasa ada yang ditutup-tutupi dari Hamkan. Bahkan tadi anak itu juga tidak menatapnya ketika sedang diajak berbicara.


Tante Marni menghela napas pelan. Pasti Hamkan dan Anha bertengkar lagi.


Tapi rasa penasaran mamanya Anha itu terjawab ketika ia sudah sampai di ruang pasien dan melihat keadaan sekitar benar-benar berantakan. Kenapa selimut dan bantal ada di lantai? Bukan hanya itu saja, sekarang putrinya terlihat sedang mengusap cepat-cepat air matanya setelah mengetahui mamanya datang.


“Apa yang terjadi, An?” ucap mama terkejut melihat ruangan ini berantakannya bukan main seperti ini. Mama membungkuk untuk mengambil bantal dan selimut yang berada di lantai itu.


“Kamu kenapa?” ulang mama sambil memegang kedua lengan anaknya yang memalingkan wajah ke samping agar tidak ketahuan jika habis menangis.


Sepertinya tadi Hamkan benar-benar bertengkar dengan Anha lagi.


“Kamu tadi berantem lagi, ya, sama Hamkan?” tanya mama untuk kesekian kalinya sambil duduk di pinggir ranjang pasien.


“Jawab Mama, Anha.”


Mama merasa gemas bukan main melihat Anha tutup mulut seperti itu. Anha sedari tadi tidak mau menjawab pertanyaannya. Anha pun juga tidak mengelak. Jadi itu artinya tadi Anha benar-benar bertengkar dengan Hamkan.


“Kamu kenapa, sih, berantem mulu sama dia. Kamu nggak capek apa berantem terus? Kamu nggak boleh kayak gitu, lho, Anha. Itu hitungannya kamu sama aja kayak nggak ngehargai Hamkan sama sekali. Kamu itu harusnya bersyukur ada Hamkan yang baik kayak gitu di sisi kamu.”


Anha yang mendengar geram karena merasa mamanya terus terusan berpihak kepada Hamkan. Akhirnya dia pun angkat suara juga.


“Anha nggak suka, Ma, sama Hamkan! Anha benci sama dia. Kenapa, sih, Mama masih aja bahas dia, ngebaik-baikin dia, dan selalu nyoba ngedeketin Anha sama dia!” teriak Anha sambil menangis lagi. Mama memijit pelipisnya. Pusing. Sepertinya anaknya ini benar-benar mau menjadi janda sampai tua. Sekarang mama berpikir sejenak untuk mencari solusi agar Anha mau membuka hatinya untuk Hamkan.


“Terus sekarang coba kamu jawab Mama kenapa kamu bisa senggak suka itu sama Hamkan? Jelas-jelas dia cowok baik-baik, bukan. Jawab Mama Anha?” kata Mama dengan suara tenang. Kalau dia sampai marah-marah ke Anha maka Anha seperti biasanya akan ikutan marah juga. Kali ini mama mencoba untuk menyampaikan semuanya dengan sabar.


Anha terdiam mendengar hal tersebut. Mama menghela napas dan melanjutkan kembali ucapannya.


“Tadi Hamkan sampai bawa kamu dari BRT sampai rumah sakit ini, loh. Bahkan dia rela naik grab ke rumah demi ngabarin Mama karena tadi HP Mama mati.”


Anha terdiam mendengar hal tersebut sambil mengusap sisa-sisa air matanya.


Benarkah? Ya ampun. Anha menggigit bibir bagian dalammnya kuat-kuat. Sekarang ia merasa bersalah karena tadi sejahat itu kepadaHamkan, bahkan tadi dia mengusirnya dan memintanya supaya tidak menemuinya lagi.


Mama yang melihat ekspresi anaknya itu paham, sebenarnya Anha tidaklah membenci Hamkan. Anaknya bukan tipe orang yang seperti itu. Pasti ada suatu alasan khusus Anha kenapa Anha mencoba menjauhkan dirinya sendiri dari Hamkan.


“Sekarang Mama mau tanya. Kenapa kamu bisa sebenci itu sama Hamkan? Hamkan laki-laki yang baik. Kamu juga tahu hal itu, Anha.”


Anha masih menunduk. Dengan lirih Anha menjawab perkataan Mamanya itu.

__ADS_1


“A-Anha sebenernya nggak benci, Ma, sama Hamkan. Anha cuma pengin Hamkan ngejauhi Anha,” kata Anha sambil mereemas kain celananya.


“Kenapa kayak gitu?”


“Karena Hamkan terlalu baik, Ma, buat Anha. Hamkan cowok baik-baik, seharusnya dia ngedapetin cewek yang baik juga.”


“Terus kamu ngerasa kalau diri kamu nggak baik dan nggak pantes gitu buat Hamkan, gitu?”


Pertanyaan Mamanya itu hanya hanya dijawab dengan anggukkan pelan. Sekarang mama sadar, Anha masih belum sepenuhnya pulih dari traumanya.


“Kalau ternyata Hamkan bisa nerima kamu dan masa lalumu gimana?” Mama mulai memancing lebih dalam. Memang benar Anha lebih mudah diajak bicara jika menggunakan bahasa lembut seperti ini. Dia tidak akan merasa terintimidasi.


“Nggak mungkin, Ma. Ikram aja nggak mau nyentuh Anha karena dia nggak bisa ngebayangin gimana masa lalu Anha dulu. Hasan juga batalin pernikahan dan ngilang dua minggu sebelum hari H.” Anha menjeda sejenak ucapannya dan mengusap air matanya.


Kemudian Anha melanjutkan kembali ucapannya setelah  mulai tenang. “Pasti kalau Hamkan tahu masa lalu Anha. Dia bakalan ninggalin Anha juga, Ma. Kalau Anha gagal nikah lagi. Mama pasti yang bakalan malu dan jadi bahan omongan orang lain lagi. Anha nggak mau kayak gitu.”


Mama tertegun mendengar hal tersebut. Dia tidak menyangka jika Anha sampai berpikir sejauh itu. Anha menangis sambil menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya. Mama menariknya ke dalam pelukan dan mengusap lembut punggung Anha dengan rasa kasih sayang.


“Tapi bukan berarti kamu merlakuin Hamkan kayak gitu, Sayang. Hamkan itu cinta sama kamu. Apalagi dia sampai berkorban banyak buat kamu.”


“Anha nggak mau, Ma,” kata Anha sambil masih menangis dipelukan mamanya.


“Yaudah. Kenapa kamu nggak nyoba bilang jujur sama Hamkan tentang masa lalu kamu aja? Dan coba lihat hasilnya. Gimana?”


Mendengar hal tersebut membuat Anha menaikkan pandangannya dan melepaskan pelukannya dari mamanya. Namun dia tidak tahu harus berkata apa.


“Tapi, Ma...”


Mama tersenyum lembut. “Bukannya kamu mau Hamkan ngejauhin kamu karena kamu ngerasa kamu nggak pantes buat dia? Ya, udah. Kamu tinggal bilang aja semua kejelekan masa lalu kamu ke dia dan sekalian bilang aja dulu alasan kamu diceraiin Ikram sama ditinggalin Hasan karena apa. Kabar buruknya mungkin nanti Hamkan bakalan ngejauhin kamu seperti apa yang kamu pengenin. Tapi kabar baiknya adalah siapa tahu Hamkan bisa nerima kamu apa adanya? Bukannya mendingan kayak gitu daripada kamu malahan ngebuat Hamkan benci sama kamu biar dia ngejauhin kamu. Iyakan?”


“Te-terus Anha harus gimana, Ma? Soalnya ta-tadi Hamkan kayaknya marah banget sama Anha.”


Mama tersenyum mendengarnya. Tangannya terulur untuk meyentuh telapak tangan Anha yang saat ini terasa dingin seolah mentransfer energi positif ke anaknya.


“Ya udah. Datangi Hamkan. Bilang kamu minta maaf ke dia dan bilang juga kamu berterimakasih karena tadi dia udah nyelametin kamu. Beres, kan?”


Anha terdiam. Ragu.


“Tapi Anha malu, Ma. Pasti Hamkan benci banget sama Anha. Tadi Anha aja bilang supaya Hamkan nggak usah nemuin Anha lagi.”


Beginilah adanya, penyesalan selalu datang di akhir.


Mama yang mendengar hal tersebut langsung membuka mulutnya tidak percaya. Ya ampun, sepertinya tadi kedua anak muda ini benar-benar bertengkar hebat.


“Nggak papa. Kita nggak akan tahu hasilnya kalau nggak dicoba.”


***


Satu minggu setelah itu. Anha berencana hendak berkunjung ke rumah Hamkan untuk meminta maaf atau perlakuannya kala itu. Dia membawa satu kantung keresek berisi mangga yang telah matang hasil panen dari mangga yang ada di depan rumahnya. Sogokan pelancar permintaan maaf untuk Hamkan.


Sebenarnya Anha tidak mau pergi ke rumah Hamkan karena dia merasa malu atas perilakunya yang selama ini jahat kepadanya. Tapi mama mengatakan Hamkan bukan orang yang seperti itu. Dia bukan tipe orang yang pendendam. Maka dari itu Anha memberanikan diri datang ke rumahnya.


Taksi berhenti di depan rumah Hamkan setelah itu Anha membayar ongkos taksi tersebut dan mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


Mata Anha terkesima melihat rumah Hamkan yang ternyata... sangat besar sekali. Dengan dua pillar berwarna putih yang menjulang di depan.


Anha meringis. Ia merasa minder. Ya ampun, dia tidak menyangka jika Hamkan ternyata sekaya itu! Satpam rumah Hamkan membukakan gerbang ketika melihat kedatangan tamu.


“Pak Hamkannya ada?” tanya Anha kepadanya. Ini hari libur, mungkin Hamkan di rumah. Tapi tak menampik jika mungkin juga Hamkan sedang berada di luar.


“Ada, Mbak. Silakan.”


Anha berjalan untuk menuju pintu utama dan menekan bell rumah Hamkan sebanyak dua kali.


“Bentar.”


Jantung Anha berdegub kencang mendengar suara Hamkan. Dia bingung harus bagaimana.


Hamkan yang kebetulan sedang berada di ruang keluarga pun berjalan gontai untuk membukakan pintu karena pembatunya juga di jam segini biasanya sedang berada di ruang loundry. Hamkan tidak semanja itu, sih, meskipun dia kaya.


Dengan kaos putih dan celana casual. Apalagi mata yang masih mengantuk karena hari minggu memang adalah hari santai sedunia, bangun siang dilegalkan. Tangan Hamkan terulur memutar knop pintu dan membukanya perlahan.


Ketika pintu itu sudah terbuka dan menampilkan Anha di sana. Mata Hamkan membulat. Sial! Bahkan rasa kantuknya seolah hilang. Ke-kenapa Anha bisa di sini?


“Ha-Hamkan. Kamu apa kabar?”


Hamkan megerjab beberapa kali. Dia pikir dia halusinasi ternyata tidak. Suara lembut gadis itu menyadarkannya jika memang benar di depannya ini adalah Anha.


“Baik,” jawab Hamkan sekilas.


Anha bingung hendak mengatakan apa lagi. Otaknya terasa buntu. Rencana yang tadi sudah disusunnya rapi dari rumah pun seolah hilang sudah.


“Tumben ke sini. Ada apa?”


Anha meggiggit bibirnya. Belum berani menatap wajah Hamkan yang saat ini sedang menatapnya. Anha hanya mampu mereemas pegangan kantung kereseknya ini.


“Kalau nggak ada yang penting pulang aja. Mama lagi nggak ada di rumah,” jawab Hamkan cuek sambil menguap.


Mendengar hal tersebut membuat Anha mengangkat pandangannya yang semula menunduk. Dia menatap Hamkan dengan mata yang terasa memanas.


A-apa benar baru saja Hamkan mengusirnya? Anha tidak menyangka jika rasanya sesakit ini. Tapi dia tidak boleh menangis saat ini meskipun matanya sudah berkaca.


“A-aku nggak nyari Tante Asih. Aku... aku cuma pengin ngobrol sama kamu,” kata Anha dengan bibir gemetar. Dia ingat betul waktu itu Hamkan mengatakan hal tersebut kepadanya ketika bertamu. Dan Anha memperlakukannya dengan jahat. Apa saat ini Hamkan sedang balas dendam atas perlakuannya waktu itu?


“Nggak perlu. Bukannya kamu yang nyuruh aku buat ngejauhin kamu dan nggak usah kenal lagi sama kamu?” kata Hamkan terdengar sangat dingin. Air mata Anha pun tak bisa dibendung lagi dan terjatuh di pipinya.


“Maaf,” kata Anha lirih sambil menangis dan mengusap air matanya sendiri.


“Aku sibuk. Ngantuk. Udah dulu, ya,” kata Hamkan sambil menutup pintu rumahnya kembali. Hal tersebut membuat Anha semakin menangis. Bukannya waktu itu ini yang ia harapkan? Tapi kenapa rasanya sakit sekali. Anha menyesal telah melakukan semua itu kepada Hamkan. Dia munafik. Membohongi dirinya sendiri.


Hamkan bersandar di balik pintu yang tertutup itu. Sial! Dia menutup pintu bukan karena benar-benar menolak kedatangan Anha agar pergi. Dia hanya berpura-pura. Apalagi melihat Anha menangis seperti itu sebenarnya dalam hati Hamkan, ia tidak tega.


“Aku minta maaf. Aku bakalan berdiri di sini nungguin kamu. Sama kayak yang dulu kamu lakuin. Aku bener-bener minta maaf, Hamkan. Aku cuma pengin ngobrol dan minta maaf sama kamu.”


Anha menangis terisak. Tidak apa jika Hamkan benar-benar tidak mau membukakan pintu untuknya. Biar Anha menebus kesalahannya dan berdiri di sini sampai sore.


Hamkan berdecak dan membuka pintu tersebut. Dia tidak tega. Apalagi melihat Anha yang menangis seperti itu.

__ADS_1


“Masuk.”


__ADS_2