
Aim dan Ais menangis dan mengusap kepala mereka yang terbentur tembok ketika berkejar-kejaran.
Namun ketika Hamkan datang mendekat untuk mengecek, keduanya langsung diam tapi bibir mereka masih mewek menahan tangis.
“Kenapa, Nak?” tanya Hamkan sambil menekuk lutut untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan tinggi kedua tubuh si kembar.
“Sakit Abati. Nabrak tembok,” kata mereka bersamaan dengan mimik wajah yang menggemaskan. Hamkan menahan sekuat tenaga agar tidak tertawa di atas penderiataan buah hatinya.
“Makanya jangan lari-lari. Ayo duduk terus makan bareng sama Nini kalian.”
Aim dan Ais mengangguk patuh sambil mengusap air matanya. Mereka berdua mendekat ke arah Anha untuk mengadu supaya diasayang-sayang.
“Umi Umi... sakit,” kata Ais sambil mengusap kepalanya.
“Kan, Umi udah bilang jangan lari-lari tapi kalian bandel malahan pada lari. Jadinya ketatap kayak gitu, kan. Blablabla~”
Hamkan terkekeh melihat kedua monster kecilnya menciut terkena semprot oleh Uminya. Niat hati mengadu supaya disayang-sayang tapi malahan berakhir dimarahi Uminya.
“Sini Umi lihat,” kata Anha sambil menarik kedua putranya untuk bergerak mendekat. Tangan Anha meraba rambut si kembar tapi untunglah tidak benjol.
“Masih sakit?” tanya Anha lagi tapi kali ini nada suaranya sudah tenang. Aim dan Ais mengangguk bersamaan dengan wajah yang menahan agar tidak menangis.
“Sakit Umi. Tapi kata Abati anak cowok gaboyeh nangis.”
Anha terkikik geli mendengar penuturan tersebut.
"Uh, anak Umi kasihan. Lain kali jangan lari-larian, ya, Sayang."
Diciumilah kedua pipi si kembar dengan gemas membuat mereka tertawa dan lupa akan kepalanya yang tadi terasa sakit.
“Umi Umi, kapan Adek keluar? Ais udah nggak sabar nungguin Adek keluar biar bisa main bareng kita,” kata Uwais dengan polosnya.
Manik mata yang berwarna hitam jernih itu tampak berbinar sekali.
“Sebentar lagi, dong.”
“Oh, ya?”
__ADS_1
“Iya. Kalian nggak sabar, ya, buat ketemu sama Adek?”
“Huk, um.”
Kedua anak kembarnya itu mengangguk senang sekali. Anha ikut tersenyum. Pasti besok mereka akan menyayangi adiknya dengan sepenuh hati.
“Nanti kalau adek udah keluar. Aim bakalan jagain dia. Pokoknya gaboyeh ada yang nakalin adek Aim,” kata Aim sambil mengusap perut Uminya dengan sayang.
“Iya! Kalau adek udah keluar nanti Ais bakalan jagain dia dan ajak dia main. Nanti kita main bertiga, ya, Dek,” ucap Ais sambil mengusap perut Uminya kemudian mencium perut Anha yang besar itu.
Anha mengusap kedua pucuk kepala si kembar.
“Ayo, Aim Ais buruan makan dulu,” perintah Nini Asih dari meja makan. Kali ini si kembar tidak nakal lagi dan berjalan mendekati Nininya. Mereka berdua duduk di kursi dan menikmati ayam goyeng yang terasa enak sekali dengan tenang sambil mengayun-ayunkan kakinya.
Mama Marni sengaja menjauh ketika melihat Hamkan yang duduk kembali di sebelah Anha. Dia tidak ingin mengganggu kemesraan kedua anak muda itu.
“Mama makan dulu, ya,” kata Mama mencari alasan untuk pergi. Anha mengangguk kemudian menerima satu kecupan di pelipisnya dari Mama.
Kini tinggallah Anha dan Hamkan di sini.
“Sakit tahu,” kata Anha sambil cemberut dan menjauhkan tangan jahil Hamkan dari pipinya. Ingin rasanya Hamkan menggigit bibir Anha yang sedang memanyun itu jika tidak ingat kalau mereka masih berada di ruang keluarga.
“Mas... kayaknya anakmu pengin sesuatu, deh,” kata Anha penuh harap. Lidahnya mengecap seolah ingin makan sesuatu yang lezat.
“Oh, ya? Kamu pengin apa? Nanti aku beliin.”
Anha menatap ke arah atas untuk berpikir sejenak. Kemudian Anha tersenyum merekah ketika mengucapkan dia sedang ingin makan apa.
“Mas, aku pengin seblak!”
Mulut Hamkan terbuka mendengarnya.
Seblak? Yang benar saja!
“Nggak nggak, yang lain aja.”
__ADS_1
Anha merajuk tidak terima. Hanya seblak saja Hamkan tidak mau menuruti! Padahal jika Anha meminta seblak segrobaknya pun pastilah suaminya itu bisa membelikannya untuknya. Uh, pelit sekali si Mas Hamkan ini!
“Kok, nggak mau, sih, Mas! Aku pengin seblak tahu. Kamu mau anak kita nanti ileran, huh?”
Hamkan masih tetap menggelengkan kepala. Ngidam macam apa itu. Aneh sekali. Biasanya orang ngidam meminta mangga muda ataupun makanan yang sulit ditemukan di malam hari untuk menguji perhatian dari si calon ayah. Tapi istrinya ini malahan ngidam ingin makan seblak. Yang benar saja.
Hamkan menepuk dahinya sendiri. Astaghfirullah!
“Mas pokoknya aku mau seblak mau seblak!” kata Anha merengek manja sambil menarik kecil baju yang Hamkan kenakan.
Hamkan memijit pelipisnya. Sepertinya anak ketiganya nanti adalah seorang wanita mengingat Uminya rewel sekali ketika mengidam makanan.
“Kamu pelit banget, sih, Mas!” kata Anha sambil bersedekap dada.
Bukannya pelit. Hanya saja....
“Bukannya pelit. Nanti bayi kamu kepedesen, loh, Sayang. Seblak, kan, pedes banget dan nggak sehat buat tubuh. Orang dibuatnya dari bahan yang banyak pengawetnya, kan, kalau nggak salah?”
Hamkan hanya khawatir apabila Anha memakan makanan tidak sehat seperti itu. Katanya kalau ibu hamil makan masakan pedas maka nanti anak dalam kandungannya akan kepanasan, ya? Benar tidak?
“Tapi, kan, bisa pesen yang level satu, Mas,” kata Anha sambil memanyunkan bibirnya dan memasang wajah memelas membuat Hamkan hanya mampu menelan ludah tidak tega kalau Anha sudah seperti ini.
Astaga. Memangnya siapa yang kuat dengan puppy eyes andalan milik Anha itu.
“Kamu nggak cinta, ya, sama aku.”
Kalah sudah Hamkan diserang dari dua hal seperti itu.
“Iya-iya aku beliin. Tapi janji, ya, ini yang terakhir ngidam seblak, oke?”
Aneh-aneh saja permintaan Anha itu.
“Yeay!” Anha berteriak senang sekali karena dituruti. Suaminya ini memang baik sekali.
***
Aku udah buatin novelnya Sean. Judulnya: Dinikahi Berondong Kaya
__ADS_1