Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Apakah Jeng Asih Bisa Menerima?


__ADS_3

Hamkan meregangkan tubuhnya. Udara pagi hari yang terhirup terasa sejuk. Hamkan tersenyum ketika menemukan sosok yang sedang dicarinya itu.


Saat ini terlihat mamanya sedang berkutat kebun organik miliknya yang berada di samping rumah mereka. Mama sudah pensiun, kerjaanya memang kalau tidak bergosip, ya, shoping. Selain dua hal itu, mama mengisi waktu luangnya yang lain dengan merawat kebun hidroponiknya.


Pembantu rumah tangga Hamkan dengan sabar berdiri di belakang majikannya sambil memegang keranjang ditangannya menunggu keranjang itu penuh dengan hasil panen.


“Mama lagi apa?” tanya Hamkan sambil menatap pembantunya, mengkode supaya pembantunya tersebut meninggalkan mereka berdua karena saat ini Hamkan sedang ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada mamanya. Pembantunya itu paham dan mengangguk untuk berpamit ke belakang.


“Tumben ke sini? Biasanya juga nggak pernah sama sekali ke sini. Mau bantuin Mama panen?” cibir mamanya membuat Hamkan terkekeh.


Hari ini,  Hamkan tidak sedang ingin membantu mamanya memanen sayuran hidroponik, namun tujuannya datang ke sini adalah bertanya kepada mamanya tentang beberapa hal.


Hamkan menggaruk ujung hidungnya. Ia sebenarnya tahu kalau tidak apa jika tidak memberitahu mamanya tentang masa lalu Anha. Toh, ketika sudah menikah nanti yang menjalani Hamkan dan Anha.


Tapi Hamkan ingin membina rumah tangga dengan kejujuran di dalamnya. Hamkan ingin mamanya juga tahu. Apalagi kemarin setelah mendengar cerita dari Anha mengenai mantannya yang bernama Angga yang tiba-tiba muncul lagi dan mengacau memberitahu calon suami Anha tentang masa lalunya sehingga menyebabkan pernikahannya batal.


Hamkan tidak ingin mamanya tahu itu semua dari orang lain. Karena Hamkan pun paham mama hanya tahu kulit luarnya Anha saja. Yaitu Anha yang baik, Anha yang cantik, Anha yang sopan dengan kebaikan lainnya.


Maka hari ini, rencananya Hamkan akan bertanya kepada Mamanya apakah mamanya itu bisa menerima Anha beserta masa lalunya. Hamkan tahu dia sangat sayang kepada mamanya. Tapi jika hari ini mamanya tidak bisa menerima Anha. Maka Hamkan akan berusaha memperjuangkan wanitanya itu.


Hamkan memasang wajah cemas terlebih dahulu. “Ma... Hamkan mau ngomong sama Mama, boleh?” kata Hamkan membuat mamanya berbalik badan dan mengeryitkan dahi menatap putranya.


“Mau ngomong apa?”


“Um...”

__ADS_1


‘Tumben Hamkan seperti ini,’ batin Jeng Asih.


“Ngomong aja  buruan. Jangan bikin Mama mati penasaran.”


Hamkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Anha udah setuju, Ma, nikah sama Hamkan.”


Mendengar hal tersebut Jeng Asih langsung tersenyum sumringah. Dibuangnya gunting yang tadi dipakainya untuk memanen sayuran karena saking senangnya. Kemudian Jeng Asih memeluk Hamkan erat-erat. Akhirnya perjuangannya mendekatkan Hamkan dengan Anha selama ini berhasil juga! Senangnya!


“Bagus itu! Ayo buruan ke KUA!” kata Jeng Asih bahkan saat ini sudah menggandeng tangan Hamkan. Hamkan membuka mulutnya. Sial! Sejenak dia lupa jika mamanya ini sangat suka dengan Anha dan mamanya juga tukang drama.


“Tapi, Ma...” Hamkan berusaha menahan mamanya yang hendak benar-benar akan membawanya ke KUA.


“Tapi apa lagi, Hamkan!” Jeng Asih gemas mendengarnya. Keburu Anha diambil lelaki lain lagi.


“Apa Mama setuju Hamkan sama dia?” tanya Hamkan dengan saksama.


Hamkan meringis mendengarnya. Dasar Mama.


“Tapi, Ma. Hamkan masih bingung,” kata Hamkan sambil berakting menampilkan mimik cemas lagi. Astaga, ternyata bakat akting dari mamanya bisa ia tiru juga.


“Bingung kenpa? Anha itu cantik. Baik. Udalah buruan nikah.”


Hamkan ingin tersenyum namun ditahannya. Kenapa malahan mamanya yang semangat sekali.


“Tapi kemarin Anha bilang ke Hamkan sesutu yang bikin Hamkan ragu, Ma. Maka dari itu Hamkan mau nanya pendapat Mama mengenai hal ini.”

__ADS_1


Hamkan melirik sekilas kearah mamanya. Mamanya nampak mengeryitkan dahi mendengar perkataan Hamkan.


“Anha nggak sebaik yang mama kira. Dulu dia pernah pergaulan bebas dan... yah... mama tahu sendiri, kan, maksudnya apa. Menurut mama sendiri gimana? Apakah Hamkan tetep harus nikahin Anha?” kata Hamkan dengan saksama. Dia penasaran mamanya akan menjawab apa.


Jeng Asih terdiam mendengar hal tersebut. Wajar jika Jeng Asih syok. Benarkah Anha pernah pergaulan bebas ketika masih muda?


Hamkan menelan ludahnya. Apakah mamanya marah dan tidak bisa menerima?


Tapi tanpa Hamkan duga sama sekali mamanya itu mendekat dan memegang pudaknya sambil tersenyum hangat.


“Nak. Menikah itu satu kali seumur hidup. Menikah itu juga baju hidup. Nanti kamu bangun tidur di samping dia seumur hidup kamu.” Mama menjeda sejenak ucapannya. Kemudian melanjutkan lagi....


“Maka dari itu menikahlah dengan wanita yang kau ridhoi sebagai istrimu nanti. Karena suka nggak suka kamu bakalan ngabisin waktumu seumur hidup sama dia.”


Hamkan tersenyum tipis mendengarnya. Menikahlah dengan wanita yang kau ridhoi.


“Yang menikah kamu. Kalau kamu emang nggak bisa nerima Anha beserta masa lalunya, maka Mama juga nggak bakalan maksa kamu. Mama pernah lihat orang yang udah menikah dan ceweknya dulu nakal. Mereka setiap berantem selalu si suami bahas kejelekan dan masa lalu istrinya. Mama nggak pengin kamu kayak gitu kalau sudah menikah nanti.”


“Terus... apakah Mama bisa nerima Anha apa adanya?” tanya Hamkan ke intinya.


“Mama nggak masalah. Itu cuma masa lalu dia dan dia udah nggak kayak gitu lagi. Bukan berarti satu kesalahan bikin kita nutup mata atas semua kelebihan di diri Anh—”


Belum sempat Jeng Asih menyelesaikan ucapannya. Hamkan sudah berhambur memeluk erat mamanya dan mencium pipinya.


Mamanya ini memang luar biasa. Hamkan tidak percaya jika mamanya juga bisa menerima Anha apa adanya.

__ADS_1


Anha... Tunggu, ya, An. Sebentar lagi aku bakalan bawa orang tua aku buat ngelamar kamu.


***


__ADS_2