Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Cekcok


__ADS_3

“Anha. Kamu mau nggak nikah sama Hamkan?” tanya mama dengan saksama sambil menopang dagunya menggunakan tangan kanan.


Anha cukup terkejut ketika mendengar hal tersebut keluar dengan mulusnya dari mulut mama.


Tapi saat itu Anha hanya berpikir...


Ah. Mungkin saja mamanya saat ini sedang bercanda.


“Maksud Mama?”


“Maksud Mama. Kamu mau, kan, nikah sama Hamkan?”


Ternyata indra pendengaran miliknya tidak salah sama sekali. Anha menatap lagi untuk kesekian kalinya. Nampak terlihat wajah mama pun saat ini juga sedang tidak bercanda.


Anha berpikir sejenak.


Menikah dengan Hamkan? Yang benar saja. Bukannya dia tidak mau, tapi...


Memikirkan hal itu saja sudah membuat hatinya terasa ngilu sekali. Memangnya orang seperti Anha ini pantas begitu bersanding dengan lelaki sebaik Hamkan?


Anha malu. Anha merasa tidak pantas. Di kedua pihak ini. Apabila mereka betulan jadi menikah. Kasihan Hamkan apabila menikahi wanita seperti dirinya ini.


Buktinya Ikram dan Hasan saja tidak bisa menerimanya. Apalagi Hamkan?


Padahal Anha tidak tahu jika Hamkan sudah tahu semua hal tentang Anha dan dia bisa menerima Anha apa adanya. Andaikan saja Anha tahu, mungkin Anha masih bisa berpikir ulang terlebih dahulu sebelum berpikiran yang tidak-tidak seperti itu.


“Maaf, Ma. Tapi Anha bener-bener nggak bisa nikah sama Hamkan, Ma.”


Manusia memang pandai berdusta. Lisan mengatakan tidak, namun hati tak dapat mengelak.


Anha... sebenarnya juga menyukai Hamkan.

__ADS_1


Ucapan Anha barusan berhasil membuat dahi mamanya mengerut. Mama benar-benar tidak paham sama sekali kenapa Anha bisa menolak Hamkan yang jelas-jelas baik itu. Apa kurangnya Hamkan?


“Maksud kamu apa? Kenapa kamu nggak mau sama Hamkan? Kamu bercanda, kan, Anha?! Hamkan itu cowok baik-baik, loh, An. Dan Mama yakin dia itu yang terbaik buat kamu.”


‘Maka dari itu, Ma, Anha nggak bisa sama Hamkan karena dia cowok baik, Ma! Malah bagi Anha, Hamkan itu terlalu baik untuk Anha!’ teriak Anha dalam hati. Namun raganya tak mampu terucap.


Anha lebih memilih untuk menghindari perdebatan ini.


Daripada berdebat dengan mama yang jelas saja tak ada habisnya lebih baik dia mengemasi buku paket dan peralatan mengajarnya secepat mungkin.


Seolah-olah, menghindari masalah adalah jalan keluar yang sudah menjadi sifat Anha sejak dulu.


“Anha! Mama lagi ngomong sama kamu, lho, An!”


Buru-buru Anha beranjak. Hendak kabur. Namun mama lebih cepat memegang lengannya.


Apa mama tidak tahu jika saat ini ia sedang trauma dan belum bisa membuka hati lagi untuk orang lain? Bahkan wajah-wajah orang yang dulu menghakiminya di tempat umum benar-benar masih ketara di pikiran Anha. Tatapan tidak percaya, tatapan penghakiman. Semuanya masih tergambar jelas!


“Anh—” belum sempat mama berbicara lebih lanjut lagi. Anha sudah menarik lengannya sendiri dan berteriak keras, “Anha nggak mau nikah lagi, Ma! Pokoknya nggak mau!”


Rahang mama tampak mengeras ketika mendengar hal tersebut.


“Terus kamu kalau nggak nikah mau jadi apa, An? Umur kamu itu semakin lama semakin bertambah! Kamu nggak mungkin bakalan hidup sendirian terus.”


Napas mama terlihat memburu karena dikuasai amarah.


“Anha. Jawab Mama. Kenapa kamu nggak mau sama Hamkan?”


Anha tidak menjawab sama sekali perkataan ibunya itu dan memilih untuk memalingkan wajah ke sembarang arah.


“Anha! Jawab Mama!” desak mama kembali sambil mengguncang tubuh Anha karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

__ADS_1


“Anha nggak perlu nikah, kok, Ma. Toh, kalau Mama maksain Anha nikah sama Hamkan pasti nanti ujung-ujungnya Anha bakalan gagal nikah lagi. Mending Anha sendirian aja, Ma.”


Daripada mama malu lagi untuk ke sekian kalinya karena ulah Anha. “Kamu nggak bisa hidup sendirian terus. Mumpung Hamkan mau, An, sama kam—”


“Intinya Anha nggak mau, Ma! Kenapa, sih, Mama nggak bisa ngertiin Anha sama sekali!” teriak Anha kemudian dengan kasar mengempaskan tangan mama yang masih mencengkeram lengannya.


“Anha!” teriak mama sambil menatap putrinya yang kini berlari memasuki kamar. Di akhiri dengan dentuman keras dari pintu yang terbanting cukup kencang.


Mama mencoba menggedor pintu kamar Anha karena ucapannya belum selesai.


“Anha buka pintunya! Mama mau ngomong sama kamu!”


Namun si pemilik kamar tetap tidak mau membukakan pintu sama sekali.


Anha menenggelamkan wajah yang basahnya akan air mata pada guling yang ia dekap erat-erat agar isakannya tidak terdengar.


Anha pikir, mamanya akan mengerti dirinya lebih baik daripada siapa pun.


“Anha! Mungkin saat ini kamu masih cantik dan masih banyak yang suka sama kamu makanya kamu berani bilang lebih mau hidup sendiri dan nggak mau nikah lagi. Tapi tiga tahun lagi, lima tahun lagi, kamu mungkin nggak akan secantik sekarang. Nanti gimana kalau nggak ada yang mau sama kamu.”


Mama masih menggedor pintu dengan kesal. Hilang akal.


“Pokoknya Mama nggak mau tahu. Mau nggak mau kamu harus nikah sama Hamkan!”


Lebih baik putrinya itu menikah cepat dengan Hamkan daripada nantinya tidak laku. Karena mama percaya, cinta itu pasti kelak bisa tumbuh dengan seiringnya waktu, begitulah pikirnya.


Tapi mama lupa kalau saat ini dia terlalu tergesa-gesa. Tidak berpikir jernih terlebih dahulu sebelum berucap. Itulah alasannya kenapa jika kau sedang bahagia janganlah berjanji. Sedangkan ketika kau sedang marah, lebih baik janganlah kau mengambil keputusan.


Tunggulah api amarah itu mereda barulah ambil keputusan ketika kepalamu sudah dingin.


Bukannya mama tidak dapat mengerti kondisi Anha yang saat ini masih trauma. Mama hanyalah orang tua yang semata-mata cemas akan nasib anaknya. Semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia.

__ADS_1


Semua orang tua pasti juga pernah berada pada posisi Anha dengan mamanya saat ini.


***


__ADS_2