Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Cemburu


__ADS_3

 


 


‘Kenapa aku bisa kayak gini? Apa jangan-jangan aku cemburu, ya, sama cewek itu?’ kata gadis batin Anha dalam hati. Namun buru-buru Anha menggeleng kuat-kuat mengusir pikiran tersebut.


Haha mana mungkin dia cemburu. Memangnya dia ini siapanya Hamkan, hah, sampai berpikiran seperti itu?


Mungkin saja saat ini Anha cemburu karena ada wanita yang juga tak kalah cantik dari dirinya.


Bukan berarti, kan, dia memiliki perasaan kepada Hamkan. Bisa saja dia cemburu akan hal itu. Bukannya cemburu adalah sifat bawaan dari wanita?


***


Di sisi lain Hamkan saat ini sedang memijit pangkal hidungnya. Memijit  di antara pertengahan ke dua alisnya secara perlahan untuk meredakan rasa pening di kepala.


Hari ini benar-benar sangat melelahkan, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Siapa bilang kerjaan petinggi perusahaan seperti owner, direktur, ataupun CEO hanyalah mengikuti gadis-gadis seksi dan bersenang-senang dengan mereka di kelab malam.


Omong kosong akan hal itu, yang ada perusahaan mereka akan bangkrut. CEO ataupun direktur tidak sekurang kerjaan itu. Terkadang di novel-novel romansa memang melebih-lebihkan akan hal itu.


Hamkan memejamkan matanya sejenak, punggungnya ia sandarkan pada kursi kerjanya. Ketika matanya tertutup, dia teringat akan satu hal, diingatannya saat ini sedang terlintas gambar senyuman wanita yang akhir-akhir ini ‘sedikit’ mengusik hatinya.

__ADS_1


Wanita itu yaitu Anha.


Bahkan Hamkan masih mengingat betul senyuman indah milik Anha. Di mana saat itu Anha sedang tersenyum lembut kepada anak kecil yang sangat menggemaskan itu.


Senyuman lembut keibuan.


Sial! Hamkan menarik rambutnya ke belakang menggunakan jarinya yang ia renggangkan. Sepertinya dia mulai tidak waras.


Tapi memang benar adanya, baik wanita ataupun pria pasti merasa senang ketika melihat wanita yang sangat sayang sekali terhadap anak kecil seperti Anha. Tak terkecuali Hamkan sendiri. Wanita itu, mengusik perasaannya.


Pipi Hamkan menghangat. Dia ingat betul, di dalam prioritas hidupnya wanita ada di urutan ke nomor empat.


Yang pertama yaitu Tuhan.


Kedua, Mama dan keluarganya.


Dan yang terakhir adalah wanita.


Tapi siapa yang sangka, sepertinya posisi nomor tiga di mana dulu Hamkan selalu memprioritaskan pekerjaan daripada mencari jodoh mungkin kini telah bergeser setelah adanya Anha.


Tapi dia masih ragu apakah benar posisi tersebut akan diisi oleh wanita yang bernama Anha itu. Kalau boleh jujur, meskipun Hamkan belum bisa memastikan apakah dia sudah benar-benar jatuh cinta atau belum kepada Anha, tetapi Hamkan kali ini tertarik dan ingin mengenal wanita itu lebih jauh lagi.


“Permisi.”

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar membuyarkan lamunannya, membuat Hamkan membuka matanya yang semula terpejam.


Hamkan membetulkan posisi duduknya yang tadi bersandar menjadi tegak.


“Masuk,” kata Hamkan sambil berdehem. Kenapa jantungnya berdetak seperti ini?


Benarkah Anha datang ke sini sesuai telepon dari sekretarisnya tadi?


Dari balik pintu kaca tersebut. Muncullah wanita yang tadi di bayangkannya. Kini Anha benar-benar ada di sini.


Saat ini Anha sedang mengenakan baju casual santai. Atasan kaos polos berwarna putih dengan bawahan celana jeans. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai. Panjang rambutnya sepinggang. Hitam legam.


Tampaknya Anha juga tidak memakai riasan berlebihan kecuali bedak dan lisptik merah pada bibirnya. Sederhana tapi cantik sekali di mata Hamkan.


“Silakan duduk,” kata Hamkan mempersilakan Anha untuk duduk.


Anha mengangguk dan mendaratkan bokongnya di kursi yang empuk ini.


Tapi Anha merasa terganggu akan kehadiran sekretaris Hamkan yang masih saja betah berdiri di sini. Kenapa juga sekretaris Hamkan itu tidak segera keluar? Apa dia juga hendak makan siang bersama dengan Hamkan, hah!


Menyebalkan!


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2