
“Em... Emm. Bukan gitu, kok, Ma,” jawab Hamkan sambil terbata dan salah tingkah sendiri.
Jika mengingat Anha dengan lembut menyuapinya tadi. Apalagi sikap Anha yang sangat lucu ketika cemburu terhadap Donna. Mana mungkin Hamkan tidak suka!
“Anha itu cantik, loh, Ham. Nggak nyesel kamu gamau nyoba ngedeketin dia? Mumpung masih single dan batal nikah. Jodoh kamu kali Ham,” kata Mama sambil mengambil majalah di atas meja dan membacanya. Mulai memprofokasi Hamkan.
Wajah Hamkan memerah. Dan hal tersebut membuat mamanya menahan tawa geli.
Tapi tunggu dulu. Sebenarnya dari dulu Hamkan penasaran kenapa mama sangat menyayangi Anha seperti mama menyayangi anaknya sendiri.
Mungkin inilah moment yang tepat untuk menanyakan hal tersebut.
“Ma. Hamkan mau nanya sesuatu, nih, sama Mama,” kata Hamkan sambil menggaruk ujung hidungnya.
“Ya? Mau tanya apa?” jawab Jeng Asih sambil masih berfokus dengan majalah yang masih dibacanya.
“Ehmm... sebenernya Hamkan penasaran, Ma. Kenapa, sih, mama sayang banget sama Anha? Padahal Anha, kan, cuma anak dari sahabatnya Mama.”
Mendengar pertanyaan dari putranya tersebut membuat Jeng Asih meletakkan majalahnya ke tempat semula.
Jeng Asih menatap putranya yang sepertinya sangat penasaran sekali dengan hal tersebut.
__ADS_1
“Karena dia itu anak dari sahabatnya Mama. Karena Anha itu anak yang baik, kalem, sopan. Jeng Marni itu baik, pasti anaknya juga baik. Kalau orang tua nyariin jodoh buat anaknya itu pasti yang terbaik.”
Hamkan hanya terdiam dan mendengarkan penuturan mamanya dengan saksama.
“Tahu nggak anak-anak di desa zaman dulu yang cewek dan cowoknya dijodohin? Pasti awal-awalannya pada nggak suka sama satu dan yang lainnya. Endingnya juga sampai berbuntut empat. Setahun sekali bahkan punya anak.”
Hamkan terkekeh geli mendengar penjelasan mamanya yang cukup ngawur tersebut. Tapi ada benarnya juga, sih. Padahal semula Hamkan mengira kalau mamanya menyukai Anha karena memiliki hutang budi kepada keluarga Anha atau apalah itu. Ternyata pikiran Hamkan terlalu berlebihan.
Tapi... bagaimana jika mamanya tahu masa lalu kelam Anha. Apakah mamanya tetap menilai tinggi sosok Anha?
“Kamu tahu nggak si Prilly itu? Nggak suka banget Mama sama dia. Mending-mending Anha ke mana-mana daripada cewek yang nggak punya sopan santun kayak dia,” kata mama sambil tersungut-sungut ketika menyebutkan nama Prilly.
Prilly adalah teman kuliah Hamkan yang saat ini menjadi salah satu dokter. Prilly memang menyukai Hamkan dan terkadang sering main ke rumahnya untuk mencuri hati mamanya.
Bukannya jika kita menyukai anaknya maka kita harus memenangkan hati ibunya terlebih dahulu, bukan?
“Tahu nggak kamu? Anha itu pinter masak. Prillymu mana bisa,” nyinyir Jeng Asih sambil melirik tajam Hamkan dari ekor matanya. Hamkan yang ditatap seperti itu hanya bisa meringis.
“Mana kalau ke sini aja nggak pernah salaman sama Mama lagi. Bajunya seksi-seksi kekurangan bahan lagi. Nggak suka, ya, Mama sama cewek nggak sopan kayak gitu. Lihat itu si Anha, kalau Mama dateng ke rumahnya aja sopannya minta ampun sampai cium tangan Mama.”
Jeng Asih mengibaskan tangannya di depan dada setelah marah-marah tidak jelas seperti itu.
Hamkan menyentuh tangan Mamanya dan berusaha menenangkannya.
“Udah-udah, Ma. Lagian Hamkan juga nggak suka sama Prilly, kok. Mama jangan inget-inget itu lagi, ya.”
__ADS_1
Kini lengang di ruang keluarga. Hamkan hanya menyaksikan mamanya masih menikmati tehnya dengan perlahan.
Hamkan ingin mengatakan sesuatu kepada Mamanya. Tapi rasanya agak canggung.
“Ma....”
“Hm?”
“Ma. Hamkan mau ngomong sesuatu sama Mama,” kata Hamkan sambil menelan ludahnya dengan kesusahan.
“Ya? Mau ngomong apa?”
“Em... Mama segitu sukanya sama Anha?”
Jeng Asih menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Ka-kalau Mama suka. Hamkan juga su-suka, Ma.”
Aduh, rasanya kikuk sekali ketika Hamkan mengucapkan hal itu. Hamkan menatap ke arah lain karena kini wajahnya merah sekali.
Mamanya senang bukan main mendengar hal tersebut.
“Cie... kamu mulai suka, ya, sama Anha. Ayo ngaku kamu,” kata mama sambil menyentuh lengan Hamkan dengan jari telunjuknya. Menggoda anaknya itu sampai wajahnya memerah seperti udang rebus.
“Ma-mama. Kalau mama suka sama Anha. Boleh, kok mama bantuin Hamkan buat deket sama Anha.”
__ADS_1
Setelah itu Hamkan berpamit kepada Mamanya untuk menuju ke kamar karena merasa malu bukan main.