Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Kakak Mau Menikah, Ma?


__ADS_3

“Ma. Sebenernya Hamkan mau nikah sama...Anha,” kata Hamkan malu malu kucing ketika mengatakan hal tersebut kepada mamanya.


Jeng Asih yang semula terkejut kini ekspresinya berubah menjadi menguulum senyuman.


Aduh anaknya ini, paling pintar sekali membahagiakan orang tua. Kalau dari awal Hamkan mengatakan jika dirinya ingin menikah dengan Anha, jelas saja mamanya ini akan seratus persen merestuinya.


“Serius kamu mau nikahin Anha?” kata Jeng Asih sambil menaik turunkan alisnya, dan tak lupa tersenyum menggoda anaknya yang kini wajahnya sudah semerah tomat.


“Menurut pendapat Mama sendiri gimana? Kalau Mama suka. Maka Hamkan pun juga ikut suka, Ma,” tanya Hamkan dengan saksama.


“Kalau Mama nggak suka gimana?” kata Jeng Asih mencoba menggoda putranya lagi. Jeng Asih menopang kepalanya menggunakan tangan kanannya pada sandaran sofa. Ia penasaran ingin mendengar apa jawaban yang akan diberikan oleh Hamkan atas ucapannya tersebut apabila dia tidak merestuinya menikah dengan Anha.


“Em... untuk saat ini, Hamkan belum tahu, Ma. Intinya Hamkan percaya kalau pasti pilihan Mama itulah yang terbaik buat Hamkan.”


Jeng Asih tersentuh mendengarnya. Ia berdrama seolah menghapus air matanya yang berada di pipi. Padahal kering. Bisa saja anaknya yang satu ini.


“Uluh-uluh, kamu itu bikin Mama terharu aja. Jelas aja kamu mau dijodohin sama Anha. Orang Anhanya aja cantik. Baik lagi. Coba kalau kamu Mama paksa nikah sama cewek yang kamu nggak kenal dan nggak secantik Anha. Pasti kamu bakalan nolak, kan, kayak di sinetron dipaksa menikah dipaksa menikah itu, kan?” kata Jeng Asih menyinyir membuat wajah putranya semakin merah sekali.


Benar juga kata mamanya. Inimah dipaksa tapi nikmat! Siapa pun juga mau!


“Siapa yang mau nikah, Ma?” tanya Lita setelah sayup sayup mendengar percakapan mamanya dengan kakaknya dari ruang membaca.


Kini Lita mendekat ke arah mereka dan bergabung duduk di sebelah mamanya yang sejak tadi ribut entah membahas apa.


“Kakak mau nikah, Ma?” tanya Lita dengan polosnya sambil menunjuk kakaknya.

__ADS_1


Wajah yang ditunjuk oleh jari Lita kini semakin merah saja. Sedangkan Jeng Asih semakin terkikik geli.


“Ha-Hamkan ke kamar dulu, ya, Ma,” pamit Hamkan dengan wajah bersemu. Sejurus kemudian Hamkan sudah menaiki anak tangganya untuk kabur ke kamar tidurnya yang berada di lantai dua.


Ketika Hamkan sudah tidak ada. Kini Lita yang masih diselimuti rasa penasaran terus mendesak mamanya.


“Serius Kak Hamkan mau nikah, Ma?” tanya Lita untuk kesekian kalinya sambil menggoyangkan bahu mamanya karena pertanyaannya sejak tadi tidak dijawab-jawab.


“Tapi... Lita nggak suka kalau Kak Hamkan nikah, Ma.”


Dahi Jeng Asih mengerut ketika mendengar hal  tersebut.


“Loh, kok, bisa? Kenapa, Nak?”


Lita cemberut. Kemudian mengatakan alasannya kenapa tidak suka melihat kakaknya kelak akan menikah.


Jeng Asih tersenyum lembut. Ternyata putrinya ini merasa cemburu dan takut jika kakaknya nanti tidak sayang lagi kepadanya. Dan itu semua wajar adanya.


Jeng Asih tersenyum sambil mengusap rambut anak gadisnya.


“Sudah-sudah. Sampai kapan pun Kak Hamkan bakalan terus sayang sama Lita. Percaya, deh, sama Mama.”


“Serius, Ma?” tanya Lita sambil mengerjab menatap wajah mamanya.


Jeng Asih menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Jelas, dong.”


“Um... calon Kakak cantik, nggak, Ma?” tanya Lita lagi dengan penasaran.


“Ya, jelas cantik, dong.”


“Namanya siapa, Ma?”


“Namanya Kak Anha.”


“Terus, Ma. Kak Anha itu orangnya kayak gimana? Ceritain, dong, Ma, sama Lita. Lita juga pengin lihat fotonya.”


Lita ini benar-benar penasaran sekali. Padahal tadi sepertinya Lita sendiri yang bilang kepada mamanya jika dia tidak menyukai kalau kakaknya akan menikah. Dasar anak ini. Diam-diam sayang.


“Sudah-sudah. Beresin dulu sana buku-bukumu. Terus jangan tidur malem-malem meskipun kamu lagi fokus ngefahalin,” kata Jeng Asih sambil mencium pucuk rambut putri bungsunya.


Lita kecewa. Dia ber ‘yah’ ria sambil menekuk wajahnya.


 


Semoga saja. Kali ini berjalan tanpa hambatan dan berakhir di pelaminan.


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2