Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 10


__ADS_3

Hari ini Dea akan memulai hidupnya yang baru, hari ini Dea mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga.


“Dika, aku sangat berterima kasih padamu. Jika tidak ada dirimu, entah bagaimana nasibku sekarang. Aku ....”


“Sstt ... kau berhati-hati ya, jangan terlalu percaya dengan orang yang baru kau kenal. Aku juga berharap, kau tidak melupakan aku.”


Dea tersenyum, tanpa ragu dia memeluk Dika dengan erat.


Grep ....


“Mana mungkin aku melupakan orang sebaik dirimu, terima kasih ya. Jika aku cuti, aku akan datang kemari.”


Jantung Dika berdetak sangat kencang, karena pertama kalinya juga dirinya di peluk oleh wanita.


Dika berusaha menahan diri untuk tidak membalas dekapan Dea padanya.


Dea melepaskan dekapannya.


“Aku pergi,” ucapnya berpamitan.


Dika tersenyum, lalu mengangguk. Dirinya terpaksa harus merelakan kepergian Dea, karena dirinya juga tak punya hak untuk melarangnya.


Dea menaiki taksi yang sudah di pesan oleh Dika untuknya, Dika masuk kembali masuk ke dalam rumahnya setelah melihat mobil yang tumpangi Dea tak terlihat lagi.


Dika memasuki rumah terasa sangat sepi, semula ia pulang bekerja Dea selalu menyambutnya dengan senyum.


“Huftt ... apa yang terjadi denganku? Huh ... apa aku sudah gila? Lebih baik aku fokus bekerja saja seperti sedia kala,” gumamnya lagi.


Drrtt ...


Getar ponsel miliknya dari saku celananya, Dika berdecap kesal melihat nama di layar ponsel tersebut.


“Apa lagi ini? Kenapa mereka tak membiarkanku hidup tenang? Belum puas dengan apa yang mereka miliki saat ini,” kesal Dika membiarkan panggilan tersebut, Dika malah meletakkan ponsel miliknya ke dalam laci lemari.


Dika meninggalkan ponselnya yang masih bergetar, ia memakai pakaian lusuh karena baru saja salah satu temannya mengatakan jika ada barang yang datang.


***

__ADS_1


Dea melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar tersebut, terbesit di pikirannya jika melihat rumah besar bagaimana Alex menyekapnya dan menyiksanya saat itu.


“Masuk, Neng. Istirahat saja, besok kamu mulai bekerja,” ucap wanita paruh baya tersebut.


Dea mengangguk.


Keesokan paginya, Dea tengah membantu pelayan lain untuk menyiapkan sarapan.


Karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja, ia sedikit kesulitan karena masih belum mengetahui apa saja yang ingin ia kerjakan.


“Siapa Bi?” tanya majikannya melihat Dea tengah membersihkan rumah tamu.


“Namanya Dea, Tuan. Ganti Rosa yang berhenti,” sahutnya.


Pria tersebut mengangguk, lalu memulai sarapan paginya.


“Bi, siang ini tolong masak yang enak. Karena ada pamanku akan datang kemari,” perintahnya dengan ramah.


“Iya, Tuan Vino.”


Vino menyelesaikan sarapannya, lalu beranjak dari tempat duduk. Saat melangkah menuju ruang tamu, dirinya berpapasan dengan Dea yang hendak ke dapur hingga keduanya tak sengaja bertabrakan. Karena Dea juga terlihat buru-buru kedapur, beruntung Vino langsung menangkap Dea sehingga dirinya tak terjatuh ke lantai.


“Hati-hati,” ucapnya dengan lembut.


Dea mengangguk.


“Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja, lain kali saya akan lebih berhati-hati,” sahut Dea tampak gugup.


Dirinya gugup bukan karena di tatap oleh Vino, melainkan takut di pecat karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja.


“Dea, kamu baik-baik saja?” tanya bibi menghampirinya.


“Iya, Bi.”


Siang hari, paman yang di undang makan oleh Vino sudah tiba. Ia menyambutnya dengan senang hati, karena memang dirinya begitu dekat dengan pamannya setelah kepergian orang tuanya.


“Paman Alex,” sapa Vino melihat pamannya sudah tiba, mereka saling berpelukan satu sama lain. Walaupun tinggal di kota yang sama, sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing di dunia bisnis.

__ADS_1


“Vino, apa kabar nak?” tanya Alex menepuk pelan bahu Vino di dalam dekapannya.


“Aku baik naik Paman, bagaimana dengan Paman?” tanyanya balik.


“seperti yang kamu lihat.” Melepaskan dekapan Vino lalu merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan dirinya saat ini baik-baik saja.


“Huhu ... semakin hari Paman semakin bertambah tampan saja, tapi sayangnya belum ada pendamping,” goda Vino mengajak pamannya untuk duduk di sofa empuk miliknya.


“Mm ... kalau itu mah sudah biasa. Yang penting banyak uang, masalah wanita bisa beli, hahaha ...” sahutnya diiringi dengan tawa lepasnya.


“Huh ... Paman. Memang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang!” seru Vino.


“Hahahaha ....” Alex hanya tertawa menanggapinya.


Usia mereka terpaut cukup jauh, namun karena perawatan yang canggih saat ini membuat wajah paman Alex dan Vino seperti seumuran saja.


Jika bersama Vino, tak terlihat wajah kejam Alex ia seperti pria yang seperti pada umumnya saja.


Cukup lama berbincang dengan hangat di ruang tamu, Vino mengajak pamannya untuk makan siang bersama di meja makan. Karena Vino meminta Bibi untuk memasak makanan kesukaan pamannya.


“Bi,” Panggil Vino.


Namun, tak ada sahutan dari Bibi.


“Sebentar Paman, sepertinya Bibi sedang tidak berada di dapur.” Vino berpamitan, ia tak melihat bibi di dapur namun ia melihat Dea yang tengah membersihkan piring.


“Dimana Bibi?” tanyanya membuat Dea sedikit terkejut.


“Bibi sedang beristirahat, apa tuan butuh sesuatu?” tanyanya.


“Hm, iya. Tolong siapkan makanan untuk kami di meja makan dan juga tolong buatkan aku dan Paman teh hijau,” ujarnya.


Dea mengangguk.


Sebelum membuatkan teh hijau, ia melangkah menuju meja makan untuk menyiapkan makanan.


Namun, langkahnya terhenti saat melihat pria yang tidak asing tengah duduk di kursi. Ia berusaha bersembunyi dari pria kejam tersebut, akan tetapi malah bertemu di rumah tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2