
Dika baru saja membuka pesan dari istrinya, ia langsung panik saat membaca pesan tersebut jika mereka saat ini sedang dalam bahaya.
Dika langsung menghubungi nomor ponsel milik istrinya, akan tetapi tak kunjung di angkat.
“Kemana mereka? Kenapa tak diangkat? apa jangan-jangan mereka di culik?” Itu yang terbesit di pikirannya saat ini, Dika terduduk lemas di kursi kebesarannya.
Ia berpikir sejenak berusaha untuk tidak panik, lalu menghubungi polisi. Karena Dika tak mau lagi menunggu, ia takut jika terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.
Setengah jam kemudian, Dika tiba di kantor polisi lalu memperlihatkan pesan terakhir istrinya sebelum ponsel istrinya tidak aktif lagi.
Polisi segera bertindak dan sudah menemukan titik lokasi terakhir, mobil milik istrinya.
Karena Dika juga sudah memasang alat bantu pelacak di mobil milik istrinya, demi mengamankan istrinya dari kejahatan.
Dua jam perjalanan, mereka tiba di tempat lokasi terakhir. Dika menatap mobil istrinya dalam kondisi roda depan keduanya kempes, lalu Dika membuka mobil tersebut. Didalam tak terlihat tanda adanya kekerasan atau perampokan.
Bahkan ponsel milik putrinya dan sopirnya tergelatak di dalam, hanya saja ia tak menemukan ponsel milik istrinya di dalam mobil tersebut.
“Tuan, sepertinya ini bukan perampokan. Kami sudah meneliti, barang berharga masih ada di dalam. Sepertinya ini penculikan, kami masih belum mengetahui motif penculikan tersebut.”
Dika bersandar di pintu mobil, memang salah besar dirinya membawa keluarga kecilnya ke kota ini kembali.
Dika tidak memaafkan dirinya, bahkan mengutuk dirinya sendiri karena lalai menjadi istrinya, Dea.
Sembari menunggu polisi mencari barang yang akan menjadi penunjuk di sekitar mobil tersebut, Dika mencoba menghubungi kembali ponsel milik istrinya.
Ponsel tersebut berdering, akan tetapi tak di angkat.
“Angkat, Sayang. Apa kalian baik-baik saja?” gumamnya.
“Bagaimana Tuan, apakah ponsel Nona aktif? Mungkin kita bisa melacak dari ponselnya,” tanya salah satu anggota kepolisian tersebut.
Dika terdiam, ia seperti sedang mengingat sesuatu.
“Tunggu, aku meletakkan alat bantu lacak di kalung putriku dan juga Istriku. Semua itu aku lakukan agar melindunginya dari kejahatan,” ujar Dika.
Tanpa menunggu lagi, ia membuka sebuah aplikasi di ponsel miliknya lalu memperlihatkan titik lokasi dimana istri dan putrinya berada.
Mereka segera pergi dari tempat tersebut, dengan kecepatan stabil menyusuri jalanan sepi tersebut.
“Sayang, tenanglah. Aku akan segera menjemput kalian,” gumam Dika dalam hati.
***
__ADS_1
Lain halnya dengan Vino, saat ingin melangkah kembali. Karena dirinya sebelumnya terlebih dahulu pulang sebentar, lalu kembali lagi ke kantor polisi.
Akan tetapi, langkahnya tersebut di terhenti saat mendengar dering ponsel dari ponsel milik Dea. Sebelumnya ia sempat menghidupkan ponsel tersebut, karena mati akibat lemparan anak buah Alex ke arah jurang.
Namun, saat ponsel itu menyala ia sangat terkejut bahkan membulatkan matanya.
Wanita yang ia cari selama ini, kini sudah menikah kembali.
Terpampang jelas foto wallpaper di layar ponsel tersebut adalah foto pernikahan Dea dan suaminya.
Vino terduduk lemas di kamarnya, ia perlahan juga membaca pesan dari ponsel tersebut.
“Ternyata dia sudah menikah! Huft ... tidak ada lagi harapan untuk kembali padanya, apa aku selama ini serakah karena ingin memilikinya kembali?” gumamnya.
Ia mengambil kembali ponsel tersebut dan menatap foto pria yang bersama mantan kekasihnya tersebut.
“Sepertinya, wajah pria ini sangat tidak asing. Tapi, siapa dia?” tanyanya lagi.
Karena tak menemukan jawaban, Vino akhirnya memutuskan untuk menghubungi nomor yang tertera dan bertuliskan nama Hubby di ponsel tersebut.
Kali ini dirinya tak ingin lagi memikirkan tentang hatinya lagi, apalagi melihat senyum bahagia Dea bersama pria pilihannya. Yang terpenting saat ini ia harus segera menyelamatkan Dea dari pamannya yang kejam itu. Sekaligus memberi pelajaran pada pamannya, agar tak berulah lagi mengingat usia Alex bisa dibilang tak muda lagi.
Tanpa menunggu lagi, Vino langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke villa. Ia sangat yakin jika suami Dea pasti sudah menemukan tempat lokasi dimana Dea di sekap, Karena terlihat dari pesan yang ia kirim melalui ponsel Dea, istrinya.
Di tengah perjalanan, ponsel itu kembali berdering dengan nomor yang sama menghubunginya.
“Halo,” ucap Vino tampak ragu.
Akan tetapi, ponsel tersebut langsung mati karena kehabisan daya.
“Astaga!”
Vino kembali meletakkan ponsel tersebut di tas kecil miliknya, lalu melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di villa, Vino masih menjaga jarak. Dari kejauhan, Vino melihat mobil polisi dan ada beberapa polisi di tempat tersebut.
Vino menyelinap masuk ke dalam villa milik pamannya, karena dirinya tahu betul Vila tersebut.
***
Di dalam kamar, tangan Dea masih terikat dengan kain. Bahkan matanya juga masih dalam keadaan tertutup.
“Clara, kamu dimana Sayang!” teriak Dea mencari keberadaan putrinya.
__ADS_1
Saat mereka di bawa ke tempat itu, Clara dan Dea langsung di pisah oleh anak buah Alex.
“Hei, lepaskan aku. Kalian membawa kemana putriku?! Jika kalian menyakiti Putriku, ku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup!” teriaknya.
Ceklek!
Dea mendengar pintu kamar terbuka perlahan, bahkan terdengar suara langkah kaki masuk dengan perlahan lalu pintu itu terdengar di tutup kembali.
“Siapa kamu? Lepaskan aku!” teriakan Dea sembari memberontak.
Tangan seseorang langsung melepaskan ikatan tangannya, setelah itu Dea melepaskan sendiri kain penutup matanya.
Karena mata Dea di tutup cukup lama, ia berulang lagi mengucek matanya agar penglihatannya tak buram.
“Hei ... dimana putriku?!” teriaknya.
Namun, Dea langsung terdiam melihat pria yang ada di hadapannya itu.
“Sstt ... diamlah. Paman Alex sedang menuju kemari,” ucap Vino pelan, sembari membuka pintu jendela untuk mengelabui Alex.
Lalu ia mengikat beberapa kali alas kasur untuk di satukan dan segera melemparnya ke jendela.
“Jangan banyak bicara dan bertanya. Aku kemari bukan berniat jahat, tapi aku membantumu untuk keluar dari vila ini.” Sembari membuka pintu lemari.
Dea tampak bingung dengan apa yang di lakukan oleh mantan suaminya saat ini.
“Apa yang kamu lihat, cepat bersembunyi di dalam lemari ini.”
Dea menatap ke arah jendela yang di letakkan kain oleh Vino.
“Itu hanya untuk mengelabui Alex dan anak buahnya.”
“Alex? Jadi Alex pelakunya?!” gumam Dea dalam hati.
Karena melihat Dea hanya berdiri, ia segera menarik Dea dan membawanya masuk ke dalam lemari.
Terdengar suara keributan dari luar kamar tersebut, mereka seperti sedang mendobrak pintu.
“Sstt ... diamlah. Jangan mengeluarkan suara sedikitpun,” bisik Vino.
Dea sangat canggung karena mereka begitu dekat, bahkan sangat dekat. Ia tak menyangka jika bisa bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya tidak ada komunikasi sama sekali.
Vino tampak mengintip dari lubang kecil yang ada di jendela tersebut, ia melihat beberapa anak buah Alex yang berhasil masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Mereka bergegas pergi karena melihat pintu jendela terbuka lebar, bahkan ada kain yang di ikat menjadikan seperti sebuah tali.
***