Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 32


__ADS_3

Di kantor.


Vino banyak diam, bahkan meeting siangnya ini ia serahkan kepada asistennya.


“Bagaimana Tuan Vino? Apa Tuan setuju bekerja sama dengan mereka? Bisnis mereka cukup baik, ku perhatikan tidak ada yang aneh.” Asistennya berusaha menjelaskan padanya, karena dirinya tak ikut andil dalam meeting tadi siang.


Selain pikirkannya yang kacau, takut bermasalah dengan orang penting tersebut. Hingga dirinya mempercayakan semuanya pada asistennya .


“Tuan,” panggilnya lagu.


Vino terlihat terkejut, rupanya sejak tadi asistennya menjelaskan ia tak mendengarkannya terlalu sibuk bergelut dengan pikirannya.


“Hah, kamu bicara apa tadi?” tanyanya lagi.


Sang asisten menggelengkan kepalanya, lalu mengulang ucapannya yang tadi.


“Ku serahkan semuanya padamu. Aku ingin istirahat dalam beberapa hari ini,” ujarnya beranjak dari tempat duduknya meninggalkan sang asisten.


Asistennya menatap punggung bosnya dengan heran, apalagi melihat Vino hari ini tampak tak bersemangat dengan pekerjaannya.


“Ada apa dengannya? Apa ada hubungannya dengan wanita kemarin? Tapi siapa wanita itu? Aku jadi penasaran,” gumamnya dalam hati.


Ia tampak mengangkat kedua bahunya lagi, tanda ia tak peduli dengan masalah pribadi bosnya tersebut.


Di dalam mobil, Vino tampak masih memikirkan kejadian tadi pagi. Ia bahkan tidak fokus dalam pekerjaannya dan memutuskan untuk meninggalkan kantor.


“Argghh ... kenapa jadi kacau begini?!” mengacak rambutnya, lalu memijit pelipisnya yang terasa pusing.


Ting .... pesan masuk melalui ponsel miliknya.


“Paman Alex, kenapa lagi dengannya?” gerutunya melempar ponsel miliknya ke kursi kosong tanpa melihat isi pesan tersebut, karena ia sudah mengetahui sifat pamannya jika saat ini ia pasti bertanya tentang Dea.


Vino berulang kali menghela napas kasar, ia sebenarnya mencintai Dea. Akan tetapi egonya juga terlalu tinggi, bahkan dirinya juga malu dengan perbuatannya yang telah bermain api dengan Diana.


Bahkan, dirinya tak berniat mengejar istrinya saat keluar dari rumah. Dirinya hanya mementing egonya saja.


Tak lama, ponsel tersebut bergetar.


Drrttt ...


Membuat Vino berdecap kesal.


“Ck ... siapa lagi yang menghubungiku? Mengganggu saja!” gerutunya mengambil ponsel yang telah ia lempar tadi.

__ADS_1


Lalu tak lama, ponsel tersebut berhenti bergetar, panggilan tersebut di akhir olehnya karena tak ingin menerima telepon apalagi dari nomor yang tidak di kenal.


Namun, salah satu jarinya tak sengaja menelan layar sentuh tersebut yang berbentuk pipih itu. Sehingga pesan dari pamannya terbuka olehnya, ia membulatkan matanya melihat foto yang di kirim oleh pamannya itu.


Foto Diana yang sedang berbagai macam gaya di atas tubuh Alex, tanpa menggunakan sehelai benangpun.


“Sialan! Dasar wanita murahan! Berhasil menggodaku, sehingga rumah tanggaku hancur kini dia kembali menjadi wanita yang sesungguhnya!” geram Vino menatap Diana dengan tatapan jijik.


“Apa ini juga termasuk rencana Paman? Dia begitu menginginkan Dea. Sialan! Aku masuk dalam perangkap mereka!” umpatnya.


Bahkan ia mengutuk dirinya sendiri, karena tergoda dengan Diana, yang ternyata sudah di rencanakan oleh pamannya sendiri.


“Kenapa aku tidak menyadarinya?!” berulang kali mengutuk dirinya.


Vino kembali melempar ponsel miliknya ke kursi kosong, tujuannya saat ini adalah ke rumah pamannya.


30 menit di perjalanan, ia tiba di rumah mewah milik pamannya. Yang dulunya rumah tersebut adalah milik mendiang kedua orang tuanya, hingga di ambil alih oleh pamannya dengan berbagai macam alasan.


“Maaf Tuan, anda tidak di perbolehkan masuk,” ujar penjaga serta anak buah dari Alex sembari menahannya untuk masuk.


“Aku ingin menemui Pamanku! Minggir kalian!” sentaknya menepis tangan mereka.


Akan tetapi, mereka bersikeras untuk menahan Vino agar tak masuk ke dalam rumah.


“Tidak bisa!”


“Maaf, Tuan. Kamu hanya menjalankan perintah!” mereka tetap dengan pendiriannya dan patuh pada Alex.


Karena pria kasar dan kejam seperti Alex, pasti tidak akan ada yang berani melawan perintahnya.


Vino tidak menyerah, ia masuk kembali ke dalam mobilnya yang masih terparkir di luar. Vino memutar setir mobil dan memaksa masuk, hingga menabrak pagar yang tertutup. Karena sebelumnya sudah di tutup oleh mereka, pasalnya mereka berpikir jika Vino kembali pulang.


Bruak! Bruak!


Dua kali Vino menabrakkan mobilnya dengan keras hingga pagar tersebut jatuh dan rusak, Vino tidak memikirkan lagi mobil mahalnya itu menjadi rusak parah bagian depan.


Beberapa anak buah Alex menahan kedua tangannya, karena Vino pandai berkelahi hingga di terjadinya perkelahian di depan rumah pamannya.


Bugh! Bugh! Vino menghajar mereka tanpa ampun, bahkan dirinya juga sempat beberapa kali kena hantaman pukulan hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


“Hanya segitu kekuatan kalian?! Lemah!” ejek Vino dengan memperlihatkan jempolnya terbalik.


Tanpa menunggu lagi, dirinya masuk ke dalam rumah. Terlihat sang Paman mengisap rokoknya sembari meletekkan kakinya yang terlipat di atas meja.

__ADS_1


Prok! Prok!


“Ku akui sandiwara Paman memang hebat, bahkan rencana berjalan lancar seratus persen! Selamat, Paman sudah berhasil membuatku berpisah dengan Istriku!” menatap tajam pamannya.


“Tapi satu hal yang harus Paman ketahui, jangan salahkan aku jika aku membalas perbuatan Paman. Semua itu yang telah Paman ajarkan kepadaku!” serunya.


Alex hanya menyeringai jahat.


“Aku sudah peringatkan sejak awal, jangan berani menyentuh yang akan menjadi milikku! Tapi kamu sungguh keras kepala, agar di anggap pahlawan kamu membebaskan mereka dariku!”


Vino berdecap kesal.


“Aku pastikan Paman akan menyesal seumur hidup!” serunya.


“Tuan! Tolong saya,” panggil Diana dengan perlahan menuruni tangga, sembari memegang perutnya.


Vino tampak tak peduli, bahkan ia menatap jijik terhadap Diana.


Sebelum keluar dari ruang itu, ia menatap pamannya dengan tajam.


“Mulai sekarang, aku akan melupakan jika aku mempunyai Paman!” sentaknya membuat Alex menatapnya.


Ia berdiri melangkah mendekati Vino yang masih dengan amarahnya.


“Kamu ini masih kecil saat di tinggal oleh orang tuamu, aku yang merawatmu dari kecil hingga kamu menjadi orang sukses seperti ini!”


“Sepertinya aku salah mengajarimu sopan santun dulu, tetap saja kamu sekarang tumbuh menjadi anak yang kurang ajar!” sentak pamannya.


“Paman yang mengajariku menjadi kurang ajar seperti ini!” balas Vino tak mau kalah.


Karena tak ingin berdebat lagi, ia melangkah menuju ke luar rumah meninggalkan Diana yang berusaha melangkah untuk menemui.


“Mau kemana kau?” tanyanya dengan ketus melihat Diana berusaha menghindar darinya.


“Tuan, Vino. Tunggu aku,” teriaknya membuat Alex tertawa lepas.


“Kau pikir dia akan menolongmu? Jangan pernah berharap sesuatu yang tak pernah kau dapatkan!” ejek Alex.


“Ini pakaianmu, sekarang kamu pergi dari rumah ini! Aku bahkan sudah muak melihat wajahmu itu!” serunya Alex melemparkan tas milik Diana yang berisi pakaiannya, karena dirinya sudah terlanjur benci pada Diana. Apalagi melihat tubuh Diana penuh dengan tanda merah saya berhubungan dengannya, hingga membuatnya dirinya sangat membenci Diana.


Diana terdiam menatap tas miliknya.


“Apa yang kau lihat? Cepat pergi dari hadapanku, sebelum aku berubah pikiran. Aku tidak ingin menampung wanita murahan sepertimu!” sentaknya meninggalkan Diana yang masih mematung.

__ADS_1


Diana bergegas keluar karena melihat mobil milik Vino sudah menjauh.


***


__ADS_2