Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 48


__ADS_3

Kembalinya dari rumah, Rival tak sengaja melihat pintu ruangan Dela terbuka. Langkahnya langsung terhenti, ia menatap Dela yang terlihat fokus dengan layar komputernya.


“Ekhem ...” deham Rival.


Dela dan beberapa karyawannya yang ada di dalam ruangan tersebut menoleh ke arahnya.


Rival terlihat malu, karena sebelumnya tak melihat ada orang selain Dela di dalam ruangan tersebut.


“Iya, ada bisa kami bantu Tuan?” tanya salah satu di ruangan tersebut.


Rival terdiam, ia mengutuk dirinya bagaimana bisa dirinya tak melihat orang di ruangan tersebut.


“Kamu, ke ruanganku sekarang!” dengan penuh penekanan menunjuk Dela.


Rival membuang rasa malu, dengan berpura-pura marah pada Dela.


Kaki Dela tampak gemetar, karena ketakutan melihat wajah dingin Rival. Bahkan wajahnya langsung pucat pasi.


“Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?!” seru Rival dengan wajah datar.


Dela langsung mengangguk, melihat Rival lebih dulu pergi rekan kerjanya menatap Dela yang terlihat ketakutan.


“Ada apa Dela? Apa kamu melakukan kesalahan? Jika kamu tidak mengerti, kamu bisa bertanya pada kami!” ujar mereka, karena tak biasanya Rival begitu marah bahkan hingga datang ke ruangan.


“Aku tidak tahu. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, aku tak melakukan apapun di luar kendaliku,” sahut Dela tampak bingung.


“Cepat ke ruangan Tuan Rival sekarang, jangan sampai dia menunggu lama!”


Dela mengangguk cepat, lalu setengah berlari menuju ruangan Rival.


Dela tak lupa mengetuk pintu sebelum masuk, di dalam Rival tampak menatapnya tanpa bicara. Dela menunduk, cukup lama berdiri akan tetapi Rival tak kunjung bicara.


“Tuan, aku salah apa? Apa ada yang selisih dengan dokumen yang aku kerjakan?” tanyanya dengan tangan yang gemetar.


Rival menahan senyumnya melihat Dela yang ketakutan.


“Duduklah, tidak ada yang salah dengan pekerjaanmu.”


Dela mengernyit heran, entah apa yang ada di pikiran Rival saat ini.


“Apa kamu tuli? Cepat duduk!” perintahnya.


Dela langsung duduk tanpa menunggu lagi, namun ia sangat risih dengan Rival yang selalu menatapnya.


Saat hendak mengatakan sesuatu, bersamaan dengan ketukan pintu.


Tok ... Tok ...


Rival berdecap kesal.


“Masuk,” ucapnya.


“Rival,” panggil pria itu yang ternyata adalah teman dekatnya.


“Delon, kau disini?” Rival langsung beranjak dan memeluk sahabatnya tersebut.


“Kapan kau kembali?” tanya Rival sembari mengajak Delon untuk duduk.


“Baru seminggu yang lalu,” sahutnya.


“Sialan, sudah seminggu tapi kau tak mengabariku!” protesnya.


Delon hanya terkekeh.


Netra Delon tertuju pada punggung wanita yang terlihat masih duduk tanpa mengerjakan sesuatu.


“Tuan, saya permisi dulu,” pamit Dela hendak beranjak.


Akan tetapi Rival menahannya.


“Tolong buatkan aku kopi dua.”


Dela mengangguk.


Namun, netra Dela dan Delon saling bertemu. Bahkan mereka tampak sama-sama terkejut, dengan cepat Dela langsung melangkah keluar.


“Siapa dia? Apa dia kekasihmu?” tanya Delon pada Rival.


Rival hanya tersenyum.


“Melihat senyummu ini, aku yakin wanita itu spesial bagimu,” tebaknya.


“Dia karyawan disini,” ujarnya.


Delon mengangguk.


“Bagaimana pernikahan mu? Kenapa tidak membawa Istrimu kemari, aku kan bisa berkenalan.”

__ADS_1


“Istriku sedang berada di rumah orang tuanya, aku menyempatkan diri untuk datang kemari. Karena lusa aku harus kembali lagi,” sahutnya.


“Oo cepat sekali, maaf aku tak bisa datang ke pernikahanmu. Selain jauh, pekerjaanku tak bisa di tinggal.”


“Iya, aku mengerti. Orang penting sepertimu, sangat susah untuk keluar kantor. Makanya belum menikah hingga sekarang, karena sibuk dengan pekerjaan!” gurau Delon, lalu keduanya terkekeh.


Karena memang benar adanya, kesibukan Rival yang begitu padat membuatnya tak mampu mencarinya pendamping hidup.


“Sebentar,” pamit Rival melangkah ke arah kamar di dalam ruangannya.


Bersamaan dengan pintu ruangan terbuka, memperlihatkan Dela yang baru masuk membawa dua kopi pesanan Rival.


“Hai Dela, bagaimana kabarmu?” tanya Delon menatapnya dengan tatapan nafsu.


Dela tak menghiraukannya, setelah meletakkan dua gelas kopi itu ia langsung melangkah ke arah pintu.


Namun, tangannya di pegang oleh Delon dengan kuat.


“Lepaskan aku, Tuan. Aku bukan Dela yang dulu lagi!” ketus Dela menatap Delon dengan murka.


“Turunkan pandanganmu! Aku masih ingat hingga sekarang bagaimana lekuk tubuhmu dan dimana titik kesukaanku!” ujarnya sembari menyeringai licik.


Delon adalah salah satu pelanggannya, yang hampir tiga bulan sekali ia selalu membayar Dela untuk memuaskan dirinya.


Namun, setelah beberapa bulan tak kembali ke tanah air. Ia ingin kembali menikmati tubuh Dela, walaupun dirinya sudah menikah. Ia mendapati jika Dela sudah tak bekerja lagi sebagai wanita malam.


Namun, ia malah menemukan Dela di kantor sahabatnya.


“Aku akan membayarmu dua kali lipat, kita ke hotel sekarang. Jika kamu menolak, aku akan membeberkan pekerjaanmu dulu pada semua orang di kantor ini!” ajaknya, dengan mengancam Dela.


Namun, Dela menghempaskan tangan Delon yang memegang pergelangan tangannya.


“Aku sudah katakan, jika aku bukan wanita seperti itu lagi. Jangan menggangguku! Aku tidak takut dengan ancaman mu itu!” serunya karena sangat kesal pada Delon.


“Hahaha ... Wanita murahan akan tetap menjadi wanita murahan!” ejeknya.


“Siapa yang murahan?” tanya Rival yang baru keluar dari ruangan kecil tempat Rival biasa istirahat.


Karena dirinya tak sengaja mendengar samar-samar suara pria dan wanita yang sedang berdebat.


Dela terlihat terkejut, lalu berpamitan untuk keluar.


“Ada apa Delon? Kau mengganggunya!” tanya Rival, karena ia tahu sifat Delon yang tak bisa melihat wanita cantik.


“Tidak, aku hanya ....” menggantungkan ucapannya.


“Apa kau tahu wanita itu?” tanyanya.


“Iya, aku tahu. Dia adalah karyawanku,” sahutnya santai sembari menyeruput kopinya.


“Dela namanya, apa kau tahu dia sebelumnya kerja dimana?” tanyanya.


“Bukan urusanku dia bekerja dimana sebelumnya, yang terpenting kinerjanya sangat bagus.”


“Ck ... kau harus tahu. Dela sebelumnya adalah wanita yang menjual tubuhnya,” ucapnya.


Rival yang semula santai meminum kopinya, langsung tersedak.


Uhuk ... Uhuk ....


“Jangan asal bicara! Dia wanita baik-baik,” sahut Rival, seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Delon.


“Aku tak asal bicara, aku sendiri berulang kali membayar jasanya,” tutur Delon tanpa ragu.


Deg!


Rival mencerna ucapan sahabatnya.


“Jangan bilang kau mencintai wanita itu! Rival, perlu kau tahu! Banyak wanita baik-baik di luar sana. Jangan sampai kau salah mencari wanita untuk pendamping hidup!” Delon berusaha agar Rival tak jatuh cinta pada Dela.


Rival hanya tersenyum menanggapinya.


“Kalau begitu, aku permisi. Istriku mengirim pesan agar menjemputnya sekarang, lain kali kita akan berbincang lagi.”


Rival mengangguk, sebelum pergi Delon kembali lagi mengingatkan sahabatnya tersebut.


Rival tak semudah itu percaya, ia juga mengecek cctv di ruangannya apa saja yang Delon lakukan pada Dela saat dirinya tidak ada tadi.


Karena sebelumnya ia mendengar perdebatkan, akan tetapi ia tak mendengarnya terlalu jelas.


Matanya memerah saat melihat Delon mencoba menggoda Dela, tampak jelas di rekaman cctv itu Dela terlihat menolak bahkan menghempas tangan Delon.


Ia mengambil telepon, meminta Dela ke ruangannya.


Saat melihat Dela sudah masuk, matanya bahkan masih memerah menahan amarah. Bukan marah pada Dela, akan tetapi pada Delon yang berusaha ingin melecehkan wanita yang ia kagumi.


Bruak!

__ADS_1


Rival menutup pintu dengan kasar, lalu menguncinya.


Dela terlihat ketakutan melihat tatapan Rival yang tak biasa, ia semakin maju begitupun dengan Dela yang melangkah mundur hingga terbentur tembok.


“Tu-tuan mau apa?” tanyanya Dela dengan suara bergetar.


“Dela, apa yang di katakan oleh Delon memang benar adanya?” tanya Rival menatap Dela yang terlihat menunduk.


Dela sudah menduga, jika Delon pasti akan membeberkan pekerjaan masa lalunya pada orang sekitar. Apalagi dirinya menolak ajakan Delon untuk bercinta dengannya.


“Jawab!” sentak Rival.


Dela tampak menutup matanya, menghela napas berat.


“Jika peraturan di perusahaan ini melarang wanita sepertiku untuk bekerja, aku siap untuk mengundurkan diri dari perusahaan ini,” sahutnya dengan pelan, ia berusaha menahan air matanya.


“Bukan jawaban itu yang aku inginkan,” ucapnya semakin mendekati wajahnya pada Dela.


“Itu hanya masa laluku, Tuan dan itupun terpaksa aku lakukan, bukan kemauan ku sendiri. Maafkan aku Tuan, aku hanya ingin memulai hidup yang baru dan melupakan masa laluku dan aku akan siap mengundurkan diri sekarang juga,” sahut Dela lagi.


Dela sudah pasrah dengan kehidupannya saat ini, akan tetapi tak terbesit sama sekali di pikirannya saat ini untuk kembali ke pekerjaan tersebut.


“Lalu, setelah kamu mengundurkan diri. Apa kamu kembali ke tempat asalmu itu lagi?!”


Dela menyeringai.


“Aku memegang teguh ucapanku, Tuan!”


Rival merasa lega mendengar ucapan Dela barusan.


Tanpa pikir panjang, Rival malah menyatukan bibir mereka. Dela memberontak, berusaha menolak. Namun, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan tubuh kekar Rival.


“Hpzzzz ....”


Rival melepaskan penyatuan bibir mereka.


“Aku mencintaimu, Dela. Jangan pergi,” ucap Rival tanpa ragu, lalu memeluknya dengan erat.


Deg!


Dela langsung mematung, tak mungkin dirinya salah dengar. Karena sangat jelas terdengar di telinganya jika Rival mengungkapkan isi hatinya.


“Tu-tuan ....”


“Jangan bicara apapun. Sejak pertemuan kita, sejak itulah wajahmu tak bisa aku lupakan dan takdir mempertemukan kita kembali disini. Aku mencintaimu, Dela.” Melepaskan dekapannya, lalu menatap mimik wajah Dela yang tampak bingung.


“Tuan, mungkin anda salah orang. Wanita sepertimu tak pantas untuk pria terhormat sepertimu. Maaf, aku menolak!” tegas Dela.


Dela sangat sadar dengan dirinya, bahkan ia mengutuk masa lalunya itu.


“Tidak, aku tidak menerima penolakan!” memegang tangan dengan lalu mengecupnya berulang kali.


Dela menariknya dengan kasar, lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


“Maaf, Tuan. Aku tidak bisa, Tuan lebih pantas mendapatkan wanita yang bersih. Bukan wanita sepertiku!” tolak Dela hendak melangkah.


Namun, Rival menahannya lalu menyatukan bibir mereka kembali.


Awalnya Dela menolak, bahkan memberontak.


Namun, lama-lama ia malah membalas dan saling bertukar saliva.


Rival tersenyum, tanpa ragu Rival menggendong tubuh Dela untuk masuk ke kamar kecil yang berada di ruangan tersebut. Bisanya, kamar tempatnya beristirahat jika penat dengan pekerjaan yang begitu banyak.


Saat ini, kamar tersebut sudah menjadi saksi bisu keganasan Rival pada Dela dan menikmati pertempuran hangat tersebut.


“Aku sudah meletakkan benihku di dalam rahimmu, agar kamu tidak bisa lari dariku lagi. Aku akan segera meresmikan pernikahan kita, sebelum dia tumbuh di dalam sana.” Dengan napas yang masih turun naik, karena baru saja menyelesaikan aktivitas panas mereka.


Rival menutupi tubuh polos Dela, yang tampak mengeluarkan air mata.


“Kenapa kamu menangis? Percayalah padaku, aku akan bertanggung jawab.”


“Hiks ... Tuan, aku tak pantas untukmu! Aku wanita kotor!” menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Aku tak peduli dengan itu, asalkan kamu mau berubah dan tidak kembali ke masa lalu itu lagi.” Memeluk Dela dengan erat.


Dela semakin terisak di dalam dekapan Rival, ia tak menyangka jika ada yang mencintainya setulus itu.


Cup ...


Rival mengecup kening Dela dengan lembut.


“Jangan dengarkan perkataan Delon, kamu harus tetap percaya padaku.”


Dela mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2