
“Dika, kapan kau kembali?” tanya Dea yang tengah membawa barang belanjaannya untuk kebutuhan bulanan.
Dika mendengar suara istrinya langsung tersenyum, lalu beranjak dari tempat duduknya membantu membawa belanjaan sang istri.
“Aku baru saja tiba. Kenapa tidak pesan online saja? Ini cukup berat untukmu,” ujarnya melihat istrinya terlihat kelelahan.
“Ini tak terlalu berat. Huh ... sebentar, aku akan menyiapkan makan siang untukmu,” pamitnya.
Dika mengangguk, melihat putrinya tengah sibuk menggambar di buku tulisnya. Dika menyusul istrinya ke dapur.
“Kau masak apa?” tanya Dika membuat Dea terkejut, karena dirinya datang tanpa suara.
“Astaga! Kau mengagetkanku. Ayam goreng, serta sayuran yang lainnya.”
Dika mengangguk.
“Mm ... Dea, apa kau tidak ingin ikut bersamaku kembali pulang? Sepertinya mulai bulan depan aku sangat jarang pulang, pekerjaanku begitu banyak. Waktuku hanya sedikit untuk kalian,” ujarnya berbicara dengan hati-hati.
Dea langsung terdiam, jika dirinya kembali ke kota kelahirannya sama halnya ia akan membuka luka lama.
Sudah beberapa tahun dirinya melupakan masa lalunya yang pahit itu, hingga dirinya berhasil sampai di titik ini.
“Dea, kau jangan khawatir. Ada aku yang selalu melindungi kalian dan mantan suamimu tidak akan berani menyentuh kalian termasuk Clara. Aku mendapat kabar jika mantan suamimu itu sudah jatuh miskin,” ujarnya.
Dea sedikit terkejut karena Dika membahas mantan suaminya tersebut di luar, ia menarik pelan tangan suaminya untuk masuk ke kamar lalu menguncinya.
“Jangan bahas dia di depan Clara, aku tak ingin dia tahu Ayah kandungnya.”
Dika mengerti, lalu mengangguk.
Dea duduk di tepi kasur, berulang kali menghela napas berat. Dika ikut duduk lalu mengambil tangannya.
“Dea, ikutlah bersamaku. Aku tidak bisa berpisah terlalu lama dengan Clara,” ujarnya mengambil tangan istrinya.
“Termasuk kau Dea,” tambahnya dalam hati.
Dea tampak berpikir sejenak, ia juga tak bisa menolak permintaan Dika yang menjadi suaminya saat ini. Apalagi, Clara yang tidak bisa jauh dari Dika, bahkan mereka seperti tak bisa di pisahkan.
Dea mengingat kembali kebaikan Dika padanya saat dirinya di usir oleh mantan suaminya dulu dari rumah.
Flashback on.
“Bi, kita harus pergi kemana? Aku bahkan tak tahu arah tujuan kita,” keluh Dea, mereka kini tengah beristirahat di warung kecil.
“Dea, bagaimana kalau kita ke kampung Bibi saja. Jika kita masih berada di kota ini, Tuan Alex pasti sedang mencari keberadaan Dea sekarang. Agar lebih aman, kita harus pergi dari kota ini,” usul Bibi.
Karena dirinya dan juga Bibi tak mempunyai keluarga, sehingga Dea memutuskan untuk mengikuti bibi.
Mereka kembali melangkah melanjutkan perjalanan mereka menuju terminal bus, karena akan berangkat pergi ke kampung Bibi.
Saat hendak menyeberangi jalan, Dea merasa pusing yang sangat luar biasa. Lebih pusing dari pagi tadi, hingga dunia begitu gelap dan dirinya tak sadarkan diri di tengah jalan.
Bibi yang panik melihat keadaan Dea yang terjatuh pingsan, lalu berteriak meminta tolong pada pengendara yang berhenti.
Banyak yang membantu Dea untuk membawanya ke tepi jalan, bahkan ada yang memberikan air minum.
“Dea, apa yang terjadi?” tanya seorang pria yang kebetulan mengenalinya.
“Dia pingsan, Tuan. Lihat, wajahnya sangat pucat. Memang sejak pagi tadi, Dea sudah sakit,” ucap bibi tak kalah panik.
“Kita akan ke rumah sakit sekarang,” ujarnya langsung menggendong Dea masuk ke dalam mobilnya.
Setiba di rumah sakit, Dea masih di periksa oleh dokter. Sebelumnya mereka sudah memeriksa Dea, akan tetapi mereka menyarankan Dea untuk ke dokter kandungan.
“Selamat Tuan, Istri anda tengah mengandung. Perkiraan usia kandungan sudah masuk lima minggu,” ucap dokter memberikan selama pada Dika.
Deg!
__ADS_1
Entah kenapa mendengar kabar bahagia tersebut, tapi tidak ada rona kebahagiaan yang terpancar di wajah Dea.
Dika menatap Dea yang tampak murung setelah mendengar kabar tersebut.
“Selamat ya, sebentar lagi kau akan menjadi Ibu,” bisik Dika pada Dea.
Air mata langsung mengalir begitu saja tanpa permisi, membuat Dika semakin curiga jika ada yang tidak beres dengan Dea saat ini.
Setelah keluar dari rumah dokter, karena mereka di perbolehkan langsung pulang sebab tak ada penyakit serius.
“Dea, apa terjadi sesuatu denganmu?” tanya Dika saat mereka sudah di dalam mobil.
Dea menggelengkan kepalanya, bukan tak ingin menceritakan masalahnya. Akan tetapi dirinya sangat malu pada Dika.
“Baiklah, jika kau tidak mau bicara. Aku akan mencari tahu,” ujar Dika.
Dika melirik spion, ia hampir saja melupakan keberadaan bibi.
“Bi, katakan padaku apa yang terjadi? Apa kalian di usir dari rumah?” tanya Dika pada Bibi.
Bibi terlihat bungkam, sebenarnya ia sangat ingin menceritakannya. Akan tetapi dirinya tak mempunyai keberanian.
“Bibi jangan takut, aku akan bertanggung jawab.”
Bibi tampak berpikir, jika dirinya tak menceritakannya bagaimana dengan nasib Dea saat ini.
“Dea, maafkan Bibi. Semua ini demi keselamatan mu,” ujar bibi membuat Dea kembali meneteskan air mata.
Bibi mulia menceritakan semuanya pada Dika, bagaimana kekejaman Vino yang berulang kali menamparnya demi menutupi perselingkuhannya dengan Diana.
Dika tampak mengepalkan tangannya dengan kuat.
“Lalu, kemana tujuan kalian sekarang?” tanya Dika masih menahan amarahnya.
“Bibi ingin membawa Dea pergi ke kampung Bibi, kemungkinan besar Dea aman disana.”
“Aku akan membiayai kebutuhan untuk pulang, Dea akan ikut bersamaku. Aku harap kau mengikuti apa yang aku katakan,” ujar Dika.
Dika tersenyum melihat Dea mengangguk.
Beberapa hari kemudian, Dika menepati janjinya untuk membawa Dea pergi dari kota itu.
Mereka pergi ke sebuah kota kecil, disanalah Dea akan membesarkan anaknya yang masih dalam kandungan.
Setelah menemukan tempat yang cukup nyaman untuk Dea, Dika bernapas lega karena bisa melihat senyum Dea kembali setelah beberapa hari murung.
“Dea, apakah kamu masih ingin kembali pada Vino?” tanya Dika berhati-hati.
Dea terdiam, ia menatap Dika sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi!” Dea membulatkan tekadnya.
Dika menyembunyikan senyumnya saat Dea mengatakan itu.
Dea meminta Dika untuk mengurus surat perceraiannya, karena dirinya sedang mengandung sehingga mengharuskan perceraian itu di tunda hingga dirinya melahirkan.
Waktu begitu cepat berlalu, hari ini telah lahir putri pertamanya. Sejak awal kehamilan, Dika tak pernah meninggalkannya. Ia selalu ada untuk Dea, bahkan sepertinya saat ini Dea mempersilahkan Dika untuk memberi nama pada putrinya tersebut.
Dea juga tak ingin lagi masih terikat dengan Vino, walaupun sebenarnya dirinya sudah berpisah dengan Vino secara agama.
Dengan bantuan pengacara Dika, akhirnya Dea resmi berpisah dan Dea sudah resmi menyandang status janda.
Saat usia Clara memasuki lima bulan, ia tak pernah kasih sayang dari sosok seorang ayah. Dika memberikan perhatian penuh pada Clara, sehingga pada suatu hari Clara demam tinggi. Apalagi saat ini Dika tak ada di rumah karena ada urusan pekerjaan ke luar kota, Dea sangat panik dan terpaksa menghubungi Dika.
Dika tak menunggu hari esok lagi untuk pulang, setibanya di rumah sakit ia langsung menggendong bocah kecil yang berusia lima bulan tersebut, hingga Clara tertidur pulas di bahunya. Berbeda dengan sebelumnya, Clara selalu menangis dan tak mau di gendong ibunya Dea.
“Dea, apa kata Dokter?” tanyanya.
__ADS_1
“Dia hanya demam biasa, Karena pertumbuhan gigi pertamanya. Hanya saja dia sangat rewel dan demamnya sangat tinggi.”
Pandangan Dika masih belum beralih pada Clara yang sudah tertidur pulas, dengan selang infus yang masih terpasang.
“Dea, aku takut jika Clara akan sedih jika mengetahui yang sebenarnya aku bukanlah Ayahnya. Aku bahkan bukan siapa-siapa kalian,” ujar Dika.
Deg!
Dea bahkan tak berpikir seperti itu, akan tetapi ucapan Dika memang benar adanya.
“Dea, jika berkenan aku ingin menikahimu. Tapi, jika kau tidak keberatan aku tidak masalah. Ini Kita lakukan semua untuk Clara,” ujarnya menatap Dea yang tampak menunduk.
“Aku tidak memaksamu, jika kamu menolak berarti saat Clara sudah sembuh aku akan perlahan menjauhi kalian termasuk Clara. Aku tak ingin jika Clara terlalu dekat padaku, sehingga dia mengira aku adalah Ayahnya, walaupun sebenarnya aku memang bukan Ayah kandungannya,” tambah Dika.
Dea masih bungkam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun.
Keesokan paginya, demam Clara sudah kembali turun. Dika bersiap untuk pergi dari rumah sakit tersebut, sebelum Clara bangun dan melihatnya akan sulit untuk dirinya pergi.
“Mau kemana?” tanya Dea terbangun karena mendengar suara pergerakan kaki.
“Aku harus pergi sebelum Clara bangun, jaga dia untukku.”
Menatap wajah Dea yang masih dengan muka bantal, Dea beranjak dari tempat tidurnya mendekati Dika yang tengah mengecup pelan pipi Clara.
Grep ....
Dea langsung memeluk Dika yang tengah meletakkan tas di punggungnya, membuat mereka hampir terjatuh akibat dekapan dadakan Dea padanya.
“Dea, jangan seperti ini? Bagaimana jika ada yang melihat kita?” tanyanya, akan tetapi tangannya malah membalas dekapan Dea.
Karena ini juga pertama kalinya Dea memeluk dirinya setelah beberapa tahun lalu.
“Jangan pergi,” ucap Dea lirih masih di dalam dekapan Dika.
“Kenapa kau melarangku pergi? Aku harus melakukannya, semua ini demi kalian. Kau jangan cemas, semua kebutuhan kalian akan aku kirim setiap bulan.”
Dea menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin kau tetap disini, bersama kami.”
Dika terdiam, masih mencerna ucapan Dea. Apakah Dea setuju menikah dengannya?
“Aku bersedia menikah denganmu, demi anak kita.”
Dika tak langsung menjawab, ia begitu terkejut dengan ucapan Dea barusan.
“Apa kau dengar?” tanya Dea melepaskan dekapannya.
Dika mengangguk.
Walaupun hanya demi Clara, ia sudah membuat dirinya sangat bahagia, karena sudah bisa memiliki Dea seutuhnya.
Flashback off.
“Dea,” panggil Dika sembari menggoyangkan bahu Dea yang sejak tadi ia memanggilnya akan tetapi Dea tak bergeming sama sekali.
“Hah, maafkan aku.” Dea langsung tersadar.
“Kau memikirkan apa?” tanyanya.
“Tidak, aku hanya teringat masa lalu yang pahit. Aku setuju ikut bersamamu, apalagi Clara tak bisa jauh darimu.”
“Tapi, bagaimana jika pria itu mengetahui jika Clara putrinya?” tanya Dea masih ada ketakutan di raut wajahnya.
“Jangan takut ada aku selalu bersama kalian. Sebenarnya Clara juga harus tahu siapa Ayah kandungnya, hanya saja usianya masih terlalu muda untuk mengetahui masalah orang dewasa.”
“Iya, terima kasih selalu ada untuk kami.”
__ADS_1
Dika tersenyum mendengarnya, saat hendak memeluk Dea pintu kamar langsung terbuka lebar hingga dirinya mengurungkan niatnya untuk memeluk istrinya tersebut.
***