Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 18


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, sebulan juga Dika bolak balik ke kontrakan lamanya. Berharap Dea akan datang kembali untuk menemuinya, setelah ia pulang bekerja atau mengamen dirinya selalu mampir ke tempat temannya yang bersampingan dengan kontrakan lamanya tersebut.


Akan tetapi, sebulan juga dirinya tak bertemu dengan Dea.


Dika hampir putus asa, karena tidak bisa lagi bertemu dengan Dea lagi. Ia mengutuk dirinya sendiri karena pindah dari tempat tersebut, bahkan dulu ia lupa memberikan nomor ponsel miliknya pada Dea. Karena dulu Dea tak mempunyai ponsel, sebab ia melarikan diri dari rumah Alex tanpa membawa apapun.


“Huh! Dea, entah kenapa di dalam pikiranku selalu ada namamu. Apa aku telah jatuh cinta padamu, apa ini yang di namakan jatuh cinta?” gumamnya tengah duduk di balkon yang ada di kamarnya.


“Aku sangat berharap kita bisa bertemu lagi, jika aku menemukanmu aku tidak akan melepaskanmu lagi. Dea, kamu telah berhasil membuatku jatuh cinta padamu.”


Dika menghela napas berat, ia berbaring di sofa menatap ke arah langit yang cukup cerah di temani bulan dan juga bertabur bintang.


“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya ayahnya langsung duduk di sampingnya.


Dika tampak terkejut, ia langsung duduk.


“Ayah, apa Ayah butuh sesuatu?” tanyanya dengan lembut.


Ayah tersenyum, karena putranya sudah kembali seperti dulu lagi.


“Tidak, Ayah hanya ingin berbicara dengan anak Ayah saja. Karena berbicara denganmu berdua seperti ini adalah impian Ayah sejak dulu,” sahutnya menatap lurus ke arah depan.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya basa basi.


“Cukup baik. Aku lebih senang bekerja seperti Ayah, jangan memintaku untuk kembali ke kantor lagi. Aku tidak ingin ada perebutan kursi!” sindir Dika.


Karena sang kakak selalu saja menyalahkan dirinya jika ada masalah di kantor dan menganggap dirinya selalu tidak becus dalam bekerja. Membuat Dika malas ke kantor untuk membantu kakaknya, mungkin yang pikir Rival kakaknya saat itu adalah dirinya merebut kursi kebesarannya di kantor.


“Tidak, justru Ayah ingin memberikanmu modal untuk membuka usaha. Siapa tahu, Dika ingin membuka usaha sendiri,” usul ayahnya dengan lembut.


Dika tampak berpikir sejenak, memang dirinya mempunyai rencana ingin membuka bisnis kecil-kecilan. Akan tetapi, dirinya masih punya kendala dengan keuangan yang kurang banyak untuk modal.


“Aku akan pikirkan nanti, Dika masih bingung ingin membuka usaha di mana. Dika akan kabarkan pada Ayah, jika tempat lokasinya sudah ada,” sahutnya.


Ayahnya tersenyum karena putranya tersebut mendengar usulannya.


“Oh ya, siapa Dea? Ayah tak sengaja mendengar kamu menyebut namanya. Apa dia kekasihmu?” tanyanya.


Dika tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Dea adalah temanku, dia wanita yang baik.” Ayahnya mengerti jika putranya saat ini pasti sedang merasakan perasaan yang tak biasa pada wanita yang di sebutkan oleh putranya tersebut, terlihat dari raut wajah Dika yang terlihat senang jika ayahnya menyebut nama Dea.


“Wah, Ayah sangat penasaran dengan wanita itu. Apa dia rekan kerjamu?” tanyanya lagi.


Dika kembali menggelengkan kepalanya.


“Lalu.”


Dika mulai menceritakan tentang Dea dan pertemuan pertama mereka. Hingga menceritakan Dea yang di jual ayah tirinya sendiri demi uang, ayahnya mendengar ucapan Dika tak tega mendengarnya.


“Malangnya nasib gadis itu,” ujarnya begitu prihatin.


“Lalu dimana dia sekarang?” tanya ayahnya lagi.


Dengan berbicara begitu banyak dengan putranya, ayahnya terlihat sangat bahagia. Sehingga sang ayah begitu semangat mendengarkan keluh kesah putranya tersebut.


“Entahlah Ayah. Dea berpamitan bekerja di rumah besar, aku lupa dimana alamatnya dan bahkan aku tak tahu kabarnya sekarang. Sebulan yang lalu, Bima mengatakan jika Dea datang ke kontrakan. Namun, setelah itu Dea tak lagi kembali lagi datang.”


Ayahnya menggeser duduknya mendekati putranya, lalu mengusap bahu Dika.


“Jika kalian berjodoh pasti akan bertemu kembali, kita berdoa jika Dea saat ini baik-baik saja.”


***


Berbeda dengan dua orang yang masih terlelap tersebut, mereka tidur dengan posisi Dea membelakangi suaminya sedangkan Vino memeluknya dari arah belakang.


Sebulan ini hubungan mereka semakin dekat, bahkan Vino tak segan mencium pipi istrinya walaupun tak lebih dari itu.


“Dea bangunlah,” ucapnya dengan suara serak menggoyangkan pelan tubuh istrinya.


Namun, tangannya tak sengaja menyentuh benda kenyal tersebut membuat benda pusaka yang tumpul tersebut malah menjadi tegak.


“Sialan, kenapa dia malah berdiri di waktu yang tidak tepat!” umpatnya dalam hati.


Dea menggeliat, Dea berubah posisi menjadi telentang. Kancing bajunya terbuka sedikit, hingga terlihat jelas oleh Vino bentuk benda kenyal tersebut.


“Astaga! Aku bisa tidak waras jika terus menerus menahannya,” gumamnya dalam hati.


Vino menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembusnya ke arah atas. Agar bisa menetralkannya, apalagi benda miliknya dan bisa kembali turun seperti semula lagi.

__ADS_1


Vino perlahan bergeser ingin beranjak dari tempat tidur, akan tetapi netranya malah tidak sengaja menatap bibir yang terlihat menggoda tersebut.


“Sialan! Jangan salahkan aku jika aku tidak bisa menahannya, karena dirimu yang menggodaku!” gumamnya dalam hati.


Vino langsung menyatukan bibir mereka dengan sempurna, perlahan memberi luma*an di sana. Sang pemilik bibir terlihat kesulitan bernapas, apalagi ini adalah pertama baginya.


“Bernapas bodoh!” kesal Vino karena melihat Dea yang kesulitan untuk bernapas.


“Apa ini pertama bagimu?” tanyanya karena melihat Dea yang tak pandai dalam berciuman.


Dea mengangguk.


Vino mendekati wajahnya lagi, ingin kembali menyatukan bibirnya.


“Aku ingin meminta hakku sebagai seorang Suami, kita sudah sah menjadi Suami Istri. Jadi, kamu tidak boleh menolak!” ujarnya bicara pelan akan tetapi penuh penekanan.


Dea merinding mendengarnya, dalam posisi seperti ini ia tak bisa menolak lagi. Apalagi melihat mata sayu Vino yang begitu menginginkannya, walaupun Dea tak pernah melakukannya akan tetapi ia sangat tahu jika Vino saat ini sangat menginginkannya.


Vino membuka pelan kancing baju Dea, setelah terbuka dengan sempurna ia melihat jelas benda kenyal yang putih mulus tersebut.


Dea menutup matanya, karena merasa sangat malu.


Tanpa menunggu lagi, Tangan Vino mulai bermain nakal disana. Ia kembali menyatukan bibir mereka dan Melu*at pelan.


Tangan Vino masih aktif disana, ia juga membuka pakaiannya dan membuangnya kesembarang arah tanpa melepaskan bibir mereka.


“Kenapa bibirnya sangat nikmat sekali, aku sangat sulit melepaskannya,” gumamnya dalam hati.


Setelah puas bermain di atas sana, Vino kini memulai aksinya ingin menyatukannya.


“Aku ingin meminta lebih dari ini,” bisiknya dengan suara serak, bahkan tatapannya sayu menatap wajah Dea.


Tak di pungkiri jika Dea juga ternyata menginginkannya, dengan wajah memerah menahan malu Dea mengangguk pelan.


Tanpa menunggu lagi, Vino melancarkan aksinya. Akan tetapi ia di buat heran, karena saat penyatuan begitu sulit untuk masuk dan sangat sempit. Bahkan wajah Dea terlihat kesakitan, menahan sakit akibat penyatuan Vino padanya.


Karena ia berpikir jika pamannya sebelumnya pernah menodai Dea, lama tetapi dirinya salah besar. Ternyata Dea masih dalam keadaan utuh, hingga membuat dirinya sangat senang.


Perlahan namun pasti, kini penyatuan tersebut berhasil mereka sama-sama menikmatinya hingga penyatuan itu selesai.

__ADS_1


***


__ADS_2