Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 17


__ADS_3

“Tu-tuan ...” ucap Dea lirih.


Dea terlihat gugup, karena ternyata Vino sudah bangun.


Vino menarik pelan tangannya dari atas perut Dea, lalu duduk bersandar di bahu tempat tidur.


“Tuan kenapa bisa ada di kamarku?” tanya Dea pelan, sekaligus heran karena Vino tiba-tiba tidur di kamarnya bahkan satu tempat tidur dengannya.


“Entahlah, aku juga bingung kenapa aku bisa ada di kamarmu,” sahutnya berbohong.


“Oh aku baru ingat, aku ketiduran. Semalam aku memintamu untuk membuatkan ku makanan, tapi ternyata kamu sudah tidur dan tanpa sadar ternyata aku tertidur dikamarmu.” Vino berusaha menutupi rasa malunya, karena memang semalam dirinya berniat mengajak Dea tidur di kamar miliknya.


Tak di pungkiri, jika sebenarnya Vino juga terkesima dengan kecantikan wajah yang Dea miliki.


“Sekarang buatkan aku sarapan,” ujarnya sembari beranjak dari tempat tidur.


Sambil menaiki tangga, Vino mengumpat dirinya sendiri karena tertidur pulas di kamar Dea. Sebelumnya ia sudah berniat jika akan bangun lebih awal ketimbang Dea, karena di kamar Dea begitu nyaman walaupun tempat tidurnya sempit malah membuat dirinya tidur sangat nyaman memeluk tubuh istrinya.


Selesai bersiap, Vino tengah duduk untuk sarapan. Akan tetapi ia tak melihat Dea disana, hanya melihat Bibi yang sedang mondar mandir.


“Bi, dimana Dea?” tanyanya.


Vino tak tahan lagi untuk bertanya, karena sejak ia turun sama sekali tak melihat Dea.


“Ada di kamar, Tuan.”


“Di kamar?” gumamnya.


Vino menggeser kursinya, lalu melangkah menuju kamar Dea. Vino langsung membuka pintu tanpa mengetuk lagi, ia melihat Dea ya g terlihat terisak duduk di tepi kasur.


“Dea, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?” tanyanya karena heran melihat yang menangis dengan tersedu-sedu.


Dea langsung mengusap air matanya, lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada Tuan, aku hanya merindukan Ibuku saja.” Masih dengan suara serak akibat menangis.


“Bohong! Kamu pasti berbohong, katakan padaku. Apa Pamanku membuat ulah lagi padamu?” tanya Vino duduk di samping Dea dengan memegang kedua bahunya.


Dea Kembali menggelengkan kepalanya.


Vino terlihat mengela napas, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya. Kedua kalinya Dea di peluk oleh pria, akan tetapi pelukan saat ini begitu hangat.

__ADS_1


“Jangan sedih lagi, jika kamu ingin berkunjung ke makam Ibumu aku tidak melarangmu. Akan tetapi kamu harus pergi dengan sopir,” ucapnya dengan lembut.


Dea kembali mengangguk.


Vino melepaskan pelukannya lalu meletakkan kedua tangannya di kedua pipi Dea, netra mereka saling menatap.


“Paman pasti tidak akan tinggal diam, sekarang kamu harus berhati-hati. Bawa pengawal jika keluar rumah, sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Jadi, kamu harus menuruti perkataanku, kamu mengerti?!” menatap lekat wajah istrinya.


Netranya terhenti tepat di bibir ranum Dea, bibir berwarna pink pucat itu sangat menggoda membuat Vino seperti tak tahan ingin melahapnya. Namun, ia berusaha menahannya. Karena tak ingin membuat Dea semakin takut, apalagi beberapa hari lalu terjadi kurang mengenakkan padanya.


“Sekarang kemasi pakaianmu dan pindahkan ke kamarku. Sekarang kita sudah menjadi suami Istri, jadi kita harus tidur di kamar yang sama.”


Ucapkan Vino tersebut, membuat Dea menelan salivanya dengan kasar.


Melihat raut wajah Dea yang langsung berubah, Vino tersenyum mencubit pelan pipi istrinya yang terlihat mulai memerah tersebut.


“Kamu sedang memikirkan apa? Jangan pikirkan aneh-aneh, aku tidak akan melakukannya jika kamu belum siap,” ujar Vino menatap wajah istrinya lagi.


Dea langsung menunduk merasa malu, karena pernikahan mereka juga tidak di dasari oleh cinta. Jadi Dea berpikir, Vino tidak akan mau melakukannya padanya.


“Sekarang temani aku sarapan,” ajaknya menarik pelan tangan istrinya.


Namun, di tengah aktivitas sarapan mereka terdengar suara teriakan dari ruang tamu. Vino sudah menebak jika itu adalah pamannya, begitupun dengan Dea yang langsung menghentikan makannya. Raut wajah yang semula malu- malu, kini berubah menjadi wajah yang terlihat sangat takut.


“Jangan takut ada aku,” ujar Vino mencoba menenangkan istrinya yang tampak ketakutan.


“Vino!” teriak Pamannya mendekati mereka.


Vino dan Dea langsung berdiri, Dea bersembunyi di belakan tubuh kekar suaminya.


“Paman, apa lagi ini?!” tanya Vino menatap pamannya yang terlihat begitu sangat marah bahkan mengepal tangannya dengan kuat.


“Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa kau sudah gila?! Kenapa kau menikahi wanita murahan ini? Dimana otakmu!” sentaknya.


“Jika aku tidak menikahinya, apa Paman akan berhenti melecehkan wanita yang ada di rumah ini termasuk Dea?!” tanyanya tak mau kalah.


“Cukup sudah Paman bersandiwara di depanku! Sudah berapa banyak wanita yang Paman lecehkan?” tambah Vino lagi seakan menantang Pamannya sendiri.


“Omong kosong! Aku sudah membayar mahal wanita ini, bahkan aku dan Ayahnya sudah membuat surat perjanjian!” menunjuk ke arah Dea yang masih bersembunyi di belakang suaminya.


“Aku akan mengembalikan uang itu, berapapun harganya! Jangan pernah mengganggu Istriku lagi, atau aku akan melupakan jika aku mempunyai seorang Paman!” seru Vino.

__ADS_1


Alex membulatkan matanya.


“Beraninya kau berkata seperti itu padaku, hanya demi wanita murahan ini! Baiklah kalau itu maumu, jangan menyesal nantinya!” ucap pamannya dengan kemarahan memuncak.


“Dan satu lagi, karena kau sudah membela wanita ini! Semua yang berhubungan dengan Bisnisku akan tarik kembali, selama wanita ini--.” Tuan Alex menggantungkan ucapannya sembari menunjuk Dea.


Sebenarnya Alex masih tidak rela jika Dea jatuh ke pelukan Vino, karena dirinya juga sangat menginginkan Dea. Apalagi dirinya selalu bernafsu jika melihat Dea, wanita yang masih polos tersebut.


Vino menatap Pamannya menunggu ucapan pamannya yang masih menggantung.


“Apa Paman?” tanya Vino.


Arrgghh!


“Kau pasti akan menyesal!” sentaknya.


Berlalu pergi dari hadapan Dea dan Vino.


Melihat Pamannya sudah pergi, Vino menarik tangan istrinya agar tidak bersembunyi lagi di belakangnya.


“Jangan takut,” ujar Vino berusaha menenangkan istrinya.


Dea langsung terisak dan duduk bersimpuh di hadapan Vino.


“Hiks ... Tuan. Bunuh saja saya, jika masih berada di dunia ini, semua orang akan ....”


“Ssstt ... kamu ini bicara apa?” tanya Vino berjongkok menatap istrinya yang terisak.


“Karena diriku, Tuan kehilangan bisnis Tuan. Aku memang wanita pembawa ppetak! Ayah benar, wanita seperti diriku memang tak tahu di untung!”


“Dea, kamu pikir jika Paman mengambil bisnisnya kembali aku akan jadi miskin?! Tidak Dea,” sahutnya mencoba menangkan istrinya.


“Kita ke kamar sekarang,” ajaknya menarik tangan Dea menuju ke lantai atas.


Bibi hanya menatap mereka dari kejauhan, ia melihat ketulusan Tuan Vino pada Dea. Walaupun pernikahan mereka bisa di bilang sangat cepat, Vino mempunyai hati seperti malaikat yang membantu Dea tanpa memikirkan dirinya.


“Dea, kamu itu wanita beruntung. Mempunyai Suami seperti Tuan Vino yang sangat baik hati, bahkan ia rela melawan Pamannya sendiri demi dirimu.


Bibi tampak tersenyum bahagia melihat Vino yang begitu perhatian dengan istrinya, terlihat Vino tak begitu canggung apalagi dengan pernikahan mereka yang mendadak tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2