
Sementara Dea, berjalan selama beberapa meter dari hotel tersebut. Ia tak menyadarinya lagi jika dirinya sudah berjalan sejauh ini, di benaknya sedang memikirkan bagaimana bisa mereka tega berselingkuh.
Dea juga baru menyadari, jika dirinya menerima pernikahan itu dengan terburu-buru.
Bahkan Dea bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, berdiam diri mengikuti permainan mereka atau harus mengambil keputusan.
Tin ... Tin ...
Suara klakson mobil mengagetkan dirinya, ia baru sadar jika dirinya ternyata sudah di jalan raya.
“Astaga, motorku!” ucapnya tersadar.
“Dea, kau mau kemana?” teriak seseorang, Dea juga sangat mengenal suara tersebut.
Deg!
Dea langsung menoleh.
Tak sadar air matanya mengalir, setengah berlari mendekati pria itu lalu memeluknya.
“Hiks ... Dika.” Suara Isak tangis di dekapan Dika, membuat Dika mengernyit heran. Apa yang terjadi dengan Dea, sehingga dia menangis.
Dika membawanya masuk ke dalam mobil, karena tak ingin ada yang melihat mereka dan menjadi bahan gosip di luar sana.
“Dea, apa yang terjadi denganmu?’ tanyanya pelan, setelah melihat Dea tak menangis lagi.
Dea mengusap air matanya, bahkan matanya terlihat sembab akibat menangis.
“Maaf Dika, aku tak bisa cerita. Maafkan aku sudah membuatmu khawatir,” ujarnya menatap Dika.
Dika tersenyum, ia sebenarnya tak tega melihat Dea seperti banyak masalah. Akan tetapi, dirinya tak bisa berbuat banyak apalagi Dea saat ini sudah menikah.
“Baiklah, dimana suamimu? Kenapa dia membiarkanmu keluyuran malam-malam begini?” tanyanya.
Dea langsung teringat dengan suaminya yang ia pergoki di hotel dengan temannya sendiri.
“Dia sedang berada di luar kota,” sahutnya memandang ke arah lain.
Dika sudah membaca raut wajah Dea, jika dirinya pasti sedang berbohong. Pasti ada yang tidak beres pikir Dika.
“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.”
Dea mengangguk.
Tak ada lagi percakapan mereka di dalam mobil, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sementara Dika, dirinya bahkan ingin pindah ke kota lain sekaligus mengelola bisnisnya, selain itu karena ingin melupakan Dea untuk selamanya.
Jika dirinya masih berada di kota yang sama, dirinya akan kesulitan untuk melupakan wanita yang ia kagumi tersebut.
Namun, kini dirinya malah bertemu dengan Dea saat ini dan bahkan Dea tanpa ragu memeluk dirinya.
Setibanya di depan rumah Dea, sesuai dengan petunjuk jalanan yang di katakan oleh Dea.
“Dika, maaf. Karena sudah malam, aku tidak bisa membawamu masuk. Apalagi suamiku tak ada di rumah.”
Dika mengangguk sembari memberikan senyum.
“Jaga diri kamu baik-baik,” ucap Dika.
Dea tersenyum lalu mengangguk.
Dika melihat punggung Dea yang masuk ke dalam rumahnya, berulang kali menghela napas berat.
“Bagaimana bisa aku melupakanmu jika seperti ini Dea? Sepertinya, aku memang harus pergi dari kota ini selama beberapa bulan.”
__ADS_1
Dika mulai menghidupkan kembali mobilnya, lalu kembali menuju hotel karena besok pagi dirinya harus berangkat.
Selain mengelola bisnis, dirinya juga ingin menenangkan diri sejenak agar terlepas dari bayangan Dea yang selalu ada di pikirannya.
Setiba di hotel, Dika memesan kamar yang berada di lantai atas.
Namun, saat hendak melangkah masuk ia tak sengaja mendengar suara keributan antara wanita dan pria.
Karena pintu kamar mereka terbuka sedikit, hingga terdengar jelas keributan tersebut.
Dika sebenarnya tak peduli dan tak ingin ikut campur urusan orang lain. Namun, ia mendengar mereka menyebutkan nama Dea di sana, hingga membuatnya tertarik untuk mendengarnya.
“Dea, kenapa mereka menyebutkan nama Dea? Apa mungkin Dea yang lain,” gumamnya lagi, hendak kembali membuka pintu.
Kembali terdengar suara pertemuan yang setengah berteriak menyebut nama Tuan Vino, terdengar jika perempuan tersebut karena tak ingin di tinggal pergi oleh Vino.
“Vino, bukankah dia keluar kota? Kenapa dia ada di hotel ini? Tapi, apa itu memang Vino suaminya Dea?” tanyanya lagi dalam hati, ia berniat ingin mengintip mereka. Akan tetapi, saat Dika hendak melangkah kekamar tersebut. Namun, di urungkannya karena melihat Vino dan Diana keluar dari kamar tersebut dengan bergandengan tangan.
“Astaga, apa ini ada hubungannya dengan Dea yang menangis tadi? Tidak! Aku tidak akan tinggal diam, pasti pria ini telah menyakiti Dea,” ujarnya mengurungkan niatnya untuk terbang besok, ia juga memotret Vino dan wanita itu agar bisa memberikan bukti pada Dea suatu saat nanti. Agar Dea percaya, siapa pria yang ia nikahi ini.
***
Di rumah, Dea duduk di tepi kasur dengan air mata yang kembali berlinang, masih teringat dengan kejadian yang suaminya lakukan di hotel tadi.
Terdengar suara deru mobil yang berhenti, Dea menghapus air matanya karena ia sangat mengenali suara mobil tersebut.
Kali ini Dea berusaha mengikuti sandiwara suaminya dan Diana.
Ceklek ...
Pintu kamar terbuka, Dea memejamkan matanya bersandiwara untuk tidur. Karena tak ingin berbicara bahkan melihat wajah suaminya saat ini.
“Apa dia sudah tidur?” tanyanya pelan karena melihat Dea sudah memejamkan mata.
Keesokan paginya, Dea bangun pagi-pagi sekali berusaha lebih dulu bangun ketimbang suaminya.
Diana terlihat datang menghampirinya.
“Dea, perlu aku bantu?” tanyanya.
Saat Diana hendak mengambil alih, Dea langsung mengangkat tangannya agar Diana tak menyentuh apa yang ia sentuh.
“Menjijikkan!” gumam Dea dalam hati.
“Kenapa?” tanya Diana mengernyit heran, melihat Dea tak mau di sentuh olehnya.
“Jangan menyentuh barang yang aku sentuh!” tegas Dea.
Membuat Diana heran dengan sikap Dea yang langsung berubah saat kedatangannya, sebelumnya ia melihat Dea berbincang hangat dengan Bibi.
“Dea, apa aku punya salah? Maafkan jika aku merepotkan dirimu atau ada perkataanku yang kasar,” ujarnya dengan wajah memelas.
Dea menatapnya tersenyum kecut, lalu menggelengkan kepalanya.
Karena merasa dirinya tak di butuhkan di dapur, Diana kembali ke kamar dengan perasan kesal.
“Sombong sekali dia! Merasa dirinya menjadi Nyonya di rumah ini! Apa dia lupa, jika tanpaku dia tidak akan bisa kabur dari rumah Alex itu?!” kesalnya.
“Tunggu saja! Aku akan membuatmu keluar dari rumah ini!” gerutunya.
Di dapur, Bibi tampak heran dengan sikap Dea yang berubah menjadi dingin. Tak seperti biasanya, Dea dan Diana selalu terlihat akrab setiap harinya.
Namun tidak dengan hari ini, bibi juga tak ingin bertanya apa yang terjadi dengan mereka.
__ADS_1
“Dea!” panggil Vino menuruni tangga masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Dea membalikkan badannya, menatap suaminya tersebut.
“Dimana pakaianku? Kenapa kamu tidak menyiapkannya?” tanyanya dengan sedikit membentak.
“Tuan bisa mengambilnya sendiri di lemari!” ketusnya kembali dengan aktivitasnya.
Vino mengernyit heran, ia menatap bibi meminta penjelasan ada apa dengan istrinya pagi ini. Namun, bibi juga menggelengkan kepalanya tanda dirinya juga tak mengerti.
Vino meminta bibi untuk pergi dari dapur tersebut, dia ingin berbicara dengan istrinya tersebut.
“Sayang, maafkan aku. Semalam aku tidak jadi pergi ke luar kota,” ujarnya memeluk istrinya dari belakang.
“Apa kamu marah karena itu? Maafkan aku ya,” ucapnya lembut sembari mengecup kepala istrinya.
Dea tak bergeming, malah ia melepaskan dekapan suaminya.
Vino menyerah dan membiarkan istrinya tetap diam. Mungkin saya ini Dea butuh sendiri pikirnya.
Vino kembali ke kamar, akan tetapi ia terkejut melihat Diana berada di kamarnya sembari meletakkan pakaian tersebut di tempat tidur.
“Kamu! Kenapa ke kamarku? Bagaimana jika istriku melihat kamu berada di kamar ini!?” seru Vino dengan melototkan matanya.
Diana tersenyum licik.
“Itu lebih bagus, karena semakin cepat ia mengetahuinya semakin bagus untuk kita.” Menyeringai jahat.
“Jangan gila! Keluar sekarang dari kamarku!” sentak Vino.
Diana tersenyum dengan santai melambaikan tangannya lalu melangkah keluar kamar tersebut.
Di meja makan, Dea tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia terlalu kecewa, bahkan mereka tetap bersandiwara di depannya untuk menutupi kebohongan mereka.
“Dea, lihat aku! Kamu masih marah?” tanya Vino yang sudah tidak tahan di diamkan oleh istrinya sejak pagi tadi.
“Menurutmu?” tanya Dea balik.
Vino terlihat kesal dengan jawaban Dea.
Bruak ! memukul meja membuat Diana dan Dea yang sedang sarapan langsung terkejut.
“Aku sudah muak dengan sikapmu sejak pagi tadi selalu mendiamkan ku! Apa begitu caramu melayani suami?! Hah ... harusnya kamu bersyukur, karena aku mau menikahimu!” sentak Vino menunjuk wajah istrinya.
Diana tersenyum puas dalam hati, saat melihat Dea di marahi oleh suaminya. Semakin bagus untuknya, karena jika masih ada Dea dirinya dan Vino kemungkinan tidak menikah.
“Dea! Aku bicara padamu!” sentaknya karena melihat Dea hanya diam.
“Lalu aku bicara apa? Aku bahkan sudah kehabisan kata-kata!” balas Dea tak mau kalah.
“Beraninya kau!” menarik tangan dengan paksa, ia membawa Dea masuk ke dalam kamar mereka lalu melepas kasar tangan Dea.
“Apa begitu caramu memperlakukan suami!” sorot mata yang tajam.
“Apa begitu caramu memperlakukan suami dengan cara berselingkuh! Menjijikkan sekali!” seru Dea yang tak bisa lagi menahannya.
Seketika Vino langsung terdiam.
"Jangan asal bicara! dan jaga batasanmu!" menunjuk wajah Dea.
"Kamu di rumah ini hanya menumpang! jadi jangan asal bicara jika tidak ada bukti! aku bisa saja menendang mu keluar dari rumah ini!" menatap Dea dengan kemarahan.
karena kesal, Vino langsung keluar dari kamar tersebut tanpa melanjutkan pertengkaran mereka. Apalagi apa yang di katakan oleh Dea tersebut memang benar adanya.
__ADS_1
***