Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 50


__ADS_3

Keesokan paginya, Dika kembali ke rumah dengan langkah yang berat memasuki halaman rumahnya.


Ia melihat mobil istrinya masih terparkir rapi di garasi, lalu melangkah masuk.


Ia menatap sisa kejutan ulang tahunnya masih belum di rapikan, ia menatap sekelilingnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Dika semalam, sehingga tak berpikir jernih.


Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar atas, berulang kali menghela napas memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mereka.


Tok ... Tok ...


“Sayang, apa kamu ada di dalam? Apa aku boleh masuk?” tanyanya.


Sebenarnya dirinya bisa saja langsung masuk, karena merasa dirinya bersalah membuat nyalinya menciut.


“Dea,” panggilnya lagi.


Namun, tak ada sahutan dari dalam. Dika menempelkan daun telinganya di pintu, untuk mendengar apakah ada suara di dalam.


Karena tak mendengar apapun, Dika perlahan memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tak di kunci.


Dika mengedarkan pandangannya, kamar yang masih rapi bahkan tak melihat istrinya di kamar tersebut.


“Sayang, kamu dimana?” panggilnya, ia juga melihat kamar mandi yang kosong bahkan lantainya kering. Seperti tidak ada aktivitas di kamar tersebut.


Dika mulai gusar, ia memeriksa lemari dan ternyata lemari tersebut kosong hanya gaun yang di pakai oleh Dea semalam saja yang tersisa.


“Kemana dia? Kenapa pakaiannya tidak ada di lemari?!” gumamnya, Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Clara,” ucapnya.


Ia langsung berlari menuju ke kamar Clara dan melihat apakah ada putrinya.


Saat membuka pintu, sama seperti kamar miliknya kamar Clara juga tapi bahkan pakaian Clara juga tidak ada di lemari.


Dika terduduk lemas, ia sebenarnya tak menginginkan Dea pergi dari rumah.


Arghh!


“Kemana kalian pergi?!” teriaknya seperti orang tidak waras.


Ia mengambil ponsel miliknya, mencoba menghubungi istrinya. Akan tetapi, nomor miliknya di blokir oleh Dea, Dika membanting ponselnya karena kesal pada dirinya sendiri.


Netranya tak sengaja menangkap kado kecil yang berada di nakas.


Papa, selamat ulang tahun. Clara belikan kado untuk Papa hasil tabungan Cakar sendiri loh ....


Tulisan tangan Clara yang masih berantakan di atas kado tersebut, Dika meneteskan air mata membaca surat tersebut.


Perlahan membuka kado tersebut, terlihat jam tangan yang tak terlalu mahal harganya. Dika memasangkannya di pergelangan tangannya, jam tangan tersebut sangat pas dan cocok di pakai olehnya.


Dika menatap jam tangan tersebut, ia bertekad mencari keberadaan istrinya dan membawa kembali pulang ke rumah mereka.


Tanpa menunggu lagi, Dika langsung beranjak dari tempat duduknya melangkah setengah berlari menuruni tangga.


“Bi, kapan Dea keluar dari rumah ini? Kenapa Bibi tidak menahan mereka? Apa Bibi mengetahui kemana mereka pergi? Atau ada menitipkan pesan untukku?” Dika menghujani Bibi dengan begitu banyak pertanyaan.


Bibi terlihat bingung harus menjawab pertanyaan yang mana, karena dirinya juga tidak mengetahui kepergian Dea.


“Bibi kurang tahu, Tuan. Bibi juga baru mengetahui jika Nona pergi dari rumah,” sahutnya dengan polos.


Bibi semalam memang istirahat lebih cepat, karena tubuhnya kurang fit hingga lebih cepat beristirahat. Bahkan dirinya tak mengetahui jika ada pertengkaran di rumah tersebut.


“Ck ... kemana mereka.” Dika berdecap kesal.


Lalu melangkah kembali dan masuk ke dalam mobilnya.


“Apa kalian mengetahui kemana Istriku pergi?” tanyanya pada penjaga rumahnya.


“Kami kurang tahu kemana perginya, Nona. Yang jelas semalam, mereka pergi dengan Tuan besar,” sahut mereka.

__ADS_1


Dika tampak menghela napas lega, karena sudah pasti istri dan putrinya berada di rumah kedua orang tuanya.


Tanpa menunggu lagi, Dika langsung meluncur dengan kecepatan cukup tinggi.


Karena jalanan pagi cukup sepi, apalagi hari ini hari Minggu.


Tak butuh waktu lama, dirinya sudah tiba di rumah milik ayahnya.


“Ayah, dimana Dea dan Clara? Apa mereka ada disini?” tanya Dika langsung, karena melihat ayahnya duduk bersantai di taman bersama ibunya.


“Ayah tidak tahu, untuk apa lagi kamu bertanya tentang mereka?!” ketus ayahnya sembari menyeruput tehnya.


“Hah ... teh ini segar sekali,” pujinya sangat menikmati teh tersebut.


“Ayah, aku memang salah. Tapi, tak seharusnya mereka pergi dari rumah!”


“Lalu, sikapmu itu juga harus di benarkan begitu? Dasar egois, kamu yang menyakiti, kenapa kamu yang marah!” ketus ayahnya.


Dika menghela napas kasar.


“Ibu, dimana Istriku?” hendak mengambil tangan ibunya.


Namun, tanpa di duga ibunya malah memalingkan wajahnya dan menarik tangannya.


“Jangan bicara padaku, Ibu sedang marah!” ketusnya.


Dika tampak gusar, ia mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dika tak kehilangan akal, karena orang tuanya tak mengatakan dimana istrinya. Dika berlari masuk ke dalam rumah, lalu memeriksa semua kamar yang ada di atas.


Namun hasil pencarian tak berhasil, ia tak menemukan istrinya dimana pun berada.


Rival terkekeh melihat wajah Dika yang tampak kusut, setelah gagal menemukan keberadaan istrinya.


“Hahaha ... bagaimana rasanya di tinggal Istri? Makanya jangan egois!” ejek Rival meninggalkan Dika yang terduduk lemas di anak tangga.


“Kak, dimana kalian menyembunyikan Istriku? Aku tidak akan memaafkan kalian!” teriaknya melihat punggung kakaknya yang pergi menjauh.


“Dea, kalian dimana?” gumamnya lirih.


Sementara di luar, Rival dan kedua orang tuanya tersenyum puas karena sudah memberi pelajaran pada putranya tersebut. Mereka menyusun rencana tersebut dan tidak akan memberitahu keberadaan Dea hingga disaat waktu yang tepat, semua itu mereka lakukan agar Dika sadar dengan perbuatannya.


Dengan perasaan yang kesal, Dika kembali keluar rumah tanpa berpamitan pada orang tuanya.


***


Dua Minggu sudah berlalu, Dika tak gentar untuk mencari keberadaan istrinya. Suatu hari, ia pernah mengemis bahkan bersimpuh pada orang tuanya agar memberitahu keberadaan istrinya.


Namun, usahanya gagal karena sang ayah tetap dengan pendiriannya.


Selama dua Minggu pula dirinya tak teratur makan dan tidurnya.


Setelah pulang bekerja di pergunakan untuk mencari keberadaan istrinya, sering kali dirinya tidur di mobil karena kelelahan.


Bahkan bulu halus pada dagunya di biarkan tumbuh begitu saja, tubuhnya bahkan terlihat kurus.


“Dea, Clara. Dimana kalian? Aku sungguh lelah, aku juga sudah sangat menyesali perbuatanku. Aku minta maaf, Sayang.”


“Sayang, ternyata aku tidak bisa jauh dari kalian. Sayang, pulanglah.” Mengusap foto mereka di layar ponselnya.


“Aku sangat merindukan kalian,” ucapnya lirih.


Dika begitu merasa sangat kehilangan, bahkan setiap malamnya Dika selalu bermimpi bermain dan bercerita dengan putri kecilnya tersebut.


***


Berbeda dengan Rival yang saat ini sedang di mabuk asmara, ia juga sudah merencanakan pernikahan mereka akan di gelar secepatnya.


Rival sudah membicarakan rencananya tersebut pada kedua orang tuanya dan juga menceritakan masa lalu Dela yang kelam.

__ADS_1


Awalnya ibunya tak setuju, akan tetapi Rival berusaha meyakinkan ibunya tersebut dan akhirnya merestui hubungan mereka.


Siang ini Dela dan Rival tengah makan siang bersama di ruangan, setelah kejadian pertempuran panas beberapa Minggu lalu mereka lakukan. Hingga saat ini mereka tak melakukannya lagi, Dela juga menolak keras karena tak ingin mengulangi dosa itu lagi.


Ceklek ....


Pintu ruangan langsung terbuka lebar, seorang wanita masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dela dan Rival menoleh ke arah belakang.


“Sania,” gumam Rival dalam hati.


“Rival, kamu jahat! Kamu tega!” kesalnya menatap Rival dengan air mata yang masih berlinang.


“Hei, apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kamu tidak punya sopan santun, atau tidak mengerti cara masuk ke dalam ruangan orang?!” tegas Rival, karena sangat kesal dengan sikap Sania.


“Aku tidak peduli! Kenapa kamu membatalkan perjodohan kita? Apa kamu tahu, Ayahku langsung terkena serangan jantung!” serunya dengan suara yang masih bergetar menahan tangisnya.


“Kenapa kamu marah padaku? Apa salahku? Bukankah kamu juga yang tidak menginginkan perjodohan ini?!”


Dela yang semula dengan makan dengan lahap, kini nafsu makannya menjadi hilang. Ia hanya menjadi pendengar saja pertengkaran di antara mereka.


“Kamu jahat! Kapan aku menolak?! Aku hanya belum siap saja!” serunya.


“Belum siap sama dengan artinya kamu menolak! Aku sudah tak punya urusan lagi denganmu, keluar dari ruanganku sekarang!” tegas Rival.


“Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!” ancamnya.


“Aku tidak peduli! Beraninya hanya mengambil saja!”


Saat hendak keluar, Sania tak sengaja melihat Dela yang tengah duduk di kursi kebesaran Rival.


“Hei ... kau pasti kekasih barunya Rivalkan? Sebelum kau datang, dia adalah kekasihku. Bahkan aku mengandung anaknya di dalam rahimku,” ucapnya asal.


Membuat Rival semakin murka dan mendorong tubuh Sania untuk keluar dari ruangannya.


“Keluar dari ruanganku wanita sialan! Oh aku tahu, apa jangan-jangan kamu memang sedang mengandung benihnya orang dan maka dari itu kamu setuju untuk menikah denganku! Cih ... licik sekali!” celetuknya setelah berhasil mendorong tubuh Sania keluar dari ruangannya.


“Aku tidak akan keluar, sebelum kamu bertanggung jawab menikahiku! Ini anakmu,” teriaknya sengaja enggak di lorong tersebut agar semua karyawan yang berada di kantor tersebut mendengarnya.


“Wanita sialan! Apa yang kamu lakukan? Kamu pikir dengan berteriak seperti itu, semua orang akan percaya? Hei, dengar baik-baik! Menyentuh kulit luarmu saja aku tak pernah, apalagi membuatmu hingga hamil!” bantah Rival, Karena memang dirinya tak pernah menyentuh Sania sama sekali.


“Aku akan membuktikan pada semua orang, jika ini adalah memang anak kandungmu!” teriaknya lagi.


“Dasar wanita tidak waras!” gerutu Rival.


Mendengar teriakan Sania, membuat satpam kantor tersebut datang menghampiri sumber suara tersebut.


“Kalian berdua, bawa wanita tidak waras ini keluar dari kantorku. Perhatian wajahnya dengan baik, agar tak masuk lagi. Mengotori lantai saja!” tegasnya, lalu menutup pintu ruangan kembali.


Setelah menutup pintu kembali, Rival melihat calon istrinya tengah berdiri sembari melipat kedua tangannya dengan menghadap keluar jendela.


“Sayang, jangan percaya ucapkan wanita tidak waras itu! Aku bahkan baru bertemu dengannya sekali saja, itupun di rumah Ayah.”


Memeluk Dela dari belakang.


Dela menghela napas berat, lalu perlahan melepaskan tangan Rival dari perutnya.


“Aku harus kembali bekerja,” tutur Dela tanpa menatap wajah calon suaminya.


Tatapan yang semula lembut pada Rival, kini berubah menjadi datar.


“Sayang, kamu marah padaku?” tanya Rival menahan tangan Dela.


Dela menatapnya sejenak sembari memberi senyuman terpaksa, lalu menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak marah. Aku ingin kembali bekerja, apa kata karyawan yang lainya nanti. Aku tidak ingin mereka berbicara buruk tentangmu,” tutur Dela dengan lembut.


“Maafkan aku ya, jangan meninggalkan aku.” Kembali memeluk Dela, terlihat jelas jika dirinya begitu takut kehilangan Dela.

__ADS_1


Dela melepaskan dekapan Rival, lalu menepuk pelan pipi calon suaminya tersebut. Lalu membalikkan tubuhnya untuk melangkah ke arah pintu, Dela berulang kali menghela napas berat.


***


__ADS_2