
Setelah mereka sama-sama puas, mereka kembali tertidur dalam posisi saling berpelukan.
Terlihat dari raut wajah Vino yang begitu puas dengan permainan tersebut, tapi berbeda dengan Dea yang tampak masih ada sisa air mata yang mengering di sudut matanya.
Hingga pukul 14.00 siang, merek baru terbangun. Dea meringis merasakan sakit di bahwa pangkal pahanya.
Vino yang setengah sadar, mendengar desis Dea. Ia langsung terbangun dan beranjak lalu tanpa ragu menggendong tubuh Dea untuk membawanya ke kamar mandi.
“Apa sangat sakit?” tanya Vino dengan suara parau, setelah meletakkan Dea dengan pelan didalam bathtub dan menyalakan air hangat untuk istrinya.
Dea mengangguk.
“Maafkan aku. Setelah itu aku ingin bicara serius padamu,” ujarnya berjongkok menatap wajah Dea yang tampak pucat.
Sembari menunggu Dea mandi, Vino mandi di kamar tamu. Setelah itu ia ke dapur untuk mengambil sarapan untuk mereka berdua, karena Dea tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Saat kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi makanan untuk mereka berdua, ia melihat Dea sudah berpakaian lengkap dengan handuk yang melilit di kepalanya.
“Makanlah dulu, kamu pasti sangat lapar,” ujar Vino meletakkan makanan tersebut di meja.
Dea tak banyak bicara, akan tetapi dirinya memberi ekspresi jika dirinya sangat lapar.
Vino mengambil makanan lalu menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauknya pada istrinya, Dea tampak sedikit terkejut dengan sikap manis Vino padanya.
“Aku akan makan sendiri, kamu juga pasti sangat lapar,” tolak Dea dengan sopan.
__ADS_1
Karena dirinya belum terbiasa dengan sikap Vino dalam beberapa Minggu ini yang begitu lembut.
Vino tersenyum karena melihat istrinya yang masih terlihat malu.
Mereka makan tanpa bicara, hingga makanan tersebut habis tak bersisa. Setelah itu Vino langsung menarik istrinya ke dalam dekapannya, lalu menarik handuk yang melilit di kepala istrinya.
“Kamu sangat cantik jika rambut basah terurai begini,” bisik Vino, membuat Dea kembali bersemu merah.
Vino tertuju pada leher putih yang ada beberapa tanda merah akibat olehnya, dirinya merasa bangga melihat tanda tersebut.
“Aku ingin kamu jujur padaku.”
Dea menatap suaminya dengan mengernyit heran.
“Jujur?” tanyanya.
Dea tak bodoh, ia mengerti dengan arah pembicaraan suaminya padanya. Sebelum menjawab Dea menghela napas, ia kembali mengingat lagi kejadian yang sangat menjijikkan tersebut.
“Tidak. Tapi aku hampir saja di nodai, karena setiap ingin melakukannya padaku, aku selalu bisa meloloskan diri,” sahutnya bersamaan dengan air mata yang mengalir.
Dea juga mengatakan jika dirinya dan Diana di pukuli hingga babak belur dengan memakai tali ikat pinggang, hingga membuat tubuh mereka penuh memar.
“Entah bagaimana nasib Diana saat ini, aku sungguh tak tega melihatnya. Tapi, aku sendiri tak berdaya,” tambah Dea dengan suara lirih.
Vino tak tega mendengarnya, ia mengusap air mata Istrinya lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Aku akan menolongnya, kamu jangan cemas. Aku meminta maaf atas nama Pamanku, akan aku pastikan kejadian ini takkan terulang lagi.”
Sore harinya, karena dirinya tidak ke kantor. Vino ingin mengajak istrinya untuk jalan-jalan ke pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota tersebut, apalagi selama sebulan lebih menikah mereka hanya diam di rumah saja.
“Kamu ingin membeli apa?” tanya Vino menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam mall.
“Tidak ada,” sahutnya.
Wajah Dea sangat bahagia karena di ajak oleh suaminya, sedikit mengurangi rasa sedihnya teringat akan kejadian pilu yang menimpanya.
Namun, langkah Dea terhenti saat melihat pria yang sangat ia kenal berada di mall itu juga. Bahkan mereka saling menatap satu sama lain dengan jarak yang tak terlalu jauh, membuat Vino heran karena istrinya tiba-tiba berhenti.
“Kenapa berhenti?” tanyanya, Kana tetapi Dea masih mematung.
Vino mengikuti arah netra Dea dan Vino melihat pria yang juga tengah menatap istrinya.
“Siapa pria ini? mereka sepertinya saling mengenal, apa mereka ada hubungan sebelumnya?” tanya Vino dalam hati.
Begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya, namun ia memilih diam dan segera menyadarkan istrinya yang masih mematung.
“Dea, siapa dia? Apa kamu mengenalnya?” tanya Vino dengan menggoyangkan sedikit bahunya, membuat Dea langsung tersadar.
“Hah! Eh iya,” sahutnya.
Pria tersebut tampak melangkah besar mendekati mereka, lalu tanpa ragu memeluk tubuh Dea.
__ADS_1
Darah Vino yang mendidih melihat istrinya di peluk oleh pria asing, dirinya ingin marah akan tetapi ia tahan karena masih di tempat pusat perbelanjaan dan juga begitu banyak orang.
***