Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 42


__ADS_3

Beberapa minggu pasca kejadian, Dea lebih banyak di dalam kamar bahkan putrinya juga sudah beberapa hari tak masuk sekolah.


Begitupun dengan Dika, dirinya juga tak masuk ke kantor dengan alasan harus menemani istrinya yang masih trauma pasca kejadian penculikan tersebut.


“Sayang, aku mengundang Vino ke rumah kita,” ujar Dika memeluk istrinya dari belakang.


Dea terdiam sejenak, saat ini mereka tengah berada di balkon memandang mentari pagi yang mulai naik.


“Untuk apa?” tanya Dea penasaran.


Karena tiba-tiba saja suaminya mengundang mantan suaminya tersebut.


Dika mengubah posisi istrinya menghadap ke arahnya.


“Maafkan aku jika aku lancang, Vino harus mengetahui yang sebenarnya. Jangan sampai dia mengetahuinya dari orang lain, justru akan menimbulkan masalah besar. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian, tidak ada lagi masalah di luar sana yang mengancam keselamatan kalian.”


Mengingat Vino adalah ponakan dari Tuan Alex yang kejam, besar kemungkinan Vino juga seperti itu.


“Sayang, dia harus tahu yang sebenarnya jika Clara adalah darah dagingnya.”


Dea tampak berpikir, berulang kali ia menghela napas berat kemudian mengangguk.


Sebenarnya dirinya sangat berat mengatakan itu pada Vino, apalagi mengingat perlakuan kejam Vino padanya dulu.


“Gitu dong.” Memeluk istrinya kembali.


Hari ini, Dea sudah lebih baik dari sebelumnya. Kini mereka tengah bersiap menunggu kedatangan mertuanya Dea dan juga Vino.


Dika juga mengundang ustadz, untuk membacakan doa atas rasa syukur atas nikmat Tuhan.


Bertepatan dengan hari ulang tahun Clara, mereka juga mengundang anak yatim dan juga beberapa teman sekolah Clara, semua itu Dika lakukan agar Clara tak merasa takut lagi.


Beberapa hari yang lalu Clara masih terlihat murung, terlihat dirinya masih trauma atas kejadian penculikan itu. Kasih sayang dan perhatian Dika yang begitu tulus, membuat Clara perlahan melupakan kejadian tersebut.


Acara sudah di mulai, dengan pembacaan doa lalu di lanjut dengan pemotongan kue ulang tahun.


Kue pertama di berikan pada papanya, Dika lalu pada ibunya, Dea.


Terakhir pada nenek dan kakeknya, orang tua dari Dika.


Melihat Vino yang baru datang, Dika membisikan sesuatu di telinga Clara agar memberikan sisi kue potongan terakhir di piringnya pada Vino.


Clara mengangguk, Vino terlihat terkejut karena dirinya dapat kebagian makan dari suapan Clara.

__ADS_1


“Maaf, aku terlambat datang. Macet,” ujarnya pada Dika.


“Iya, acara baru saja di mulai. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, ikut aku.” Dika melangkah lebih dulu, walaupun Vino tampak bingung akan tetapi ia tetap mengikuti langkah Dika.


Tiba di ruangan kerja, Dika mempersilahkan Vino untuk duduk.


Vino mengernyit heran, melihat Dika tampak ragu untuk mengatakannya.


“Ada apa? Apa ada hal yang penting, sehingga membawaku kemari?” tanyanya.


“Kita langsung ke intinya saja, aku tak ingin berbasa-basi lagi. Vino, kami tidak menutup ini darimu. Alasan kami tak memberitahumu, karena masih ada trauma yang mendalam pada Dea terhadapmu. Yang ada di pikirannya adalah, kamu akan mengambil Clara darinya.”


Vino tampak mengernyit bingung, karena masih belum mengerti arah pembicaraan Dika.


“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan? Untuk apa aku mengambil Clara dari kalian? Bahkan aku sudah tak punya hubungan lagi dengan Dea, dia hanya masa laluku. Aku harap kamu tidak salah paham, sebenarnya memang keinginanku untuk kembali pada Dea. Akan tetapi, setelah mengetahuinya sudah menikah denganmu aku tidak berani, mengingat apa yang pernah aku lakukan padanya dulu. Aku ikut bahagia atas pernikahan kalian,” ujar Vino panjang lebar, mengatakan seluruh yang ada di isi hatinya.


“Bukan itu, aku ingin kamu mengetahui ini sekarang sebelum kamu mengetahuinya dari orang lain. Sebenarnya ....” Dika mengantungkan ucapannya, membuat Vino semakin penasaran.


“Sebenarnya, Clara adalah darah dagingmu. Setelah pergi dari rumahmu beberapa tahun silam, saat itu ternyata Dea sedang mengandung anakmu.”


Duar!


Bagaikan di sambar petir di siang hari, bagaimana tidak terkejut, ia bahkan tidak mengetahui jika ternyata Dea sedang mengandung putrinya yang saat ini sudah mulai tumbuh besar.


“Kamu pasti bercanda, ini tidak mungkin!” Vino terlihat begitu sangat terkejut, seakan tak percaya dengan apa yang telah di ucapkan oleh Dika.


Vino menatap netra Dika, terlihat jika Dika memang sedang serius berbicara dengannya.


Vino menghela napas berat, ia mengusap air matanya yang hampir saja keluar.


Ia tak menyangka, jika dirinya ternyata mempunyai seorang putri.


“Kalian memang benar kejam! Sudah sebesar ini, kalian baru mengatakannya padaku?!” Keluh Vino tampak kesal.


“Dea memiliki trauma yang berat, bahkan sangat sulit memulihkannya hingga menjadi sekarang ini. Hingga yang ada di pikirannya hingga saat ini adalah, kamu akan mengambil putrinya. Aku bahkan harus berdebat untuk memaksanya untuk memberitahu mu.”


Vino terdiam sejenak, ia memang mengakui kesalahannya. Apa yang telah ia lakukan pada Dea memang terlalu kejam, bahkan ia mengutuk dirinya sendiri kenapa dirinya bisa sekejam itu pada Dea, yang menjadi mantan istrinya saat ini.


Vino menepuk bahu Dika pelan, tanda ia sangat berterima kasih pada Dika karena telah merawat dan mendidik putrinya hingga tumbuh besar menjadi seperti ini.


“Dea sangat beruntung mempunyai Suami yang rendah hati sepertimu, aku sangat berterima kasih padamu. Kamu sudah memberi perhatian dan kasih sayang begitu tulus pada putriku.”


Dika mengangguk.

__ADS_1


Setelah berbincang yang cukup menenggangkan itu, Vino dan Dika keluar ruangan. Terpancar aura kebahagiaan dari raut wajah Vino, saat mengetahui Clara adalah putrinya.


Ia melihat Clara yang terduduk diam di sofa sendirian, tanpa ingin bergabung dengan teman yang lainnya.


Vino meminta izin pada Dika untuk menemui putrinya yang tengah duduk sendirian, dengan senang hati Dika mengizinkannya. Dengan begitu, mereka bisa lebih dekat.


“Bagaimana?” tanya Dea yang baru datang, sehingga membuat Dika sedikit terkejut.


“Semuanya aman, jangan cemas.” Menggenggam tangan istrinya, Dea melirik putrinya yang terlihat berbicara pada Vino.


“Apa dia ingin membawa putriku?!” tanya lagi Dea, dirinya benar-benar takut jika Vino membawa putrinya.


“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Aku yakin, jika Vino sekarang bukanlah Vino yang dulu. Cup ....” memberi kecupan hangat di pipi istrinya, Dea.


“Ekhem ... jangan bermesraan di depan orang banyak,” goda ayahnya, membuat keduanya menahan malu karena ketahuan.


“Ayah, kami hanya menikmati masa muda kami,” tutur Dika sambil terkekeh.


“Ayah bahagia jika melihat kalian seperti ini, tetaplah seperti ini, Nak.”


Dika dan Dea mengangguk, bahkan Dea merasa bahagia bisa mendapatkan ayah mertua yang sangat baik.


Dea langsung teringat dengan ayah tirinya, hingga saat ini dirinya tak pernah lagi mendengar kabar tentang ayahnya selepas ia menikah dengan Vino dulu.


Saat menemani suaminya berbincang dengan ayahnya, Dea tak sengaja menangkap wanita asing yang berdiri di depan pintu rumahnya.


Wanita tersebut terlihat kebingungan, seperti sedang mencari seseorang.


Dea berpamitan sebentar ingin menemui wanita tersebut.


“Cari siapa?” tanya Dea.


Dela langsung terkejut melihat suara Dea, ia langsung terdiam saat melihat Dea berdiri di hadapannya.


Ia segera mengambil foto yang di berikan oleh mendiang Diana, berulang kali ia melihat foto tersebut lalu menatap Diana kembali.


“Hei, apa yang kamu lihat? Kamu sedang mencari siapa?” tanyanya lagi.


“Maaf, apakah anda yang bernama Dea?” tanya Dela dengan lembut, lalu memperlihatkan foto tersebut.


“Iya, ini fotoku. Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya Dea mengambilnya dengan sopan.


“Diana yang memberikannya padaku,” ujar Dela.

__ADS_1


Dea langsung terdiam, setelah sekian lama ia mendengar kembali nama tersebut.


***


__ADS_2