
“Nona, sepetinya ada mobil yang mengikuti kita,” ujar sang sopir melirik sekilas berulang kali.
Sejak keluar dari pagar sekolah, ia melihat mobil tersebut tak ada jarak dari mobil yang di kerandainya.
Awal sang sopir tak menghiraukan mobil tersebut, akan tetapi mobil itu tak mendahului mereka saat sang sopir memberikan jalan. Sejak itu, sang sopir curiga jika mobil tersebut mengikuti mereka.
“Coba percepat laju mobil ini,” usul Dea, karena dirinya juga sangat takut.
“Nona tenanglah, hubungi Tuan segera aku akan mengalihkan perhatian mobil itu.”
Dea mengangguk, ia segera mengambil ponsel miliknya dan tanpa menunggu lagi ia langsung menghubungi suaminya.
Namun, berulang kali ia menghubungi tak kunjung di angkat.
“Sayang, angkat dong. Please,” ujarnya tampak gusar.
“Nona, jangan lupa kirim pesan. Jika kita saat ini sedang dalam bahaya,” ujar sopir itu lagi.
Dea segera mengirim pesan tersebut, Dea juga menatap putranya yang tertidur pulas di pangkuannya.
Dor!
Suara tembakan, membuat mereka terkejut karena ternyata ada yang menembak ban mobil mereka.
Citttt ....
Mobil tersebut langsung oleng, bahkan nyaris masuk ke dalam parit besar. Karena sang sopir cukup ahli dalam mengendarai, membuat mereka di dalam mobil selamat.
Ponsel langsung terjatuh akibat mobil mereka yang oleng, Dea langsung memeluk putrinya.
“Nona, apapun yang terjadi jangan pernah membuka pintu. Kunci pintunya dari dalam, aku akan keluar. Apasih mau mereka?!” ucap sopir dengan sangat geram.
“Jangan keluar, aku akan mencoba menghubungi polisi.” Dea terlihat sangat khawatir.
“Jangan cemas, aku akan memberi mereka pelajaran!”
Sopirnya tak mendengar ucapan Dea, dirinya harus segera memberi pelajaran.
Dea tak bisa menahan sopirnya, yang ia lakukan saat ini adalah mengunci pintu mobil.
__ADS_1
Saat hendak mengambil ponselnya, akan tetapi terhalang dengan Clara yang terus menerus menangis karena ketakutan.
Karena jalanan yang mereka lewati cukup sepi, sehingga sulit untuk Dea meminta tolong.
Dea membulatkan matanya melihat sang sopir berdiri di depan mobilnya, dengan dua orang pria kekar yang menodongkan senjata api di kepala sang sopir.
Tubuh Dea langsung bergetar hebat, melihat itu. Dea langsung memeluk putrinya, agar tak melihat apa yang ada di depannya tersebut.
“Keluar!” teriak pria bertubuh kekar tersebut.
Dea menatap sang sopir, ia mengerti kode yang di berikan sang sopir agar tak perlu mengikuti perintah mereka.
Namun, Dea tak tega apalagi sang sopir baru saja mempunyai seorang anak yang masih sangat kecil.
Dengan terpaksa, Dea membuka pintu dengan Clara yang masih di gendongannya.
“Apa mau kalian? Jika ingin merampok, aku akan menyerahkan semua barang milik kami. Setidaknya lepaskan kami!” seru Dea.
“Jangan banyak bicara, cepat keluar! Atau kau ingin melihat putrimu juga mati!” ancam pria bertubuh kekar tersebut, karena mereka melihat Dea yang tak terlihat takut.
Saat beberapa langkah dari mobil miliknya, karena harus pindah ke mobil yang ada di belakang mereka. Dea mendengar dering ponsel miliknya, langkah Dea langsung terhenti.
“Ayo cepat jalan! Jangan berharap kau bisa menyentuh ponsel milikmu!” bentaknya pada Dea.
“Jangan berkata kasar di depan putriku! Aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan!” seru Dea tak mau terlihat lemah di depan mereka.
Walaupun sebenarnya dirinya sangat takut, apa yang ia lakukan semua demi putrinya.
“Nona, kenapa melakukan ini? Seharusnya jangan mendengarkan mereka?!” tanya sang sopir terlihat kecewa pada majikannya tersebut.
“Hei kau, diamlah. Apa kau ingin ku robek mulutmu?!” ancam pria tersebut.
Sang sopir menatap pria bertubuh kekar tersebut dengan tajam, jika saja tangannya tak di ikat ke belakang. Mungkin saat ini dirinya akan menghajar pria yang ada di hadapannya ini.
“Bawa mereka ke villa dan jangan lupa menutup mata mereka!” perintah salah satu dari mereka, yang bisa di yakini itu adalah atasan mereka.
Di dalam mobil, mata mereka bertiga di tutup sangat rapat agar tak melihat kemana mereka ingin di bawa pergi.
“Mama, gelap Ma. Clara takut,” ucap Clara menangis histeris di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
“Shh ... Sayang, jangan nangis ya. Mama yakin, Clara itu anak hebat dan kuat.” Berusaha menenangkan putrinya dan memeluknya erat. Walaupun sebenarnya dirinya juga sangat takut.
Sang sopir merasa gagal telah melindungi istri dari tuannya, padahal Dika sudah menyerahkan penuh tanggung jawab istri dan anaknya pada sang sopir.
***
Vino saat itu sedang mengendarai motornya, karena kebetulan Vino tak bekerja karena cuti.
Mendengar dari temannya, jika Dea berada di kota tersebut memanfaatkan waktunya untuk mencari keberadaan mantan istrinya tersebut.
Karena dirinya berniat ingin memperbaiki hubungan yang beberapa tahun sempat hancur.
Akan tetapi, saat melintas di jalan besar ia tak sengaja melihat mobil milik pamannya yang mengikuti sebuah mobil dari jarang jauh.
“Bukankah ini mobil milik Paman Alex! Paman dengan mengintai siapa?” tanyanya dalam hati.
Karena penasaran dengan pamannya, Vino memakai masker lalu menutupi wajahnya kaca helm. Agar pamannya tak mengenali dirinya, lalu menjaga jarak dengan mobil pamannya.
Hingga beberapa puluh meter Vino mengikuti mobil tersebut, hingga berhenti di jalanan yang sepi bahkan jarang di lewati.
Vino masih setia mengintai mobil pamannya, ia bersembunyi di balik semak-semak.
Ia membulatkan matanya melihat mantan istrinya yang sedang menggendong anak kecil. Akan tetapi, Vino tak melihat wajah anak kecil tersebut karena memeluk tubuh Dea dengan era.
“Astaga Paman! Dia benar-benar tak membiarkan Dea hidup bebas, walaupun sudah bertahun-tahun lamanya. Aku harus menyelamatkan Dea,” gumamnya dalam hati.
Vino masih memantau dari kejauhan di balik semak-semak belukar, Vino melihat anak buah pamannya melempar ponsel milik Dea ke arah jurang. Akan tetapi, lemparan tersebut meleset, hingga ponsel itu terjatuh bukan ke jurang melainkan di samping dengan jarang sekitar kurang lebih dua meter.
Sebelum mobil milik pamannya pergi, dengan cepat Vino mengambil ponsel tersebut lalu bergegas mengikuti mobil pamannya.
Sudah hampir dua jam lamanya, Vino mengikuti mobil tersebut akan tetapi tak kunjung berhenti bahkan bahan bakar motornya sudah menipis. Ia tak bisa lagi melanjutkan perjalanan tersebut, karena sangat tidak mungkin baginya dengan bahan bakar yang sudah hampir habis.
Vino mengingat jalan yang ia lalui dan ternyata jalan tersebut adalah jalan menuju ke Villa milik pribadi pamannya.
“Dea, aku akan datang menjemputmu. Tunggulah, aku akan datang membawa pasukanku untuk melawan Paman!” ujarnya sangat geram, karena sang paman tak berhentinya mengganggu kehidupan Dea.
Vino tak melanjutkan perjalanan mengikuti pamannya, akan tetapi dirinya mengatur strategi untuk melawan Pamannya.
***
__ADS_1