
Keesokan paginya, terdengar suara jerit tangis kesakitan Dea dari dalam kamarnya. Tanpa ampun Alex memukulnya dengan tali ikat pinggangnya karena ketahuan berbohong, karena sebelumnya dirinya mencurigai Diana dan Dea pasti bekerja sama untuk mengelabui dirinya.
Ternyata kecurigaannya benar setelah melihat cctv tersembunyi di kamarnya, karena tak banyak yang tahu jika dirinya meletakkan cctv tersembunyi di kamar pribadinya.
Plak!
Plak!
Dea terlihat begitu kesakitan, karena merasakan beberapa kali pukulan.
“Ampun, Tuan. Maafkan saya,” ucap Dea yang terlihat sudah lemah terbaring di lantai.
Bahunya yang terlihat membiru akibat pukulan tersebut.
“Rasakan, kau sudah berani bermain-main denganku! Aku sudah membayar mahal dirimu, Ayahmu sendiri yang menawarkanmu padaku!” geramnya pada Dea karena berani mengelabui dirinya.
“Bawa dia ke mobil!” perintahnya pada anak buahnya dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Katakan pada yang lainnya, kurung Diana dan jangan ada yang berani memberinya makan dan minum sebelum aku memintanya!” ucapnya tanpa menoleh.
“Iya tuan,” sahut mereka.
Dea yang tampak tak mampu lagi berdiri, sehingga membutuhkan dua orang untuk membawanya keluar dari kamar untuk menuju ke mobil.
Dengan perasaan yang sangat kesal, Alex melangkah cepat menuju mobil miliknya.
Sedangkan Diana saat ini tengah berada di kamarnya, sedang merasakan sakit sekujur tubuhnya akibat pukulan keras oleh Alex menggunakan tali ikat pinggangnya.
Di dalam mobil, Dea bersandar di bahu kursi. Entah kemana Alex membawa dirinya, bahkan ia tak tahu apakah dirinya bisa bertahan hidup dengan penyiksaan dan penderitaan yang ia alami saat ini.
Di dalam mobil begitu hening, masih dengan kekesalannya pada Dea. Alex duduk di depan bersama sang sopir, sedangkan Dea duduk sendiri di belakang tanpa pengawal.
“Percuma ku membayar dirimu sangat mahal!” geram Alex masih dengan kekesalannya terhadap Dea.
Dea hanya diam dan pasrah. Karena sejak tadi Alex selalu menghinanya dan merendahkan dirinya.
“Bicara, bodoh! Apa mulutmu sudah tidak bisa bicara lagi?!” sentak Alex.
“Aku harus jawab apa, Tuan? Bukankah Ayahku sudah menjualku padamu. Jadi, apa yang harus aku katakan.” Dengan suara lemah.
Alex menyeringai.
“Bagus kalau kau sadar diri, jangan berani melakukan rencana yang akan membahayakan diri kalian lagi! Aku tidak akan segan menyiksamu!” ancam Alex lagi.
Dea kembali terdiam.
Mobil berhenti ketika di lampu merah, Alex bersandar di bahu kursi sembari bermain dengan ponsel miliknya. Sedangkan Dea hanya bisa menatap kearah luar jendela, melihat mobil dan motor menunggu lampu hijau menyala.
“Apakah ada di antara kalian di luar sana yang mau membantuku?” tanya Dea hanya dalam hati, melihat di luar sana orang yang begitu bebas menghirup udara.
Terdengar suara gitar dekat dan seorang bernyanyi di depan pintu kaca mobil milik Alex.
__ADS_1
“Ck ... beri mereka uang! Aku bahkan pusing mendengar suara mereka!” ucap Alex berdecap kesal melihat pengamen tersebut.
Sang sopir mengangguk, lalu membuka pintu kaca mobil.
Saat pintu kaca di turunkan, netra Dea saling bertemu dengan pengamen tersebut. Dea seolah mengisyaratkan jika dirinya meminta bantuan, akan tetap pengamen tersebut malah melempar senyum padanya.
Setelah menerima uang tersebut, pintu kaca kembali di tutup.
Melihat lampu hijau sudah menyala, mobil siap di jalankan kembali.
Ceklek ....
Pintu langsung di buka oleh Dea dan kesempatan dirinya untuk lari dari mobil Alex, dirinya hampir saja ditabrak oleh pengendara mobil lainnya. Beruntung mobil tersebut sempat menginjak rem, membuat jalanan menjadi macet karena ulah Dea.
“Sialan, dia kabur. Hentikan mobilnya dan tangkap dia!” teriak Alex pada sopirnya.
Sang sopir lebih dulu menepikan mobilnya, apalagi jalanan cukup ramai.
“Bodoh! Apa kau tidak mengunci pintunya?!” sentaknya pada sopir sekaligus anak buahnya tersebut.
Setelah berhasil menepikan mobil, mereka berdua keluar dan mencari kemana perginya Dea.
Sudah berkeliling jalanan tersebut, namun tak menemukan Dea.
“Sialan, kemana perginya? Cepat sekali!” umpatnya.
Sedangkan Dea berlari tanpa menggunakan alas kaki, bahkan pakaian yang ia gunakan juga terlihat tak berbentuk lagi karena akibat pukulan Alex padanya pagi tadi. Bahu yang membirupun terlihat jelas, karena tubuh Dea yang begitu putih dan mulus.
Karena cukup jauh berlari, membuat Dea kelelahan. Merasa dirinya sudah aman, ia duduk di tanah dengan napas yang turun naik tak beraturan.
Pria tersebut membawanya ke bawah kolong jembatan, dan bersembunyi disana.
“Diamlah, kau aman disini,” ujar pria itu berbisik.
Dea mengenali pria tersebut, ia adalah pengamen yang menyanyi di depan mobil milik Alex tadi.
“Apa yang kau lihat? Lihat, mereka mengejarmu,” ucapnya menunjuk Alex yang ternyata ada di tempat dirinya duduk sebelumnya.
Dea membulatkan matanya, jika tak ada pengamen tersebut mungkin saat ini ia pasti akan kembali di tangkap oleh Alex dan anak buahnya lagi.
Pengamen tersebut melihat punggung Dea yang putih mulus itu penuh dengan luka memar, ia tak ingin bertanya bisa di pastikan jika saat ini wanita yang ada di hadapannya saat ini sedang mengalami kekerasan.
“Apa dia Suamimu?” tanya pengamen tersebut penasaran.
Dengan cepat Dea menggelengkan kepalanya, masih menatap dari kejauhan Alex yang masih mencari dirinya.
“Lalu?” tanyanya lagi.
Dea menatap pria yang masih membawa gitar keci tersebut sejenak, lalu kembali menatap ke arah depan.
“Aku di jual,” sahutnya.
__ADS_1
Pengamen tersebut membulatkan matanya, masih tak menyangka jika di jaman sekarang masih ada yang menjual wanita.
“Kenapa kau tidak meminta bantuan, atau melaporkan ke polisi. Keluargamu tidak mencarimu?” tanyanya lagi membuat Dea sedikit kesal.
“Terima kasih sudah membantuku, aku harus pergi. Sepertinya mereka juga sudah pergi,” ucap Dea hendak berpamitan.
Pengamen tersebut hendak menahannya, tapi apa adanya dirinya tak punya hak sama sekali.
Dea langsung bergegas dari persembunyiannya, kemana dirinya harus melangkah. Tidak mungkin ia kembali ke rumah, sama seperti menyerahkan diri pada Alex pikirnya.
Hingga malam hari Dea melangkah tanpa arah dan tujuan. Ia menyusuri trotoar tengah padatnya kendaraan yang berlalu lalang, sembari melipat kedua tangannya karena sedikit kedinginan apalagi dengan pakaian yang cukup minim.
“Mau kemana cantik?” tanya beberapa pria saat dirinya tengah melintasi jalan cukup sepi.
Dea tak menghiraukan mereka, ia terus melanjutkan langkahnya.
“Hei, sombong sekali. Abang antar ya,” usul pria tersebut masih mencoba menggoda Dea.
Dengan cepat Dea menggelengkan kepalanya.
“Ayolah cantik.” Pria tersebut menarik tangan Dea dengan memaksanya untuk ikut bersamanya.
Membuat Dea sangat geram dan langsung menampar pipi pria tersebut.
Plak!
“Beraninya kau menamparku! Apa kau tahu, kau sedang berurusan dengan siapa?!” geram pria tersebut mencengkeram kuat bahu Dea.
Ia mengangkat tangannya hendak menampar balik, akan tetapi seseorang menahan tangannya.
Dea yang semula menutup matanya karena takut, kini ia membuka kelopak matanya karena merasa pria tersebut tak kunjung menamparnya.
“Jangan kasar pada wanita,” ucap pria tersebut pada preman yang hendak menampar Dea tadi.
Dea terkejut karena melihat pengamen tersebut ternyata mengikutinya.
“Siapa kau? Berani sekali ikut campur urusanku!” sentaknya melepaskan tangannya dengan kasar dari genggaman pengamen tersebut.
“Aku hanya seorang pengamen biasa dan ini ambil saja jangan mengganggu wanita ini, dia adalah temanku,” ucapnya berbohong sembari menyerahkan beberapa uang lembar hasil ia bernyanyi di jalanan tadi.
“Nah gitu dong,” ucap preman tersebut tampak sumringah setelah menerima uang tersebut.
Pengamen tersebut menarik tangan Dea untuk segera bergegas pergi dari tempat tersebut, mencari taksi untuk kembali pulang ke rumahnya.
“Kau menolongku lagi,” ucap Dea lirih setelah di dalam taksi.
“Kita akan bicarakan di rumah nanti,” sahutnya.
“Kita pulang? Aku tidak ingin pulang ke rumah!” dengan cepat Dea menggelengkan kepalanya.
“Kita pulang ke rumahku,” tambah pengamen tersebut, ia menangkap wajah ketakutan saat mendengar dirinya akan pulang.
__ADS_1
Pengamen tersebut curiga, pasti ada yang tidak beres dengan wanita baru saja berjumpa tersebut.
***