
Pertemuan pertama Rival dengan Dela saat di rumah adiknya dan selang beberapa hari mereka tak sengaja bertemu kembali saat Dela melamar pekerjaan di kantornya dan tak sengaja bertemu dengan Rival yang saat itu hendak pergi.
Dan sejak itu Dela dan Rival terlihat mulai dekat, apalagi Dela sudah di terima sebagai karyawan di kantornya.
Setiap harinya Dela makan siang bersama di ajak oleh Rival, sebenarnya dirinya sangat risih apalagi di lihat oleh karyawan lainnya.
Akan tetapi, dirinya tak berdaya setelah mengetahui jika ternyata Rival adalah pemilik perusahaan tersebut, sehingga tiada pilihan lain untuk dirinya mengikuti apa yang Rival katakan.
Rival tengah sibuk dengan pekerjaannya, terbesit di pikirannya hendak meminum kembali kopi buatan Dela. Karena sebelumnya, Dela pernah membuatkan kopi untuknya sehingga Rival ketagihan hendak meminumnya kembali.
Rival mengambil telepon di meja, lalu menelan beberapa angka.
“Halo, Dela. Buatkan aku kopi dan antar ke ruanganku,” ujarnya.
Ia mengakhiri panggilannya setelah mendengar jawaban dari Dela.
Ceklek!
Pintu terbuka, bukan Dela yang datang melainkan ayahnya.
“Ayah, kenapa kemari? Tumben sekali,” tanya Rival melihat kedatangan Ayahnya.
“Ada yang Ayah bicarakan,” sahutnya pria yang sudah terlihat menua itu.
“Rivalkan pulang ke rumah, Ayah. Kenapa Ayah merepotkan diri untuk datang kemari,” sahutnya lembut.
“Tidak. Ayah tidak yakin kamu pulang jam berapa, sehingga Ayah berpikir lebih baik menemuimu di kantor saja.” tuturnya.
Membuat Rival mengangguk, karena tak ingin berdebat masalah kecil. Saat ini Rival lebih lembut pasca kejadian tersebut, ia baru menyadari jika sikapnya itu memang salah dan ia menyadari hal itu.
“Baiklah, Ayah.”
Setelah melihat Ayahnya duduk, tak lama ketukan pintu kembali terdengar. Sudah bisa di pastikan jika itu adalah Dela.
“Masuk,” ucap Rival.
Dela masuk perlahan meletakkan kopi tersebut di meja, akan tetapi tatapan Rival belum beralih dari wajah Dela sejak masuk hingga punggung Dela berbalik kembali ke pintu.
“Ekhem ...” deham ayahnya.
Membuat Rival langsung tersadar, ia segera mengambil kopinya dan menyeruputnya karena malu ketahuan oleh ayahnya sendiri.
“Siapa? Karyawan baru?” tanya ayahnya penasaran.
Rival mengangguk.
“Oh, pantas saja. Oke, kedatangan Ayah kemari hanya ingin memberitahumu, jika rekan kerja Ayah dulu akan datang bersilahturahmi ke rumah besok, Ayah harap kamu bisa pulang cepat. Kami sepakat ingin memperkenalkan dengannya,” ujar ayahnya.
“Hah, secepat ini Ayah?” tanya Rival sedikit terkejut.
Dari awal memang ayahnya ingin mencarikan jodoh untuknya, Rival tidak mempermasalahkan itu semua karena dirinya juga sadar ternyata dirinya juga butuh pendamping hidup.
“Tidak, mereka kebetulan datang ke kota ini ada pekerjaan. Jadi, sekaligus untuk datang ke rumah kita. Ayah harap kamu setuju,” ujarnya ayahnya menatap Rival.
Rival menatap wajah ayahnya yang terlihat sudah tak muda lagi, keriput mulia terlihat di wajahnya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan pulang cepat.”
Mendengar ucapan putranya, raut wajah ayahnya terlihat bahagia.
Ayahnya beranjak dari tempat duduk, lalu memeluk putranya. Dengan berusaha payah, akhirnya putranya setuju untuk menikah.
“Terima kasih kamu sudah mau mendengar kata-kata Ayah, kamu sudah berubah.” Mengusap pelan wajah putranya.
“Maafkan aku yang dulu, Ayah.” Kembali memeluk ayahnya.
Setalah itu, ayahnya berpamitan pulang karena tak ingin mengganggu pekerjaan putranya.
Rival melirik jam ternyata sudah jam makan siang, ia memesan makanan untuk di antar ke ruangannya dua porsi.
Setelah itu, ia menghubungi Dela untuk datang ke ruangannya.
Sekitar 15 menit menunggu, Dela tak kunjung datang ke ruangannya, hingga mengharuskan dirinya untuk menjemput Dela.
Saat membuka pintu, bersamaan dengan Dela yang baru saja ingin mengetuk pintu.
“Tuan, maaf. Saya ke toilet tadi,” ucap Dela, karena berpikir Rival akan marah padanya.
“Berhenti memanggilku Tuan, kita semua sama di kantor ini!” ucap Rival sedikit ketus, karena kesal menunggu Dela cukup lama.
Salah satu karyawannya yang melintas, sedikit terkejut dengan sikap Rival berubah. Biasanya, ia selalu tegas dan tak seperti sekarang ini.
“Cepat masuk,” ajaknya menarik tangan Dela agar masuk ke dalam raungannya.
“Sebagai hukuman karena kamu terlambat datang, kamu harus menemaniku makan siang. Cepat duduk, aku sangat lapar.”
“Apa yang kamu lihat, makanlah.”
Rival menatap Dela yang hanya menatap makanan tersebut.
“Saya boleh makan?” tanyanya pelan.
Karena sebelumnya Rival mengatakan jika dirinya hanya menemani saja.
Rival meletakan sendoknya, mantap Dela sejenak. Ia mengambil alih makanan yang ada di hadapan Dela.
“Siapa yang melarangmu untuk makan? Aku memintamu untuk menemaniku makan, bukan untuk melihatku makan! Cepat makanlah,” ujarnya menyendokkan makanan untuk menyuapi Dela.
Dela menatapnya
“Apa yang kamu lihat? Makanlah,” tambahnya lagi.
Dela mengangguk lalu makan dari suapan dari Rival, untuk pertama kalinya ada pria yang memperlakukannya dengan lembut.
Semua pria hanya ingin menikmati tubuhnya saja, tanpa memperlakukannya layaknya wanita.
Namun, kini dirinya sudah tak ingin kembali ke masa lalunya itu lagi. Berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah dan menjadi lebih baik lagi.
***
Berbeda dengan Rival yang sedang kasmaran pada wanita yang baru ia kenal tersebut.
__ADS_1
Dea di buat heran dengan sikap suaminya yang tiba-tuba berubah, bahkan lagi tadi Dika tak berpamitan padanya saat berangkat bekerja.
Siang ini, Dea berencana membelikan kado untuk suaminya karena tinggal menghitung hari lagi suaminya akan berulang tahun.
“Ma, kita kemana?” tanya Clara melihat mobil mereka tidak kearah jalan pulang.
“Kita akan membelikan kado untuk Papa, karena lusa Papa berulang tahun. Clara mau beli kado juga? Sstt ... tapi ini rahasia kita, oke.”
“Oke Ma,” sahut antusias Clara.
Ia tampak bahagia mendengar jika papanya akan berulang tahun, karena momen itu yang di tunggu Clara untuk membuka kado ayahnya.
Dea tampak menghela napas berat, ia berharap dengan kejutan yang di berikan pada suaminya, Dika tak marah lagi padanya.
Kemarahan Dika berawal, jika Dea istrinya beranggapan tak meminta izin padanya untuk ke mall bersama mantan suaminya itu.
Apalagi Dika melihat sendiri keakraban mereka, sehingga memicu kecemburuan pada Dika.
Tiba di sana, Clara dan mamanya tampak memilih barang yang akan di belikan untuk Dika.
“Hai Clara,” sapa seseorang.
Clara menoleh, begitupun dengan Dea.
“Ayah, Vino. Ayah disini juga?” tanyanya tampak bahagia melihat kedatangan Vino.
Raut wajah Dea langsung berubah saat melihat kedatangan Vino, ia takut jika Dika melihatnya lagi. Pasalnya, masalah kemarin saja Dika masih marah padanya. Namun, Dea berusaha menyembunyikannya, akan Vino tak tersinggung padanya.
“Iya, sedang apa kalian?” tanyanya.
“Clara dan Mama sedang membelikan Papa kado,” sahutnya.
“Aduh!” keluh Dea dalam hati, bahkan ia menutup matanya karena tak habis pikir pada putrinya itu.
Baru beberapa jam yang lalu ia mengatakan pada putrinya, jangan memberitahu orang.
“Dea, apa benar yang di katakan oleh Clara?” tanyanya melihat Dea yang tengah menyibukkan diri.
“Hah, iya.”
“Kalau begitu, kita akan menyiapkan kejutan yang begitu spesial untuknya. Bagaimana? Dika begitu baik padaku, aku ingin membalas kebaikannya.”
Dea diam, tak membalas ucapan Vino.
“Dea, maaf jika aku lancang.” Raut wajah Vino langsung berubah, Vino mengerti, jika dirinya memang bukan siapa-siapa.
Dea memaksakan senyumnya, ia tak tega melihat raut wajah Vino. Bahkan selama beberapa bulan ini, Vino juga banyak membantunya suaminya.
“Iya, bisa di atur nanti.”
Vino langsung memperlihatkan senyum, ia bahagia karena Dea sudah bisa menerima dirinya sebagai ayah kandung Clara. Walaupun, Vino tak bisa memilikinya kembali.
Namun, siapa sangka ada yang menatap kebencian mereka dari kejauhan.
***
__ADS_1