Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 41


__ADS_3

Di luar sana, Dika tampak masih bersembunyi dan memantau dari kejauhan bersama polisi yang lainnya. Menurut titik lokasinya, istri dan putrinya berada di tempat tersebut di sebuah villa yang cukup lumayan besar.


Dika melihat beberapa pria yang bertubuh kekar, begitu tergesa-gesa keluar dari vila tersebut.


Dor!


Polisi melayangkan timah panas pada salah satu pria bertubuh kekar tersebut, tepat mengenai kakinya hingga dirinya tersungkur ke tanah.


Yang lainnya segera mengeluarkan senjata, lalu mencari dari mana arah suara itu berasal.


Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan saling bersahutan, polisi berhasil membekukkan para penculik tersebut dan membawa mereka langsung ke mobil tahanan.


Lalu Dika bergegas masuk ke dalam, di temani polisi karena keadaan masih belum aman.


Menurut dari pengakuan beberapa pria itu, bosnya lebih berbahaya dari mereka dan mereka pasti tidak akan selamat.


Perlahan mereka menyusuri tempat tersebut dan membuka kamar satu persatu.


“Tetaplah berhati-hati, Tuan. Mungkin ada jebakan disini,” ujar anggota polisi tersebut mengingatkan.


Dika mengangguk.


Saat membuka pintu kamar ketiga, Dika membulatkan matanya melihat putri dan sopirnya dalam keadaan terikat.


Clara tampak masih menggunakan kain penutup matanya, sedangkan sang sopir tidak. Hanya tangannya saja yang terikat bersama Clara.


Sopirnya menggelengkan kepalanya pelan, agar Dika jangan masuk. Karena ini adalah jebakan, pasalnya Alex sudah mengetahui kedatangan Dika yang membawa begitu banyak anggota kepolisian untuk menangkap mereka.


“Tuan, please jangan masuk!”


Apalah daya, sopir hanya bisa berteriak dalam hati.


Karena di balik pintu, beberapa anak buah Alex sedang menodongkan senjata pada dirinya dan Clara.


Dika tak mengerti kode dari sopirnya, apalagi ia melihat keadaan putrinya yang terikat sehingga tak bisa menahan diri untuk melepaskan ikatan mereka.


“Clara, sayang. Ini Papa, nak. Kamu baik-baik saja nak?” tanya Dika tampak begitu sangat cemas, ia perlahan mulai melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan putrinya.


“Tuan pilih saja, siapa yang ingin pergi duluan?!” tanya seseorang yang langsung menodongkan senjata tersebut ke kepalanya, bahkan mereka semua tampak keluar dari tempat persembunyiannya.


Dika membiarkan kain penutup mata putrinya, agar tak melihat apa yang terjadi saat ini.


“Pa, tolong lepasin Clara Pa. Tangan Clara sakit,” ujar Clara polos, tanpa ia ketahui jika mereka saat ini sedang dalam bahaya.


“Turunkan senjata itu dan angkat tangan!” sentak anak buah Alex, kepada pak polisi.


Mereka tak mau mengambil risiko dan tak mau membahayakan nyawa gadis kecil tersebut.


“Apa mau kalian?” tanya Dika dengan lantang.

__ADS_1


“Papa, kenapa marah?” tanya Clara karena mendengar suara papanya.


Membuat Dika menjadi serba salah.


“Clara Sayang, Papa tidak marah.”


“Diam!” bentak pria itu.


Membuat Clara yang semula antusias mendengar suara ayahnya, kini langsung terdiam bahkan ketakutan.


“Kalian yang seharusnya diam!” suara seseorang muncul dengan membawa bos mereka dalam keadaan terikat, bahkan begitu banyak mengeluarkan darah di kepala bagian belakang.


Mereka tampak terkejut melihat tuan Alex terlihat lemah.


“Letakkan senjata kalian!” kini Vino mengancam mereka.


“Mau sampai kapan kalian ingin menjadi budak pria ini, Pamanku sendiri! kalian selalu di ancam bukan? Jika tidak menuruti apa yang dia perintah dan keluarga kalian menjadi sasarannya!” ujar Vino dengan lantang.


Mereka tampak tunduk terdiam, karena apa yang di katakan oleh Vino memang benar adanya.


Dika tampak terkejut melihat Alex yang terlihat pasrah, ia sudah menduga dari awal jika dalang penculikan tersebut adalah Alex, pria sama yang telah membelinya dulu.


Melihat anak buah Alex meletakkan senjatanya, karena mereka sebenarnya juga terpaksa dan sangat menyesal dengan ikut bekerja sama dengan Alex.


Dika segera melepaskan ikatan tangan putrinya dan bergantian dengan sopirnya.


Dika berulang kali mengecup wajah putrinya, lalu memeluknya erat.


Tatapan hangatnya pada Clara, tak dapat di pungkiri dari hati kecilnya sangat bahagia melihat gadis kecil itu tampak begitu erat memeluk Dika.


“Sayang, kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Dea ikut memeluk suaminya dan putrinya.


“Semua akan baik-baik saja, kita serahkan pada pihak yang berwajib,” ujar Dika berulang kali mengecup kepala istrinya.


Alex juga menatap tajam bahkan tatapan itu terlihat sangat murka melihat kemesraan Dea dengan keluarga kecilnya, karena memang sejak dulu keinginannya adalah memiliki Dea.


“Bawa saja mereka, agar mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka, Pak,” ujar Vino menyerahkan pamannya pada pihak kepolisian.


“Awas kau, Vino. Aku akan membalas perbuatanmu saat aku keluar nanti!” ancamnya pada Vino dengan tatapan tajam yang menakutkan.


“Paman, kematian datang tak melihat berapa usia kita. Bertobatlah, Paman!”


Alex menyeringai jahat.


“Kau seperti orang yang benar saja! Aku akan membalasmu!” ancamnya lagi.


Vino hanya tersenyum menanggapinya.


Polisi tampak membawa paksa Alex yang masih terlihat lemah akibat begitu banyak darah yang keluar dengan anak buahnya yang mengikuti mereka untuk ke mobil.


Vino tampak menghela napas lega, walaupun dirinya tidak bisa memiliki Dea kembali. Setidaknya, Dea kembali dengan keluarga bahagia mereka.

__ADS_1


“Tuan, Vino. Tunggu,” panggil Dika saat melihat Vina hendak melangkah pergi dari kamar tersebut.


Vino membalikkan tubuhnya, lalu menatap Dika.


“Aku sangat berterima kasih padamu, aku tak menyangka jika kamu datang kemari untuk menyelamatkan Istri dan juga putriku.”


Vino tersenyum, lalu mengangguk. Ia mengambil ponsel milik Dea dari sakunya, lalu menyerahkannya pada Dika.


“Sejak awal melihat mobil Pamanku mengikuti mobil Istrimu, aku merasa curiga. Sebelumnya, aku tidak tahu jika di dalam mobil yang di ikuti oleh Pamanku adalah Istrimu. Dan ternyata, Paman tak melepaskan Dea walau sudah bertahun-tahun lama, tapi sekarang tak perlu cemas. Oh ya, aku menemukan ponsel Istrimu, karena mereka melemparnya ke jurang.”


Dika mengambil ponsel tersebut.


“Aku tak menyangka jika kita bisa bertemu kembali, aku tidak akan melupakan jasamu ini.” Dika tak hentinya mengucapkan terima kasih pada Vino.


Vino menepuk pundak Dika, jika dia juga sebenarnya tak ingin terima kasih dari Dika.


Karena kesempatan ini, dirinya menghentikan perbuatan pamannya yang banyak merugikan orang lain.


FLASHBACK ON.


Saat melihat anak buah pergi kamar tempat Dea di ikat, mereka berdua masih berada di dalam lemari tersebut.


Vino sudah menduga, jika pamannya akan ke kamar tersebut dan benar saja. Selang beberapa detik, sang paman datang ke kamar tersebut karena di beritahu oleh anak buahnya jika Dea kabur.


Alex tampak menatap jendela tersebut, ia menatap curiga jika mereka sedang di kelabui.


Alex kembali menatap sekeliling kamar tersebut, lalu menatap ke arah lemari.


Vino dan Dea terlihat saling bertatapan sejenak, karena Alex mencurigai tempat persembunyian mereka.


Vino mengangguk pada Dea, jika Dea tak perlu takut. Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Vino jika sang paman bukan orang bodoh.


Lemari langsung di buka, dengan cepat Vino menendang tubuh Pamannya dengan kuat, hingga tersungkur ke belakang.


Bugh!


Dea yang masih berada di dalam kamar mandi sangat ketakutan, apalagi melihat mantan suaminya tak memberinya ampun sama sekali.


Vino memukul kepala pamannya dengan vas bunga yang ada di kamar tersebut, hingga pamannya tak berdaya sama sekali apalagi kepala pamannya begitu banyak mengeluarkan darah.


“Dea! Cepat keluar, ambil tali itu!” teriak Vino pada Dea, agar membantunya mengikat tangan pamannya.


Karena sangat berbahaya jika membiarkan pamannya tanpa tangan terikat.


“Maafkan aku, Paman. Bukan aku ingin membalas budi pada Paman, justru aku sangat menyayangi Paman agar tak berhenti melakukan kejahatan kembali.”


Alex tampak tersenyum kecut mendengar ucapan Vino.


“Lakukan apa yang kamu inginkan, Vino. Akan aku buat kau menyesal seumur hidup!” seru pamannya, walau dalam keadaan suara yang sudah lemah dirinya tetap pada egonya.


Vino dan Dea keluar dari kamar tersebut saya mendengar keributan, tak lupa Vino membawa pamannya untuk menyerahkannya kepada polisi.

__ADS_1


FLASHBACK OF.


__ADS_2