Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 26


__ADS_3

Prok ... prok ...


Suara tepuk tangan sangat riuh, semua orang ikut memberikan selamat atas keberhasilan Dika membuka bisnis kuliner di beberapa tempat.


Hari ini Dika juga meresmikan salah satu kedai miliknya dengan memotong pita, dan akan beroperasi mulai besok.


Sang ayah dan ibunya ikut bangga dengan putranya tersebut, Dika berhasil membangun bisnisnya sendiri tanpa bantuan orang tua dan juga kedua kakaknya. Karena memang sejak awal dirinya tak ingin di bantu, apalagi meminjam nama orang tuanya untuk bisnisnya tersebut.


“Dika, Ayah dan Ibu sangat bangga padamu. Maafkan Ayah dulu pernah meragukanmu,” ucapnya menepikan bahu putranya.


Dika tersenyum ia memeluk sejenak Ayahnya tersebut.


“Ini baru awal, Ayah. Aku juga belum menikmati hasilnya,” sahutnya lalu bergantian memeluk ibunya.


Dika mengajak orang tuanya untuk mencicipi makanannya, termasuk orang yang ikut meresmikan kedai miliknya.


Sang ayah tidak menyangka jika makanan yang putranya jual tersebut sangat enak, walaupun harganya sangat murah namun rasanya tak murahan.


“Dika, makanannya enak sekali. Dari mana kamu menemukan resep ini, Nak? Ayah teringat dengan mendiang kakekmu, beliau dulu juga pintar memasak sepertimu. Namun, ia sudah pergi sebelum kamu lahir. Ia mempunyai cita-cita memiliki warung besar, kamu sudah mengwujudkan cita-citanya nak.”


Dika hanya tersenyum mendengar pujian dari ayahnya tersebut, karena pertama kalinya juga sang ayah memujinya.


Setelah acara peresmian tersebut selesai, Dika dan kedua orang tuanya pulang ke rumah dengan menggunakan satu mobil saja. Karena Dika belum mempunyai mobil, walaupun sang ayah ingin membelikannya untuknya. Akan tetapi dirinya menolak, karena dirinya lebih nyaman memakai motor saja.


“Dika,” panggil ayahnya.


Karena melihat sang putra melamun menatap ke luar jendela, ia melihat dia pengamen di lampu merah tersebut. Ia teringat akan Dea, dimana Dea sempat beberapa kali ikut bersamanya mengamen dulu sebelum memutuskan untuk bekerja menjadi art di rumah mewah tersebut.


“Iya,” sahut Dika tampak sedikit terkejut.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya ayahnya yang duduk dikursi paling depan.


“Aku tidak memikirkan apapun, Ayah.” Kembali menatap ke arah luar.


Walaupun Dika tak menceritakannya, sang ayah merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dika dari ayahnya.


“Dika, apa kamu tidak mau menikah? Usiamu sudah cukup untuk menikah, Nak. Ayah sudah tua, sebelum pergi Ayah ingin sekali menimang cucu.”


Dika tersenyum kecut.


“Ayah kenapa bertanya padaku? Kenapa tidak meminta kakak saja untuk menikah, bukankah mereka lebih dari cukup untuk menikah!” balas Dika, sedikit tak suka karena dirinya bertanya kapan menikah.


Sedangkan kedua kakaknya juga belum ada yang menikah.


“Maaf, jika Ayah menyinggung perasaanmu dengan perkataan Ayah barusan. Kedua Kakakmu sedang sibuk dengan bisnisnya, hingga tak ada waktu untuk mencari jodoh!” keluhnya.


“Ayah sering kali bertanya, tapi jawabannya tidak ingin menikah dalam waktu dekat ini.”


Dika menghela napas berat.


“Kenapa Ayah tidak mencarikan jodoh untuk mereka? Aku yakin mereka pasti tidak akan menolak,” usul Dika.


Ayahnya tampak terdiam, ia mendapatkan ide dari putranya tersebut.


“Ide bagus juga, sebenarnya Ayah takut untuk menjodohkan mereka karena jaman sekarang bukan seperti jaman dulu, dimana mereka akan langsung menerima perjodohan tanpa menolak,” sahutnya ayahnya.


“Tidak salahnya untuk mencoba, Mas. Mungkin mereka sangat sibuk, hingga tak ada waktu untuk mencat pasangan.”


Dika tampak mengangguk, tanda setuju dengan ucapan ibunya.


Dika kembali menatap ke arah luar, setelah perbincangan hangat mereka selesai.

__ADS_1


“Dea, kenapa begitu sulit melupakanmu? Entah mantra apa yang kamu berikan padaku? Bagaimana kabarmu, kenapa kamu tidak mengabariku jika kamu sudah menikah?!” gumamnya dalam hati.


“Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, Dea.” tambahnya lagi dalam hati sembari memejamkan matanya dengan helaan napas berat.


“Aku berjanji ini yang terakhir kalinya aku memikirkanmu lagi dan berusaha melupakanmu. Aku takut jika perasaan ini selamanya ada untukmu, selamat tinggal Dea.”


Ibu mana yang tega melihat putranya yang selama ini ternyata menjadi pengamen jalanan dan juga menjadi kuli.


***


Dea tampak bangun kesiangan, ia meraba kesampingnya ternyata suaminya sudah tak berada di tempat tidur lagi.


“Mas Vino sudah berangkat? Jam berapa ini?” gumamnya sembari mengucek matanya, ia melirik jam dinding sudah pukul jam 10.00 siang.


“Astaga, kenapa aku bisa bangun sesiang ini? Huh ... kepalaku sangat berat!” keluhnya memijit pelipisnya saat dirinya duduk dari tempat tidur.


Perlahan Dea melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena setiap harinya Dea di minta oleh suaminya untuk mengantar makan siang ke kantor.


Karena Vino sudah mulai terbiasa dengan makanan yang di buatkan oleh istrinya dengan menu yang berbeda-beda setiap hari.


Selesai membersihkan diri dan berpakaian serta memberi polesan tipis di wajahnya, ia melangkah menuruni tangga untuk menuju dapur.


Dea juga melihat Bibi yang tengah membersihkan teras rumah, akan tetapi dirinya mencium aroma masakan dari ruang tengah.


“Siapa yang memasak? Apa Bibi lupa mematikan kompor?” gumamnya mempercepat langkahnya menuju ke dapur.


Sesampainya di sana, ia melihat punggung Diana yang sedikit bergoyang karena pergerakan dari tangannya yang tampak lihai mengaduk masakan.


“Kamu sedang apa?” tanya Dea duduk di kursi menghadap Diana.


Diana terlihat terkejut, karena mendengar suara Dea tanpa mendengar suara langkah kakinya.


“Dea, kamu mengagetkanku. Huft ... jantungku hampir saja copot!” dengan memegang dadanya.


“Aku sedang memasak untuk Tuan Vino, karena biasanya dirinya yang memuaskan makan siang. Tapi, sudah jam siang kamu belum keluar dari kamar. Karena sebelumnya Tuan Vino menghubungi dari nomor telepon rumah,” ujarnya berbicara dengan panjang lebar.


Dea tersenyum, tanpa menaruh curiga sedikitpun.


“Aku sangat berterima kasih padamu, karena sudah membantuku,” dengan suara yang masih terdengar lemas.


“Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sedeng sakit?” tanya Diana melihat wajah Dea tampak pucat.


“Hanya sedikit pusing saja. Aku akan membantumu,” ujar Dea hendak beranjak.


Akan tetapi Diana menahannya.


“Tidak perlu! Maksudku, kamu duduk saja, biarkan aku yang memasak. Ini pekerjaan yang sangat mudah,” ucapnya tidak memperbolehkan Dea untuk membantunya.


Dea mengangguk, karena memang kepalanya terasa sangat sakit.


“Bagaimana acaranya semalam? Pasti sangat meriah, maafkan aku tak bisa hadir. Setelah pulang dari rumah sakit, aku langsung tidur,” ujarnya berbohong, padahal dirinya sangat mengetahu jika Vino tidak datang karena sedang sibuk bersama dirinya di atas ranjang panas.


Deg!


Dea mengingat kembali kejadian semalam, Diaman dirinya menunggu suaminya akan tetapi tak kunjung datang hingga dirinya memutuskan untuk pulang.


“Sangat meriah,” sahutnya dengan lirih tanpa terasa buliran air matanya mengalir dengan cepat ia menghapusnya agar tak terlihat oleh Diana, karena ia berpikir Diana tidak boleh tahu akan hal ini.


Diana terdiam sejenak, saat mendengar suara Dea bergetar menahan tangis.


Namun, ia kembali lagi dengan aktivitas memasaknya tanpa peduli dengan hati Dea saat ini.

__ADS_1


Selesai memasak, Diana mulai memasukkannya ke dalam kotak makanan dan meletakkannya di meja tepat di depan Dea.


“Sudah beres, sekarang tugasmu untuk mengantarnya.” Dengan senyum yang mengambang, karena bahagia bisa memasak untuk Vino.


Namun, Diana menatap wajah Dea yang masih tampak pucat.


“Dea, wajahmu masih sangat pucat. Apa kamu sudah minum obat?” tanyanya sedikit cemas.


Dea mengangguk, ia hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun, ia merasakan sangat pusing hingga dirinya hampir terjatuh, beruntung Diana cepat menangkapnya.


“Dea, kamu baik-baik saja? Sebaiknya kamu istirahat saja, biar aku saja yang mengantarkan makanan untuk Tuan Vino. Ini juga sebagai tanda terima kasihku padanya, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas jasanya.”


“Diana, aku takut merepotkanmu.”


“Tidak! Tidak sama sekali, aku bahkan sangat senang melakukannya.” Sambil tersenyum, apalagi membayangkan semalam yang mereka lakukan.


“Baiklah, itu jika kamu tidak keberatan. Tapi jika kamu lelah, aku bisa meminta tolong Bibi untuk mengantarnya.”


“Jangan!” jawab Diana dengan cepat, membaut Dea mengernyit heran.


“Maksudku jangan Bibi. Lihat, Bibi terlihat sangat lelah. Apalagi usianya sudah tua, biar aku saja.”


Ucapan Diana ada benarnya, dirinya juga melihat jika bibi terlihat kelelahan.


“Oke, kalau itu maumu. Sekali lagi aku berterima kasih,” ucap Dea dirinya sangat beruntung mempunyai teman seperti Diana yang penuh perhatian dan pengertian padanya.


Dengan langkah yang semangat menuju pintu keluar, ia sangat senang akan bertemu dengan Vino di kantor. Karena pagi tadi dirinya belum sempat melihat Vino, karena dirinya bangun terlalu siang.


Sementara Dea mengambil sarapan untuknya karena dirinya ingin beristirahat sejenak di kamar setelah sarapan, apalagi tubuhnya yang kurang bersemangat dan juga lelah pagi ini.


Sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, terbesit di pikirannya mengingat baju suaminya yang wangi parfum perempuan.


Ia tidak menuduh, akan tetapi merasa curiga dengan siapa suaminya semalam bertemu.


Terbesit di benaknya ingin mengecek cctv di rumah ini, dengan siapa saja suaminya bertemu semalam. Apakah suaminya memang benar-benar sakit, atau ada yang di sembunyikannya. Pasalnya penjaga rumahnya mengatakan jika Vino setelah pulang bekerja tidak ada keluar lagi.


“Dea, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya bibi yang ternyata sejak tadi memanggilnya.


Namun, Dea sibuk dengan pikirannya sehingga tak mendengar Bibi memanggilnya.


“Oh maaf, Bi. Aku tak mendengarnya,” ucapnya merasa bersalah.


“Iya. Oh ya, Tuan menitipkan ini untukmu.” Memberikan sebuah kotak perhiasan.


“Apa ini Bi?” tanyanya mengambil dari tangan bibi.


“Bibi juga tidak tahu. Tapi Tuan hanya mengatakan jika berikan ini padamu,” sahutnya.


Dea perlahan membuka kotak perhiasan tersebut, tampak sebuah cincin merah dengan kertas putih kecil yang tuliskan permintaan maaf.


Dea tersenyum menatap tulisan kecil tersebut, membuat bibi juga bahagia melihat Dea sudah kembali tersenyum lagi.


“Lihat Bi, mas Vino memberikan aku cincin dan juga permintaan maaf.”


“Iya, Bibi juga ikut senang. Kamu beruntung mendapatkan suami yang begitu perhatian, Tuan Vino menerimamu apa adanya tanpa memikirkan status.”


Dea mengangguk, lalu mencoba cincin terbaik di jari manisnya.


“Cantik,” puji Bibi.


Walau begitu, tak menghalangi niatnya untuk memeriksa cctv. Agar dirinya tenang jika suaminya tidak melakukan hal yang di pikirkan olehnya saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2