Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 49


__ADS_3

Dengan perasaan yang sangat bahagia, Dea mengendarai mobil miliknya hadiah Dika untuknya.


Dea merasa lega karena kesalahpahaman kecil antara dirinya suaminya sudah selesai, Dea berpikir rencananya memberi kejutan untuk suaminya saat pulang nanti pasti akan berhasil. Tanpa ia ketahui jika, Dika sedang menahan amarahnya di kantor saat ini.


“Kamu menjemput Clara? Aku bisa mengantarnya pulang,” tanya Vino melihat Dea datang.


“Suamiku meminta diriku menjemput Clara, Dika tidak ingin merepotkanmu,” sahut Dea.


“Aku tidak merasa di repotkan, Clara adalah putri kandungku. Aku sama sekali tidak keberatan!” protes Vino.


Karena memang benar adanya, ia ingin memanfaatkan masa cutinya selama seminggu ini untuk bersama Clara.


“Oke, baiklah. Aku juga harus mampir ketoko untuk membeli kue serta yang lainnya, aku ingin memberikan kejutan untuk suamiku nanti malam.” Dea tampak sengaja mengatakan itu, memperlihatkan pada Vino jika dirinya sangat bahagia bersama suaminya, Dika.


“Kalau begitu, aku ikut membantu kalian untuk menyiapkannya. Aku juga ingin memberikan Dika kejutan,” ujarnya tanpa tersinggung dengan ucapan Dea.


Dea terdiam, berpikir apakah Dika tidak akan marah jika Vino datang kembali ke rumahnya.


“Mama,” panggil Clara setengah berlari.


“Mama, ayo kita beli kue untuk Papa. Clara sudah tidak sabar,” ucap Clara antusias.


Dea tersenyum lalu mengangguk, ia menggandeng tangan putrinya.


“Ayah juga harus ikut,” ucap Clara.


Vino tersenyum kecut mendengar ajakan putrinya, pasalnya Dea seperti tak mengizinkan dirinya untuk ikut bersama mereka.


“Ayah akan menyusul ke rumah dan menunggu kalian di rumah saja,” tolak Vino.


Clara mengangguk.


Vino menatap mobil mantan istrinya yang sudah menjauh, ia juga beranjak pergi ke rumah kediaman Dika.


Dea dan Clara begitu banyak membeli barang untuk hiasan di ruang tamu dan membelikan beberapa kue kecil untuk mereka juga.


Tiga jam lamanya mencari barang belanjaan mereka dan segera kembali karena harus menyiapkan acara kejutan untuk suaminya.


Setibanya di rumah, Dea bernapas lega karena tak melihat mobil Dika. Akan tetapi, ia melihat mobil milik Vino yang terparkir di garasi.


“Dia datang kemari?! Astaga! Bagaimana jika Dika marah lagi!” gerutu Dea dalam hati.


Dea melangkah masuk, melihat Vino tertidur di sofa yang ada di rumah tamu.


“Bi, apa Vino sudah lama di rumah?” tanyanya pada Bibi di dapur, sembari meletakkan barang belanjaan.


“Sekitar satu jam yang lalu, Nyonya.”


Dea mengangguk.


“Apa Tuan Dika ada menghubungi telepon rumah?” tanyanya lagi, karena sejak tadi Dika tak membalas pesannya.


Bibi menggelengkan kepalanya.


Dea mulai menyiapkan persiapannya, di bantu oleh Vino dan juga Putrinya Clara.


Hampir dua jam lamanya menyiapkan pesta kejutan tersebut kecil-kecilan saja, karena tak mengundang banyak orang hanya keluarga saja.


“Huft ... lelah,” keluh Dea duduk bersandar di kursi.


“Ini, air putih. Kamu terlihat lelah, minumlah.” Menyerahkan gelas yang berisi air putih.


Dea menatap gelas di tangan Vino, lalu mengambilnya dan menghabiskan air tersebut.


“Aku ingin bersiap dulu,” ujarnya beranjak dari tempat duduknya.


Begitupun dengan Clara, dia di bantu oleh pekerja rumahnya untuk membantunya berpakaian.


Sama halnya dengan Dea, ia memakai gaun yang berwarna Dusty pink kesukaan suaminya. Gaun tersebut juga di berikan Dika dulu padanya, sebagai hadiah ulang tahun untuknya.


Setelah selesai bersiap, Dea keluar kamar menuruni tangga. Terlihat di ruang tamu, mertua dan kakak iparnya juga sudah datang. Mereka tampak saling melempar candaan di sana.


Namun, saat kedatangan Dea mereka langsung terdiam. Bahkan terpana dengan kecantikan Dea yang alami, di tambah polesan makeup tipis di wajahnya, membuat kecantikannya semakin sempurna.


Vino langsung mengalihkan pandangannya dari Dea, sebelum Dea melihat dirinya yang sedang menatap bahkan mengagumi kecantikan sejak dulu.


Tapi, karena kebodohannya membuatnya kehilangannya untuk selamanya.


“Ayah, Ibu. Kapan kalian datang?” tanyanya bergantian mencium tangan mereka.


“Baru saja. Kamu sangat cantik memakai gaun ini, Ibu sangat yakin Dika pasti akan terpana melihat kecantikanmu ini,” puji ibu mertuanya.


Dea terlihat malu dengan pujian ibu mertuanya tersebut.


Sejak kesalahpahaman dulu terjadi, kini hubungannya dengan ini mertuanya semakin membaik bahkan terlihat sangat akrab.


Setelah itu, mereka kembali berbincang sembari menunggu Dika pulang.


Namun, sudah hampir jam 11.00 malam, Dika belum juga kembali. Membuat Rival gusar, setahunya pekerjaan Dika hari ini tak terlalu banyak.


Sekitar jam 20.00 malam, dalam perjalanan pulang karena jalan searah ia terlebih dahulu mengunjungi kantor adiknya tersebut, akan tetapi ia tak menemukan Dika.

__ADS_1


Penjaga kantor adiknya mengatakan jika Dika dalam perjalanan pulang.


“Jam berapa Dika kembali? Ini sudah larut malam?” tanya Rival tampak gusar, tapi ia tak menampakkan rasa risaunya tersebut.


Dea menatap jam dinding sudah pukul 23.00 malam, bahkan Clara tampak sudah tertidur di pangkuan Vino dengan kado yang masih ia pegang.


“Aku akan menghubunginya,” sahutnya sembari mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di meja.


Akan tetapi, nomor suaminya tak bisa di hubungi. Bukan hanya Dea, Rival pun mencoba menghubunginya berulang kali.


“Sepertinya Clara sangat lelah, aku akan menggendongnya ke kamar,” usul Vino.


Dea mengangguk, ia juga tak tega melihat putrinya yang sudah tertidur pulas.


Hati Dea juga mulai gusar, karena Dika tak kunjung pulang hingga sekarang.


Terbesit di ingatkan, bagaimana dirinya menunggu mantan suaminya dulu yang tak kunjung datang. Ia tampak gusar, karena takut kejadian itu akan terulang kembali.


“Dea, coba hubungi lagi,” ujar ayah mertuanya, karena melihat raut wajah Dea yang mulai cemas.


“Mungkin masih dalam perjalanan,” sambung ibu mertuanya.


Tak lama terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di garasi, wajah mereka yang semula gusar kini tampak tersenyum saat mengetahui mobil Dika yang datang.


Dea mulai bersiap, memegang kue ulang tahun beserta lilin yang menyala di atas tangannya.


Ceklek ... pintu langsung terbuka lebar, Dika tampak terkejut melihat semua keluarga ada di rumahnya termasuk Vino yang tengah menuruni tangga.


Melihat wajah Vino, raut wajahnya langsung berubah murka.


“Sayang, selamat ulang tahun,” ucap Dea mendekati suaminya.


Dika menatap kue tersebut, lalu beralih pada wajah istrinya dan gaun yang ia kenakan.


Namun, Dika justru berpikir jika Dea berdandan untuk Vino, karena mantan suaminya tersebut juga berada di rumahnya.


“Sayang, kenapa melamun? Tiup lilinnya,” ujar dengan lembut.


Kemarahannya tak terbendung lagi, ia sangat murka teringat dengan foto yang dikirim oleh orang yang tak dikenal.


Dika mengambil kue tersebut dengan kasar, lalu melempar kue ulang tahun tersebut mendarat tepat di hadapan Vino.


Semua orang tampak terkejut, tak terkecuali Dea sendiri.


Bahkan Dea meneteskan air mata, tak menyangka kue yang ia pegang di buang begitu saja oleh Dika, suaminya.


“Apa ini Dika?! Apa kamu tidak tahu, jika Dea bersusah payah menyiapkannya untukmu?!” bentak Rival, karena suka dengan cara Dika memperlakukan istrinya.


“Kakak tanya pada wanita ini! Apa yang telah ia lakukan di belakangku bersama mantan Suaminya itu!” sentaknya sembari menunjuk wajah dan Vino secara bergantian.


Plak!


Tamparan langsung mendarat sempurna di pipi mulus Dika, Rival tak kuasa menahan tangannya lagi. Karena begitu sangat geram pada adiknya tersebut.


“Jangan asal bicara jika, mereka tak mungkin berbuat seperti itu! Vino itu sangat baik, tak mungkin dia melakukan apa yang kamu pikirkan! Kamu itu terlalu cemburu!” seru Rival tak mau kalah dengan adiknya.


Sedangkan Dea hanya bisa terdiam, padahal pagi tadi mereka baikkan. Namun, entah kenapa kini suaminya Kembali marah.


“Kakak mau bukti?! Lihat ini!” melempar ponsel miliknya tepat ke dada bidang Rival, beruntung Rival dengan cepat menangkapnya hingga ponsel itu tak terjatuh ke lantai.


“Dan kau, masih punya malu kau setiap hari datang ke rumahku! Jika ingin merebut kembali Dea dariku, bicara padaku dengan baik-baik. Bukan dengan cara menidurinya!” menunjuk wajah Vino dengan mata yang memerah, karena sejak tadi ia sudah sangat murka melihat wajah Vino.


Dea bahkan tak mampu lagi berkata-kata, hingga membiarkan sang suaminya menuduhnya.


“Jaga bicaramu! Dea bukan wanita murahan tidur dengan sembarang orang, apalagi dengan manusia bejat sepertiku! Aku memang pria bejat dulu, hingga Dea pergi meninggalkanku. Aku mengakui kesalahanku itu, tapi jangan berpikir Dea wanita seperti itu. Aku kemari hanya ingin bertemu dengan putriku, tidak ada maksud lain!”


“Cih ... kalian itu sama saja!” serunya.


Vino terlihat mengepal tangannya dengan kuat, bersiap hendak meninju wajah Dika.


Beruntung Dea melihat itu, dan memegang tangan Vino agar dirinya tak melakukannya.


“Kalian lihat itu, di depanku saja dan kalian semua mereka berani berpegangan tangan!”


Rasa cemburu yang tak bisa di hindari lagi, Dika di butakan oleh rasa cemburunya lagi. Sehingga tak mampu lagi berpikir jernih.


“Iya, aku memang wanita seperti yang kamu pikirkan. Aku memang tidur dengannya, itu yang kamu ingin dengarkan?” tutur Dea, karena sudah tak bisa lagi menahan amarahnya atas sikap suaminya yang menuduh dirinya.


“Apa lagi yang ingin kamu dengar dari mulutku?!” tanya Dea menatap suaminya dengan air mata yang tak terbendung lagi.


“Dea, apa kamu sudah tidak waras?! Kita tak pernah melakukan apa yang Dika tuduhkan! Jangan asal bicara!” seru Vino, karena tidak membenarkan apa yang telah Dea katakan.


“Untuk apa menjelaskan yang sebenarnya? Apa dia akan percaya? Tidak! Dia hanya ingin dengar, kita mengakui kesalahan yang tidak pernah kita lakukan!” menatap Dika dengan tajam.


“Dika, Ayah tak habis pikir denganmu lagi! Bagaimana bisa kamu tidak percaya pada Istrimu sendiri?!” geram ayahnya.


“Puas kamu, Vino. Semua orang menyalahkanku, ini yang kamu mau bukan? Kalian telah membela orang yang salah!”


Dika sangat kesal, bukannya masuk ke dalam rumah. Dirinya malah memutar tubuhnya untuk kembali keluar rumah.


Vino hendak mengejarnya, agar tak keluar dari rumah tersebut.

__ADS_1


Namun, di tahan oleh Rival agar tak perlu mengejarnya dan membiarkan Dika berpikir sejenak.


“Biarkan saja dia, beri dia waktu.”


Vino mengangguk, ia menatap Dea dengan tatapan prihatin. Ia baru mengerti, kenapa Dea menolaknya tadi siang. Semua permasalahan ini muncul karena dirinya, Vino berjanji akan mengembalikan kebahagiaan Dea kembali dan dirinya akan pergi.


Rival mengajak Dea untuk duduk dan meminta penjelasan Vino dan Dea atas foto tersebut.


“Vino, apa benar itu foto kalian?” tanya Rival memperlihatkan foto tersebut.


“Iya, itu memang benar foto kami. Tapi, foto itu sudah sangat lama, foto ini saat kami masih berstatus Suami dan Istri. Aku juga tidak tahu kenapa foto ini bisa ada di Dika, padahal semua foto yang berhubungan Dea sudah di hapus,” sahut Vino.


Vino mencurigai jika Pamannya yang membuat ulah kembali, hingga terjadi pertengkaran di antara mereka bertiga.


Rival dan ayahnya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap putranya yang tak mencari tahu tentang kebenaran foto tersebut.


“Dea, sekarang kamu istirahat di kamar. Biar ini yang menjadi urusanku,” ujarnya pada Dea.


Dea tampak tak bergeming dari tempat duduknya, sibuk dengan isi kepalanya.


“Dea,” panggil ibu mertuanya sembari menggoyangkan bahunya.


Dea langsung tersadar.


“Ayo kita ke kamar, jangan pikirkan suamimu yang tidak tahu diri itu!” ucap ibu mertuanya yang ikut kesal dengan putranya itu.


Dea mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya bersama ibu mertuanya.


Sementara Rival, Vino dan juga Ayahnya tengah mengatur rencana agar hubungan Dea kembali lagi membaik.


“Tuan, aku akan menjelaskannya pada Dika. Aku merasa sangat bersalah, aku berani bersumpah, bukan aku yang mengirim foto itu.”


Rival semula curiga dengan Vino, setelah mendengar penjelasannya ia percaya jika Vino sudah berubah lebih baik.


“Sepertinya, kita harus memberi pelajaran pada anak itu! Ayah sangat geram melihat perbuatannya tadi!” geram ayahnya.


“Aku setuju dengan Ayah, jika Dika tak di beri pelajaran pasti akan terulang kembali lagi!” usul Rival, ia sangat setuju dengan ucapan ayahnya.”


“Tuan, aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku. Aku ingin mereka kembali seperti dulu lagi, izinkan aku akan memperbaiki semuanya. Jangan memperkeruh keadaan, kasihan Clara yang menjadi korban keegoisan orang tuanya.”


“Tidak, aku hanya memberinya pelajaran agar dia bisa menghormati wanita lagi!” seru Rival tak setuju dengan ucapan Vino.


Ayahnya terkejut mendengar ucapan putranya, karena secepat itu Rival berubah. Di bandingkan dengan yang dulu, sama sekali tak menghargai wanita.


Ayahnya tersenyum, lalu menepuk bahu putranya tanda ia setuju.


Setelah itu, Rival meminta Vino untuk kembali pulang. Karena jika Vino masih berada di rumah tersebut akan menambah kemarahan Dika.


Vino berpamitan untuk pulang, bahkan menyetirpun Vino tak terlalu fokus. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Dea saat ini pasca kejadian tadi dan juga putrinya Clara.


Ia sangat menyesali perbuatannya dulu, andai saja waktu bisa di putar kembali, Vino tak mungkin menyakiti Dea apalagi mengetahui saat itu ternyata Dea sedang mengandung.


Di perjalanan, Vino tak sengaja melihat mobil milik Dika tengah terparkir di bahu jalan yang mengarahkan ke laut.


Vino berpikir jika Dika akan menenggelamkan dirinya ke laut tersebut, hingga dirinya terburu-buru memarkirkan kendaraannya.


Namun, ternyata dirinya salah. Ia melihat Dika hanya duduk di tepi pantai bahkan ada warung penjual kopi disana.


Vino mengela napas lega, lalu perlahan melangkah menemui Dika yang sedang melamun.


“Dika,” panggilnya pelan.


Dika mendengar suara yang tidak asing di telinganya dan benar saja Vino tengah berdiri di belakangnya.


Dika berdecap kesal, lalu beranjak dari tempat duduknya.


“Dika, dengarkan penjelasanku sekali saja. Setelah itu kamu boleh membunuhku, aku siap dengan itu. Tapi, dengarkan aku sekali ini saja.” Dengan wajah yang memelas.


Terdengar helaan napas berat dari Dika, lalu kembali duduk.


“Aku tak punya waktu banyak! Aku juga tak butuh penjelasanmu, kalian itu sama saja!” ketusnya.


Namun, Vino tak peduli dengan perkataan Dika, yang ia inginkan saat ini adalah Dika dan istrinya kembali membaik seperti sebelumnya.


Kecemburuan Dika muncul karena dirinya juga, Vino sadar akan hal itu.


“Dika, terserah padamu percaya atau tidak. Yang jelas, foto yang kamu lihat itu memang benar foto kami. Tapi, foto itu saat kami masih berstatus suami dan Istri.”


“Aku bahkan sudah tidak mempunyai foto itu lagi, entah siapa yang berniat jahat dan mengirim foto itu padamu, tujuannya untuk menghancurkan rumah tangga kalian,” tambahnya lagi.


Dika hanya diam, tak menyela ucapan Vino sama sekali.


“Aku kecewa padamu, bagaimana bisa kamu tak mengenali tubuh Istrimu sendiri! Coba kamu bandingkan foto dengan Istrimu, di foto tersebut Dea terlihat kurus.” Vino tertawa kecil, sedikit mengejek Dika karena tak mengenali istrinya sendiri.


“Dika, aku sangat berterima kasih padamu karena telah merawat putriku. Aku tidak akan datang lagi, jika ternyata kedatanganku menjadi masalah terbesar bagi kalian. Tolong jaga putriku untukku,” ucapnya lagi.


Setelah mengatakan itu, Vino langsung pergi meninggalkan Dika yang masih mematung di tempatnya.


Dika tampak menghela napas berat, dadanya terasa sesak. Apalagi setelah mendengar penjelasan Vino, membuatnya berpikir jika ucapan Vino memang benar adanya.


***

__ADS_1


__ADS_2