Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 46


__ADS_3

Sangat berbeda dari biasanya, raut wajah Rival terlihat begitu senang, entah apa yang membuatnya sebahagia itu.


“Rival, kamu sudah datang?” sapa ayahnya tengah duduk bersama rekan kerjanya dulu, saat ini mereka sudah sama-sama pensiun menikmati masa hari tua mereka saja.


“Iya, Ayah.”


Rival duduk di samping ayahnya, tak sengaja dirinya menatap wanita cantik yang duduk di samping pria yang sebaya dengan ayahnya tersebut.


Rival hanya tersenyum menyapanya, akan tetapi ia tak merasakan getar di hatinya, sangat berbeda jika dirinya melihat Dela.


“Rival, ini Om Darwin dan putrinya Sania.”


Rival mengulurkan tangannya pada Darwin, lalu bergantian dengan Sania.


“Rival, ajaklah Sania berjalan-jalan di sekitar rumah kita. Agar tak sulit baginya ketika kalian sudah menikah nanti,” ucap ayahnya.


Sania hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya, karena memang dari awal dirinya tak setuju di jodohkan.


Berbeda dengan Rival, dirinya menanggapinya dengan santai.


“Ayo,” ajaknya mengulurkan tangannya pada Sania.


Di luar dugaan, Sania menolak uluran tangan Rival.


Rival menatap tangannya yang masih mematung tersebut, dengan tersenyum kecut.


Setelah itu, Rival mengajak Sania ke halaman belakang. Tak ada percakapan di antara mereka sepanjang jalanan, Rival menatap Sania yang tersenyum menatap bunga yang ada di hadapannya.


“Kamu suka bunga?” tanya Rival membuka obrolan.


Sania tak menjawab, dirinya hanya memberi anggukan saja.


Rival mengangguk mengerti, hening kembali beberapa menit.


“Apakah kamu menerima perjodohan ini?” tanya Sania masih fokus dengan bunga yang ada di hadapannya.


“Aku tak bisa menolak Ayahku,” sahutnya.


Walaupun sebenarnya Rival juga tak ingin perjodohan ini, tapi mau bagaimana lagi dirinya sudah berjanji pada ayahnya dan setuju untuk menikah.


“Heum ... bagaimana jika Ayahmu memintamu untuk mengakhiri hidupmu, apa kamu juga menurutinya?!” tanya Sania terlihat sedikit kesal.


“Tergantung,” sahut Rival singkat.


Sania tersenyum kecut mendengar jawaban dari Rival, bahkan tak suka dengan cara berpikir Rival yang menurutnya tak punya pendirian.


“Bagaimana bisa pria ini menjadi akan menjadi Suamiku? Cara berpikirnya saja dangkal!” gerutu Sania dalam hati.


Melirik sekilas Rival yang terlihat membuka layar ponselnya.


“Bagaimana denganmu? Apa kamu juga menerima perjodohan ini?” tanya Rival balik.

__ADS_1


Sania tersenyum.


“Sebenarnya aku sejak awal menolak perjodohan ini, tapi sepertinya aku akan bersikeras menolak untuk menikah! Apalagi menikah denganmu!”


“Kenapa?” tanya rival penasaran, kenapa Sania seperti tak ingin menikah dengannya.


“Cara berpikir kita seperti sangat berbeda, mungkin itu salah satunya. Aku tak ingin menyebutkan yang lainnya,” sahut Sania tanpa melihat Rival.


Rival menatap Sania sejenak, lalu tersenyum mendengarnya.


“Wanita ini terlihat keras kepala!” gerutu Rival dalam hati.


Karena merasa tak ada lagi yang harus di bicarakan, Rival mengajak Sania untuk kembali ke ruang tamu.


Kedua ayah mereka tersenyum, melihat mereka terlihat serasi apalagi melangkah bersama.


“Lihat, mereka sangat serasi. Aku sangat berharap, Sania menyetujui pernikahan ini.”


Ayah Rival tampak mengangguk, setuju dengan apa yang di katakan oleh temannya tersebut.


“Rival, bagaimana? Ayah perhatian kalian begitu sangat serasi,” goda ayahnya.


Rival hanya tersenyum menanggapinya, karena tak mungkin ingin berbicara di depan ayah Sania.


Cukup lama mereka berbincang tentang bisnis, Sania tampak sangat bosan mendengar perkataan Rival yang menurutnya terlalu percaya diri.


Tanpa Sania ketahui, jika sebenarnya Rival memang ahli dalam berbisnis.


“Baiklah, sepertinya perbincangan kita sampai disini saja. Kami menunggu kedatangan kalian ke rumah kami,” ujar ayah Sania.


“Iya, kami akan segera memberitahu,” sahut ayah Rival membalas uluran tangan ayah Sania.


Setelah melihat kepergian, Rival yang hendak beranjak dari duduknya di tahan oleh ayahnya. Karena penasaran, apa saja yang Rival dan Sania bicarakan.


Ayahnya begitu sangat antusias dengan perjodohan ini, karena sejak awal dirinya ingin melihat putra sulungnya untuk menikah.


“Entahlah, Ayah. Sepertinya Sania menolak, wanita itu juga terlihat sangat keras kepala!” sahut Rival terlihat berulang kali menghela napas.


“Dengan alasan apa Sania menolakmu?” tanyanya.


Rival mulai menceritakan apa yang di katakan oleh Sania di halaman belakang, membuat ayahnya menggelengkan kepalanya.


“Sekarang kembali kepadamu, apa kamu tetap setuju untuk menikah dengan Sania? Ayah juga jadi ragu saat melihat sikap Sania tadi,” tuturnya.


“Jika menurut Ayah ini yang terbaik untukku, aku akan mengikuti apa yang Ayah katakan. Karena aku ingin melihat Ayah bahagia,” sahut Rival.


Ayahnya tersenyum.


“Kamu yang menjalaninya, Ayah akan bahagia jika kamu juga bahagia dengan pernikahan ini.”


Rival terdiam, ia bingung bagaimana cara ia mengatakan pada ayahnya jika sebenarnya dirinya juga menikah perjodohan ini sama seperti Sania.

__ADS_1


“Aku akan pikirkan nanti, Ayah. Sekarang, aku harus kembali ke kantor,” ujar Rival berpamitan.


Sang ayah mengangguk, membiarkan putranya untuk berpikir tanpa harus terburu-buru.


***


Di rumah Dika.


Pagi ini, Dea tetap turun untuk menyiapkan sarapan untuk suami dan putrinya, Clara.


Mata Dea terlihat masih sembab akibat menangis semalam, bahkan Dea sudah berusaha menyembunyikan dengan memakai makeup tipis. Akan tetapi, matanya terlihat masih sembab.


Dika baru keluar dari kamar, ternyata semalaman Dika tak tidur di kamar mereka melainkan tidur di kamar tamu.


Tidak ada percakapan di antara mereka walaupun satu meja dan duduk berhadapan, Dea tetap melayani suaminya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Karena dirinya sangat kecewa mendengar ucapan suaminya yang mengatakan jika dirinya tidur bersama mantan suaminya.


“Papa,” panggil Clara yang baru datang dengan pakaian seragam sekolahnya.


Dika memperlihatkan senyumnya pada putrinya tersebut.


“Tuan, ada Tuan Vino di luar,” ujar salah satu pekerja rumahnya menghampiri mereka.


Seketika mulut Dika yang berhenti mengunyah roti yang sudah masuk ke dalam mulutnya, sejenak ia menatap Dea dengan tatapan yang tak biasa.


Mendengar Vino datang, Clara langsung setengah berlari menghampiri ayahnya tersebut.


“Astaga, kenapa Vino pagi sekali datang? Huft ... aku lupa, jika Vino semalam sudah mengirimku pesan!” keluh Dea dalam hati, apalagi raut wajah suaminya langsung berubah saat mendengar nama Vino.


Dika terlihat murka mendengar nama Vino, apalagi sepagi ini dia datang ke rumahnya.


Dika meletakkan sendok dan pisau roti dengan kasar di meja, lalu beranjak meninggalkan meja makan tanpa menghiraukan istrinya.


“Mama, ada Ayah datang.” Clara menarik paksa tangan Vino unik sarapan bersama mereka.


Dea memperlihatkan senyum paksanya.


“Dimana Papa?” tanya Clara melihat papanya tak ada di tempat duduknya.


“Papa ada pekerjaan penting,” sahutnya.


Vino menyapa curiga pada Dea, apalagi Dea terlihat tak bersemangat. Ia juga melihat sarapan Dika yang terlihat masih utuh, hanya sedikit saja yang tersentuh.


“Ada apa Dea? Apa terjadi sesuatu dengan kalian?” tanya Vino menatap curiga pada Dea yang tengah duduk.


Dea menggelengkan kepalanya.


Vino juga tak bisa memaksa Dea untuk berbicara, karena dirinya juga sudah tak berhak atas Dea lagi.


Selesai sarapan, Dea mengantar putrinya ke teras karena hendak berangkat sekolah bersama Vino.

__ADS_1


Namun, semua itu tak luput dari pantauan Dika yang terlihat sangat murka dengan kedatangan Vino.


***


__ADS_2