
Di rumah kebesaran Alex.
Ia tertawa lepas setelah mendengar kepergian Dea dari rumah tersebut, bahkan ia mendapatkan kabar jika Vino juga sudah menceraikan istrinya.
“Hahaha ... ini kabar sangat luar biasa. Kabar yang sangat bahagia, huh ... Vino, Vino. Kau pria yang sangat bodoh!” tawanya memenuhi kamar miliknya.
“Cari Dea sampai dapat! Bawa dia ke hadapanku!” perintahnya pada anak buahnya.
Masih dengan senyum yang belum sirna dari bibirnya, ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari Dea agar bisa kembali ke dalam pelukannya lagi.
“Dea, Dea. Sekarang kamu tidak bisa lagi lari dariku, dulu kamu masih di lindungi oleh Suamimu. Tapi sekarang, bahkan Vino sudah menceraikanmu, hahaha ... Kamu memang yang terbaik Diana,” pujinya terhadap Diana.
“Kau, terus saja pantau rumah Vino. Aku ingin tahu, bagaimana dengan Diana disana? Apakah Vino akan menikahinya?” tanyanya terlihat kesal, karena Vino mengambil mainannya.
“Iya, Tuan. Diana masih berada di rumah Tuan Vino, mereka masih memantau dari kejauhan. Tapi, apa Tuan tahu, jika Diana dan Vino kemarin memesan hotel untuk mereka berdua?”
Alex tampak mengernyit heran.
“Hotel? Kenapa kalian tak memberitahuku?” protesnya.
“Kami kehilangan jejak, karena saat itu ternyata Dea juga sedang mengikuti Diana. Kami menjaga jarak agar tak di ketahui, akan tetapi justru kami malah kehilangan jejak mereka dan hotel mana mereka pesan kami kurang tahu.”
Alex tampak mengepal tangannya dengan kuat, ia terlihat murka mendengar kabar tersebut.
“Apa Diana sudah jatuh cinta pada Vino? Kenapa dia mau melakukan itu dengan Vino? Dasar wanita murahan!” sentaknya sembari menggenggam gelas dengan erat, hingga gelas tersebut pecah.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya pada Diana, jika dirinya tak boleh melakukannya pada Vino?!”
“Kami tidak tahu Tuan,” sahut anak buahnya.
Rupanya sebelum Vino mengambil Diana dari rumah besar Alex dan membebaskannya, Alex sudah mengetahui rencana Vino.
Vino ternyata tak cukup pandai dalam merencanakan sesuatu yang jahat, hingga rencananya di ketahui oleh Alex.
Sebelum Vino datang, Diana sudah di ancam oleh Alex untuk mengikutinya. Alex meminta Diana untuk menghancurkan pernikahan Vino dan Dea dengan imbalan semua biaya rumah sakit adiknya di biayai hingga sembuh dan di bawa ke luar negeri untuk berobat.
Saat mengetahui rencana Diana berhasil, Alex meminta anak buahnya untuk membawa adik Diana untuk berobat ke luar negeri dan menepati janjinya saat itu juga jika Dea sudah keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1
Namun, siapa sangka setelah beberapa bulan tinggal di rumah Vino, malah membuatnya nyaman dan jatuh cinta dengan ketampanan Vino.
Apalagi melihat Vino yang begitu perkasa menggagahi Dea istrinya, selain menghancurkan rumah tangga Dea, Diana juga berniat ingin memiliki Vino seutuhnya.
Tanpa sepengetahuan Alex dan anak buahnya, ia sampai rela memberikan kenikmatan pada Vino agar bisa memilikinya. Padahal sebelumnya, Diana sudah di ancam oleh Alex agar tak melakukan hubungan lebih pada Vino jika adiknya ingin selamat.
Diana tak menghiraukan ancaman Alex, hingga dirinya mengambil langkah besar yaitu ingin memiliki Vino.
“Bawa Diana kembali kemari!” perintahnya.
Ia mengambil sebatang rokok lalu menghidupkannya, ia tak tahan mendengar informasi tersebut. Apalagi tak ingin mainannya di sentuh oleh siapapun termasuk Vino, ia bahkan menahan diri agar tak bercinta dengan Diana selama beberapa bulan selama dia malah berada di rumah Vino.
Ia hanya menatap dari kejauhan saja, akan tetapi tak mengetahui perbuatan Diana disana.
Alex meminum obat kuat agar bisa bercinta lebih lama dengan Diana, selain murka dengan Diana ia juga sudah tak tahan lagi menahan hasratnya.
“Beraninya kau Diana! Apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Bagaimana bisa kau tidur dengan pria itu? Aku sudah membayar biaya adikmu dengan mahal, jadi kamu harus membayarnya dengan mahal juga!” sembari merasakan efek obat yang ia minum, bahkan sudah tak sabar menunggu kedatangan Diana lagi.
Selama tiga jam lamanya menunggu, Diana akhirnya tiba dengan di paksa oleh anak buahnya dan membawanya langsung ke kamar.
Ia berpikir jika dirinya lah satu-sayunya Nyonya di rumah tersebut, walaupun Vino belum resmi menikahinya. Tanpa ia sadari jika dirinya tengah di pantau oleh anak buah Alex, di saat penjaga lengah mereka langsung menggendong Diana dan masuk ke dalam mobil.
“Lepaskan aku!” teriak Diana dengan memberontak.
Ia langsung terdiam saat melihat Alex menyeringai jahat padanya.
“Hallo, wanitaku ... sudah cukup bermain-mainnya! Bagaimana dengan tugasmu?” tanya Alex duduk di kasur bersandar di bahu ranjang dengan kedua tangan menjadi bantalan.
Saat ini dirinya hanya memakai celana boxer saja, Diana menatap sesuatu yang sudah siap untuk tempat.
Diana menelan salivanya dengan kasar, kali ini dirinya tidak akan selamat pikirnya.
“Tu-tuan a—aku ....” Diana gampang terbata.
“Kemari,” ujar Alex mengulurkan tangannya namun masih belum berpindah pada tempatnya.
Diana belum beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
“Kemari! Apa kau sudah tuli!” sentaknya, membuat nyali Diana menciut.
Perlahan Diana beranjak, lalu duduk di tepi kasur.
“Dimana saja Vino sudah menyentuhmu? Hah ... apa kamu sudah lupa dengan perjanjian kita sebelum Vino menjemputmu? Atau jangan-jangan kamu ---.” Menggantungkan ucapannya.
“Disini apa disini ?” tanya Alex menunjuk semua bagian tubuh Diana.
“Apa kau ingin adikmu mati?! Hah! Jawab!” sentaknya membayar Diana menutup kedua matanya.
“Kau dengar baik-baik, aku sudah membayar biaya adikmu dengan sangat mahal! Itu berarti aku sudah membayar dirimu sangat mahal juga, itu berarti kau masih milikku. Bukankah kau tahu, jika barang milikku tidak boleh di sentuh oleh orang lain!” bisiknya dengan penuh penekanan.
Dengan tangan cepat, Alex menarik baju Diana hingga baju tersebut robek. Bahkan benda kenyal tersebut menyembul keluar, membaut Alex menelan salivanya.
Namun, netranya malah tertuju pada tanda merah di bagian benda kenyal tersebut, membuatnya semakin murka.
Ia menarik rambut Diana, hingga Diana tersungkur ke atas kasur.
“Layani aku seperti kau melayani Vino! Puaskan aku!” serunya kembali merobek habis pakaian Diana.
“Kenapa diam? Apa kau ingin adikmu mati?!” sentaknya.
Dengan cekat Diana menggelengkan kepalanya, lalu melepaskan semua pakaian yang ia kenakan.
Tanpa menunggu lagi, Diana melakukan apa yang seharusnya ia lakukan seperti sebelumnya walaupun dalam keadaan terpaksa.
Karena Alex sebelumnya meminum pil perkasa, hingga membuat Diana kewalahan melayaninya. Akan tetapi ia tetap memaksanya, walaupun dirinya sudah tak sanggup lagi.
Alex kembali merobek celana Diana, sehingga kini Diana tak memakai sehelai benang pun. Begitpun dengan Alex yang sudah tak bisa menahan diri lagi, apalagi ia melihat begitu banyak tanda merah di bagian dada dan punggung Diana.
Ia bertambah murka, sehingga dirinya bermain kasar tanpa memikirkan Diana yang begitu kesakitan.
Tak lupa, Alex memotret kegiatan Diana diatas tubuhnya dengan wajah yang begitu menikmati.
Alex menyeringai licik, lalu kembali melanjutkan aksinya hingga tiga jam lamanya.
***
__ADS_1