Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 45


__ADS_3

Dea dan Vino mengajak putri mereka untuk bermain, itu bukan kemampuan Dea atau pun Vino, melainkan kemauan Clara sendiri karena merengek meminta pada orang tuanya untuk bermain.


Dengan terpaksa Dea menurutinya, karena tak ingin putrinya sedih.


Dan seperti biasa, Dea dan putrinya pulang sore hari karena tanpa melihat waktu untuk bermain, bahkan Dea lupa meminta izin pada suaminya.


Perasaan yang mulai tidak enak saat melihat mobil suaminya yang pulang lebih awal lagi sejak kemarin, jantung Dea berdegup kencang. Apakah suaminya akan memarahinya, karena untuk kali ini dirinya tak meminta izin ke mall karena niatnya ingin membeli kado untuk ulang tahun suaminya.


Akan tetapi, dirinya tak sengaja bertemu Vino disana dan sama seperti kemarin mereka berdua menemani putri mereka untuk bermain.


“Apa Tuan Dika ada di dalam?” tanya Dea pada penjaga rumahnya.


Panjang tersebut mengangguk, ia mengatakan bahwa Dika sudah pulang sejak satu jam yang lalu.


Namun, Dika juga tak menghubunginya sejak pagi tadi.


Tanpa menunggu lagi, Dea menggandeng tangan Clara untuk masuk ke dalam rumah.


Clara berlari kecil melihat Dika yang tengah duduk sembari memangku laptop miliknya.


“Papa,” panggil Clara langsung memeluk Dika.


Dika tak memperlihatkan wajahnya jika dirinya saat ini marah, apalagi di depan putrinya.


“Hai, anak Papa baru pulang sekolah? Bukankah sudah sore, jalan kemana saja?” tanya Dika lembut sembari memangku putrinya.


Dea tersenyum melihat keakraban mereka, Dea bersyukur mempunyai suami seperti Dika yang mau menerima Clara.


“Clara jalan-jalan sama Mama dan juga Ayah Vino,” sahutnya dengan polos.


Dika melirik tajam Dea sejenak.


Melihat lirikan suaminya, membuat Dea menelan saliva dengan kasar.


“Oh, ya. Wah, sepertinya kalian sedang bersenang-senang dan melupakan Papa.” Memperlihatkan wajah sedihnya yang buat-buatnya.


Clara langsung memeluk papanya dengan lembut.

__ADS_1


“Papa kerja, Clara juga ingin bermain bersama Papa.”


“Papa hanya bercanda, bersenang-senanglah. Papa tidak bisa menemanimu bermain, ada Mama dan juga Ayah Vino yang menemani Clara. Sepertinya kalian tak butuh Papa, Clara sangat bahagia tadi.” Dika sengaja berbicara seperti itu, Dea tampak tak enak hati mendengar ucapan suaminya barusan.


“Clara, ganti pakaiannya Sayang. Ayo ke kamar,” ucapnya tanpa melihat ke arah suaminya.


Clara mengangguk, sebelum ia beranjak Clara memberi kecupan di pipi Dika.


Dika menatap punggung istrinya yang lebih dulu pergi.


Malam hari.


Hingga hampir tengah malam, Dika belum juga masuk kamar membuat Dea semakin gusar. Karena Dika terus menerus bekerja tanpa henti, tak memikirkan kesehatannya. Apalagi Dika seperti memulai perang dingin pada dirinya, karena sejak kemarin Dika sekaan enggan untuk berbicara dengannya.


Dea berpikir sejenak, ia berniat membuatkan teh hijau kesukaan suaminya.


Dea segera keluar kamar menuju dapur, akan tetapi terlihat Dika yang seperti sedang mengaduk sesuatu di meja dapur.


“Apa kamu butuh sesuatu?” tanyanya hendak mengambil alih apa yang di lakukan oleh suaminya.


“Tidak perlu. Sepertinya, mulai sekarang aku harus terbiasa sendiri!” ketusnya.


“Sayang, kenapa berbicara seperti itu?” tanya Dea menatap suaminya yang masih setia mengaduk air di dalam gelas.


“Apa salahku? Kenapa sejak kemarin kamu mendiamkanku?” tambah Dea lagi, karena ia tak sanggup jika di diamkan oleh suaminya apalagi selama dua hari lamanya.


“Kamu masih belum menyadari kesalahanmu? Jika kamu sudah menyadarinya, baru menemuiku!” tega Dika.


Sebenarnya, Dika juga tak sanggup jika harus mendiamkan istrinya sepertinya. Akan tetapi, Ega dan rasa cemburu yang sedang mengusai dirinya saat ini.


“Aku sudah katakan padamu kemarin, bukan. Aku memang jalan-jalan bersama Vino, aku juga sudah meminta izin padamu. Maafkan aku jika itu memang alasan kamu marah padaku,” ujar Dea melihat punggung suaminya yang hendak pergi meninggalkan dirinya.


“Oh, ya. Oke kemarin memang kamu sudah meminta izin padaku, walaupun aku tak tahu itu benar atau tidak. Karena ponselku hilang, lalu bagaimana dengan hari ini? Apa kamu juga sudah meminta izin padaku?!” tanyanya.


Dea langsung terdiam, karena memang benar adanya ia hari ini ke mall. Itupun tidak sengaja bertemu dengan Vino.


“Kenapa diam? Aku benarkan? Bersenang-senanglah, tak perlu memikirkan perasaan suamimu ini!” ketusnya.

__ADS_1


“Iya, aku salah. Aku minta maaf, aku tak sengaja bertemu dengannya. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada Clara ....”


“Dengan makan siang bersama disana, apa itu juga tak sengaja? Oh ya, aku lupa. Jika Vino adalah Ayah kandung Clara, sehingga kamu tidak bisa menolaknya. Apa pantas, wanita yang sudah bersuami jalan-jalan bersama dengan mantan suaminya?! Makan bersama, bermain bersama dan bahkan satu mobil yang sama! Apa kalian juga sudah tidur bersama?!” seru Dika, karena sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya lagi.


Plak!


Entah dapat keberanian dari mana, Dea menampar suaminya. Karena perkataan Dika begitu menyakitkan, hingga menusuk ke hatinya.


“Cukup! aku memang pernah di jual oleh Ayahku, tapi bukan berarti aku wanita hina yang tidur dengan pria seenaknya! Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu pikirkan!” balas Dea dengan mata yang memerah.


Harinya begitu sakit, setelah mendengar perkataan suaminya sendiri.


Dika terdiam, dirinya juga merasa sangat bersalah karena telah mengatakan itu pada istrinya. Padahal dirinya sangat tahu, tentang istrinya. Bahkan Dika mengutuk dirinya sendiri, kenapa dirinya bisa berkata seperti itu.


Dika menatap punggung istrinya yang pergi meninggalkannya untuk masuk ke kamar, Dika hanya bisa menghela napas kasar.


“Astaga! Kenapa dengan diriku?! Sialan, kenapa mulutku bisa berbicara seperti itu?!” keluhnya pada dirinya sendiri.


Dika tak berniat untuk mengejar istrinya, ia ingin Dea dan dirinya bisa menenangkan dirinya agar pertengkaran mereka tak berlanjut.


Dika masuk ke ruangannya, sebelumnya ingin mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi, semua itu terbengkalai karena pertengkaran mereka tadi.


Dika menghabiskan beberapa batang rokok, sembari menyeruput teh hijaunya di temani dinginnya angin malam di balkon.


Sedangkan Dea, ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sembab.


Setelah pertengkaran dengan suaminya, Dea langsung masuk ke kamar dan menangis di kamar mandi. Dea tak kuasa lagi menahan tangis, karena perkataan suaminya yang begitu menyakitkan.


Ting ....


Suara pesan masuk, ia mengambil ponselnya berharap pesan dari suaminya meminta maaf padanya atas perkataannya tadi.


Akan tetapi, harapan itu langsung sirna ketika melihat bukan pesan dari suaminya. Melainkan pesan dari Vino, jika dirinya meminta izin pada Dea menjemput Clara besok pagi, karena dirinya ingin mengantar Clara sekolah.


Dea membiarkan orang tersebut tanpa ingin membalasnya, Dea masuk ke dalam selimut tebal mulai merebahkan tubuhnya.


Berharap besok pagi semuanya baik-baik saja seperti semula, tanpa ada pertengkaran lagi dengan suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2