Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 08


__ADS_3

Di dalam mobil, Dea tampak diam. Dengan tatapan kosong menatap ke arah depan, hingga mereka tiba di depan rumah kontrakan pengamen tersebut.


“Nona, ayo turun,” ajak pengamen tersebut karena Dea sejak tadi tak bergeming.


Seketika Dea langsung tersadar, ia baru menyadari jika taksi yang mereka tumpangi sudah berhenti.


“Hah, kita dimana?” tanya Dea melihat sekelilingnya tampak asing.


“Kita akan turun disini,” sahutnya membuka pintu mobil.


Dea tampak ragu untuk turun, karena dirinya juga baru mengenali pria tersebut.


“Kenapa? Kau tak perlu khawatir, aku bukan orang jahat. Besok pagi kau boleh pergi, karena hari sudah larut. Tidak baik bagi wanita keluyuran malam-malam,” ucapnya.


Dea berpikir sejenak, lalu mengangguk dan ikut keluar dari taksi dan mengikuti langkah pengamen tersebut.


Mereka masuk ke salah satu rumah yang sangat kecil, bahkan hanya ada satu kasur di dalam rumah tersebut.


“Maaf sedikit berantakan.” Sembari mengambil pakaiannya yang terlihat berantakan.


Dea hanya mengangguk.


“Bersihkan dirimu dan pakailah pakaianku, tenang saja. Ini pakaian baru, di berikan oleh salah satu temanku.” Sembari menyerahkan pakaian yang masih terbungkus dengan plastik.


Dea perlahan mengambil pakaian tersebut dari tangannya pengamen tersebut.


Saat hendak melangkah ke kamar mandi, Dea menghentikan langkahnya.


Dea menatap pria tersebut, lalu mengulurkan tangannya.


“Namaku, Dea. Panggil aku Dea saja, jangan pakai Nona. Karena sepertinya kita seumuran.”


Pria tersebut membalas uluran tangan Dea sembari tersenyum lepas.


“Panggil aku Dika juga,” sahutnya.


Setelah saling berkenalan, mereka melepaskan ukuran tangan masing-masing.


Dea kembali berpamitan untuk ke kamar mandi, sedang Dika keluar dari rumah tersebut membawa pakaian ganti miliknya. Ia berniat akan mandi di kamar mandi umum, karena dirinya juga merasa sangat gerah.


Dika lebih dulu menyelesaikan mandinya, sembari menunggu Dea selesai mandi Dika memasak makanan instan yang tersedia di meja dapur miliknya.


“Lama sekali dia mandi,” gumam Dika, karena Dea tak kunjung keluar dari kamar mandi padahal dirinya sudah menyelesaikan masakannya.


Ceklek ...


Pintu kamar mandi terbuka, pakaian yang Dika berikan sangat pas di tubuh Dea.


“Makanlah,” ajak Dika menyiapkan dua piring untuk mereka berdua.


“Mm ... Dika. Aku merepotkanmu ya,” ucapnya merasa tidak enak dengan Dika.


Sebab mereka baru saja bertemu, namun harus tinggal satu rumah.


“Tidak sama sekali. Ayo makanlah, aku sangat lapar sekali,” ucapnya.


Dea kembali mengangguk, kini mereka duduk di lantai.


“Apa rencanamu? Besok aku akan mengantarkanmu kepada keluargamu, disini banyak preman sangat bahaya, apalagi berjalan sendirian.”


Dea menghentikan aktivitas makannya, lalu menggelengkan kepala dengan kuat.


“Kenapa?” tanya Dika heran melihat Dea menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku sudah tak punya keluarga, Ibuku sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.”


“Lalu Ayahmu? Maaf aku banyak bertanya.”


Dea hanya tersenyum kecut, dirinya juga tak ingin menceritakan bagaimana kekejian ayahnya yang menjual dirinya dengan pria kaya raya.


Selesai makan, Dika membiarkan Dea tidur di tempat tidurnya. Sementara dirinya menginap di pos ronda, karena sebelumnya juga ia biasa tidur bersama mereka yang jaga malam di daerah tersebut.


Dika di kenal sangat baik di daerah tersebut, walaupun pekerjaannya hanya seorang pengamen.


Keesokan paginya, Dea mengerjapkan kedua matanya karena silau cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela tersebut.


Ia langsung duduk sembari mengusap beberapa kali, tubuhnya terasa sangat sakit akibat pukulan Alex kemarin.


Perlahan Dea beranjak untuk ke kamar mandi, setelah itu memasak apa yang tersedia di dapur.


Dapur yang sederhana dengan peralatan seadanya, Dea dengan lihai memasakan untuk mereka berdua.


Setelah selesai, Dea membuka pintu rumah bersamaan dengan Dika yang baru saja ingin mengetuk pintu.


Mereka saling menatap satu sama lain, karena sama-sama terkejut.


Dea terlihat begitu kagum dengan ketampanan Dika, sangat berbeda dengan yang kemarin tampak lusuh dan kotor.


“Dea, kau sudah bangun?” panggil Dika yang melihat Dea mematung menatapnya.


“Hah ... oh iya.” Dea tampak gugup.


Dea membiarkan Dika untuk masuk, ia mencium aroma makanan yang sudah matang.


“Dea, kau memasak?” tanya Dika berbaik badan.


Dea mengangguk sembari tersenyum.


“Seharusnya kau tak perlu repot-repot, pasti kamu sangat lelah. Oh iya, aku membelikanmu obat untukmu semalam, aku belum sempat memberikannya.” Memberikan salep tersebut.


“Terima kasih, aku yang sudah merepotkanmu. Aku akan mencari pekerjaan hari ini,” ucapnya.


“Pekerjaan? Dengan keadaanmu seperti ini, apa bisa kau bekerja? Sebaiknya istirahat saja di rumahku dan setelah pulih kau boleh pergi. Aku juga jarang berada di rumah,” usul Dika.


“Tapi ....”


“Aku tidak merasa kerepotan, anggap saja seperti rumah sendiri. Aku harus pergi bekerja,” sela Dika, karena sudah membaca pikiran Dea.


“Sepagi ini, kau menyanyi di jalanan?” tanya Dea.


“Tidak. Pagi hari aku bekerja menjadi kuli, memindahkan barang dari kapal ke truk. Jika tidak ada pekerjaan, aku baru mengamen.”


Dea mengangguk mengerti.


Dea ingin bertanya lagi kemana keluarga Dika, tapi menurutnya itu terlalu lancang hingga mengurungkan niatnya.


***


Di tempat lain, Alex terlihat mendatangi kediaman ayah tiri dari Dea.


“Dimana kau menyembunyikannya? Ingat! Aku sudah memberikan uang padamu, kau sendiri yang memberikan wanita itu padaku!” seru Alex saat melihat ayah tiri Dea tengah duduk di ruang tengah.


Pria paruh baya itu tampak terkejut, karena melihat kedatangan Alex dan mencari keberadaan Dea ke rumah.


“Apa yang di maksud oleh Pak Alex? Aku tidak mengerti,” tanyanya karena dirinya memang tidak mengerti, setahunya Dea tak datang ke rumah.


“Jangan berpura-pura bodoh! Apa kau mempermainkanku?!” sentak Alex.

__ADS_1


“Sungguh, Dea tidak ada di rumah ini bahkan ia tidak pulang.”


Alex tampak mengusap wajahnya dengan kasar.


“Ku beri waktu 2x24 jam, jika kau tidak berhasil membawa Dea kembali. Kau harus mengembalikan uang tersebut dua kali lipat, aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya putrimu itu harus ketemu!” ancam Alex karena sudah sangat geram dengan Dea dan ayahnya.


Ayahnya tampak menelan saliva dengan kasar, ia tak menyangka jika Dea berani melarikan diri lagi. Padahal dirinya sudah mengancam Dea berulang kali agar tidak melarikan diri.


“Kau dengar?!” sentak Alex.


Pria paruh baya itu tampak mengangguk, sembari mengepal tangannya dengan kuat.


Melihat kepergian Alex, ia menendang udara dengan sangat kesal.


“Anak tak tahu di untung! Berani sekali dia melarikan diri, awas saja kau akan memberikannya pelajaran yang setimpal!” geramnya melangkah besar keluar dari rumah tersebut.


Dengan perasaan yang marah, ia mengendarai motor miliknya. Selain itu ia juga bingung harus mencari kemana keberadaan Dea saat ini, di tambah lagi nomor Dea yang tidak bisa di hubungi.


“Ck ... kemana anak itu bersembunyi?!” ia berdecap kesal.


Di tambah lagi, membuatnya semakin bingung karena dirinya harus mengembalikan uang tersebut dalam waktu yang singkat beserta dua kali lipat.


Semua uang yang di berikan Alex padanya hasil menjual anak tirinya sendiri, hanya tinggal sedikit.


“Huftt ... kemana anak itu?!” berulang kali berdecap kesal sembari mengendarai motor miliknya.


Di rumah kebesaran Alex Diana meringkuk merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya, karena pagi ini dirinya mengalami penyiksaan lagi oleh Alex karena sudah membantu Dea untuk melarikan diri dari rumah tersebut. Namun, Dea gagal kabur karena anak buahnya lebih dulu menangkap Dea.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan dari kamar miliknya, ia seakan tak berdaya lagi untuk menyahut.


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita setengah baya masuk ke dalam kamar dengan membawakan obat beserta makanan untuknya.


“Diana, cepat makanlah sebelum Tuan Alex kembali dan cepat minum obatmu.”


“Biarkan saja Bi, jika aku sudah mati aku tak merasakan penderitaan ini lagi. Aku sudah lelah, Bi.” Dengan suara datar dan lemah.


“Kamu bicara apa, Diana? Cepat duduklah,” ucapnya memaksa Diana untuk duduk.


Salah satu anak buah dari Alex juga ikut membantu Diana untuk duduk, karena tak tega melihat keadaan Diana yang penuh dengan luka lebam.


“Diana, jangan membuang kesempatan ini. Cepat makanlah,” ucapnya sembari menyendokkan makanan tersebut ke mulut Diana.


Diana hanya tersenyum kecut.


“Tuan Alex pasti akan sangat senang jika aku mati. Jadi, bicarakan saja aku mati dengan seperti ini.”


“Jangan bodoh! Adikmu membutuhkanmu sekarang,” ujarnya.


Sebenarnya ia juga tak tega melihat Diana yang terus menerus menerima siksaan, akan tetapi ia tak mampu melawan Alex yang terkenal kejam tersebut.


“Adikku, hiks ... hiks ....”seketika ia langsung teringat adiknya yang tengah berjuang di rumah sakit.


“Buka mulutmu, setengah jam lagi Tuan Alex akan datang.” Memaksa Diana untuk membuka mulutnya.


Diana mulai makan makanan tersebut, setelah beberapa suap makan ia langsung menyelesaikan makannya dan segera meminum obat.


“Diana, istirahatlah. Bibi harus keluar dari kamar ini,” ucap wanita paruh baya yang bekerja di tambah tersebut.


Diana mengangguk.


Begitupun dengan anak buah Tuan Alex, ia berpamitan tak lupa menutup dan mengunci pintu kamar tersebut kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


“Sayang, sebentar lagi kita akan bebas. Kakak sangat yakin pada wanita itu, dia pasti akan membebaskan kita dari rumah neraka ini,” gumamnya.


***


__ADS_2