
Jam 11.45, semua orang sudah hadir termasuk rekan kerja Vino pun turut hadir merayakan ulang tahunnya.
Akan tetapi Vino tak kunjung datang, berulang kali Dea menghubungi suaminya sejak dua jam lalu. Entah berapa kali panggilan yang masuk, akan tetapi tak kunjung di angkat.
Ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan suaminya, sebab dua jam yang lalu ia menerima balasan suaminya jika Vino sudah bersiap untuk berangkat.
Namun, sejak pesan itu di kirim hingga sekarang Vino tak kunjung datang.
“Dea, apa Tuan Vino sudah berangkat? Semua tamu yang hadir selalu bertanya keberadaannya,” tanya bibi tak kalah cemas dengan Dea.
“Sudah Bi, lihat ini. Tuan Vino mengatakan jika dia sudah bersiap berangkat, aku takut terjadi sesuatu dengannya Bi.” Mendudukkan bokongnya di sofa sedikit kasar, setelah memperlihatkan pesan Vino pada bibi
Dea memijit pelipisnya yang terasa pusing, tak lama datang salah satu anak buah Vino menghampirinya.
“Nona, apa Tuan Vino belum datang?” tanyanya, ternyata dirinya tidak mengetahuinya.
Dea menggelengkan kepalanya dengan wajah cemas, berulang kali ia menghela napas berat.
“Aku sangat khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Suamiku?”
“Jangan cemas, Nona. Kami akan mencari tahu, tenangkan diri anda Nona.” Karena dirinya juga cemas melihat Dea yang sangat mengkhawatirnya suaminya.
Pria bertubuh kekar yang di tugaskan oleh Vino untuk menjaga istrinya itu, terlihat sibuk menghubungi orang rumah.
Namun, raut wajahnya berubah setelah selesai berbicara di telepon.
“Bagaimana? Dimana suamiku? Apa dia baik-baik saja?” tanya Dea dengan tidak sabar.
Pria bertubuh kekar itu terlihat menghela napas berat, sehingga membuat Dea bertambah khawatir.
“Katakan! Apa yang terjadi dengan Suamiku?!” tanyanya dengan setengah berteriak.
“Nona, maafkan saya. Sebenarnya Taun baik-baik saja, saya sudah mendapatkan informasi dari penjaga rumah. Jika ternyata Tuan setelah pulang, belum ada keluar rumah lagi. Bahkan mobilnya masih berada di tempat sebelumnya.”
Dea menghela napas kasar, ia bersandar di bahu sofa.
Rencana yang di buat sedemikian rupa, ingin memberi kejutan untuk suaminya kini hancur berantakan. Entah bagaimana dirinya mengatakan pada para tamu yang hampir semuanya rekan kerja dan juga teman dekat suaminya, apalagi acara sebentar lagi akan berakhir.
“Dea, bagaimana ini? Semua orang menanyakan keberadaan Tuan?” tanya Bibi lagi.
“Beritahu mereka semua, jika Suamiku tidak bisa hadir karena mendadak ke luar negeri. Hanya itu satu-satunya alasan,” ujarnya pada bibi dan juga pria yang selalu bersamanya untuk menjaganya.
__ADS_1
Mereka mengangguk.
Kue yang ia buat menghabiskan waktu dua jam lamanya, kini tak berguna lagi. Ia bersusah payah membuatkannya, akan tetapi tak berarti lagi.
Kini dirinya memutuskan untuk kembali pulang dan membiarkan para tamu di urus oleh pekerja rumah lainnya.
Dea menatap ke arah luar jendela, entah apa alasan suaminya tidak datang. Pasalnya tadi pagi suaminya tampak antusias ingin mengetahui apa kejutan yang ingin Dea berikan padanya.
“Apa yang terjadi denganmu, Mas? Kenapa kamu berbohong jika tidak ingin datang?!” gumam Dea dalam hati, begitu sangat kesal, kecewa dan ingin marah menjadi satu.
Ia tak habis pikir, kenapa suaminya begitu tega padanya.
***
Sementara di rumah, Diana dan Vino masih bergulat di atas ranjang panas mereka. Diana benar-benar memberikan suguhan begitu nikmat pada Vino, hingga Vino melupakan janjinya pada istrinya untuk datang ke tempat yang telah di beritahu istrinya, karena istrinya akan memberikan sebuah kejutan untuknya.
Diana benar-benar membuat Vino lupa akan segalanya, sepetinya saat ini Diana masih berada di atas tubuh Vino.
“Tuan, aku sudah tak tahan lagi!” keluh Diana sudah tak bisa menahannya lagi untuk melepaskannya.
Vino mengubah posisinya menjadi di atas tubuh Diana dan berulang kali melakukan hentakkan hingga mereka berdua sama-sama melepaskan lahar panas tersebut.
Napas keduanya masih turun naik, bahkan Vino masih belum melepaskan penyatuan tersebut.
“Astaga! Banyak sekali tanda merah. Huh ... jam berapa ini? Aku pasti sudah terlambat pergi ke tempat ini,” gumamnya segera melepaskan penyatuan mereka.
“Tuan, kenapa terburu-buru?” tanya Diana melihat Vino langsung memakai pakaiannya.
“Aku harus menemui Istriku,” sahutnya tanpa menoleh karena fokus dengan pakaiannya.
Diana menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Diana tersenyum puas melihat Vino, apalagi mereka baru saja melakukan hubungan terlarang tersebut.
“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Vino menatap curiga pada Diana.
Diana menggelengkan kepalanya dengan senyum yang masih belum luntur.
Tanpa menunggu lagi, Vino keluar dari kamar tersebut tergesa-gesa sembari mengancing bajunya untuk keluar menuju mobilnya.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat mobilnya istrinya datang.
__ADS_1
“Astaga! Dea sudah kembali. Jam berapa ini?” gumamnya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 00.30, artinya sudah melewati tengah malam.
“Astaga! Kenapa aku bisa lupa?!” umpatnya dalam hati mengutuk dirinya sendiri.
Vino mengatur rencana agar istrinya tak mengetahui apa yang Diana dan dirinya lakukan di rumah, ia berlari cepat menaiki tangga untuk ke kamarnya.
Vino membuang sepatunya kesembarang arah, lalu masuk ke dalam selimut tebal dengan posisi miring seperti orang sakit demam.
Terdengar suara Dea masuk, ia melepaskan sendalnya. Netranya tertuju pada suaminya yang terbungkus dengan selimut tebal.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Dea perlahan mendekati suaminya tampak mengigil.
Vino seolah terkejut, ia langsung duduk dan mengucek matanya. Agar dirinya terlihat seperti baru bangun tidur, hanya itu salah satu cara menghindari kemarahan Dea padanya.
“Mas, kamu kok berkeringat begini. Seperti orang yang melakukan olahraga yang saja?” tanya Dea meletakkan tangannya di kening istrinya.
Namun, Dea curiga karena suhu tubuhnya suaminya tak seperti orang sakit.
“Sayang, maafkan aku. Hendak berangkat, kepalaku terasa sangat pusing. Setelah meminum obat, aku langsung terdiri. Maafkan aku, karena tidak datang,” ujarnya dengan lembut menatap wajah Dea.
Dea mengangguk, ia juga tak bisa menyalahkan suaminya apalagi melihat keadaan suaminya yang tengah sakit.
Walaupun saat ini dirinya tengah kecewa dengan suaminya, tapi ia berusaha menyembunyikannya.
“Kita langsung ke rumah sakit saja, aku takut jika ada penyakit serius.”
“Jangan!” ucapnya setengah berteriak.
“Maaf, maksudku. Jangan ke rumah sakit sekarang, aku sudah merasa baikkan,” tambahnya, karena tidak ingin istrinya mengetahui jika dirinya sedang sakit juga.
Dea menghela napas berat, lalu mengangguk.
Dea meminta suaminya untuk menggantikan pakaiannya dengan pakaian tidur.
Vino mengangguk, setelah menggantikan pakaian Dea meminta suaminya untuk beristirahat lalu membawa baju kotor tersebut untuk meletakkannya di keranjang baju kotor.
Dea tak sengaja mencium aroma wangi parfum perempuan di baju suaminya, ia kembali mengendus baju tersebut untuk memastikan wangi parfum tersebut.
Deg!
Perasaan Dea mulai gusar, ia sangat mengetahui wangi parfum suaminya tersebut.
__ADS_1
“Parfum perempuan?” gumamnya dalam hati.
***