Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 20


__ADS_3

Sorot tatapan tajam melihat keduanya yang saling berpelukan, walaupun Dea tak membalasnya. Menyadari tatapan tajam suaminya, Dea perlahan melepaskan dekapan pria tersebut.


“Dika,” panggil Dea dengan pelan.


Dika tampak mengangguk senang, lalu meletakkan kedua tangannya pada kedua pipi Dea.


“Dea, kau dari mana saja? Aku mencarimu,” sahutnya dengan wajah yang sangat bahagia.


“Ekhem ...” deham Vino.


Sontak membuat Dika menoleh ke arah pria tersebut, ia mengernyit heran.


“Siapa dia?” tanya Dika menatap kembali wajah Dea.


“Perkenalkan, aku suaminya!” dengan nada penekanan.


Deg! Raut wajah yang semula bahagia, kini berubah menjadi datar. Tangan yang semula di pipi Dea, kini perlahan terlepas.


Dea melihat jelas raut wajah Dika yang langsung datar.


Dika menyambut hangat ukuran tangan Vino, lalu tersenyum dengan paksa.


“Aku Dika, teman lama Dea. Maaf jika aku sudah lancang memeluk Istrimu, aku bahkan tidak mengetahui jika kalian adalah Suami Istri.”


Vino tersenyum kecut.


“Baiklah, Dea. Jaga diri baik-baik, semoga pernikahan kalian langgeng.”


“Dik,” ucap Dea lirih.


Dika tersenyum lalu mengangguk pelan, ia tak bisa berlama-lama berbicara dengan Dea. Walaupun hatinya saat ini ingin memeluk Dea kembali, akan tetapi ia takut jika rasa itu semakin sulit untuk di hilangkan.


Dea sebenarnya ingin cerita banyak, bahkan ingin memeluk Dika kembali. Namun, sorot tajam Vino membuat Dea mengurungkan niatnya.


“Apa benar dia teman lamamu?!” tanya Vino terlihat tidak suka pada Dika.


Dea mengangguk pelan.


“Kamu dengar baik-baik, mulai detik ini kamu tidak boleh berpelukan dengan pria walaupun masih keluarga apa lagi hanya teman! Kamu mengerti?!”


Melihat mata suaminya yang terlihat memerah karena marah, Dea kembali mengangguk.


Melihat istrinya yang patuh, Bibi tersenyum lalu menggendeng tangan istrinya untuk melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.


Dari kejauhan, Dika menatap mereka yang terlihat mesra saling menggenggam tangan satu sama lain.


“Dea ...” ucapnya lirih dengan menghela napas berat.


“Siapa dia? Apakah dia wanita yang bernama Dea?” tanyanya ayahnya yang baru tiba dan berdiri di sampingnya, sehingga membuat Dika terkejut.


Dika mengangguk pelan.


“Tapi, Ayah mengenali pria di sebelahnya itu. Apakah dia suami dari Dea?” tanyanya.

__ADS_1


Dika tanpa banyak bicara, ia hanya mengangguk.


“Oh, jadi ini Istrinya. Pria ini cukup sukses dengan segala bisnis, tapi ....”


Ayahnya menggantungkan perkataannya.


“Tapi apa Ayah? Ayah selalu senang membuatku penasaran!” keluh Dika.


“Heum ... Ayah takut salah bicara. Sekarang kita akan melanjutkan perjalanan kita atau kembali pulang?” tanya ayahnya.


Bukan tak ingin memberitahu putranya yang sebenarnya siapa Vino, akan tetapi ia tak ingin Dika menjadi cemas.


“Sepertinya kita pulang saja, besok saja kita melanjutkannya lagi Ayah.” Ayah mengerti dengan perasaan putranya saat ini, karena Dika baru saja merasakan jatuh cinta akan tetapi wanita yang ia kagumi ternyata sudah menikah.


***


Keesokan paginya, Dea bangun pagi sekali karena harus menyiapkan sarapan untuk suaminya sama seperti sebelumnya.


“Dea, Bibi perhatikan Dea banyak diam. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, karena sejak tadi Bibi mengajakmu berbicara tapi kamu tak merespon,” ucap bibi dengan lembut sembari memegang bahunya.


“Apa Dea dan Tuan baik-baik saja?” tambahnya lagi.


“Hah, iya Bi maaf. Kami baik-baik saja,” sahutnya terlihat terkejut.


“Dea!” panggil Vino dengan suara yang begitu nyaring, bahkan bibi Dean Dea saling menatap satu sama lain karena terkejut dengan suara Vino.


“Bi, aku ke kamar dulu,” pamitnya sembari mencuci tangannya.


“Kamu dari mana saja?! Pakaikan aku dasi!” perintahnya dengan sedikit kesal.


Sikap Vino sedikit dingin sejak kepulangan mereka dari mall kemarin, Dea juga heran sikap suaminya tersebut. Pasalnya, sebelum ke pusat perbelanjaan kemarin Vino masih bersikap lembut padanya.


“Kamu lambat sekali! Lihat, sudah jam berapa ini?!” kesalnya setelah istrinya selesai memasangkan dasi tersebut.


“Maaf,” ucap Dea lirih.


Setelah itu Vino mengambil tas miliknya dan bergegas keluar dari kamar tersebut.


Bahkan Vino pagi ini tak sarapan, karena terlihat jelas jika Vino sedang terburu-buru.


Malam hari, seperti biasa Dea menyiapkan makan malam untuk dirinya dan suaminya.


Dea setengah berlari ke ruang tamu karena mendengar suara deru mobil yang berhenti di garasi, ia sangat hafal dengan suara tersebut.


Dea segera membuka pintu, terlihat wajah Vino tampak lesu keluar dari mobil.


“Dea, aku mempunyai kejutan untukmu.”


Dea mengernyit bingung, dengan raut wajah suaminya yang masih lesu bahkan Vino memberikan kejutan untuknya.


“Kejutan?” tanyanya pelan sambil mengambil tas kerja suaminya.


Vino mengangguk sembari menyelipkan rambut halus yang menghalangi pandangan istrinya.

__ADS_1


“Bima, bawa wanita itu kemari.”


Dea melihat ke arah mobil dan melihat wanita yang sangat ia kenali, bahkan membantunya untuk keluar dari rumah Alex dulu.


Karena sebelumnya Dea pernah bercerita tentang Diana wanita malang tersebut.


“Diana,” ucapnya.


Ia melangkah cepat mendekati Diana yang terlihat tampak sangat pucat dan lesu.


“Diana, apa yang terjadi denganmu?” tanya Dea melihat wajahnya yang penuh dengan luka lebam.


“Hiks ... Dea.” Memeluk Dea dengan erat.


Diana membelas pelukan tersebut, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


“Diana, apa yang terjadi? Apa Tuan Alex yang melakukan ini padamu?” tanyanya melihat sudut bibir Diana berdarah yang sudah mengering.


Bibi juga datang membawa kotak obat beserta air hangat untuk mengompres luka tersebut, dengan telaten Dea membersihkan lukanya.


“Tuan Alex tak memberiku ampun selama sebulan ini, dia terus menerus menyiksaku. Semenjak mendengar pernikahanmu dengan Tuan Vino,” ujarnya dengan tatapan lirih ke arah depan.


“Bahkan Tuan Alex terus menerus menyalahkan ku, karena diriku yang membantumu saat itu.”


“Diana, maafkan aku,” ucapnya lirih.


Diana tersenyum.


“Aku senang melihatmu sudah bisa bebas dari Tuan Alex. Aku juga berterima kasih pada Tuan Vino dan juga dirimu. Berkat kalian aku bisa menghirup udara bebas sebelum kematianku,” ujarnya.


“Sstt ... jangan bicara seperti itu. Kamu harus kuat, lihat adikku dia sedang menunggu kedatanganmu. Besok kita akan ke rumah sakit,” ujarnya memberi semangat.


Diana terdiam, ia juga baru menyadari jika adiknya saat ini masih terbaring. Begitu kejam penyiksaan Alex selama sebulan ini, hingga dirinya tak lagi memikirkan bagaimana keadaan adiknya yang masih terbaring lemah di rumah sakit.


“Sekarang jangan pikirkan hal yang buruk lagi, kamu sudah aman.”


Diana mengangguk, ia mulai memakan makanan yang dibawa oleh bibi untuknya.


Sementara Dea berpamitan untuk ke kamar, karena suaminya juga belum makan malam.


“Mas,” panggil Dea membawa makan malam untuk mereka.


“Iya, bagaimana keadaannya saat ini?” tanya Vino terlihat juga cemas.


“Sudah baikkan, Diana juga sudah makan dan minum obat. Sekarang kita juga makan,” ujarnya sembari meletakkan nampan berisi makanan.


Vino mengangguk, ia meletakkan laptop miliknya dan menghampiri istrinya. Sikap Vino juga malam ini sudah membaik, tak seperti pagi tadi yang masih dingin padanya.


“Mas, bagaimana bisa kamu bertemu dengan Diana?” tanya Dea dengan hati-hati sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Vino terdiam sejenak.


***

__ADS_1


__ADS_2