Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 24


__ADS_3

Dea terlihat berbincang dengan beberapa pekerja di rumahnya, Diana hanya menatapnya dari kejauhan. Terlihat jelas jika Dea tengah berbicara serius dengan pekerja rumahnya.


“Mm ... Dea. Sepertinya kamu sangat sibuk. Apa perlu butuh bantuan? Aku lelah jika berbaring setiap hari,” ujar Diana menawarkan diri.


Walaupun sebenarnya dirinya sudah mengetahui jika Dea tengah mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk suaminya.


Dea tersenyum.


“Boleh. Tapi aku tidak mau merepotkanmu,” sahutnya merasa kurang nyaman jika dirinya merepotkan Diana.


“Aku sama sekali tidak merasa di repotkan apalagi aku senang dengan ... eh maksudku, aku senang bekerja,” ujarnya membenarkan ucapannya.


“Baiklah. Kalau begitu bantu aku membuatkan kue ulang tahun,” ajaknya.


“Ulang tahun? Siapa yang berulang tahun?” tanyanya berbohong, seolah dirinya tak tahu sama sekali.


Dea kembali tersenyum.


“Suamiku. Tuan Vino berulang tahun hari ini dan aku ingin membuatkan kue khusus buatanku untuknya. Sekarang kamu harus membantuku,” ajaknya lagi.


Diana antusias mengangguk.


Di dapur mereka berdua berkutat sembari menyelipkan candaan disana, bibi tersenyum melihat keakraban mereka. Bibi bersyukur dengan kedatangan Diana, Dea tak terlalu jenuh karena ada temannya untuk mengobrol setiap harinya.


Dea tampak pandai menghias kue tersebut, bahkan Diana memuji keahlian Dea.


“Dea, kuenya sangat cantik. Pantas saja Vino tergila-gila padamu, lihat caramu menghias kue ini begitu sangat cantik sama seperti orangnya,” pujinya berulang kali.


“Jangan terlalu memujiku, aku bisa terbang nantinya. Tapi, kamu juga sekarang makin cantik dan montok,” puji Dea lalu Mereka berdua tertawa mendengar ucapan Dea.


Keahlian Dea tersebut menghias kue tersebut dulu dirinya sering menerima pesanan untuk acara ulang tahun ataupun pernikahan. Dulu sering di bantu oleh ibu dan ayahnya sebelum ibunya sakit sakitan dan akhirnya meninggalkan dirinya untuk selamanya.


“Wow, Dea ini luar biasa.” Bertepuk tangan pelan.


Dea tersenyum puas dengan hasilnya ukirannya pada kue tersebut.


“Oh ya Diana, nanti malam kamu harus datang kesana. Aku juga sudah mengundang semua rekan kerja dan temannya Tuan Vino untuk datang,” ujarnya sembari menyimpan kue tersebut di kulkas, agar tetap cantik ketika di bawa nanti.


“Maaf Dea. Sepertinya aku tidak bisa hadir, aku harus ke rumah sakit untuk menemui adikku.” Diana sengaja berbohong, karena dirinya memang tak ingin datang.


Dea tampak murung mendengarnya, tapi ia juga tak bisa memaksa Diana karena yang terpenting adalah adiknya saat ini.

__ADS_1


“Tolong sampaikan pada Tuan Vino, selamat ulang tahun untuknya.”


Dea tersenyum lalu mengangguk, ia menarik Diana ke dalam pelukannya.


“Diana, terima kasih karena dulu kamu sudah membantuku untuk melarikan diri dari rumah pria itu,” ujarnya memeluknya erat.


Diana mengangguk lalu membalas pelukan Dea.


“Aku ingin memberikan kamu hadiah, tapi aku bingung memberikan untukmu apa? Hadiah itu sebagai tanda terima kasihku padamu, sekarang aku ingin kamu yang mengatakannya. Kamu ingin apa dariku?” tanya Dea sembari melepaskan dekapannya.


Diana tersenyum lalu menyelipkan ribut halus ke daun telinganya.


“Kamu yakin bertanya padaku, apa yang aku inginkan?”


“Iya, katakan saja.”


“Aku ingin ....” ucapannya menggantung membuat Dea tak sabar menunggunya.


“Katakan saja,” ucapnya lagi.


“Aku tidak yakin jika kamu bisa memberikannya.” Menatap Dea dengan senyum palsu.


“Katakan saja dulu, siapa tahu aku bisa memberikannya.”


Dea mengernyit bingung, karena Diana tak meminta barang darinya. Bahkan Dea berpikir keras dengan permintaan Diana barusan.


“Hahaha ... aku hanya bercanda,” ucapnya tertawa lepas.


“Kamu ini aneh sekali. Aku bingung dengan apa yang aku miliki saat ini, tidak mungkin kamu menginginkan Suamiku bukan? Karena hanya dia yang aku miliki,” gurau Dea sambil terkekeh.


“Hahaha ... lupakan saja, aku hanya bercanda. Aku tidak menginginkan apapun darimu, kecuali kamu memberikannya untukku.” Menepuk pelan bahu Dea.


Setelah selesai membuatkan kue, kini Diana membantu Dea untuk mempersiapkan pesta ulang tahun Vino. Setelah semua siap, kini giliran Dea yang bersiap dan berdandan secantik mungkin untuk memberikan kejutan untuk suaminya.


Baju mewah yang ia pesan dari desainer ternama yang ia pakai malam ini, pakaian suaminya juga sudah ia persiapkan dan ia letakkan di tempat tidur.


Tak lupa ia mengirim pesan pada suaminya untuk datang ke salah satu hotel berbintang, tentunya semua itu pasti ada campur tangan anak buah dari Vino yang di minta oleh Dea agar memberikan kejutan untuk suaminya.


Sebelum datang ke tempat tersebut, ia meminta suaminya untuk pulang dan mengenakan pakaian yang sudah ia persiapkan.


Malam hari, Vino terlihat melangkah gontai masuk ke dalam rumah karena cukup lelah dengan pekerjaan hari ini.

__ADS_1


Ia juga baru ingat jika istrinya memintanya untuk segera datang ke tempat yang telah Dea katakan, sebelum itu Dea memintanya untuk memakai pakaiannya yang di persiapkan.


“Kejutan apa yang Dea berikan padaku? Sepertinya sangat spesial,” gumamnya setelah melihat pakaian yang sudah di persiapkan oleh istrinya itu.


Karena sudah tidak sabar dengan kejutan tersebut, Vino segera membersihkan tubuhnya setelah itu ia mengenakan pakaian dan memakai wewangian.


Sebelum keluar kamar, tak lupa ia membawa ponsel miliknya dan mengirim pesan pada istrinya jika dirinya akan segera berangkat.


Saat menuruni tangga, Vino melihat kamar Diana yang terbuka lebar karena Diana tidur di ruang tamu di lantai bawah.


“Apa Diana juga ikut bersama Dea? Lalu siapa yang ada di kamar itu?” tanyanya karena melihat bayangan orang lewat.


Karena penasaran, Vino melangkah ke kamar tersebut. Ia melihat Diana yang tengah berdiri di depan cermin, sembari menyisir rambutnya.


“Diana, kamu tidak ikut bersama ....” ucapannya menggantung saat melihat Diana menatap ke arahnya, bahkan mulutnya terbuka sedikit. Bukan karena kecantikan Diana, melainkan dengan pakaian yang Diana kenakan.


Diana tersenyum licik, ia sengaja memakai lingerie yang begitu menerawang bahkan benda kenyal tersebut terlihat sangat jelas.


Vino terlihat begitu kesulitan menelan salivanya, apalagi Diana melangkah pelan mendekatinya.


Dengan tatapan menggoda, Diana menyentuh bahu Vino pelan.


“Tuan Vino, apa anda baik-baik saja? Kenapa Tuan masih berada di sini? Bukankah Dea tengah menunggu anda sekarang?” tanyanya pelan dengan suara yang mendayu, seakan sengaja menggoda Vino.


“A-aku ....” Vino terlihat tak bisa melanjutkan ucapannya, bahkan dirinya sudah berkeringat.


“Tuan, selamat ulang tahun. Aku ada sesuatu untukmu,” ucapnya menarik pelan tangan Vino agar masuk ke dalam kamarnya.


Diana tampak mengeluarkan kado kecil dari dalam laci, lalu memberikannya pada Vino.


“Apa ini?” tanya Vino.


“Ini sebenarnya tak seberapa, hadiah ini sebagai ucapkan terima kasihku pada Tuan,” menatap Vino dengan tatapan menggoda, bahkan ia berulang kali menggigit bibir bawahnya.


“Aku tak butuh ini,” tolaknya meletakkan kembali kado tersebut di meja rias.


“Lalu, Tuan butuh apa?” tanya Diana sembari memainkan jarinya di dada bidang Vino.


“Berikan aku sesuatu yang berharga yang membuat aku ketagihan dan tak bisa aku lupakan.” Menarik pinggang Diana agar mendekat, karena begitu dekat bahkan bibir mereka hampir saja bertabrakan.


Diana tersenyum mendengar ucapan Vino, ia sangat mengerti apa yang di maksud oleh Vino saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2