
Dika memulai bisnisnya yang baru, ia mencoba untuk melupakan nama Dea di dalam pikirannya dan fokus pada bisnis yang baru.
Bima teman rekan kerjanya dulu juga ikut andil membantunya mengurus bisnisnya.
“Dika, aku tak menyangka ternyata orang tuamu itu sangat kaya raya. Tapi aku heran, kenapa kamu malah memilih jalan seperti ini? Padahal bisnis orang tuamu banyak.” Setahunya Dika memilih bekerja menjadi kuli dan juga mengisi waktu sebagai pengamen.
Bima berpikir dulu keadaan Dika sangat memprihatinkan, akan tetapi saat ini malah dirinya menertawakan hidupnya yang ternyata lebih memprihatinkan ketimbang Dika.
“Ya itu punya orang tuaku, bukan milikku. Aku hanya ingin tak bergantung pada orang tuaku dan ingin membangun bisnis sendiri tanpa campur tangan mereka,” sahutnya.
“Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Kamu adalah pewaris Ayahmu juga! Ckck ... aku heran denganmu, kok ada ya anak seperti dirimu ini di jaman sekarang.” Bima menggelengkan kepala tak habis pikir dengan temannya tersebut.
“Huh ... sudah! Jangan membahas itu. Sana kerja, apa kau mau tak ku berikan upah?!” guraunya sambil terkekeh.
Membuat Bima memukul bahu Dika karena kesal, walaupun tak di anggap serius olehnya.
Dika semakin tertawa kencang melihat wajah temannya tersebut tampak kesal.
***
Di rumah kebesaran milik Vino, Dea tampak berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi.
“Pagi Dea,” sapa Diana.
“Hai pagi,” sahutnya sembari tersenyum melihat Diana sekilas.
Akan tetapi, netra Diana malah tertuju pada leher putih Dea yang terdapat beberapa tanda merah disana.
Diana tersenyum paksa.
“Masak apa?” tanyanya pelan sembari menatap makanan yang di tata oleh Dea di dalam piring.
“Tuan Vino ingin sarapan Sandwich,” sahutnya lembut.
Diana kembali mengangguk, ia menatap tangan Dea yang begitu lihai membuatkan sarapan tersebut.
“Kamu duduklah sarapan, aku mengantar sarapan untuk suamiku ke kamar. Setelah itu aku akan sarapan bersamamu,” ujarnya.
Diana kembali mengangguk, akan tetapi saat dirinya hendak melangkah bibi datang memanggilnya.
“Dea, ada yang datang kemari. Katanya Dea pesan pakaian,” ujar Bibi.
Dea berpikir sejenak, bahkan ia penasaran siapa orang tersebut. Seingatnya dirinya tak pernah memesan pakaian pada orang yang tak sama sekali ia kenal.
__ADS_1
“Pesan pakaian? Aku tidak memesan apapun,” sahut Dea.
“Coba Dea ke depan sebentar, orangnya masih menunggu di pos,” ucap Bibi lagi.
Dea mengangguk, lalu meletakkan nampan tersebut di meja.
Bibi melihat punggung Dea keluar, hendak mengikutinya. Akan tetapi ia melihat nampan yang berisi sarapan untuk tuan Vino tersebut, majikannya pasti akan marah jika sarapannya tiba tidak tepat waktu.
“Biar aku saja Bi yang mengantarnya, agar aku ada kerjaan,” usul Diana yang melihat Bibi hendak mengambil nampan tersebut.
Bibi menatap Diana, lalu mengangguk tanpa ada curiga sedikitpun. Setelah itu, bibi menyusul Dea yang tengah berbicara dengan orang tersebut di pos penjaga rumah Vino.
Diana dengan wajah sumringah membawa nampan berisi sarapan tersebut, kesempatan bagus untuknya agar bisa melihat wajah Vino walaupun tak bisa memilikinya.
“Maafkan aku Dea, ini urusan hati,” gumamnya dalam hati.
Setibanya di dalam kamar, perlahan Diana meletakkan nampan tersebut di meja. Ia mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, sudah bisa di pastikan jika Vino saat ini tengah membersihkan dirinya di kamar mandi.
Diana berinisiatif membuka tirai jendela, Diana terpana melihat keindahan kota yang tampak sangat indah.
“Wow, indah sekali. Sungguh beruntung Dea mendapatkan Suami seperti Vino, sudah kaya dan tampan juga. Tapi, semua yang Dea dapatkan ini berkat dirimu juga. Jika tanpaku, dia tidak bisa bebas,” gumamnya.
Grep!
Pelukan hangat dari belakang Diana, karena Vino hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Bahkan Diana merasakan benda tumpul tersebut berdiri tegak disana.
Diana membalikkan tubuhnya, bahkan sengaja membuka kancing bajunya agar Vino melihatnya.
Vino langsung melepaskan dekapannya, ia terkejut karena yang di peluknya bukanlah istrinya.
“Diana, kenapa kamu bisa ada di kamarku?” tanya Vino heran.
“Maaf, Tuan. Aku hanya mengantarkan sarapan, karena Dea sedang sibuk. Jadi, saya berinisiatif untuk mengantarnya sendiri tanpa paksaan. Aku sangat jenuh jika harus duduk diam saja,” sahutnya.
Vino tak sengaja menatap belahan yang cukup besar tersebut, hingga membuatnya menelan salivanya.
Diana tersenyum dalam hati, karena Vino pasti sedang menahan sesuatu disana.
“Kalau begitu kamu beloh keluar, aku ingin bersiap untuk pergi bekerja.”
Diana mengangguk, ia tersenyum licik setelah meninggalkan Vino yang terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak lama setelah Diana pergi, Dea masuk ke dalam kamar mereka sembari membawa paper bag di tangan kanannya.
__ADS_1
“Dari mana saja kamu?” tanya Vino tanpa melihat istrinya, karena fokus dengan sarapan paginya.
“Aku membelikan ini untukmu,” sahutnya mengeluarkan isi dari papar bag tersebut.
Vino hanya melihatnya sekilas.
“Apa itu?” tanyanya.
“Selamat ulang tahun, Suamiku.” Menatap suaminya dengan tersenyum, sembari memberikan kado ulang tahun pada suaminya yang di belikan olehnya secara online.
Vino terdiam sejenak, ia baru ingat jika dirinya hari ini berulang tahun.
“Kamu tahu jika aku sedang berulang tahun?” tanyanya.
Dea mengangguk antusias.
Vino mengambil kado tersebut, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.
“Terima kasih banyak,” ucapnya berulang kali mengecup kepala istrinya tersebut.
Setelah itu, Vino membuka pakaian yang di berikan oleh istrinya.
“Wow, ini sepertinya cocok untukku.” Menatap kagum dengan pakaian tersebut.
“Nanti malam setelah pulang bekerja pakailah pakaian ini, aku ingin melihatnya.”
“Ada kejutan lagi untukmu, tapi kamu tidak boleh tahu sekarang. Aku akan memberitahumu selepas pulang bekerja.”
“Hm ... baiklah,” ucap Vino setuju dengan ucapan istrinya.
“Tapi, aku sangat penasaran dengan kejutannya. Apa tidak boleh bocorkan sedikit?” tanya Vino.
“Bukan kejutan dong, namanya!” protes Dea membuat Vino terkekeh.
Karena Dea juga ingin membuat kejutan, untuk merayakan hari ulang tahu suaminya di salah satu gedung dan mengundang semua teman dan rekan kerja Vino melalui sopir suaminya. Karena dialah yang paling banyak tahu.
Karena ini adalah kejutan, Dea tak memberitahu suaminya sekarang. Jika semua sudah selesai, Dea akan mengirim pesan pada suaminya jika dirinya harus datang ke tempat tersebut.
Namun, tanpa mereka berdua sadari jika Diana ternyata masih berada di kamar tersebut menguping pembicaraan mereka dengan bersembunyi di belakang sofa.
“Tuan Vino ulang tahun hari ini?” gumamnya dalam hati.
Diana mulai berpikir kejutan apa yang di siapkan oleh Dea untuk Vino dan juga dirinya memikirkan hadiah apa yang cocok untuk diberikan pada Vino sebagai kado ulang tahunnya.
__ADS_1
“Hm ... Dea menyiapkan kejutan apa? Aku akan bertanya nanti,” ucapnya dalam hati.
***