Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 37


__ADS_3

Pagi hari, terdengar kicauan burung seakan menyambut sang surya. Bahkan mentari sudah mulai menampakkan dirinya, terlihat masuk melalui celah-celah jendela.


“Sayang, selamat pagi. Cup ....” Dika memberi kecupan di pipi istrinya.


Dea menggeliat, sambil bergumam tak jelas.


“Jam berapa ini?” tanyanya dengan suara parau.


“Jam 06.00 pagi, istirahat saja. Kau pasti lelah, karena terlalu menjiwai,” goda Dika dengan menaikkan kedua alisnya.


Dea menutup wajahnya dengan selimut karena malu, karena memang semalam dirinyalah yang mengusai permainan.


Dika menarik paksa selimut tersebut, karena ingin melihat wajah istrinya yang memerah menahan malu.


“Lihat aku.”


Dea membuka matanya, lalu menatap wajah Dika suaminya dengan lembut.


“Nanti malam lagi ya,” bisiknya.


Dea semakin malu di buat oleh suaminya, dengan pelan mendorong bahu suaminya.


Dika tertawa lepas, sudah puas mengerjai istrinya.


Setelah itu, ia kembali berpamitan tak lupa memberikan kecupan hangat untuk istrinya.


Dika menuruni tangga, bersamaan dengan Rival yang baru membuka pintu kamarnya.


Ia menatap punggung Dika yang menuruni tangga, lalu bergantian melihat pintu kamar Dea yang sedikit terbuka.


Rival terdiam sejenak, ia tampak memikirkan sesuatu. Lalu ia tersenyum licik, setelah melihat pintu kamar tersebut.


Perlahan Rival melangkah ke kamar milik adiknya, sembari melihat sekeliling.


Tek ... suara seseorang mengunci pintu.


Namun, Dea tak bergeming walaupun ia mendengar suara seseorang masuk. Ia berpikir itu adalah suaminya, karena tak mungkin ada yang berani masuk selain suaminya.


“Sayang, apa ada yang ketinggalan?” tanya Dea masih dengan mata yang masih terpejam.


Akan tetapi, tidak ada suara yang menyahut.


Tangan kekar tiba-tiba menarik tangannya, membuat Dea terkejut. Karena tangan suaminya tak selembut itu.


Dea membuka matanya, ia sangat terkejut melihat kakak iparnya tiba-tiba ada di ruangannya.


“Kak, sedang apa di kamarku? Tolong keluar!” ucapnya terlihat ketakutan, bahkan Dea menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya.


Rival menatapnya dengan tatapan yang tak biasa, bahkan menelan salivanya karena melihat kaki jenjang Dea yang terlihat putih.


Perlahan Dea memundurkan tubuhnya, bahkan dirinya mulai ketakutan. Ia hendak mengambil ponsel miliknya, ingin menghubungi suaminya.


Akan tetapi kalah cepat dengan tangan Rival yang langsung menarik kedua kaki Dea dengan kasar.


“Aaa ... lepaskan aku! Keluar dari kamarku!” teriak Dea histeris, bahkan Dea memberontak hingga tak sengaja menendang wajah Rival.


Tubuh Rival tak seimbang, hingga dirinya terjatuh ke belakang.


“Kurang ajar kau. Aku berniat baik, hanya ingin memijatmu saja! Kenapa kau malah menendangku?!” geram Rival.


Dea mengambil kesempatan tersebut untuk beranjak dari tempat tidur.


“Tolong! Dika, Tolong aku! Ayah, Ibu!” teriak Dea dengan sekuat tenaga.


“Diamlah bodoh! Semua orang akan memergoki kita nanti, mari kita bersenang-senang dulu.” Dengan tatapan mesumnya.


“Bukankah dulu kau juga melayani pria hidung belang?!” tambahnya lagi.


Membuat Dea semakin ketakutan, apalagi melihat Rival semakin mendekatinya.

__ADS_1


“Jangan mendekat! Aku akan berteriak! Pergi kau, aku akan mengatakan perbuatanmu ini pada Suamiku!” ancam Dea dengan suara bergetar.


“Berteriak saja, itu lebih bagus!” tantangnya semakin dekat, bahkan tidak ada jarak.


Dea mendorong tubuh Rival, akan tetapi percuma. Ternyata Rival memasang tubuh yang sangat kuat, agar lebih kita dari sebelumnya. Karena akibat sekali tendangan oleh Dea, dirinya langsung tersungkur kebelakang.


Rival menyeringai licik.


“Kamu pasti akan ketagihan setelah sekali saja tidur denganku,” ucapnya dengan tatapan tak biasa, tangan satunya bersandar di tembok.


Dea yang ketakutan, ia menggapai apa saja yang bisa di jangkau nya.


Prang! Dengan tangan gemetar, Dea mengarahkan Vas bunga yang terbuat dari kaca tersebut tepat di kepala rival. Membuat sang pemilik kepala terlihat kesakitan, apalagi begitu banyak mengeluarkan darah.


Dea terlihat ketakutan, melihat darah bercucuran ke lantai. Ia langsung berlari ketakutan membuka pintu, akan tetapi di depan pintu bersamaan dengan Dika yang terlihat panik mendengar suara benda pecah.


“Sayang, ada apa? Suara apa itu tadi? Kenapa kau terlihat ketakutan?” tanya Dika terlihat panik.


“Dika, hiks .... dia ....” Dea langsung menangis histeris memeluk suaminya.


“Wanita kurang ajar, mau lari ke---,” teriak Rival sembari memegang kepalanya yang masih mengeluarkan darah.


Akan tetapi, langkahnya langsung terhenti ketika melihat Dika di hadapannya.


“Apa yang terjadi, kenapa kepala Kakak berdarah? Lalu kenapa Kakak bisa berada di kamarku?” Dika menghujani kakaknya dengan banyak pertanyaan.


Rival terdiam, ia menatap Dea yang menangis memeluk suaminya dengan erat. Terlihat jelas jika Dea sangat ketakutan.


“Kenapa Kakak diam? Apa yang Kakak lakukan pada Istriku?” menatap Kakaknya dengan tatapan tajam.


“Tanyakan pada Istrimu, kenapa dia memanggilku ke kamar? Lihat, apa yang dia lakukan, setelah memintaku ke kamar!” memperlihatkan luka di kepalanya.


Dea mengangkat kepalanya menatap suaminya, dengan air mata yang masih mengalir keluar.


“Dia berbohong! Dia yang masuk ke kamar, aku tidak pernah memintanya ke kamar. Sayang percayakan padaku, aku masih tertidur di tempat tidur,” sahut Dea dengan suara terbata-bata.


“Dika, apa yang terjadi? Suara apa tadi?” tanya ibunya yang baru datang.


Akan tetapi, ia sangat terkejut melihat kepala putranya penuh dengan darah.


“Astaga! Rival, apa yang terjadi padamu?” begitu terkejut melihat putranya.


“Tanyakan pada menantu kesayangan Ibu ini? Bahkan dia seperti ingin menguasai rumah ini. Apa begitu cara menghormati Kakak tertua di rumah ini?! Aku hanya memintanya untuk membuatkan ku teh saja, tapi wanita tak tahu malu ini malah memukulku dengan Vas bunga!” ucapnya berbohong, karena sangat kesal dengan Dea yang menolaknya tadi.


“Dea, apa benar yang di katakan oleh Rival?”


Dea ingin menyahut, akan tetapi Rival langsung menyelanya.


Dika sudah menangkap kebohongan kakaknya, karena sangat berbeda dengan penjelasannya di awal padanya.


“Tentu saja, Bu. Untuk apa aku berbohong? Seharusnya wanita murahan ini tidak pantas menjadi menantu di rumah ini!” kesalnya.


“Ibu,” ucap Dea lirih.


“Ibu kecewa padamu, Dea! Ibu pikir kamu adalah wanita baik-baik, namun kenyataannya kamu berhati iblis!”


Dea semakin histeris, bahkan Dika memeluk erat istrinya.


Ibunya tampak menarik tangan Rival untuk segera pergi dari tempat tersebut, karena harus segera mengobati luka di kepala putranya.


“Kak,” panggil Dika, karena sudah geram dengan perbuatan kakaknya terhadap istrinya.


“Kakak boleh saja berbohong dan meminta pembelaan pada Ibu. Tapi, Kakak harus ingat, cctv tak pernah berbohong bukan?!” celetuk Dika sembari menyeringai.


Rival langsung terlihat panik, akan tetapi ia berusaha menutupinya.


“Jangan dengarkan perkataannya, Bu. Mereka berdua sama saja,” ucapnya pada ibunya, menarik pelan tangan ibunya.


“Sayang, sungguh aku tidak berbohong. Aku sama sekali tidak menggodanya,” ucap Dea mengusap air matanya.

__ADS_1


“Ssstt ... aku percaya padamu. Sekarang kemasi pakaian kita, hari ini juga kita keluar dari rumah ini. Rumah kita memang belum selesai seratus persen, akan tetapi sudah sangat layak di pakai.” Menggapit kedua pipi istrinya.


Dea mengangguk, ia menghela napas lega karena suaminya masih mempercayai dirinya.


Beberpa jam kemudian, Dika dan istrinya beserta putrinya mereka tengah menuruni tangga dengan membawa koper milik mereka.


“Loh, kalian mau kemana membawa koper sebanyak itu?” tanya Ayahnya heran.


Bersamaan dengan Rival yang juga menuruni tangga, dengan perban di kepalanya.


“Astaga Rival, apa yang terjadi denganmu?” tanya ayahnya juga pada putra sulungnya.


“Ayah tanyakan saja pada anak kesayangan Ayah ini!” ketus Rival melewati Dika dan mendahului mereka menuruni tangga.


“Dika, apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar?” tanya ayahnya sangat penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.


“Aku pindah rumah Ayah, sepertinya rumah ini sudah tidak aman untuk Istriku!” melirik punggung Rival yang melangkah menuju ke dapur.


Seketika sang ayah langsung mengerti, semua ini pasti ada hubungannya dengan Rival. Apalagi semalam, ayahnya tak sengaja menangkap Rival yang menatap menantunya dengan tatapan mesum.


“Jika itu keputusanmu, Ayah menghargainya. Hai Cucu Kakek yang cantik, Kakek akan berkunjung ke rumah bagi Clara besok.”


“Hm ... tapi, Kakek harus membawa cokelat.” Clara yang begitu polos, tersenyum penuh kemenangan saat melihat kakeknya mengangguk.


Mereka berpamitan pada ayahnya, akan tetapi tidak dengan ibunya. Karena ibunya terlihat kecewa pada menantunya tersebut, sebab baru semalam ia meminta Dea untuk menjaga hati putranya Dika. Akan tetapi, belum 24 jam Dea sudah membuat ulah tanpa ia ketahui jika Rivallah yang membuat ulah.


***


Di rumah sakit, dengan mata yang masih sembab akibat terlalu banyak menangis bahkan masih ada sisa air mata yang mengering di sudut matanya.


Ia menatap Diana yang sudah terbujur kaku dengan di tutupkan kain berwarna putih tersebut.


“Diana, kenapa begitu cepat kamu pergi? Semalam kamu begitu banyak bicara,” ucapnya lirih menatap gundukan kain putih tersebut.


Semalam Dela memang sangat kesal pada Diana yang terus menerus mengajaknya berbicara, padahal Diana terlihat sangat kesakitan.


Namun, ia selalu membicarakan tentang Dea terus menerus. Membuat Dela sangat penasaran sosok Dea yang di bicarakan Diana tersebut.


Akan tetapi Dela tak menyangka, jika percakapan mereka tersebut adalah percakapan mereka yang terkahir.


Dela sangat menyesal, karena sudah memarahi Diana karena memintanya untuk beristirahat.


Flashback on.


“Dela Sayang, kamu harus mencari Dea dan katakan padanya aku meminta maaf atas kesalahan yang terlah aku perbuat padanya. Walaupun dia belum bisa memaafkanku, akan tetapi aku bisa pergi dengan tenang karena aku sudah meminta maaf.”


“CK ... Diana, kamu ini bicara apa sih?! Cepat istirahat, kamu pasti sembuh. Kamu harus kuat,” ujar Dela berusaha menguatkan Diana.


Diana tersenyum, lalu mengangguk. Setelah banyak bicara, Diana menuruti ucapan Dela. Ia mulai memejamkan matanya, tidur dengan sangat tenang.


Saat pagi menjelang, Dela mendengar keributan. Ia membuka matanya, melihat pada Dokter dan perawat tengah mengelilingi bangsal tempat Diana terbaring. Mereka terlihat panik dan berusaha fokus pada Diana.


Dokter tampak menggelengkan kepalanya, hati Dea mulai gusar melihat kode dari dokter sebut.


Dan benar saja, para perawat mulai melepaskan beberapa alat medis yang menempel di tubuh Diana dan menutup kain putih di seluruh tubuh Diana.


“Sus, apa yang terjadi? Kenapa alat medisnya di lepas?” tanya Dela terlihat panik.


“Maaf, Nona. Nona Diana sudah tidak ada, maafkan kami. Dokter sudah berusaha, akan tetapi takdir berkata lain.”


Dela langsung terduduk lemas di lantai, bersamaan dengan air mata yang mengalir begitu deras. Penyesalan terbesarnya, karena melarang Diana untuk berbicara banyak padanya semalam.


Flashback off.


“Diana, seperti janjiku padamu. Akan berhenti bekerja di tempat itu, lalu mencari keberadaan Dea. Walaupun itu sangat mustahil, karena aku sama sekali tak mengenali wanita yang kamu sebutkan itu.”


“Selamat jalan Diana, kamu adalah Kakakku yang terbaik.” Menatap wajah Diana untuk terakhir kalinya, sebelum jenazahnya di bawa pulang.


***

__ADS_1


__ADS_2