
Dea menatap heran dengan Diana yang sedikit ketus dengannya, padahal pagi tadi Diana begitu baik padanya.
Hingga kecurigaan Dea semakin bertambah dan semakin yakin jika Diana dan suaminya punya hubungan.
Apalagi setelah melihat rekaman cctv, walaupun dirinya tak melihat secara langsung apa yang sedang mereka lakukan.
Dea melipat tangannya berdiri di balkon, lalu melihat cincin yang melingkar di jari manisnya tersebut.
Ting ....
Suara pesan masuk di ponsel miliknya, Dea melangkah untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Sayang, aku tidak bisa pulang malam ini. Sore ini aku mendadak ke luar kota esok hari baru aku kembali jaga dirimu baik-baik.
Dea menghela napas berat, setelah membaca pesan tersebut.
“Kenapa mendadak sekali? Tak seperti biasanya,” gumamnya dalam hati.
Lalu meletakkan kembali ponsel tersebut di nakas dengan kasar, tanpa membalas pesan dari suaminya.
Malam hari.
Masih di posisi yang sama, Dea berdiri di balkon sejak sore tadi. Entah apa yang dipikirkan olehnya, hingga membuatnya betah di balkon tersebut.
Ia tak sengaja menangkap Diana yang terlihat pergi dengan cara mengendap-endap, sembari melihat ke arah belakang.
Dea sedikit menyembunyikan tubuhnya di tembok agar tak terlihat oleh Diana.
“Mau kemana dia malam-malam begini? Jika Diana ingin ke rumah sakit, kenapa tidak memakai mobil?” tanya terlihat heran.
Dea tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia bergegas menuruni tangga.
Dea menggunakan motor untuk mengikuti Diana, dengan wajah yang ditutupi masker dan juga helm agar Diana tak mengenali dirinya.
Setengah jam perjalanan, ia mengikuti Diana hingga tiba di sebuah hotel mewah yang cukup dekat dengan bandara.
“Kenapa dia ke hotel? Bukankah adiknya masih di rawat di rumah sakit.” Dea masih bertanya di benaknya, untuk apa Diana ke hotel. Setahunya hotel ini sangat mahal, entah bagaimana cara Diana membayarnya.
Dea tak menyerah, tak sampai disitu ia tetap mengikuti langkah Diana secara diam-diam dan selalu menjaga jarak.
Diana tampak berbicara dengan resepsionis, tak lama dirinya terlihat terburu-buru melangkah.
Begitupun dengan Dea, sebelum mengikuti Diana Ia terlebih dahulu bertanya nomor berapa kamar Diana.
Karena hotel tersebut tak sembarang orang masuk, apalagi bertanya nomor kamar pelanggan tanpa ada perjanjian sebelumnya.
Dengan bersusah payah Dea mengelabui petugas hotel tersebut, akhirnya mereka mau memberikan nomor kamarnya karena alasan yang di berikan oleh Dea cukup masuk akal.
Setiba di depan kamar, Dea meletakkan daun telinganya di pintu. Akan tetapi tak terdengar sama sekali.
Dea tak mungkin langsung masuk dengan cara paksa, hingga dia melihat seorang petugas hotel yang sepertinya ingin mengantar makanan ke kamar Diana.
“Kamu ingin mengantar makanan ke kamar ini?” tanya Dea.
Perempuan tersebut mengangguk.
“Biar aku saja,” ujarnya hendak mengambil nampan.
Akan tetapi wanita ini menolak mentah-mentah.
“Tidak boleh, Nona. Ini pekerjaan kami, kami sudah di bayar setiap bulannya. Hal sepele saja yang kamu lakukan dengan sengaja, akan membuat kami kehilangan pekerjaan kami.”
Dea tampak berpikir, ia menahan kembali tangan wanita tersebut.
“Aku sedang memergoki temanku di dalam, aku butuh bantuanmu agar aku bisa masuk ke dalam sana. Aku akan bertanggung jawab, jika kamu di pecat nanti. Ini kartu namaku, kamu simpan. Jika terjadi sesuatu padamu, kamu harus menghubungi aku.”
Wanita tersebut tampak berpikir.
“Tapi, Nona ....”
__ADS_1
“Please!” Dea menangkup kedua tangannya, ia sangat berharap jika wanita yang ada di hadapannya ini mau membantunya.
“Ini untukmu, ini asli,” ujarnya melepaskan cincin pernikahannya.
“Jangan, Nona. Aku siap membantu, tapi jangan lepaskan cincin Nona.”
“Jangan menolak, aku bersungguh-sungguh memberikannya.”
Meletakkan paksa di jari manis wanita itu, karena saat ini dirinya tidak memegang uang sama sekali walaupun dirinya membawa tas kecil.
Wanita tersebut terpaksa mengangguk.
Dea mengajaknya ke kamar mandi, lalu meminjam pakaian wanita tersebut.
“Terima kasih sudah mau membantuku,” ujarnya dengan mata yang berbinar, karena masih menemukan orang yang baik.
Setalah itu, Dea melanjutkan aksinya. Ia hanya ingin membuktikan bahwa kecurigaannya selama ini salah, berharap Diana dan suaminya tak melakukan hal yang di larang oleh agama.
Dea menekan belnya, berulang kali. Dengan penyamarannya memakai masker dan juga topi.
Tak lama pintu itu terbuka, terlihat Diana yang membukanya. Dea membulatkan matanya melihat Diana yang hanya memakan handuk yang melilit di tubuhnya, dengan beberapa tanda merah di bagian dadanya.
“Apa yang kau lihat?!” ketus Diana terlihat kesal dengannya, apalagi Diana menatap rendah dirinya yang menyamar sebagai petugas hotel.
Dea dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Masuk dan letakkan di meja!” ucapnya sedikit ketus.
“Dasar, tidak ada sopan santunnya! Padahal kerjanya hanya pelayan!” gerutunya.
Dea tak menjawab, karena takut penyamarannya akan terbongkar.
Dea perlahan meletakkan makan tersebut, akan tetapi matanya melirik ke arah penjuru kamar. Namun, ia tak melihat siapapun di kamar tersebut selain Diana. Dea tampak menghela napas lega, karena tidak menemukan suaminya di dalam kamar tersebut. Sangat bersyukur, karena kecurigaannya tadi tidak benar adanya.
Dea mengangguk, tanda ia sudah menyelesaikan tugasnya hendak berpamitan keluar.
“Diana, maafkan aku. Aku terlambat,” ujar suara pria yang baru datang tersebut.
Bagaikan di sambar petir, hatinya seketika langsung hancur setelah melihat kedatangan suaminya. Banyak ia tak segan mencium Diana di depannya, bahkan langsung memeluk Diana dan menyatukan bibir mereka.
Tak menyangka, jika suami dan Diana, orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu tega mengkhianatinya.
Air mata yang hampir saja jatuh, dengan secepat kilat ia langsung menghapusnya. Pertama dirinya tak ingin membuat keributan di hotel itu dan akan membiarkan sampai dimana mereka bersandiwara padanya.
“Tuan, jangan seperti ini? Aku sangat lapar, tadi siang di kantorkan kita sudah melakukannya,” ujar Diana terlihat sedikit menolak kecupan Vino yang bertubi-tubi menyerang dirinya, terutama bagian dada yang tampak menggoda karena idaman semua pria.
“Di kantor?!” gumam Dea dalam hati.
Dea baru menyadari jika melakukannya bukan di rumah saja, ternyata mereka juga melakukan hubungan terlarang itu di kantor.
Pantas saja Diana melarangnya untuk ke kantor dan bahkan antusias menawarkan dirinya untuk mengantar bekal makan siang suaminya.
“Salah siapa kamu memakai handuk saja? Aku sudah tak bisa menahannya lagi,” ujar Vino dengan suara paraunya, sambil memainkan di tempat favoritnya.
Dea sangat jijik melihat kelakuan mereka saat ini.
“Hei, kenapa kamu masih berdiri disana? Dia suamiku!” seru Diana menatap Dea yang masih berdiri di tempat sebelumnya.
“Oh aku lupa, ini ambil!” ujarnya melempar uang ke arah Dea, hingga Dea sedikit terkejut melihat beberapa lembar uang yang berserakan.
Vino mengernyit heran dengan Diana yang terlihat kesal.
“Itu,” ujar Diana memberi kode dengan matanya, agar melihat ke arah Dea.
Vino mengikuti arah mata Diana, ia melihat Dea yang masih mematung.
Netra Vino tak sengaja menangkap cincin yang melingkar di jari manis Dea, sepertinya cincin tersebut sangat mirip dengan cincin yang di berikan olehnya pada istrinya.
Deg!
__ADS_1
Wajah Vino langsung berubah, akan tetapi ia berpikir kembali tak mungkin istrinya menyusul dirinya ke hotel ini. Sedangkan dirinya mengatakan pada Dea jika hari ini dirinya terbang ke luar kota.
“Hei, apa kurang uangnya?!” dengan suara yang setengah berteriak, Diana benar-benar kesal terhadap petugas hotel tersebut.
Dea menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu ia melangkah pergi tanpa mengambil uang tersebut yang berserakan sepersen pun.
“Dasar aneh!” gerutu Diana.
Diana beranjak dari tempat duduknya untuk mengunci pintu kamar, saat berbalik badan Diana menatap Vino yang terlihat melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
Padahal sebelumnya Vino sangat bersemangat untuk melakukannya, rasa laparnya ia tunda. Ia ingin mengembalikan mood Vino yang tiba-tiba saja hilang.
“Apa yang sedang Tuan pikirkan?” tanyanya duduk di atas tubuh Vino.
Diana hendak mencium bibir Vino, akan tetapi Vino terlihat menolaknya.
“Ada apa? Bukankah, Tuan sangat menginginkannya tadi?” tanya Diana dengan lembut, bahkan punggungnya mulai bergerak di atas sana.
“Ayo kita lakukan lagi,” ajak Diana mulai membangkitkan gairah Vino kembali.
Dan benar saja, hasrat Vino bangkit kembali. Kali ini mereka melakukannya dengan cara yang berbeda, hingga berulang kali Vino memujinya dengan gaya bercinta Diana yang cukup menantang.
Di kamar tersebut begitu panas, sehingga keduanya bermandikan air keringat.
Berulang kali Diana sudah mencapai puncak, akan tetapi Vino baru saja mencapai puncak kenikmatan atas hubungan terlarang mereka.
“Kamu sungguh luar biasa,” puji Diana.
Diana sangat bangga dengan dirinya yang bisa membuat Vino ketagihan dan merasa sangat puas saat bercinta dengannya.
Napas keduanya masih naik turun, saat selesai melakukannya. Bahkan Diana masih berada di atas tubuh Vino, sambil memainkan dada bidang Vino dengan menusuk-nusuk pelan dada Vino menggunakan jarinya.
“Apa Tuan tidak berniat ingin menjadikan Istri?” tanyanya pelan.
Vino terlihat terkejut mendengar ucapan Diana, tak terbesit sama sekali di pikirannya jika ingin memperistrikan Diana.
“Kenapa Tuan diam saja? Apa kita selamanya seperti ini, bercinta secara diam-diam?” memperlihatkan wajah cemberutnya.
“Kamu ingin menikah denganku?” tanya Vino memainkan rambut Diana.
Diana mengangguk antusias.
“Aku akan menikahkanmu, tapi tidak sekarang. Aku juga tidak ingin menceritakan Dea, aku masih mencintainya.”
Diana terlihat kesal mendengar ucapan Vino barusan, setelah pengorbanannya merelakan tubuhnya di jamah oleh Vino dan berulang kali memberikan kenikmatan pada Vino. Akan tetapi, tidak mampu melakukan hati Vino.
“Aku siap menjadi Istri kedua. Apa kamu juga tidak ingin pewaris?” tanya Diana sengaja berbicara seperti itu, karena Dea juga hingga saat ini belum mengandung.
Vino terdiam, ia tampak berpikir dan baru menyadari kenapa hingga saat ini Dea belum hamil juga. Padahal mereka sering melakukannya.
“Kenapa diam? Apa memang kalian tak ingin mempunyai anak? Atau memang Istrimu itu tak bisa memberikan anak?!” Diana terlihat sengaja memancing Vino.
“Tidak,” sahut Vino singkat terlihat memijit pelipisnya.
Diana turun dari atas tubuh Vino dan mengenakan pakaiannya.
“Baiklah, sepertinya setelah ini aku tak ingin lagi melakukannya. Kecuali Tuan mau menikahi ku, aku juga akan bersedia menerima Dea menjadi Istri tua, aku tidak akan mempermasalahkan itu!” ketusnya melangkah keluar.
“Diana, beri aku waktu. Diana ....” Panggil Vino, akan tetapi Diana tak mengenakan langkahnya.
Ia keluar kamar menuju ruang tamu.
“Ck ... bagaimana caranya aku mengatakan pada Dea, apa Dea mau menerima Diana sebagai madunya? Secara Diana adalah temannya,” gumamnya raut wajah yang tampak gusar.
Secara dirinya tak mau menceraikan istrinya, karena benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Namun, ia juga memikirkan kenikmatan yang terus menerus di berikan oleh Diana padanya.
“Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkan Dea,” gumamnya lagi sambil menggelengkan kepalanya, agar tetap mempertahankan rumah tangganya.
Vino bergegas mengenakan pakaiannya, hendak pulang untuk menemui istrinya.
__ADS_1
***