Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 47


__ADS_3

Dea kembali masuk setelah melihat putrinya berangkat bersama Vino, Dea melangkah ke kamar untuk membersihkan kamarnya.


Namun, ia menatap meja makan. Melihat sarapan untuk suaminya dan teh hangat belum di sentuh oleh suaminya.


Dea kembali melangkah ke dapur, mengambil makanan tersebut dan membawanya ke kamar.


Karena terakhir dirinya melihat suaminya masuk ke kamar mereka.


ceklek ...


pintu terbuka lebar, Dea melihat suaminya tengah berdiri di balkon.


Dea berpikir sejenak, pasti suaminya menatap dirinya dari arah balkon. Namun, Dea tampak tak peduli karena memang dirinya tak melakukan apapun.


“Sayang, sarapanmu. Kamu belum makan apapun sejak tadi,” ucap Dea meletakkan nampan tersebut, tanpa menoleh ke arah Dika.


Setelah meletakkan nampan tersebut, Dea membersihkan tempat tidur. Itu semua ia lakukan agar menghindar dari pertengkarannya dengan suaminya, Dika.


Dika melangkah masuk, ia menatap sejenak Istrinya yang tengah membersihkan tempat tidur.


“Sudah senang pagi ini? Setelah bertemu dengan Vino, apa kalian berniat ingin rujuk kembali?!” tanya Dika sedikit ketus.


Dea tak menjawab, ia tampak fokus dengan aktivitas yang ia lakukan saat ini.


“Dea, aku sedang bicara denganmu!” sentak Dika, karena kesal Dea tak menghiraukan dirinya.


“Aku harus jawab apa? Untuk pertanyaan tidak pentingmu itu! Jika aku menjawab tidak, kamu pasti tidak akan percaya. Jika aku menjawab iya, kamu pasti mengatakan jika aku wanita murahan!” sahut Dea karena sudah sangat kesal dengan suaminya.


Dika mengusap wajahnya dengan kasar.


“Kamu cemburu terlalu berlebihan, aku bahkan berani bersumpah jika aku dan Vino hanya sebatas orang tua untuk Clara, tak lebih dari itu!” tambahnya lagi.


“Dengan berjalan-jalan, bersenang-senang?! Apa kamu tak memikirkan perasaan suamimu ini?!” seru Dika.


“Aku sudah mengatakannya padamu, bahkan aku sudah meminta izin. Kecuali yang kedua, karena kamu tak sengaja bertemu! Tapi, apa? Kamu tidak percaya padaku! Aku bingung, harus bagaimana mengatakannya padamu?! Kamu tak pernah percaya, atau memberi aku kesempatan untuk bicara!” dengan suara bergetar mengatakan itu menahan tangis.


Sembari mengusap air matanya, Dea duduk di tepi kasur.


Ia bahkan tak kuasa lagi menahan tangisnya, apalagi Dika terus menerus menuduhnya tanpa bukti yang jelas.


Dika menghela napas berat, karena sikap dan rasa cemburunya terlalu berlebihan. Sehingga tak membiarkan Dea untuk menjelaskannya.


Dika menghampiri istrinya, lalu duduk di samping Dea dan menariknya ke dalam pelakunya.


Tanpa bicara sepatah katapun, mereka kini saling memeluk dengan erat.

__ADS_1


Rasa rindu, cemburu dan marah menjadi satu. Membuat Dika buta dengan semuanya, sehingga menciptakan kesalahpahaman di antara keduanya.


“Maafkan aku, aku sangat cemburu!” gumam Dika masih memeluk istrinya dengan erat.


Dea melepaskan dekapannya, menatap suaminya dengan sisa air mata yang masih membasahi sudut matanya.


“Matamu jadi sembab akibat terlalu banyak menangis, maafkan aku.” Mengusap air mata istrinya, lalu mengecup sekilas bibir yang ia rindukan selama dua hari ini.


Dea mengangguk, lalu tersenyum pada suaminya.


Dika menatap tengkuk leher istrinya dan menyatukan kembali bibir mereka serta memberi sedikit ******n disana.


Dea melihat pintu kamar mereka yang lupa ia tutup, Dea melepaskan paksa bibir suaminya.


Sehingga membuat Dika mengernyit heran, ia berpikir Dea menolaknya.


“Tutup dulu pintunya,” ucapnya pelan.


Dika menatap pintu yang terbuka lebar setengah, ia menghela napas lega karena Dea sebenarnya tak menolak dirinya.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, lalu kembali menghampiri istrinya.


Tanpa menunggu lagi, Dika memulai aksinya yang sudah beberapa hari mereka tak melakukannya.


“Maafkan perkataanku kemarin, aku benar-benar di penuhi emosi. Apalagi, kamu terlihat begitu bahagia disana, tanpa seizinku kalian pergi.”


“Aku minta maaf Sayang, karena membuatmu menjadi cemburu. Sungguh, aku dan Vino hanya berteman biasa. Itu karena menemani Clara saja,” sahutnya mengusap keringat di dahi suaminya yang masih berada di atas tubuhnya.


Cup ...Cup ...


Dika kembali memeluk istrinya, karena begitu takutnya akan kehilangan Dea, istrinya.


Setelah perbincangan hangat mereka, Dika kembali melakukan pertempuran panas mereka. Apalagi tubuh Dea begitu candu untuknya, sehingga tak bisa menahan diri jika melihat Dea apalagi keadaan tanpa busana.


Selesai itu, mereka mandi berdua di kamar mandi. Mengingat Dika harus ke kantor siang ini, ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Sehingga dirinya harus segera mengakhiri pertempuran mereka yang terulang kembali saat di kamar mandi.


“Sayang, pakaianku. Aku harus ke kantor sekarang, semua ini karena dirimu tak membiarkan ku melepaskan tubuhmu.” Sembari memeluk istrinya dari belakang, apalagi saat ini Dea hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya.


“lepaskan aku dulu, bagaimana caranya aku mencari pakaianmu jika terus menerus seperti ini!” tutur Dea sedikit kesal, karena Dika tak melepaskan dekapannya.


Dika terkekeh melihat wajah istrinya cemberut, lalu melepaskan diri dari tubuh istrinya.


Dea mengambil pakaian untuk suaminya, seperti biasa Dea mengancing baju untuk Dika. Karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi Dea.


“Apa nanti akan pulang larut malam lagi?” tanya Dea setelah selesai merapikan pakaian suaminya.

__ADS_1


“Entahlah. Kenapa? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Dika menarik kembali tubuh istrinya.


Dea menggelengkan kepala, tak mungkin dirinya mengatakan jika akan membuat kejutan untuk suaminya.


Cup, kecupan kembali mendarat di bibir Dea.


“Aku berangkat bekerja dulu, jangan lupa jemput Clara di sekolah.” Mengusap pipi lembut istrinya.


Dea tersenyum lalu mengangguk.


Setelah melihat kepergian suaminya, Dea segera mengenakan pakaian dan memberi polesan di wajahnya tak lupa ia menutupi bagian lehernya dengan bedak. Karena terdapat beberapa tanda merah disana, semua itu akibat ulah suaminya tadi pagi.


Ia harus segera pergi, karena dirinya harus membelikan kue ulang tahun serta yang lainnya untuk memberikan kejutan pada suaminya nanti malam.


***


Di kantor.


Dika masuk ke ruangannya dengan senyum yang tak luntur, apalagi mengingat pertempuran antara dirinya dan Dea pagi tadi.


Tok ... Tok ...


“Masuk,” ucapnya.


“Selamat pagi, Pak Dika. Ponsel anda sudah di temukan, ada yang mengantarnya kemari,” ujar salah satu karyawannya menyerahkan ponsel miliknya.


“Oh ya, baik sekali dia. Berikan ini padanya,” ujarnya memberikan beberapa lembar uang pada pria tersebut.


Setelah itu, ia mengambil ponselnya lalu menekan salah satu tombol untuk mengaktifkannya.


Dika mulai membuka pesan yang begitu banyak masuk, terutama pada pesan istrinya.


Dika tersenyum, karena istrinya tak berbohong.


Satu yang menarik perhatian Dika, ada satu pesan masuk dengan nomor tak di kenal.


Lalu membuka peran tersebut, ternyata itu adalah foto.


Foto Dea bersama Vino yang tengah menginap di salah satu hotel, dengan menggunakan pakaian setengah telanjang.


Mereka tampak berbaring di atas kasur dengan posisi Vino memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Amarahnya kembali memuncak, lalu melempar vas bunga yang ada di meja. Ia begitu sangat marah, entah siapa yang mengirim foto tersebut padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2