Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 12


__ADS_3

Ayah tiri Dea saat ini tengah di kurung di dalam gudang, sebagai hukuman karena tak bisa mengembalikan uang tersebut yang ia minta sebelumnya.


Entah apa yang dipikiran Alex saat itu hingga mengurung dirinya, padahal jika di bandingkan dengan kekayaan yang Alex miliki uang itu tak seberapa.


“Tuan, lepaskan saya!” teriaknya, karena sudah dua hari ini dirinya sudah di kurung dari tempat tersebut tanpa di berikan makan dan minum.


“Diam!” sentak salah satu anak buahnya mendengar teriakannya dari dalam, pria bertubuh kekar tersebut membawakan makanan dan minuman untuknya. Sebelum itu, anak buah Alex melepaskan ikatannya terlebih dahulu.


“Cepat makanlah, sebelum Tuan besar Kembali. Setidaknya kau jangan mati di sini!”


Ayahnya Dea menelan salivanya, ia menyesal telah berurusan dengan Alex. Jika ia mengetahui dari awal, mungkin dirinya akan berpikir lebih panjang untuk menjual putrinya ke Alex saat ini.


Karena dirinya tergiur dengan uang yang di tawarkan oleh seseorang, hingga membuat dirinya rela menjual anak sambungnya tersebut tanpa mencari tahu siapa Alex yang sebenarnya.


***


Di rumah kontrakan Dika, ia tampak bermalas malasan di tempat tidurnya.


Entah apa yang membuatnya malas untuk melakukan aktivitas apapun, apalagi setelah Dea pergi dan bekerja.


Beberapa Minggu Dea tinggal di rumah, membuatnya sudah terbiasa dengan kehadiran Dea di rumah.


Tok ... Tok ...


Ketukan cukup keras dan seperti orang yang tidak sabaran mengetuk pintu rumah kontrakannya membuat Dika berdecap kesal.


“Ck ... siapa lagi yang bertamu malam begini? Apa mereka tak punya sopan santun?! Pasti bukan orang sini!” gerutunya perlahan beranjak dari tempat tidur.


Tanpa menaruh curiga, bahkan tak mengintip seperti sebelumnya dari lubang kecil pintunya. Dika tanpa ragu membuka pintu tersebut.


Ceklek ...


Netra saling bertemu, bahkan Dika membulatkan matanya melihat seorang pria paruh baya yang datang ke kontrakan kecilnya.


“Ayah,” ucapnya lirih.


“Dika, sudah cukup bermainnya! Ayah sudah muak dengan tingkahmu itu!” seru ayahnya.


Karena tak ingin orang lain mendengar perdebatan mereka, Dika mempersilahkan ayahnya untuk masuk.


Pria yang di panggil ayah olehnya itu melangkahkan kaki, lalu Dika menutup pintu kembali.


Ia melihat kontrakan putranya sangat kecil, bahkan tidak ada kamar hanya ada satu raungan dan bahkan menjadi satu dengan dapur.


“Ck ... Dika. Ayah memberikan fasilitas mewah untukmu di rumah, tapi kamu memilih untuk tinggal di tempat seperti ini! Bahkan kamar mandiku lebih besar di rumah ini!” ledeknya menarik sudut bibirnya.


“Tapi rumah ini jauh lebih baik ketimbang rumah bagaikan istana, akan tetapi orang di dalamnya semuanya palsu!” seru Dika tak mau kalah.


“Cukup Dika, Ayah sudah lelah berdebat denganmu terus menerus! Sekarang Ayah memintamu dengan sangat untuk kembali ke rumah kita!”


Dika terdiam, sebab saat ini dirinya lebih nyaman seperti itu. Walau pekerjaannya hanya sebagai kuli, memindahkan barang dari kapal ke truk muatan dengan secara menaul. Bahkan dirinya juga menjadi pengamen di jalan hanya sekedar menghibur dirinya.


“Dika, Ayah bicara padamu! Bereskan pakaianmu sekarang, kamu harus angkat kaki dari rumah busuk ini!” sentaknya.


“Tidak! Aku akan menjalani hidupku sesuai yang aku inginkan, aku lebih nyaman seperti ini!” tolak Dika.


Ayahnya menghela napas berat, berusaha mengontrol emosinya pada putra bungsunya yang keras kepala tersebut.


“Dika, apa kamu sekarang ingin melihat jasad Ayah? Kenapa kamu keras kepala sekali nak?” ucapnya melemah.


“Ayah sangat menyayangimu nak, semua yang Ayah lakukan adalah yang terbaik untukmu,” tambahnya lagi.


Dika terdiam, sesungguhnya dirinya juga sangat merindukan dan menyayangi ayahnya. Hanya saja kurang komunikasi di antara mereka dan ayahnya selalu membandingkan kemampuan dirinya dengan kedua kakaknya yang saat ini tengah sukses dengan semua bisnis mereka.


“Dika, Ibu sangat merindukanmu. Bahkan, saat ini Ibu terbaring sakit di rumah. Dia tak mau berobat, ia hanya ingin bertemu kamu.”


“Hm ... Ayah. Dika sudah bahagia menjalani kehidupan seperti ini, Dika ingin membangun kehidupan sendiri tanpa campur tangan Ayah!” tegasnya.


“Iya, Ayah akan dukung semua apa yang kamu lakukan. Tapi, kembalilah ke rumah nak. Pekerjaan apapun yang kamu lakukan Ayah tidak melarangnya,” ucap dengan lembut.


Dika tampak terdiam.


“Kembalilah ke rumah kita, Dika. Ayah berjanji tidak akan membandingkan dirimu lagi, Ayah hanya ingin kalian aku dan bersama di usia Ayah yang sudah tua ini.


“Dika tidak menjawabnya sekarang, Dika akan pikirkan nanti. Lebih baik Ayah pulang saja, karena sudah malam. Maafkan aku Ayah,” ucapannya.


Wajahnya Ayahnya tampak murung, ia gagal membawa kembali pulang putra bungsunya.


“Dika, pikirkan baik-baik. Ayah juga tidak memintamu untuk kembali ke kantor, Ayah minta kamu pulang dan berkumpul kembali. Itu saja,” ucapnya masih berusaha membujuk putranya.


“Dika,” panggil rekan kerjanya.


“Iya, Bima. Ada apa?” tanyanya melihat Bima berdiri di ambang pintu.


“Ada barang datang, apa kau akan pergi?” tanyanya.

__ADS_1


Dika tampak berpikir, dirinya dan ayahnya saling menatap satu sama lain. Ayahnya tak menyangka jika pekerjaan putranya selama ini adalah seorang kuli.


“Aku akan pergi, kau pergilah lebih dulu aku akan menyusul.” Tanpa mengalihkan pandangannya dari ayahnya.


“Dika,” panggilnya lirih.


“Iya, aku sangat bahagia menjalani ini semua. Seperti kata Ayah tadi, jangan pernah ikut campur dalam urusan pekerjaanku. Aku sangat bahagia menjalani ini semua tanpa beban, ketimbang harus ke kan ....” Dika menggantungkan ucapannya.


“Baiklah, Ayah tidak akan ikut campur.” Setelah mengatakan itu, ayahnya perlahan melangkah ke luar rumah dengan perasaan yang hancur. Apalagi dengan ucapan Dika yang mengatakan jika dirinya tak boleh ikut campur.


“Ayah,” panggilnya.


Langkah ayahnya langsung terhenti, akan tetapi tidak membalikkan tubuhnya.


“Aku akan pulang besok, sepertinya yang Ayah inginkan. Tapi dengan catatan, aku akan menjalani pekerjaan yang aku lakukan saat ini.”


Raut wajahnya ayahnya semula sedih, kini ada senyum sedikit di bibirnya walaupun senyum terbesit masih belum sepenuhnya. Karena dirinya sangat menginginkan putranya kembali ke kantor untuk menggantikan dirinya, namun ia akan berusaha menerima keputusan putra bungsunya tersebut.


“Benarkah?” tanyanya membalikkan badannya menatap sang putra.


Dika menganggukkan kepalanya pelan, walaupun masih berat untuk meninggalkan kontrakan dan tinggal bersama orang tuanya.


“Sayang,” panggilnya lalu memeluk erat putra bungsunya tersebut, karena sudah beberapa bulan pergi dari rumah dan menyembunyikan identitasnya.


Setelah mengantar ayahnya hingga ke mobil, Dika mulai bersiap untuk pergi ke pelabuhan kapal barang.


Namun, siapa sangka jika ayahnya ternyata mengikutinya dari arah belakang hingga ke tempat Dika bekerja.


Dari kejauhan ia menatap putranya tampak bahagia, penuh canda dan tawa bersama rekan kerjanya. Walaupun terlihat Dika seperti menahan beban beratnya barang yang ia angkat dan memindahkannya ke truk, tapi senyum itu tak lepas dari bibirnya.


“Dia terlihat sangat bahagia,” ujarnya pada sang sopirnya.


“Iya, Tuan besar. Tuan muda begitu bahagia, walaupun terlihat dari wajahnya jika ia sangat lelah.”


“Iya, aku bahkan mengutuk diriku sendiri karena selalu membandingkan dirinya dengan Kakaknya. Aku berpikir jika Dika tak seperti kedua Kakaknya, hidupnya akan sulit nanti. Tapi aku salah,” ucapnya lagi.


Sang sopir hanya bisa mengangguk, karena tidak ingin ikut campur terlalu jauh tentang kehidupan keluarga majikannya tersebut.


Cukup lama ia memperhatikan putranya dari kejauhan, bahkan Dika terlihat menerima upah.


Ia bahkan tampak heran melihat uang yang di terima oleh Dika hanya sedikit, tak sampai lima ratus ribu.


“Hah, kenapa sedikit sekali? Membawa barang seberat itu, hanya di berikan upah hanya beberapa lembar saja!” protesnya, karena merasa tak terima jika putranya menerima upah sedikit.


Dirinya mengerti, karena majikannya terbaik tidak pernah melihat uang pecahan kecil. Setahunya dirinya hanya memegang uang ratusan ribu itupun dengan jumlah yang cukup banyak.


“Oh begitu, kasihan sekali. Padahal barang yang mereka angkat terlihat berat.” Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan mata kepalanya sendiri saat ini.


***


Di rumah besar milik Vino, hingga larut malam Vino dan Alex masih berbincang tentang bisnis. Vino juga mengernyit heran, karena melihat pamannya begitu betah di rumahnya dalam waktu berjam-jam lamanya.


Vino sudah menaruh curiga sejak awal, jika ada yang tak beres dengan pamannya tersebut.


“Paman, aku berpamitan ke kamar sebentar. Entah kenapa aku sangat gerah, aku mandi sebentar setelah itu aku akan kembali.”


Melihat Alex mengangguk, Vino beranjak dari tempat duduknya.


Setibanya di kamar, bukannya mandi Vino malah memperhatikan pamannya dari cctv.


Alex tampak celingukan, ia keluar dari ruang kerja milik Vino lalu melangkah ke arah dapur.


Vino heran, karena Alex begitu berani mengetuk pintu kamar asisten rumah tangganya berulang kali.


Karena tak kunjung di buka, Alex terlihat membuka paksa pintu kamar tersebut.


“Kau, keluar dari kamarku!” sentak Dea yang terlihat baru saja selesai mandi.


Membuat Alex semakin bergairah ingin melakukannya, karena semakin tertunda karena Dea kabur dari dirinya dulu.


“Keluar!” sentak Dea lagi, ia mengambil sebuah sapu dan memperlihatkan pada Alex jika dirinya tidak akan segan memukul Alex.


Alex menyeringai licik, ia melangkah mundur. Tapi bukan untuk keluar dari kamar ternyata, namun menutup pintu dan menguncinya membaut Dea semakin ketakutan.


“Mau apa kau?!” menatap tajam ke arah Alex, yang terlihat membuka ikat pinggangnya.


“Jangan berpura-pura bodoh! Kau pasti tahu apa yang ingin aku lakukan, mari kita bersenang-senang,” ujarnya dengan langkah perlahan mendekati Dea yang semakin mundur hingga terbentur dinding.


“Jangan mendekat, atau aku akan berteriak!” ancam Dea dengan mata yang memerah menahan tangisnya.


“Berteriaklah sekuat tenagamu!” menarik tangan Dea dan mengambil sapu tersebut lalu membuangnya kesembarang arah.


“Sudah cukup bermainnya, wanita sialan! Kau sudah banyak bermain denganku, sekarang kau harus melayaniku! Karena Ayahmu sendiri yang menjualmu padaku!” sentaknya dengan memegang kedua bahu Dea cukup erat, membuat sang pemilik bahu meringis kesakitan.


“Tolong! Tolong ... hiks!” teriak Dea.

__ADS_1


Namun percuma, karena tak ada yang mendengarnya.


“Hahaha ... teriak lagi yang nyaring!” serunya dengan menyeringai licik.


Ia mendorong tubuh Dea hingga ke tempat tidur, lalu membuka celana miliknya hingga menyisakan celana pendeknya saja.


Sesuatu yang sudah tegak sejak tadi, sangat jelas terlihat.


Dea berusaha untuk beranjak dari tempat tersebut, namun percuma Alex kembali menarik kedua kaki Dea.


“Mau kemana kau wanita sialan!” sentaknya, sembari menarik kedua kaki Dea bahkan celana yang Dea kenakan.


Hendak bersiap melakukannya, terdengar ketukan di pintu kamar. Dea tampak mengela napas lega karena ketukan tersebut yang menyelamatkan dirinya.


“Lepas!” sentaknya.


Namun, tak semudah itu terlepas dari Alex.


Alex membungkam mulut Dea dengan kedua tangannya, lalu mengambil pisau buah yang berada di atas meja.


“Lihat ini, kau pasti tahu jika aku melukaimu dengan ini kamu pasti tahu rasa sakitnya. Jika kamu berani membuka mulutmu, aku pastikan nasibmu sama seperti Diana!” ancamnya.


Dea membulatkan matanya, entah apa yang terjadi dengan Diana sehingga Alex berkata seperti itu.


“Kau dengar?!” ujar masih meletakkan benda tajam tersebut ke leher Dea, dengan terpaksa Dea mengangguk.


“Sekarang kau keluar dan pastikan orang tersebut tak masuk ke dalam kamar ini!” menyerahkan celana milik Dea.


Dengan cepat Dea mengenakannya, sembari mengusap air matanya dengan Alex yang masih menatapnya sembari memegang benda tajam tersebut.


Alex malah menelan salivanya melihat kedua kaki Dea yang putih mulus tersebut.


“Sialan, entah kenapa aku tidak bisa menahan diri lagi! Huh ... aku akan pasti bisa memilikimu dan bukan hanya teman tidur. Aku akan menjadikanmu Istriku,” gumamnya dalam hati.


Dea tampak tergesa-gesa membuka pintu, karena dirinya juga ingin segera keluar dari kamar tersebut. Apalagi Alex menatap dengan tatapan mesum dan juga mengancamnya dengan sebuah pisau.


“Dea, apa kau mendengar suara teriakan?” tanya Vino berpura-pura tak mengerti.


Vino melirik tangan Dea yang gemetar, bahkan mata Dea terlihat sembab.


Dea menggelengkan kepalanya dengan ragu, tapi tidak dengan hatinya yang mengatakan jika dirinya meminta tolong.


“Oh ... apa kau melihat Pamanku?” tanyanya lagi.


Padahal dirinya sudah melihat dari cctv kemana perginya pamannya tersebut, bahkan ia melihat apa yang di lakukannya saat di dapur dengan Dea.


Dea terdiam lalu menunduk.


“Ti-tidak Tuan,” sagunya lirih.


“Dea, apa yang terjadi?” tanya Vino memberanikan diri untuk menarik dagu Dea agar menatapnya.


Pertama kalinya Vino melihat wajah Dea dengan sangat dekat, Vino kagum dengan kecantikan asisten rumah tangganya tersebut yang begitu cantik.


“Dia ternyata cantik,” gumamnya dalam hati.


“A-aku ... hiks ....” bukannya menjawab, Dea malah menangis karena ketakutan.


Vino menarik Dea ke dalam pelukannya, karena dirinya tak bisa melihat seorang wanita menangis.


“Ada apa? Apa ada yang mengancamku?” tanyanya mengusap kepala Dea.


Alex masih mendengar percakapan mereka di balik pintu kamar Dea.


Dea menggelengkan kepalanya.


“Lalu?” tanyanya lagi.


“Aku merindukan Ibuku. Maaf Tuan,” ucapnya melepaskan diri dari dekapan Vino, karena baru menyadari jika dirinya ternyata berada di dekapan Vino.


“Dimana Ibumu? Kau boleh menemuinya setelah pekerjaanmu selesai,” ujar Vino.


Dea menggelengkan kepalanya.


“Ibuku sudah meninggal,” sahutnya lirih.


Vino terdiam, lalu menepuk pelan bahu Dea.


“Sekarang kau istirahatlah, besok kita bicara lagi.”


Dea mengangguk, akan tetapi dirinya tak mungkin masuk kamar kembali karena masih ada Alex di kamar miliknya.


Melihat Vino sudah melangkah ke arah dapur, Dea juga melangkah ke kamar rekan kerjanya. Karena itu jalan satu-satunya untuk menghindari Alex, karena tidak mungkin Alex masuk ke kamar itu.


***

__ADS_1


__ADS_2