Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 35


__ADS_3

“Papa! Papa lupa ya?!” gadis kecil tersebut memicingkan matanya kepada Dika.


Dika tampak mengernyit heran, bahkan dia bingung apa yang telah ia janjikan pada putri kecilnya tersebut.


“Lupa apa Sayang?” tanyanya dengan lembut menarik putrinya agar duduk di pangkuannya.


Dea menatap keakraban antara suami dan anak sambungnya tersebut.


“Ih, Papa jahat!” dengan wajah yang cemberut sembari melipat kedua tangannya.


Dea terkekeh melihat ayah dan anak tersebut, ia beranjak dari tempat duduknya melangkah keluar kamar.


“Hm ... Papa baru ingat. Sini Papa bisikin,” ujarnya lalu membisikan sesuatu di telinga putrinya.


Mata Clara langsung berbinar, ia langsung turun dari pangkuan ayahnya dan berlari keluar.


Ia mengirim pesan pada seseorang, jika dirinya akan kembali besok bersama anak dan istrinya.


Ia meminta tolong untuk di jemput di bandara.


“Sedang apa?” tanya Dika memeluk istrinya dari belakang, lalu mengecup beberapa kali bahu istrinya.


“Ini, membuatkanmu teh hangat. Dimana Clara?” tanyanya membiarkan suaminya memeluk dirinya.


Dika juga heran pada istrinya, karena tak melepaskan dekapannya. Tak seperti biasanya, Dea selalu menolak untuk di peluk olehnya.


Selama kurang lebih enam tahun menikah, Dika tak pernah menyentuh istrinya tersebut.


Pernah suatu hari dirinya dan Dea ingin melakukannya, semua itu atas kehendak Dea sendiri. Akan tetapi, Dea terlihat mengalami trauma berat, ia menangis saat ingin di sentuh oleh Dika suaminya. Semenjak saat itu Dika memaklumi istrinya yang masih dalam pemulihan terhadap trauma masa lalunya.


Karena Dika menikah bukan karena nafsu, hingga ia sanggup menunggu kesiapan Dea sampai kapanpun. Yang terpenting baginya saat ini adalah kebahagiaan kedua orang yang sangat ia sayangi.


“Clara ke mobil untuk mengambil hadiahnya,” sahutnya masih fokus memeluk istrinya, apa lagi menghirup aroma wangi tubuhnya istrinya membuat dirinya sangat rileks apalagi beberapa terakhir sibuk dengan pekerjaannya.


“Wangi sekali. Kau memakai parfum apa?” tanyanya dengan berbisik.


Dea terdiam.


“Kasihan Dika, aku bahkan tak pernah memberikannya apa yang dia inginkan. Tapi, dia masih setia padaku hingga saat ini. Tuhan, aku sangat berdosa pada pria yang menjadi suamiku ini,” gumam Dea dalam hati.


Dea melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya, lalu menghadap suaminya.


“Sekarang kita makan dulu, setelah itu Istirahat. Pasti sangat cape setelah melakukan perjalanan jauh,” ucap Dea lembut.


Dika mengangguk, sejak pernikahan hingga saat ini, dirinya dan Dea tak lemah bertengkar. Jika dia marah, ia selalu mencari cara agar mood Dea kembali. Tak jarang dia sering membiarkan Dea sendiri jika marah, untuk menetralkan emosinya agar kemarahannya tak semakin besar.


Setelah selesai makan siang, seperti biasa Dea menidurkan putrinya untuk tidur siang. Lalu ia kembali masuk ke kamarnya, melihat sang suami terlihat berkutat dengan laptopnya di atas tempat tidur.


“Apa Clara sudah tidur? Kemasi pakaian kalian, kita akan berangkat besok.” Dika berkata seperti itu tanpa melihat Dea.


Karena masih sibuk dengan layar laptopnya, walaupun bisnisnya gak sebesar milik mantan suami istrinya. Akan tetapi, uang itu sangat cukup untuk menghidupi istri dan putrinya. Bahkan ia sudah menyiapkan rumah sendiri untuk di tempati keluarga kecilnya.


“Sayang,” panggil Dea.


Dika tercengang dengan panggilan baru Dea padanya, karena selama enam tahun mereka hanya memanggil dengan sebutan nama saja.


Lain halnya ketika didepan Clara, mereka harus mengikuti panggilan yang di panggil oleh putrinya.


“Dea, apa yang terjadi denganmu?” tanya Dika terlihat heran.


Dea tertunduk malu, karena dirinya juga sebenarnya tak terbiasa dengan panggilan tersebut.

__ADS_1


Hanya saja ia ingin mengubah panggilan pada suaminya, apalagi mereka akan pindah dari kota ini ke kota kelahirannya dan akan menetap disana. Dea tak ingin keluarga Dika berpikir jika dirinya tak sopan pada suami.


“Dea,” panggil Dika sembari meletakkan laptop miliknya lalu mengambil tangan Dea.


“Aku hanya ingin mengubah panggilanku, aku tak ingin keluargamu menganggap aku tidak sopan.” Menahan malu pada Dika.


Dika tersenyum.


“Terima kasih sudah menjaga kehormatanku di depan keluargaku. Ayah dan Ibuku selalu bertanya tentang kalian, bahkan Mereka saat bertemu denganku selalu protes. Karena aku tekan pernah membawa kalian,” ujarnya menyelipkan rambut halus di daun telinga istrinya.


“Maafkan aku, aku belum siap. Tapi sekarang, aku akan ikut bersamamu kemana pun kau pergi.”


Dika kembali tersenyum, bahkan ia menghela napas lega.


Dika melepaskan tangannya dari tangan istrinya, lalu hendak mengambil laptop kembali.


Namun, Dea menahannya membuat Dika mengernyit heran.


“Kenapa kau ....” perkataan Dika belum selesai, Dea langsung duduk di atas tubuh suaminya.


“Dea, apa yang terjadi denganmu?” tanya Dika tampak gugup.


Dulu ia sangat menginginkan momen seperti ini, akan tetapi sekarang malah dirinya yang takut melihat tatapan menggoda istrinya.


“Maafkan aku, karena telah membuatmu menunggu lama.” Mendekati bibirnya pada suaminya.


Keringat Dika mulai bercucuran, Dea mengambil remot AC dan mengubah suhunya menjadi sangat dingin.


“Dea, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Aku ingin kalian bahagia, karena dasarnya aku menikahimu bukan karena nafsu, melainkan karena aku ....” menggantungkan ucapannya.


“Karena apa? Apa karena Clara?” tanya Dea pelan, bahkan raut wajahnya mulai berubah.


Dika tersenyum, dirinya sangat yakin jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan sejak dulu.


“Hei, Sayang. Aku tak peduli jika dirimu tak membalas cintaku, cukup aku yang mencintaimu dan tetap selalu berada di sisiku.” Memeluk istrinya yang masih berada di atas tubuhnya.


Dika merasa dirinya sudah tak bisa menahan diri lagi, walau sebenarnya ia gugup karena ini juga pertama kali untuknya.


Dea membiarkan Dika melakukannya, bahkan dirinya ikut andil membantu Dika yang belum berpengalaman tersebut.


Kini mereka melakukan untuk pertama kalinya di siang hari, lalu menikmati di setiap sentuhan Dika padanya.


“Jangan tinggalkan aku. Jika aku mempunyai kekurangan, katakan saja padaku aku akan memperbaikinya. Jangan meninggalkan aku dengan wanita lain,” ucap Dea lirih di dalam pelukan suaminya, setelah mereka selesai melakukan pertarungan panas tersebut.


“Begitupun sebaliknya, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kalian.” Memeluk istrinya dengan erat.


Lalu mereka berbincang hangat, Dika mulai membicarakan tentang dirinya yang sejak dulu menyukai Dea.


Namun, saat mengetahui Dea sudah menikah, dirinya mundur dan berusaha akan melupakan Dea.


Akan tetapi takdir berkata lain, mereka di persatukan dengan cara yang berbeda.


Dea tak kuasa menahan tangisnya, kenapa ia begitu bodoh dulu. Karena menyetujui pernikahan tersebut, dengan alasan ingin bertanggung jawab.


Namun, di balik semua itu ternyata Vino takut akan kehilangan bisnisnya jika Dea melaporkan ke polisi akibat ulah pamannya tersebut.


***


Wanita tersebut terlihat menahan sakit yang begitu luar biasa di bagian perut bawahnya, ia takut memeriksakan diri ke dokter karena takut jika ada masalah serius.


“Diana, apa yang terjadi denganmu. Apa kamu sakit, wajahmu pucat sekali!” tanya rekan kerjanya melihat wajah Diana yang terlihat sangat pucat.

__ADS_1


“Tidak, aku baik-baik saja.”


“Aku akan bicara pada Mami, kamu harus segera ke Dokter.”


“Tidak, tidak. Aku baik-baik saja, sepertinya aku hanya telat makan saja.” Diana bersikeras menolak, karena memang dirinya tidak ingin ke dokter.


Diana kini kembali menjadi wanita penghibur, tak jarang dirinya juga menerima tawaran pada pria yang ingin tidur dengannya.


Semua yang ia lakukan demi menghidupi kebutuhannya, walaupun saat ini dirinya tak menanggung biaya rumah sakit adiknya lagi. Karena setelah kepergiannya dari rumah Alex, adiknya tak menerima lagi biaya pengobatan hingga adiknya meninggal dunia.


Sejak saat itu, ia bertekad akan membalaskan dendam pada Alex dan Vino. Karena mereka, hidupnya menjadi sengsara seperti ini.


“Diana, ada job untukmu. Dia pria kaya raya, lumayan dapat uang tambahan,” ucap salah satu rekan seprofesinya.


“Hush ... Diana sedang sakit, ambil saja untukmu. Diana, kamu istirahat saja.”


Diana mengangguk, ia berterima kasih karena ada temannya yang masih baik hatinya padanya.


***


Di rumah Vino, setelah pulang bekerja ia mengurung dirinya di kamar.


Hingga saat ini sejak kepergian Dea, ia tidak berniat untuk menikah kembali.


Setelah kepergian istrinya dari rumah setelah beberapa hari, Vino bertekad mencari istrinya kembali karena menyadari semua kesalahannya dan ingin memulai hidup kembali dengan Dea.


Akan tetapi, setalah berbulan-bulan lamanya ia tidak menemukan keberadaan istrinya.


Ia terkejut melihat surat ceria yang di gugat oleh istrinya dan sejak saat ini ia menyerah. Karena tidak ada harapan lagi untuknya bisa kembali pada istrinya tersebut.


Selang beberapa bulan perceraiannya, kini bisnisnya bangkrut. Semua klien membatalkan kerja samanya, semua itu karena tersebar foto skandalnya bersama Diana saat di hotel.


Dianalah pelaku semua itu, karena memang dirinya ingin membalaskan dendam karena Vino telah menghancurkan hatinya.


“Dea, apa kabar? Dimana kamu sekarang? Apa kamu tidak merindukan aku walau hanya sedikit?” tanyanya pada foto Dea, seperti yang tidak waras berbicara sendiri dengan foto mantan istrinya.


“Dea, aku sangat mencintaimu.” Memeluk dan mencium foto tersebut.


Hingga saat ini, dirinya tak bisa melupakan Dea yang selalu menari-nari di kepalanya.


Vino terdiam sejenak, sepertinya dirinya menyadari sejenak.


“Apa pria itu yang menyembunyikan Dea?” gumamnya dalam hati.


Ia teringat sesuatu, saat dirinya dulu sangat cemburu saat teman pria Dea memeluknya saat di pusat belanja dulu.


Karena Dea pernah menceritakan, jika Dika adalah pahlawannya yang membantunya bersembunyi dari kejauhan ayah dan paman Alex.


“Aku sangat yakin, jika pria itu pasti yang menyembunyikan Dea. Aku akan mencat tahu!” mengepal tangannya kuat.


Karena tak mungkin Dea bisa bersembunyi tanpa meninggalkan jejak sama sekali.


Vino membulatkan tekadnya untuk kembali mencari istrinya, masih berharap banyak pada mantan istrinya untuk kembali padanya.


Sementara paman Alex masih seperti yang dulu dengan bisnisnya yang masih tetap berada pada tempatnya. Tak turun atau pun naik, bahkan hobinya untuk mengoleksi wanita kini semakin hari semakin bertambah.


Bukan hanya satu wanita yang melayaninya, dalam satu hari ia bisa memakai jasa wanita hingga tiga orang.


Ia bahkan tidak peduli lagi pada Vino ponakannya, karena Vino sudah berulang kali mengecewakan dirinya pikirnya. Alex bahkan tersenyum bahagia saat mendengar kabar jika bisnis keponakannya tersebut mengalami kebangkrutan, hingga berpikir Vino akan datang padanya dan mengemis untuk meminta bantuan.


Namun, darinya salah. Ternyata Vino masih mempertahankan egonya, untuk tidak bertemu dengannya untuk meminta maaf.

__ADS_1


***


__ADS_2