Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 22


__ADS_3

Tiga bulan sudah berlalu, keadaan Diana juga sudah membaik bahkan wajahnya sudah lebih seger dari pertama ia ke rumah dulu.


Kebetulan Vino siang ini tidak masuk ke kantor, karena dirinya ingin bekerja dari rumah saja.


Sedangkan Dea meminta izin pada suaminya untuk ke makam ibunya, karena sudah beberapa bulan sejak menikah dirinya tak pernah ke makam ibunya.


Tok ... Tok ... pintu ruangan di ketuk oleh Diana, karena dirinya berinisiatif memberikan kopi untuk Vino. Karena beberapa bulan tinggal di rumah tersebut, dirinya sedikit banyak tahu kesukaan Dea dan suaminya.


Dea juga sudah menganggap Diana seperti kakaknya sendiri, Diana terlihat sangat beruntung bertemu dengan Dea.


“Iya, masuk.”


Diana menatap Vino yang terlihat di fokus dengan layar laptopnya, Diana langsung meletakkan kopi tersebut di meja.


“Tuan, Dea belum kembali. Jadi, aku berniat membawakan Tuan kopi pahit.”


Vino mengangguk tanpa menoleh.


Namun, Diana tak kunjung keluar dari ruangnya membuat Vino menoleh ke arahnya.


“Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Vino.


“Mm ... Tuan. Saya sangat berterima kasih, berkat Tuan saya terbebas dari Tuan Alex.”


“Iya, jangan terus menerus berterima kasih.” Vino tersenyum padanya.


Senyum Vino tersebut membuat Diana menjadi salah tingkah, jantungnya langsung berdetak kencang.


“I-iya, Tuan.”

__ADS_1


Kini Vino kembali fokus dengan pekerjaannya.


Malam hari, Diana tak bisa memejamkan matanya. Masih terbayang di benaknya senyum manis Vino padanya siang tadi.


“Astaga, kenapa aku malah membayangkan senyumannya?” gumamnya dalam hati.


Diana tak sengaja melihat ponsel milik Dea yang ia lupa kembalikan tadi.


“Astaga, ponsel Dea. Kenapa aku bisa lupa mengembalikannya? Bagaimana jika Dea membutuhkan ponsel ini? Sebaiknya aku ke kamarnya saja, semoga saja dia belum tidur,” gumamnya.


Diana segera keluar dari kamarnya, dengan setengah berlari menuju kamar Dea. Ia bernapas lega karena pintu kamar Dea masih terbuka sedikit.


“Oh syukurlah, mereka belum tidur,” gumamnya lagi.


Namun, saat dekat di kamar Diana mendengar suara aneh dari kamar tersebut hingga perlahan Diana mengintip.


Dia menelan salivanya dengan kasar, entah kenapa dirinya sangat bernafsu saat melihat Dea dan suaminya yang sedang memadu kasih tersebut.


Diana masih mengintip aktivitas mereka yang masih tak kunjung usai, apalagi Vino meminta Dea berpindah posisi menjadi di atas tubuhnya.


Hampir setengah jam lamanya, mereka terlihat hendak menuntaskan permainan mereka, Diana langsung bergegas pergi dari tempat tersebut dengan napas yang turun naik.


Diana ke dapur untuk mengambil air putih, mengintip aktivitas yang di lakukan suami istri itu membuat dirinya menjadi haus.


Diana di kursi dengan tangan bertumpu di meja, ia membayangkan jika dirinya di posisi Dea saat ini.


“Huh ... kenapa dengan diriku! Sadarlah Diana, Dea begitu baik padamu!” mengutuk dirinya sendiri.


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, Diana menoleh ternyata Vino terlihat menuruni tangga.

__ADS_1


Diana berpikir sejenak, ia dengan sengaja membuka dua kancing baju tidurnya agar belahan dadanya terlihat oleh Vino.


“Diana, kamu belum tidur?” tanya Vino melihat Diana duduk di kursi.


Diana seolah terkejut dengan suara Vino, langsung menoleh ke sumber suara.


“Oh, Tuan mengagetkanku. Aku belum mengantuk, Tuan.”


Netra Vino tak sengaja melihat kancing baju Diana yang terbuka, karena benda kenyal milik Diana yang cukup besar hingga terlihat jelas belahan dadanya.


Diana juga melihat tatapan Vino tertuju pada bagian dadanya.


“Oh,” sahut Vino singkat.


Vino langsung mengalihkan pandangannya, ia segera mengambil air putih segelas lalu meminumnya hingga habis.


“Jangan terlalu larut untuk tidur,” ucap Vino langsung melangkah melewatinya.


Diana mengangguk. Namun, wajahnya terlihat kesal karena Vino tak meliriknya kembali.


Dengan perasaan kesal, Diana melangkah menuju kamar miliknya mencoba untuk tidur kembali.


Diana masih belum bisa memejamkan matanya walau sudah berusaha, pikirannya selalu terbayang dengan permainan Dea dan suaminya.


"Sialan! kenapa aku malah membayangkan mereka? huh ... sadar Diana, sadar! mereka begitu baik padamu. Astaga! entah kenapa dengan diriku?!" memukul kepalanya sendiri.


Hingga pukul 04.00 dini hari, Diana baru bisa memejamkan matanya.


***

__ADS_1


__ADS_2