Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 06


__ADS_3

Ceklek ....


Dea menatap pria yang baru masuk, netra mereka saling menatap satu sama lain.


Seketika Dea langsung mengalihkan pandangannya, tubuhnya mulai bergetar ketakutan kedua tangannya menutup bagian dadanya yang terbuka karena pakaian yang ia kenakan saat ini sangat minim dari sebelumnya.


“Kenapa kau menutupinya? Huem ... aku sudah terbiasa melihat seperti itu. Jadi, kau tak perlu menutupinya,” ujar Alex sembari menyeringai lalu melepas jasnya dan membuangnya kesembarang arah.


Dea tampak menelan salivanya dengan kasar.


“Aku sudah membayarmu dengan sangat mahal kepada Ayahmu, sekarang kau harus melayaniku,” tambahnya lagi mendekati Dea.


Alex menarik dagu Dea agar mendongakkan kepalanya menghadap padanya.


“Tu-tuan ... ak-aku ....” dengan suara terbata.


“Aku tidak menerima penolakan atau alasan apapun! Sekarang juga kau harus melayaniku!” selanya sembari mendorong bahu Dea hingga membuat Dea terbaring di atas tempat tidur.


Alex menelan salivanya dengan kasar melihat tubuh mulus Dea, entah kenapa saat pertama kali melihat Dea ia sangat ingin menyentuh wanita tersebut.


“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Alex dengan tatapan satunya.


“A-aku sedang datang bulan,” ucap Dea langsung tanpa ragu.


Karena ia baru menyadari jika sebelumnya ia meminta pembalut pada anak buah Alex, dengan alasan saat ini ia sedang datang bulan. Karena hanya itu yang bisa menyelamatkan dirinya pikirnya.


Tuan Alex tampak menutup matanya kesal, hingga membuatnya berdecap kesal.


“Ck ... kau berbohong!” serunya.


“Aku tidak berbohong, Tuan. Sungguh, saat ini aku sedang kedatangan tamu,” sahut Dea tampak bersemangat, karena telah berhasil mengelabui tuan Alex.


“Jika kau berbohong, kau akan menerima akibatnya!” ancamnya menunjuk wajah Dea dengan sangat kesal lalu meninggalkan Dea yang masih terbaring di tempat tidur.


Dea tampak menghela napas lega, setidaknya ia bisa selamat malam ini dari pria tersebut.


Tak lama datang seorang wanita yang sama, wanita yang membantunya untuk bersiap.


“Apa Nona sedang datang bulan?” tanyanya langsung.


Dea terdiam, wanita tersebut sudah menebak jika saat ini Dea telah berbohong. Tatapan Dea seakan memberi isyarat pada wanita tersebut jika saat ini dirinya sedang butuh bantuan.


Tanpa menunggu lagi wanita tersebut tampak mengeluarkan pembalut dan menyiram cairan yang berwarna merah pekat pada pembalut tersebut.


“Pakailah, setidaknya ini bisa menyelamatkanmu,” bisiknya.

__ADS_1


Dengan cepat Dea menangguk.


Setelah Dea memakainya, tampak Alex masuk kembali ke kamar miliknya.


“Diana, apa dia berbohong?!” tanyanya suaranya terdengar mencekam, bahkan wanita bernama Diana tersebut menelan salivanya dengan kasar karena sedikit takut.


“Iya, Tuan. Nona memang sedang datang bulan, aku baru saja memeriksanya,” sahutnya menatap Dea yang juga menatap dirinya.


“Ck ... sialan! Bawa dia keluar dari kamarku sekarang!” mendorong tubuh Dea dari hadapannya dan langsung berbaring di tempat tidurnya dengan perasaan sangat kesal.


Bagaimana tidak kesal, saat ini dirinya sangat menginginkannya akan tetapi Dea tak bisa memberikannya.


Dea dan Diana bergegas keluar dari kamar tersebut dan menuruni tangga kembali masuk ke kamar namun bukan kamar yang sebelumnya.


“Nona Diana, aku sangat ....”


“Sstt ... diamlah. Disini banyak cctv, jangan banyak bicara!” sela Diana.


Dea terdiam lalu mengangguk pelan.


“Diana,” panggil pria bertubuh kekar tersebut.


Diana langsung menoleh ke belakang.


Diana mengangguk pelan, seketika air matanya juga mengalir.


“Kenapa kau menangis?” tanya Dea pelan karena bingung melihat Diana menangis.


Diana tampak menyeringai.


“Kau selamat, tapi tidak denganku. Sudah setahun lamanya aku di jadikan budak pelampiasan hasrat Tuan Alex, aku tak berdaya lagi selain menurutinya,” ucapnya lirih.


Membuat Dea merasa bersalah, demi menyelamatkan Dea, Diana harus menjadi korbannya.


“Diana maafkan aku, aku ....”


“Sstt ... sudahlah. Aku berharap jika kau berhasil pergi dari rumah ini, kau tidak melupakan jasaku.”


Belum sempat membalas ucapan Diana, Diana sudah melangkah pergi untuk ke kamar Alex.


Dea terduduk di tepi tempat tidur, ia sendiri bingung dengan situasi saat ini.


Di dalam kamar, Alex terlihat sedang bersandar di bahu tempat tidur tanpa mengenakan busana dengan di tutupi selimut tebal di bagian perut bagian bawahnya.


“Lama sekali! Kunci pintunya!” serunya.

__ADS_1


Diana tampak mengangguk patuh, ia mengunci pintunya lalu mendekati kasur tersebut sembari menunduk.


“Tak perlu harus aku beritahu setiap saat bukan? Kau pasti sudah tahu tugasmu!” sentaknya sedikit kesal dengan Diana yang terlihat menunduk saja.


Diana berusaha menahan air matanya.


“Apa perlu ku habiskan adik kesayanganmu itu yang saat ini tak berdaya di rumah sakit?!” ancamnya.


Membuat Diana langsung membuka pakaiannya tanpa tersisa sedikitpun.


“Dasar bodoh!” umpatnya pada Diana.


Diana hanya pasrah dan mulai melayani Alex seperti layaknya suami istri.


Alex malah membayangkan tubuh Dea saat melihat Diana tengah bermain di atas sana.


“Siapa nama wanita itu?” tanyanya di tengah permainannya dengan Diana.


“De-Dea,” sahut Diana sembari mengeluarkan desa*an diatas sana.


Alex mulai menikmati permainan Diana hingga mereka puas bersama-sama.


Sedangkan Diana, setiap harinya ia harus meminum obat penunda hamil, karena dirinya sendiri tak sudi mempunyai anak dari pria yang kejam seperti Alex.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Diana mandi di kamar mandi milik Alex karena setelah melakukannya pasti Alex langsung tertidur tanpa bangun kembali hingga pagi.


Diana menangis di bawah guyuran air shower, menangis tanpa suara menyesali perbuatannya saat ini. Kehormatannya sudah hilang sejak, bahkan yang merenggutnya adalah Alex sendiri itu semua demi adik yang terbaring di rumah sakit dan juga karena ibunya yang tega menawarkan dirinya pada Alex.


Setelah puas menangis, Diana keluar dari kamar mandi tersebut. Saat hendak melangkah di depan pintu, ia menatap wajah Alex yang terlihat pulas tertidur.


Diana ingin sekali menusuk pria tersebut saat tertidur pulas seperti itu, apalagi melihat pisau buah yang tergeletak di meja.


Namun, ia harus berpikir seribu kali lagi untuk melakukannya. Selain tak memiliki biaya untuk adiknya yang tengah di rawat di rumah sakit, dirinya juga pasti akan di percaya seumur hidup.


Diana menghela napas kasar, entah sampai kapan dirinya akan menjadi budak pelampiasan hasrat oleh Alex.


Diana sangat berharap pada Dea saat ini, Dea bisa membebaskan dirinya dari tuan Alex tersebut.


Diana kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar tersebut, terlihat ada dua anak buah tuan Alex ya g masih berjaga di depan pintu kamar tersebut.


Namun, Diana tak menghiraukan mereka ia tetap melanjutkan langkahnya untuk menuruni tangga.


Setibanya di depan pintu kamar miliknya, Diana melihat ada tiga pria bertubuh kekar berjaga di depan pintu kamar Dea. Lagi-lagi Diana menghela napas kasar, mustahil bagi Dea bisa kabur dari rumah tersebut. Diana berharap pada keajaiban yang dapat membantunya untuk keluar dari rumah tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2