Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 38


__ADS_3

“Ada apa ini Rival?! Apa yang kamu lakukan pada adik iparmu? Jangan bilang kamu menyukainya?” tanya ayahnya menatap sang putra yang tengah menyantap sarapan.


“Ayah selalu saja memanjakannya!” seru Rival.


“Ayah tidak pernah memanjakannya! Apa yang tidak pernah Ayah berikan padamu, setengah dari bisnis Ayah untukmu. Sedangkan Dika, apa yang Ayah berikan padanya. Ayah sangat malu padanya, dia seperti anak tiri.”


Karena memang benar adanya, semua bisnis miliknya ia serahkan pada kedua anaknya. Sedangkan Dika, dirinya tidak mendapatkan apapun. Karena memang dirinya tak menginginkan itu.


“Sudahlah Ayah! Aku tak ingin ribut,” ujarnya beranjak dari tempat duduknya.


Sang ayah menatap punggung putranya, sembari menggelengkan kepala.


“Lihat putramu itu, ini adalah berkat yang selalu di manjakan olehmu!” ucapnya suaminya tak habis pikir dengan sikap putranya tersebut


“Jangan menyalahkanku! Salahkan menantumu itu, wanita itu tetap saja sama. Dia sudah memperlihatkan sifat aslinya, dari mana dirinya berasal!”


“Apa kamu sudah melihat kebenarannya! Kamu jangan asal bicara, bisa saja itu Rival yang memulai!” sentaknya.


“Putraku tidak mungkin berbohong!” belanya.


“Kamu ini keras kepala sekali! Lihat ini!” memperlihatkan sebuah rekaman cctv, jika memang benar adanya Rivallah yang masuk ke kamar tersebut. Terlihat dari rekaman tersebut, Rival menutup pintu kamar milik Dika.


Tak berselang lama, Dika hendak membuka pintu bersamaan dengan Dea yang membuka pintu.


“Apa kamu masih membela putramu?! Sebelum mengetahui kebenarannya, jangan menuduh tanpa bukti!” istrinya terlihat mematung setelah melihat rekaman tersebut.


“Bayangkan jika video ini tersebar, bisnisnya akan hancur dan kita menanggung malu. Apalagi jika Dea melaporkan Rival ke polisi!”


“Jadi, berpikir terlebih dahulu, sebelum kamu mengeluarkan kata-kata apalagi sampai menyakiti hati menantu kita. Aku bersusah payah membawa Dika untuk tinggal kembali bersama kita di rumah ini,” tambah suaminya lagi mengingatkan istrinya.


Setelah mengatakan itu, ia melangkah menuju ke kamar putranya.


Di kamar, Rival membaringkan tubuhnya karena merasa sakit di kepalanya.


“Sialan! aku pikir dia wanita yang polos! Ternyata dia licik juga,” gumamnya kesal dalam hati.


Karena dirinya tak berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan dari Dea.


Tok ... Tok ...


Pintu kamar di ketuk, lalu terbuka lebar. Memperlihatkan sang ayah yang masuk.


“Rival, Ayah ingin bicara serius padamu.” Rival yang semula berbaring, kini dirinya duduk bersandar di bahu ranjang.


Ia berdecap terlihat berdecap kesal.


“Jangan bilang Ayah ingin menjodohkanku!”


“Iya, Ayah tidak ingin kejadian ini terulang lagi! Jika kamu menolak menikah, Ayah akan mengambil alih semua bisnis dan menariknya kembali! Dan kamu tidak akan mendapatkan sepersen pun!” ancam ayahnya.


Karena dirinya tak ingin kejadian yang di lakukan oleh Rival di ulang kembali.


“Ck ... Kenapa Ayah selalu----.”

__ADS_1


“Jangan membantah! Ayah sudah muak dengan perbuatanmu!” seru ayahnya.


Rival terlihat pasrah dan menerima perjodohan oleh ayahnya. Karena dirinya juga tak ingin kehilangan bisnis yang ia tekuni saat ini.


Ayah mana yang ingin melihat keluarganya menjadi berantakan sepertinya, ayahnya kembali duduk lalu mengusap punggung Rival pelan.


"Anakku, Ayah harap kamu bisa belajar dari kesalahanmu. Jangan pernah lagi melakukan hal yang merugikan keluarga kita, apalagi sampai menghancurkan bisnis keluarga. Kita harus saling mendukung dan jangan merugikan satu sama lain," ucap sang ayah dengan lembut.


Rival merenung dan memikirkan kata-kata ayahnya. Dirinya memang melakukan kesalahan besar dan merugikan keluarga. Rival berjanji akan memperbaiki diri dan tidak akan melakukan kesalahan lagi.


Dengan kejadian ini, keluarga tersebut semakin kuat dan saling mendukung. Mereka belajar dari kesalahan dan tidak ingin kejadian serupa terjadi di masa depan. Semua anggota keluarga saling menghargai dan saling mencintai satu sama lain. Mereka menikmati suasana bahagia dan damai di rumah mereka yang baru.


***


Di kantor tempat Vino bekerja, ia terlihat fokus dengan pekerjaannya. Kini dirinya bekerja menjadi pegawai biasa di salah satu perusahaan.


“Vino, makan siang yuk,” ajak salah satu rekan satu ruangannya.


“Kamu pergi saja duluan, aku akan menyusul. Masih ada pekerjaan sedikit,” sahut Vino tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


“Oke, aku menunggumu di kantin.”


Vino mengangguk.


“Oh iya, Vin. Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan mantan Istrimu di bandara,” ucapnya, karena dirinya baru saja pulang dari liburan dan tepat hari ini rekan kerja Vino baru masuk bekerja.


Seketika Vino langsung menghentikan aktivitasnya, lalu langsung menoleh ke arah rekan kerjanya tersebut.


“Entah, aku hanya tak sengaja berpapasan dengannya. Tapi dia sepertinya tak mengenaliku,” sahutnya hendak melangkah keluar, karena dirinya ingin ke kantin.


Rekan kerja sekaligus teman Vino dari bangku kuliah tersebut, memang mengetahui tentang permasalahannya. Karena sebelumnya Vino bercerita tentang rumah tangganya yang hancur bahkan ia tak segan memperlihatkan foto mantan istrinya. Berharap temannya tak sengaja bertemu dengan istrinya.


Mereka berpisah saat lulus kuliah, akan tetapi, mereka bertemu kembali di perusahaan yang sama dan bahkan bekerja di kantor yang sama.


“Eh mau kemana?” tanyanya, karena dirinya ingin mendengar lebih lagi tentang mantan istrinya.


Sudah beberapa tahun dirinya tak melihat Dea.


“Aku mau ke kantin. Ada apa?”


“Terus, bagaimana?” tanyanya.


Membuat temanya tersebut mengernyit heran.


“Bagaimana apanya? Oh ... aku tahu. Kamu ingin mendapat informasi lebih lagi tentang Dea, bukan?” menatap Vino curiga.


Vino langsung mengalihkan pandangannya, ia terlihat malu karena ketahuan oleh rekannya sendiri.


“Mungkin takdir mempertemukan kita kembali lagi, Dea. Hingga sekarang aku masih mencintaimu, semoga kamu membuka hatimu kembali lagi,” gumamnya dalam hati.


“Woi, aku bicara padamu! Bukan dengan tembok!” seru temannya tersebut.


“Hah, apa? Huh ... lupakan saja. Ayo kita makan siang, bukankah kamu sudah lapar?” sahut Vino untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Lalu terkekeh melihat wajah temannya tersebut cemberut.


“Sialan!” kesalnya pada Vino.


***


Dika sudah tiba di rumah mereka, walaupun rumah tersebut masih tak terlalu banyak barang. Karena rumah tersebut baru selesai di renovasi.


“Sayang, maafkan aku rumahnya masih belum sepenuhnya beres. Apa kau tidak keberatan?” tanya Dika lembut.


“Tidak sama sekali. Aku sangat bersyukur sudah memilikimu, maafkan aku. Atas kejadian pagi tadi, Ibu menjadi sangat marah.”


“Justru aku yang meminta maaf padamu atas kejadian tadi pagi. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu," ucap Dika pada istrinya, Dea.


Dika menarik istrinya ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala istrinya.


Dea mengangguk, memeluk suaminya dengan erat.


Hari demi hari sudah mereka lalui di rumah baru mereka, keluarga kecil mereka terlihat begitu bahagia tak terkecuali Clara sendiri.


Ia begitu tampak bahagia, karena hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah.


“Ma, Papa tidak ikut antar Clara sekolah?” tanya Clara di dalam mobil.


Dea tersenyum.


“Papa akan menyusul, Clara yang pintar sekolahnya ya.”


Wajah Clara yang semula cemberut, kini berubah menjadi ceria. Setalah mendengar Dika akan menyusul ke sekolahnya.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat Clara bersekolah, disana terlihat banyak ibu-ibu untuk menunggu putra dan putrinya bersekolah.


“Clara,” panggil Dika yang baru saja tiba.


“Papa,” teriak Clara dengan setengah berlari memeluk Dika yang baru saja keluar dari mobil.


“Ayo kita masuk, kita harus bertemu dengan guru Clara,” ujar Dea mendekati mereka yang tampak masih berpelukan.


Dika mengangguk.


Mereka melangkah bersama, dengan Clara yang di gendongan Dika.


Setelah selesai, Dika lebih dulu pulang. Karena harus bekerja kembali, tanpa Dika ketahui jika ada Alex mengintai mereka dari kejauhan.


Ia menatap Dika dengan tatapan sinis.


“Ternyata mereka sudah mempunyai anak. CK ... Dea. Kau pikir jika kau sudah menikah, bukan berarti kau bisa lari dariku!” gumam Alex dengan tatapan sinis menatap kepergian Dika.


Alex merogoh ponselnya dari dalam tas miliknya, lalu menghubungi anak buahnya.


“Lakukan sekarang, aku tak ingin menunggu lagi dan kehilangan mereka kembali!” dengan suara yang mencekam, bahkan sangat menakutkan.


***

__ADS_1


__ADS_2