
Beberapa minggu sudah berlalu, Dea dan Dika kini semakin akrab. Seperti hari ini, Dea merengek untuk ikut bersama Dika mengamen di jalanan. Karena dirinya merasa jenuh hanya berdiam diri di rumah saja, selain itu ia juga ingin mencari lowongan pekerjaan.
Karena tak selamanya ia mengharapkan Dika untuk membelikan semua kebutuhannya, apalagi mereka baru beberapa Minggu kenal.
“Kamu yakin mau ikut? Bagaimana jika pria itu menangkapmu kembali?” tanya Dika tengah bersiap.
“Aku akan menyamar, sama sepertimu.”
Dika mengernyit heran.
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan,” ujar Dika.
“Jangan berpura-pura bodoh. Setiap hari kau selalu memakai bubuk hitam itu, aku jadi penasaran kenapa kau memakainya. Apa kau sedang menyamar?” tanya Dea penasaran.
“Ck ... kau tak perlu tahu. Cepat bersiap, aku menunggumu di luar. Pakai ini dan juga topi itu,” ujarnya menyerahkan bubuk hitam yang sangat aman untuk kulit tersebut.
Dea mengangguk antusias.
Selesai bersiap, Dika hampir tak mengenali wajah Dea. Karena sebelumnya kulit Dea begitu putih dan mulus kini berubah menjadi hitam kecokelatan.
“Ayo,” ajak Dea sembari membenarkan topinya.
Dika mengangguk.
“Dea, kamu masih belum aman saat ini. Aku takut pria itu mencarimu,” ujarnya sembari menunggu taksi atau angkot yang lewat.
“Kau tahu dari mana jika pria itu masih mencariku? Sebenarnya aku tidak takut dengan pria itu, yang aku takutkan adalah Ayah diriku.”
“Ayah tiri?” Dika terlihat terkejut.
“Iya,” sahutnya singkat.
Dea memberanikan diri untuk menceritakan semuanya, dari awal dirinya di jual oleh ayah tirinya dengan harga yang fantastis.
“Aku yakin pria itu tak akan mengenaliku, tapi aku tidak yakin dengan Ayah. Kemungkinan besar Ayah mengenaliku,” ucapnya.
“Kalau begitu, kau di rumah saja.”
“Tidak, tidak. Aku ingin mencari pekerjaan juga, aku tidak mau merepotkanmu selamanya.”
“Jangan bicara seperti itu, aku sama sekali tidak merasa di repotkan.”
Dea hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku tetap harus mencari pekerjaan,” ujarnya pelan.
“Jika itu memang sudah keputusanmu, aku tidak bisa melarangmu.” Dika berkata seperti itu dengan raut wajah yang sedih, akan tetapi ia berusaha menyembunyikannya.
“Mm ... Dika. Apa kau hidup seorang diri sama sepertiku? Aku tidak pernah melihat keluargamu pulang ke rumah,” tanya Dea dengan berhati-hati, karena tidak mau menyinggung perasaan Dika. Dirinya juga penasaran dengan Dika, karena selama beberapa minggu tinggal di rumah Dika ia sama sekali tidak melihat keluarga Dika.
Dika tersenyum kecut.
“Aku mempunyai orang tua yang lengkap dan aku juga mempunyai saudara lelaki dan perempuan.”
“Lalu dimana mereka?” tanya Dea lagi.
“Mereka ....” Dika menggantungkan ucapannya.
“Itu taksinya datang, ayo kita berangkat.” Menarik pelan tangan Dea.
Dea tak bisa memaksa Dika untuk berbicara lagi, Dea sangat yakin jika Dika bukanlah pria sembarangan. Terlihat dari caranya berbicara yang terlihat seperti orang yang terhormat, bahkan begitu sangat ramah dan sopan santun.
Di dalam angkot ( angkutan kota) Dea diam-diam mencuri pandang pada Dika, ia juga heran kenapa Dika membuat wajahnya menjadi pria yang hitam dan jelek. Padahal Dika sangat tampan dan juga putih jika tidak memakai bubuk penghitam tersebut.
Setibanya di tempat biasa Dika nongkrong dan juga mengamen di lampu merah. Tak hanya di lampu merah saja, Dika mengamen dari warung ke warung.
__ADS_1
Dea juga ikut andil, ia menyanyi sesuai kemampuannya dengan diiringi gitar kecil milik Dika.
“Huh, panas sekali!” keluh Dea saat mereka tengah beristirahat di bawah pohon besar.
“Ini minum dulu,” ujar Dika menyerahkan botol air mineral yang dingin pada Dea.
Dea langsung mengambil botol tersebut, terlihat jelas jika Dea sangat kehausan.
Netra Dea tak sengaja menangkap ayah tirinya tengah berteduh di pohon yang sama, tangan Dea langsung bergetar dirinya segera bersembunyi di balik pohon tersebut agar ayahnya tak melihat dirinya.
Dika tampak heran, karena melihat Dea yang tampak ketakutan.
“Ada apa?” tanya Dika.
“Sssttt ....” dia meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri, agar Dika tak mengajaknya untuk berbicara dan memberikan kode menggunakan matanya.
Seketika Dika langsung mengerti, ia menoleh ke arah pria setengah baya tengah memperbaiki motornya yang terlihat mogok.
Dika hendak beranjak dari tempat duduknya, akan tetapi Dea menahan tangannya.
“Kau mau kemana?” tanya Dea dengan pelan.
“Duduk diamlah,” sahutnya.
Dika melanjutkan langkahnya, lalu mendekati ayahnya Dea.
“Kenapa dengan motornya Pak?” tanya Dika dengan sopan.
“Entahlah, kenapa bisa mogok,” sahutnya.
“Apa aku boleh melihatnya?” tanyanya.
Dika berniat ingin membantu agar motor tersebut kembali menyala dan ayahnya Dea segera pergi dari tempat tersebut.
Dika tampak mengotak-ngatik motor tersebut, tak lama motor tersebut kembali menyala dengan sempurna.
Raut wajah sumringah terlihat dari wajah pria setengah baya tersebut.
“Wah, terima kasih banyak.”
“Sepertinya motor ini butuh di service ke bengkel, tidak bisa untuk perjalanan jauh. Kalau boleh tahu, Bapak mau kemana?” tanya Dika.
Ia sengaja bertanya seperti itu, karena ingin tahu kemana tujuannya.
“Saya sedang mencari anak saya, karena sudah beberapa Minggu tidak pulang. Saya sangat merindukannya,” ucapnya dengan wajah yang sedih di buat-buatnya.
Dea bahkan mendengar jelas ucapan ayah tirinya tersebut, ia sebenarnya menyayangi ayahnya. Namun, saat teringat ayahnya menjual dirinya membuatnya menjadi semakin benci.
“Apa kamu pernah melihatnya, ini fotonya.” Memperlihatkan foto Dea di layar ponsel miliknya.
Dika menatap foto tersebut, Dea memang sangat cantik apalagi senyum bahagia terpancar di foto terbaru.
Dika menggelengkan kepalanya pelan.
“Oke baiklah, kalau begitu saya permisi.”
Dika kembali menganggukkan kepalanya, sembari memberi senyuman.
Dea tampak menghela napas lega, karena melihat kepergian ayahnya.
“Sudah aman, ayo kita pulang,” ajak Dika menarik tangan Dea.
Dea menatap tangan Dika yang tanpa ragu memegang tangannya, entah kenapa jantungnya langsung berdegup kencang.
“Dea, apa yang kamu pikirkan?”
__ADS_1
“Hah, tidak.”
Dea mengikuti langkah Dika dari arah belakang.
“Apa kamu lapar?” tanya Dika, tak sengaja mendengar perut Dea berbunyi.
Dea tersenyum malu, lalu menggelengkan kepalanya.
“Kita makan di warung itu,” ajak Dika.
“Eh, tidak. Makan di rumah saja, hasil uang mengamen tak terlalu banyak. Bagaimana jika kurang untuk kebutuhanmu?” tolak Dea secara halus.
“Jangan pikirkan itu.” Menarik tangan Dea masuk ke warung makan tersebut.
Dika memesan makan untuk mereka berdua, Dea terlihat sangat lahap memakan makanan tersebut.
Dika tersenyum melihatnya, bahkan ia mencuri pandang pada Dea. Walaupun wajahnya terlihat hitam, entah kenapa Dea tetap saja cantik.
“Bu, apakah di warung ini buka lowongan kerja? Jika ada, aku bersedia untuk bekerja.” Dea bertanya pada pemilik warung yang sedang merapikan meja lainnya.
Dika yang semula terlihat senang, raut wajahnya langsung berubah menjadi sedih.
“Waduh neng, bukan tidak mau memperkerjakan orang. Tapi, penghasilan Ibu pas-pasan. Jadi, belum bisa bayar orang,” sahutnya.
Dea tampak lesu.
“Kau mau bekerja?” tanyanya.
“Iya, aku ingin bekerja dan bisa menghabiskan uang.”
“Tapi neng, ponakan Ibu ada yang baru berhenti bekerja sebagai art di rumah mewah karena dia mau menikah. Siapa tahu disana sedang bukan lowongan pekerjaan, jika neng berminat Ibu bisa memberikan nomor telepon ponakan Ibu,” usul ibu pemilik warung tersebut.
Dea terdiam sejenak, netra Dika dan Dea saling bertatapan sejenak. Dika langsung mengalihkan pandangan, kembali menikmati makanan tersebut.
“Boleh deh, Bu.”
Pemilik warung tersebut mencatat nomornya di kertas kecil, lalu memberikannya pada Dea dan tak lupa ia juga berterima kasih.
Sepulangnya dari mengamen, Dika lebih banyak diam. Dea bahkan bingung dengan sikap Dika yang tiba-tiba berubah, tapi Dea berusaha tidak mempedulikan hal tersebut dan mencoba berpikir positif.
Terbesit di pikirannya saat ini, ia teringat akan Diana dan bagaimana dengan Diana disana.
“Diana, bersabarlah. Aku pasti akan datang membantumu, saat diriku sudah aman dari kejaran Ayahku. Aku pasti akan datang membantumu dan mengumpulkan bukti yang ada,” ucapnya dalam hati.
***
Di tempat lain, ayah tirinya telah tiba di rumah miliknya.
Namun, ia melihat sebuah mobil milik Alex terparkir di depan rumahnya. Sudah di pastikan, Alex pasti akan meminta uangnya kembali.
“Hai ... sudah seminggu aku memberikanmu waktu, sekarang juga kembalikan uangku!” serunya menatap pria yang ada di hadapannya tersebut, bahkan posisinya masih belum masuk ke dalam rumah.
“Kita masuk dulu, Pak.”
“Ck ....” Alex berdecap kesal.
“Bawa dia masuk ke dalam mobil!” perintah Alex pada anak buahnya.
Pria paruh baya tersebut sempat memberontak, namun tenaganya tak mampu melawan dua pria bertubuh kekar tersebut.
Ayahnya Dea tersebut hanya pasrah, karena dirinya tak mampu mengembalikan uang tersebut dan juga tidak menemukan keberadaan anak tirinya yang di jual olehnya.
Alex terlihat begitu sangat murka, sehingga dirinya tak mau memberikan kesempatan lagi untuk ayah tiri Dea untuk berbicara.
***
__ADS_1