
“Diana,” ucap Dea lirih.
Dea menatap Dela sejenak.
“Dimana dia?” tanyanya, walaupun hatinya masih belum bisa menerima perbuatan Diana di masa lalu.
Melihat raut wajah Dela yang berubah menjadi sedih, Dea mengajaknya untuk masuk.
Namun, Dela menolak ajakan tersebut.
“Mendiang Diana menitipkan surat untukmu, karena penyakit yang di deritanya hingga merenggut nyawanya.”
Deg!
Tanpa sadar, air mata langsung menetes.
“Kamu pasti bohong! Ini tidak mungkin,” ujarnya dengan suara bergetar menahan tangis.
Dela mengusap bahu Dea yang sudah hampir meneteskan air mata.
“Maafkan aku, Mbak. Diana hanya menitipkan surat ini sebelum ia pergi untuk selamanya, mendiang Diana menceritakan banyak tentang Mbak, Dea. Ia hanya ingin meminta maaf,” ujar Dela.
Dea terisak mendengarnya, ia tidak menyangka jika Diana sudah pergi untuk selamanya.
“Ada apa ini?” tanya Dika baru datang menghampiri mereka.
Dela tak ingin berlama-lama, ia langsung berpamitan karena dirinya sudah menunaikan janjinya untuk memberikan surat terakhir Diana untuk Dea sebelum pergi untuk selamanya.
Dika membawa istrinya ke kamar, karena tak ingin orang melihat istrinya yang menangis.
Karena masih ada beberapa tamu yang datang ke acara ulang tahun putrinya, sedangkan Clara tambah asik dan mulai akrab berbicara pada Vino.
“Ada apa? Siapa wanita itu? Apa yang wanita itu katakan padamu?” tanya Dika tampak khawatir.
Dea tak kuasa menahan tangisnya lagi, walaupun Diana pernah berbuat jahat padamu akan tetapi hatinya tak bisa bohong jika dirinya masih menyayangi Diana.
Dea membaca surat tersebut bersama istrinya, berulang kali Dea mengusap air matanya melihat tulisan tangan Diana yang terlihat berantakan.
“Diana, aku memaafkanmu. Semoga kamu tenang disana,” ucapnya pelan.
Dika memeluk istrinya dengan erat, ikut merasakan kesedihan yang Dea rasakan.
Setelah cukup lama di kamar, Dika mengajak istrinya untuk keluar dari kamar. Karena di luar masih ada beberapa tamu yang datang dari keluarga ayahnya.
Sementara Dela menghela napas lega karena sudah memberikan surat terakhir dari Diana, walaupun dirinya tak mengetahui isi dari surat tersebut.
Saat melangkah keluar pagar, karena sibuk berperang dengan pikirannya Dela tak sengaja menabrak seseorang yang hendak masuk ke dalam rumah tersebut.
Bruk!
__ADS_1
Karena tubuh Dela tak seimbang, membuatnya hampir terjatuh. Beruntung pria tersebut langsung menarik tangannya, hingga Dela tak terjatuh.
Mereka bertatapan sejenak, Dela langsung tersadar.
“Maaf,” ujar Dela lalu melepaskan tangan pria itu yang ada di pinggangnya.
“Oh, iya. Hati-hati,” ucapnya dengan lembut.
Dela mengangguk, lalu berpamitan pergi.
“Hei, siapa namamu?” tanyanya dengan setengah berteriak.
Dela menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
“Dela,” sahutnya.
“Hai Dela, panggil aku Rival,” ujarnya sembari tersenyum pada Dela.
Dela membalas senyum tersebut, lalu menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya.
Rival masih berdiri di tempat yang sama, melihat punggung wanita tersebut hingga menghilang.
“Siapa wanita itu? Cantik sekali,” pujinya.
Untuk pertama kalinya Rival memuji wanita, karena sebelumnya dirinya sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak ada waktu untuk memikirkan wanita.
Kedatangan Rival ke rumah adiknya, berniat ingin meminta maaf atas perlakuannya pada Dea saat di rumahnya.
Rival melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah, dengan membawa kado untuk keponakannya tersebut yang pada hari ini berulang tahun.
***
Sebulan sudah berlalu, semakin hari Clara dan Vino semakin dekat. Hampir setiap hari Vino menjemput Clara pulang sekolah, itupun atas izin dari Dika sendiri.
Dika tak mempermasalahkan hal tersebut, karena memang Vino adalah ayah biologis Clara.
Sepertinya hari ini, Dea tak mengetahui jika Vino akan menjemput Clara pulang sekolah karena sebelumnya Dika tidak memberitahunya.
Karena kesibukan Dika mengelola bisnisnya, apalagi saat ini Rival bekerja sama dengan adiknya hingga hubungan mereka semakin membaik dan bukan hanya itu, pekerjaan Dika juga semakin bertambah hingga dirinya selalu pulang larut malam.
Vino meminta izin pada Dea untuk mengajak Clara jalan-jalan ke mall, akan tetapi Clara ingin ibunya juga ingin ikut bersamanya.
“Ma, ayo kita jalan sama Ayah,” rengek Clara pada ibunya.
Clara kini sudah memanggil Vino dengan sebutan Ayah.
“Clara, Mama tidak bisa. Sebaiknya Clara saja yang pergi,” tolaknya, karena tak mungkin untuk dirinya pergi tanpa izin suami.
Sedangkan, Dika sejak tadi belum membalas pesannya.
__ADS_1
“Mama, Hiks ....” Clara langsung menangis histeris, dirinya sebenarnya sangat ingin jalan-jalan, akan tetapi tak ingin jika Dea tak ikut bersamanya.
“Dea, aku akan meminta izin pada Suamimu. Aku yakin, Dika tidak akan mungkin marah.” Vino berusaha membujuk mantan istrinya tersebut, karena dirinya tak tega melihat Clara menangis.
Dea menatap putrinya yang masih menangis dengan air mata yang tak terbendung lagi, lalu menghela napas berat.
“Baiklah,” sahut Dea melemah.
Tangis Clara seketika berhenti, bahkan sangat antusias meloncat-loncat karena melihat ibunya setuju untuk pergi jalan-jalan bersamanya.
Dea tersenyum melihat putrinya begitu bahagia, akan tetapi masih ada yang mengganjal di hatinya yaitu suaminya.
Bagaimana jika suaminya mengetahui dirinya pergi dengan mantan suaminya, apalagi Dika belum bisa di hubungi sejak tadi.
Mereka kini tengah berada di dalam mobil, tak butuh waktu lama kini mereka tiba di salah satu mall terbesar di kota tersebut.
Clara tampak begitu bahagia melangkah masuk, dengan menggandeng kedua tangan orang tuannya.
Mereka seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.
Dea dan Vino tertawa bersama melihat tingkah Clara yang menurut mereka sangat lucu.
Bahkan Vino juga menyelipkan candaan pada Dea, hingga tanpa sadar Dea juga ikut terhanyut dengan pembicaraan Vino padanya.
Tanpa mereka sadari, jika Dika menatap mereka dengan tatapan tak terbaca.
Sore hari, mereka baru kembali. Dea menatap mobil suaminya yang ternyata sudah ada di depan rumah.
“Dika sudah pulang jam?” gumamnya.
Dea menggendong putrinya yang tertidur pulas, akibat kelelahan bermain.
Dea membawa putrinya masuk ke dalam kamarnya, setelah itu ia kembali keluar dan masuk ke kamarnya untuk melihat suaminya.
“Sayang, jam berapa kembali?” tanya Dea lembut saat melihat suaminya tengah berbaring di kamar mereka.
“Dari mana saja kalian? Apakah ini sudah lewat jam pulang sekolah Clara?!” tanya Dika dengan penuh penekanan.
Deg!
Seperti dugaan Dea, suaminya pasti akan bertanya kemana mereka pergi. Pasalnya, hingga sekarang pesannya belum di baca oleh suaminya.
“Aku jalan-jalan bersama Clara, aku sudah menghubungimu bahkan mengirimmu pesan. Akan tetapi, hingga saat ini pesanku belum di baca olehmu,” sahut Dea memperlihatkan pesannya.
Dika melirik ponsel istrinya, lalu kembali ke layar laptopnya tanpa melihat wajah istrinya.
“Ponselku terjatuh, entah dimana ponsel itu terjatuh aku juga tak tahu. Yakin hanya kamu dan Clara? Kamu begitu sangat bahagia!” tanyanya lagi, karena Dea tak menyebutkan nama mantan suaminya.
Bahkan Dika melihat jelas di mall, jika istrinya begitu terlihat bahagia bersama mantan suaminya tertawa bersama.
__ADS_1
***